
Diary Aulia Risma Lestari (radarmagelang.id)
JawaPos.com – Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina mendesak Pemerintah untuk segera mengambil langkah komprehensif, untuk menghentikan praktik bullying pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
Kasus bullying di PPDS menjadi sorotan lagi setelah ada kasus kematian dokter peserta PPDS dari jurusan spesialis Anestesi di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Semarang.
"Tindakan bullying adalah peristiwa yang sangat tragis dan menyedihkan. Jangan sampai ada pembiaran bullying di lingkungan pendidikan. Harus segera dihentikan dengan putus mata rantainya," kata Arzeti kepada wartawan, Selasa (20/8).
Sebelumnya, dr. Aulia Risma Lestari, mahasiswi Kedokteran Undip ditemukan tewas di kamar kosnya di Lempongsari, Kota Semarang. Aulia diduga mengakhiri hidupnya dengan cara menyuntikkan obat penenang, karena tidak kuat terhadap bullying dari dokter seniornya.
Belakangan, pihak keluarga membantah Aulia bunuh diri. Korban disebut memiliki riwayat sakit syaraf kejepit. Sehingga diduga Aulia menyuntikkan sendiri obat anestesi dengan dosis berlebih saat merasa sakit.
Meski begitu, curhatan dr. Aulia melalui buku harian yang ditemukan di kamar kosnya membuka tabir bullying yang dilakukan seniornya. Akibat kasus itu, Kemenkes menghentikan sementara program anestesi FK Undip untuk melakukan investigasi terkait kasus bunuh diri peserta didik PPDS itu.
Arzeti menyatakan dukungannya pada langkah Kemenkes. Apalagi masalah bullying di lingkungan PPDS memang sudah menjadi momok dalam dunia pendidikan kedokteran di tanah air. Seperti Aulia yang dalam buku hariannya menceritakan tidak kuat menahan tekanan dari para dokter senior.
Kasus Aulia juga berefek panjang. Di media sosial, kisah-kisah yang membongkar kasus bullying yang ada di PPDS mulai diungkapkan. Mulai dari disuruh beli makan senior, hukuman fisik, hingga ada 'jatah istri residen' kepada senior.
Ada pula laporan peserta PPDS atau residen spesialis yang harus mengakomodir biaya pesta maupun perjalanan senior dengan pesawat hingga seratusan juta.
Media sosial juga dihebohkan terkait adanya temuan buku pedoman bullying. Pada buku tersebut mencantumkan sejumlah aturan tata krama junior, serta tugas-tugas apa saja yang tidak boleh dilewatkan selama PPDS berlangsung.
"Penting bagi Pemerintah bekerja sama dengan pihak berwajib seperti kepolisian untuk mengambil langkah-langkah proaktif dalam mencegah bullying. Kita harus kuat untuk memberikan informasi agar pelaku betul-betul diberikan efek jera," pungkas Arzeti.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
