
Ilustrasi orang yang sudah menikah.
JawaPos.com - Kehidupan orang yang sudah menikah akan berbanding terbalik ketika dia masih single atau sendiri. Banyak hal yang perlu disesuaikan dan disepakati dengan pasangan ketika sudah menikah.
Hubungan dengan keluarga besar atau keluarga inti sebelumnya maupun teman menjadi berubah ketika sudah menikah. Suatu pasangan memiliki batasan tentang waktu ataupun hal yang dibicarakan.
Dikutip dari laman Instagram @farraas, ketika orang yang sudah menikah terlalu dekat dengan keluarga inti bisa menyebabkan konflik pada rumah tangga.
Perlu diketahui bahwa kehidupan setelah menikah ada peran yang harus berganti, kala semua masalah yang dihadapi baiknya dibicarakan terlebih dulu dengan pasangan.
Menurut teori dinamika keluarga dari Olson, jika orang yang sudah menikah terlalu dekat dengan keluarga inti (orang tua) bisa menyebabkan enmeshment atau penggabungan.
Enmeshment ini adalah penggabungan antara orang tua dengan anak. Segala hal yang terjadi dalam pernikahan seorang anak, orang tua harus tahu dan ikut mengambil keputusan.
Padahal ketika anak sudah menikah seharusnya independen dalam mengambil keputusan, serta hal yang menjadi privasi rumah tangganya tak perlu diceritakan kepada keluarga inti khususnya orang tua.
Kejadian tersebut akan berdampak buruk pada kualitas pernikahan seorang anak, orang tua juga sebaiknya membiarkan anaknya untuk lebih mandiri dan dewasa dalam berumah tangga.
Dilansir dari laman Universitas Airlangga, orang yang sudah menikah juga harus memiliki regulasi batasan dengan keluarga inti dan teman.
Pasangan yang sudah menikah hendaknya memerhatikan dan mendiskusikan external marital boundary, yakni menetapkan sejauh mana istri atau suami dapat berinteraksi dengan teman dan keluarga inti.
Batasan ini meliputi seberapa seringnya istri atau suami mengunjungi keluarganya masing-masing, bermain dengan teman, serta seberapa jauh diskusi dengan mereka mengenai rumah tangga.
Pelajaran ini hendaknya diketahui sejak dini, sebelum memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang dipilih. Sehingga dapat didiskusikan mengenai keputusan ini.
Jika didiskusikan sebelum menikah, maka kita jadi mengetahui sifat pasangan serta cara dia memprioritaskan antara keluarga inti dan pernikahannya.
Hal ini guna menghindari adanya gesekan-gesekan dari pihak eksternal mengenai cara menghadapi masalah rumah tangga, karena bisa jadi semakin rumit.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
