JawaPos.com - Tahun ini Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) kembali menyalurkan ribuan hewan kurban ke penjuru Indonesia. Perinciannya sebanyak 777 ekor sapi dan 777 ekor domba atau kambing. Mereka memastikan ribuan hewan kurban itu tidak dibeli dengan menggunakan dana haji.
Penegasan itu disampaikan langsung Kepala BPKH Fadlul Imansyah. Dia menuturkan pembelian hewan kurban itu tidak menggunakan dana haji.
Seperti diketahui dana haji ya g dikelola BPKH, bersumber pada setoran awal pendaftaran haji. Saat ini besaran setoran awal pendaftaran haji adalah Rp 25 juta per orang. Total dana haji yang dikelola BPKH saat ini sekitar Rp 160 triliun.
Fadlul mengatakan, program penyerahan seribu lebih hewan kurban itu, merupakan program kemaslahatan. "Melainkan (bersumber) dari nilai manfaat pengelolaan Dana Abadi Umat (DAU)," kata Fadlul dalam keterangannya Jumat (21/6).
Pemanfaatan DAU untuk program kemaslahatan umat itu, sesuai dengan UU 34/2014 dan PP 5/2018. Program kemaslahatan umat, atau pengelolaan DAU dikelola berasaskan prinsip syariah, kehati-hatian, manfaat, nirlaba, transparan, dan akuntabel.
Menurut Fadlul, BPKH berkomitmen untuk menyalurkan nilai manfaat DAU melalui berbagai program kemaslahatan, termasuk Sedekah Kurban. Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi umat Islam di seluruh Indonesia.
Distribusi program kemaslahatan BPKH mencakup berbagai bidang, seperti prasarana ibadah, kesehatan, pelayanan ibadah haji, ekonomi umat, pendidikan, dakwah, sosial keagamaan, dan tanggap bencana. Fadlul berharap program kurban itu dapat membantu masyarakat, khususnya di wilayah terpencil, terluar, tertinggal, dan terdampak bencana.
"Momentum Hari Raya Idul Adha menjadi saat yang tepat untuk membantu sesama, program Sedekah Kurban 1445 H ini diharapkan dapat memberikan maslahat bagi umat", ujar Fadlul.
Dia mengatakan, kegiatan Sedekah Kurban 1445 H merupakan program inisiasi BPKH yang menghadirkan konsep integrasi. Yaitu program kurban serta pemberdayaan ekonomi umat di bidang peternakan sapi, domba, dan kambing.
"Sebagian daging kurban diolah menjadi makanan siap saji seperti rendang kaleng dan abon untuk membantu ketahanan pangan di wilayah rawan bencana dan 3 T," katanya. Kemudian saat pendistribusian menggunakan besek bambu atau plastik ramah lingkungan untuk mengurangi sampah plastik.