Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Juni 2024 | 02.29 WIB

Jadi Sarana Personal Branding, HRD Pun Manfaatkan Akun Media Sosial Calon Karyawan untuk Pertimbangan

FOMO: Dua penjaga stan menggulir layar gawai di sela pameran NUSATIC NUSAPET 2024 DI ICE BSD, Tangerang, beberapa waktu lalu. - Image

FOMO: Dua penjaga stan menggulir layar gawai di sela pameran NUSATIC NUSAPET 2024 DI ICE BSD, Tangerang, beberapa waktu lalu.

HUMAN Resources Director PT SGS Indonesia Elizabet Mutiara Gandaria memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai salah satu filter dalam proses rekrutmen. Pihaknya melakukan background checking terhadap pelamar kerja atau calon karyawan lewat medsos mereka. Tahap itu dia sebut sebagai screening.

"Jadi, kalau calon karyawan itu punya media sosial, biasanya kami minta untuk dicantumkan dalam data," terang perempuan yang akrab disapa Ibeth itu kepada Jawa Pos, Jumat (8/6).

Tim lantas mempertimbangkan medsos itu sesuai parameter yang telah dibuat. Misalnya, aspek dalam membuat status dan komentar. Yang diwaspadai adalah status atau komentar bernada kasar, mengandung SARA, bersifat provokatif, dan tidak pantas. Di sisi lain, lewat screening, tim juga bisa melihat potensi, kreativitas, dan kompetensi.

Data Aberdeen Strategy and Research menyebut medsos sangat efektif dalam rekrutmen. Sebanyak 73 persen pencari kerja berada dalam kelompok usia 18–34 tahun. Artinya, mereka mencari pekerjaan pun lewat medsos.

Background checking via medsos membantu Ibeth dan timnya dalam mengeksplorasi pelamar atau calon karyawan selain lewat wawancara langsung. Medsos berbicara banyak tentang karakter, kepribadian, minat, dan personal branding penggunanya. ’’Medsos ini penting juga. Kadang saya bilang sama tim, ’Tolong lihat media sosialnya dong’,’’ jelas alumnus Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie Ken Ayuthaya Purnama menilai background checking seperti yang dilakukan Ibeth dan timnya positif. Apalagi, sekarang anak-anak muda yang sudah bekerja memang aktif bermedsos. Sebagai angkatan kerja yang digital savvy seperti mereka, medsos adalah makanan sehari-hari.

Namun, Ken menyoroti fenomena gen Z yang punya second account alias akun kedua di medsos. Tak seperti akun resmi yang rata-rata isinya standar, si pemilik akun bisa jauh lebih ekspresif di akun kedua. ’’Beda di kehidupan asli, beda juga di kehidupan media sosial. That’s why HRD perlu yang namanya background checking di dunia digital ini,’’ paparnya.

Ken menegaskan, di tangan orang yang tepat, medsos bisa menjadi sarana personal branding yang mujarab. ’’Misalnya, mahasiswa jurusan marketing yang sering bikin event atau malah jadi volunter. Itu bisa menjadi branding diri yang baik di media sosial. Hal-hal positif seperti itu juga mudah ditemukan oleh perusahaan saat background checking,’’ ujar mantan atlet lari gawang DKI Jakarta itu. (han/c18/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore