
Ilustrasi Minyakita di Pacitan. ANTARA/HO-An
JawaPos.com - Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Kabupaten Pacitan baru-baru ini menemukan adanya produk "minyakita" oplosan yang beredar di sejumlah lapak dan kios di pasar tradisional setempat.
Minyak goreng yang sejatinya mendapat subsidi dari pemerintah ini diduga telah dioplos atau bahkan dipalsukan mereknya, kemudian dijual dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Hingga saat ini, Disdagnaker Pacitan masih melakukan penelusuran terhadap asal peredaran minyak oplosan tersebut.
Dugaan sementara mengarah pada pasokan dari luar daerah, di mana para pelaku melihat peluang pasar yang menguntungkan di Pacitan akibat terbatasnya suplai minyakita.
"Ini karena sepertinya ada peluang. Di mana minimnya pasokan minyakita di sini (Kabupaten Pacitan)," kata Acep.
Melansir ANTARA, Kepala Disdagnaker Pacitan, Acep Suherman, mengungkapkan bahwa minyakita oplosan atau palsu tersebut kemungkinan diproduksi oleh industri rumahan yang berusaha meniru kemasan aslinya.
Meski demikian, perbedaan tetap dapat terlihat dari warna minyak yang lebih suram serta harganya yang lebih tinggi dibandingkan minyakita asli yang bersubsidi.
Situasi ini membuat para pedagang di pasar tradisional Pacitan terpaksa menambah stok mereka dengan produk dari luar daerah. Akibatnya, harga minyakita di pasar menjadi seragam dan cenderung lebih tinggi dari seharusnya.
"ini yang susah akhirnya pedagang di pasar stoknya sedikit yang dari subsidi pemerintah akhirnya ditambahi dari luar itu akhirnya harga semua sama," tegasnya.
Padahal, permintaan minyakita di Pacitan sangat tinggi, namun pasokan dari pemerintah tidak mencukupi.
Harga minyakita yang bersubsidi dijual seharga Rp16 ribu per liter, hampir setara dengan harga minyak curah yang mencapai Rp17 ribu per kilogram.
"Harga 'minyakita' Rp16 ribu. Hampir sama dengan minyak curah Rp17 ribu per kilogram. Kalau 'minyakita' Rp16 ribu per liter sama dengan 9 ons," tuturnya.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan ini menjadi celah bagi pelaku usaha nakal untuk memanfaatkan kondisi dengan menjual produk oplosan.
Disdagnaker Pacitan terus berupaya mengatasi permasalahan ini dengan menelusuri asal usul dan menghentikan peredaran minyakita oplosan di pasar.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
