Logo JawaPos

Anies Gunakan Diksi Elitis, Prabowo Minim Argumentasi, Ganjar Posisi Tanggung

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy - Image

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy

JawaPos.com - Rangkaian debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) berakhir tadi malam. Dari empat seri yang dia saksikan sebelumnya, pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo menilai belum mencapai tujuan maksimal .

Menurut dia, debat seharusnya berfungsi sebagai panggung untuk mempresentasikan visi dan misi para kandidat. ”Seharusnya lebih banyak bicara soal substansi. Daripada banyak gimmick tidak penting,” tutur Suko.

Dalam pandangannya, lebih banyak klaim yang disampaikan sepihak tanpa adanya argumentasi yang presisi. Itu berdampak terhadap kurangnya informasi utuh dan terukur yang didapatkan masyarakat.

Dosen ilmu komunikasi Unair tersebut menerangkan bahwa meski belum maksimal, terdapat beberapa temuan menarik selama debat berlangsung. Dari pasangan calon (paslon) 01 didapatkan pengembangan konseptual yang sangat bagus. Mereka meletakkan dasar bagi publik untuk berpikir.

Selain itu, paslon 01 juga membawa ide-ide segar selama melangsungkan perdebatan. Gagasan-gagasan baru tersebut tentu saja disukai oleh golongan terpelajar. ”Tapi, diksinya terlalu elitis,” terang Suko mengenai kekurangan dari paslon 01.

Dari paslon 02, menurut Suko, mereka berposisi sebagai petahana. Sayangnya, dalam posisi tersebut, paslon 02 kurang cakap dalam mengungkapkan data keunggulan sehingga terasa kering informasi. ”Hanya ada klaim-klaim atau pernyataan. Tapi, kurang dilengkapi argumentasi,” papar Suko.

Sementara itu, paslon 03 merupakan kombinasi yang empiris antara data lapangan dan konseptual yang matang. ”Bagus tapi agak tanggung posisinya. Sebab, cawapresnya menjadi bagian dari petahana (sebelum akhirnya mundur, Red), namun visi-misi yang dibawa justru mengarah pada perubahan,” katanya.

Suko berpendapat bahwa debat selama ini telah mendapatkan atensi yang besar dari masyarakat. Fenomena itu disebabkan masifnya perkembangan media digital. ”Jadi, pengaruhnya lebih kuat dibandingkan pemilu sebelumnya,” terangnya.

Meski membawa dampak yang masif, Suko menggarisbawahi bahwa konsep debat cenderung digemari kalangan terpelajar. Sementara masyarakat awam memiliki kecenderungan untuk dipengaruhi oleh aktor politik yang bergerak di lapangan.

Sementara itu, pakar komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah Ana Sabhana Azmy mengatakan, dalam segi komunikasi politik, ketiga pasangan calon dalam debat terakhir tadi malam lebih lugas dalam menyampaikan gagasan. Serta, melakukan elaborasi data lebih baik dari debat sebelum-sebelumnya. ”Tapi, setiap debat tentu ada kekurangannya,” paparnya.

Menurut dia, salah satu kekurangannya adalah belum terlihat potensi keberhasilan dari setiap program atau gagasan yang dipaparkan setiap paslon. ”Bisa jadi ini karena debat yang hanya hitungan jam,” urainya.

Yang juga penting, lanjut dia, apakah dari rangkaian debat kali ini masyarakat telah mendapatkan literasi atau pendidikan politik dengan baik menjelang pemilihan presiden. ”Itu pertanyaannya.” (leh/idr/lyn/c6/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore