
Photo
JawaPos.com - Setiap kali adanya perselingkuhan, pertanyaan paling awal adalah apakah si dia memiliki Wanita Idaman Lain atau Pria Idaman Lain. Istilah kekinian disebut dengan pelakor (perebut laki orang) atau pebinor (perebut bini orang). Perselingkuhan dalam pernikahan disebabkan oleh multifaktor.
Berdasarkan survei Teman Bumil dan Populix terhadap 1.943 responden ibu berusia 20-35 tahun, 46 persen responden percaya bahwa adanya orang ketiga dapat mengubah sebuah pernikahan. Ternyata sebelum menyalahkan orang ketiga, faktor pemicunya adalah si individu itu sendiri yang seringkali curhat kepada teman lawan jenisnya. Cerita tentang masalah rumah tangga kepada teman lawan jenis, ternyata bisa memantik kenyamanan dan menimbulkan perselingkuhan.
Curhat ke Lawan Jenis, Memicu Selingkuh?
Perselingkuhan bisa sangat sulit untuk didefinisikan. Pasalnya, setiap orang menetapkan batas yang berbeda untuk urusan selingkuh. Konselor pernikahan, pendiri dari KonsultanPernikahan.com dan penulis buku Menikah untuk Bahagia, Indra Noveldy, mendefinisikan perselingkuhan dengan kriteria yang sederhana saja, yaitu curhat.
“Definisi perselingkuhan bisa berbeda pada tiap orang. Namun, bagi saya definisi perselingkuhan itu sederhana. Ketika kita membuka jalan, secara sengaja maupun tidak sengaja, untuk curhat ke orang lain. Itu sama saja sudah membuka pintu perselingkuhan," jelas Indra dalam keterangan resmi Teman Bumil, Jumat (17/6).
Definisi yang ditetapkan oleh Indra bukan tanpa alasan mendasar. Menurut pemahaman dan pengalamannya, perselingkuhan dapat terjadi mulai dari hal sepele, seperti mengobrol dengan lawan jenis yang bukan pasangan resmi.
“Tidak ada orang yang berniat selingkuh. Semua terjadi tanpa sengaja. Awalnya bisa saja cuma sekadar cerita, bertukar pikiran, atau bertanya. Tapi lama-lama, bisa merasa nyaman satu sama lain. Makin masuk ke dalamnya, makin terjebak dan malah makin sulit untuk keluar, persis seperti kita berada di dalam pusaran air," jelasnya.
Maka dari itu, kata dia, sedini mungkin lebih baik jauh-jauh dari hal yang mendekatkan kita dengan perselingkuhan, seperti curhat kepada lawan jenis, apa pun niatnya dan walaupun bersahabat. Sejak awal, tutuplah celah perselingkuhan sedini mungkin.
"Bahkan enggak usah mendekati pinggirannya,” tegasnya.
Definisi perselingkuhan berdasarkan penjelasan Indra, senada dengan hasil survei. Sebanyak 51 persen responden setuju bahwa perselingkuhan adalah melakukan percakapan intens dan intim dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan pasangan resmi. Sementara, 48 persen mengategorikan perselingkuhan sebagai pertemuan diam-diam dengan lawan jenis, tanpa sepengetahuan pasangan resmi dan 8 persen menganggap bahwa kagum terhadap seseorang yang bukan pasangannya adalah bentuk perselingkuhan.
Pihak Ketiga Bukan Penyebab Utama Perselingkuhan
Setiap kali kasus perselingkuhan terjadi, akan ada pola yang terbentuk, yaitu mencari siapa orang ketiganya. Padahal menurut Indra, hal ini tidak benar. Dalam kebanyakan kasus, perselingkuhan hanyalah gejala dari masalah dalam pernikahan, bukan penyebab utama.
“Perselingkuhan bisa terjadi karena begitu banyak aspek dan sudah ada masalah di pernikahan itu sendiri. Pihak ketiga bukan penyebab utama perselingkuhan," ungkapnya.
Justru ketika kita menunjuk pelakor atau laki-laki lain, kata dia, itu seperti melimpahkan kesalahan ke pihak ketiga dan suami-istri tidak akan introspeksi ke dalam. Ingat, lanjutnya, pihak ketiga bisa masuk karena ada celah.
"Kalaupun ada satu oknum berniat ganggu, jika rumah tangga yang diganggu solid, pasti akan terpental. Jadi, kuncinya bukan mengusir pelakor atau menghindari pelakor, tapi benahi pernikahan, perkuat fondasi di dalam,” jelas Indra.
Memperkuat fondasi hubungan pernikahan memiliki banyak elemen, seperti memperbaiki cara berkomunikasi, menyamakan values, dan memiliki visi-misi yang sama. Namun terlepas dari semua itu, satu yang ditegaskan Indra adalah memenuhi kebutuhan masing-masing. Terdengar mudah, nyatanya kebutuhan yang tak terpenuhi di dalam pernikahan sering terjadi dan tidak disadari.
“Perselingkuhan bisa terjadi di pernikahan yang terlihat harmonis. Catat, pernikahan yang beneran harmonis dan yang terlihat harmonis adalah dua hal yang bertolak belakang. Berapa banyak pasangan suami-istri yang sadar bahwa kebutuhan pasangannya terpenuhi? Banyak yang enggak karena semua tampak baik-baik saja, pasangannya enggak komplain, pasangannya saleh, dan lain-lain. Artinya, banyak orang yang tidak sadar bahwa pernikahannya bermasalah. Dan Itu adalah masalah besar,” ujar Indra.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
