
Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Puncak Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) tahun 2023 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan (12/12). (Youtube Setneg)
JawaPos.com- Memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) Tahun 2023, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta untuk segera menyelesaikan Rancangan Undang- Undang (RUU) Perampasan Aset.
Tujuannya untuk mengembalikan kerugian yang selama ini sudah sangat merugikan negara, dan memberikan efek jera bagi para pelakunya. Dampak korupsi sangatlah merugikan negara, karena akan menghambat pembangunan dan juga menyengsarakan rakyat.
Oleh sebab itu, sudah semestinya penguatan regulasi dilevel Undang- Undang seperti RUU Perampasan Aset ini harus dilakukan. Agar tidak menimbulkan kerugian yang besar kedepannya.
“Menurut saya, Undang- undang perampasan aset tindak pidana ini penting segera diselesaikan, karena ini adalah sebuah mekanisme untuk pengembalian kerugian negara dan bisa memberikan efek jera,” ucap Presiden saat menghadiri Puncak Peringatan Hakordia tahun 2023 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan (12/12).
Presiden berharap kepada pemerintah khususnya DPR untuk segera menindaklanjuti RUU tersebut. Agar secepatnya dapat disahkan dan menjadi Undang- Undang.
“Saya harap pemerintah dan DPR bisa segera membahas, dan menyelesaikan UU Perampasan Aset Tindak Pidana ini,” jelasnya,
Selain itu, Jokowi juga menekankan untuk penyelesaian terkait RUU Pembatasan Transaksi Uang Kartal. Dengan tujuan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pada transaksi perbankan.
“Kemudian juga Undang- Undang Pembatasan Transaksi Uang Kartal yang mendorong pemanfaatan transfer perbankan. Ini semuanya akan lebih transparan, lebih akuntabel, juga sangat bagus,” lengkap Presiden.
Semua hal itu harus segera diselesaikan, karena menurut kacamata Jokowi. Selama ini banyak sekali pelaku tindak pidana korupsi yang sudah ditangkap. Baik dari unsur legislatif, yudikatif maupun eksekutif.
“Catatan saya, 2004- 2022 yang dipenjarakan karena tindak pidana korupsi ada 344 pimpinan dan anggota DPR dan DPRD, termasuk ketua DPR dan juga Ketua DPRD. Ada 38 Menteri dan Kepala Lembaga. Ada 24 Gubernur dan 162 Bupati dan Wali Kota. Ada 31 hakim, termasuk hakim konstitusi. Ada 8 Komisioner, diantaranya Komisioner KPU, KPPU, dan KY. Dan juga ada 415 dari swasta dan 363 dari Birokrat. Terlalu banyak, banyak sekali,” ungkap Presiden.
Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi besar- besaran terhadap penanganan tindak pidana korupsi di Indonesia. Presiden berharap semua aspek masyarakat baik dari pemerintahan maupun rakyat biasa, harus bersama- sama memerangi korupsi.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
