Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Desember 2023 | 16.27 WIB

Fatalitas Mycoplasma Pneumoniae Lebih Rendah dari Covid-19, Lakukan Pencegahan Ini Untuk Menghindarinya

DETEKSI PNEUMONIA: Ortu perlu waspada jika anak balita batuk berkepanjangan disertai demam dan kesulitan bernapas. - Image

DETEKSI PNEUMONIA: Ortu perlu waspada jika anak balita batuk berkepanjangan disertai demam dan kesulitan bernapas.

JawaPos.com - Dokter Spesialis Anak di RS Cipto Mangunkusumo dr. Nastiti Kaswandani menyebut bahwa tingkat fatalitas dan keparahan akibat bakteri Mycoplasma pneumoniae lebih rendah dibandingkan Covid-19. Fatalitas mycoplasma pneumoniae hanya mencapai 0,5-2 persen. 

“Itu pun pada mereka dengan komorbiditas,” kata dr. Nastiti dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (7/12).
 
Pneumonia akibat bakteri mycoplasma sendiri sering disebut sebagai walking pneumonia yang berarti gejalanya cenderung ringan. Sehingga, katanya, pasien tidak perlu menjalani rawat inap di rumah sakit dan cukup melakukan rawat jalan. 
 
 
“Anaknya cukup baik kondisi klinisnya sehingga masih bisa beraktivitas seperti biasa, makanya sebagian besar kasusnya bisa dilakukan rawat jalan, pemberian obatnya secara minum, dan anaknya bisa sembuh sendiri,” jelas dr. Nastiti.
 
Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan Prof. Erlina Burhan menyebut bahwa pneumonia akibat bakteri mycoplasma bukan penyakit baru. Bakteri penyebab peradangan akut pada paru ini telah ditemukan sejak periode 1930-an. 
 
Belakangan menjadi perhatian dan kewaspadaan dunia lantaran bakteri Mycoplasma pneumoniae diduga telah menyebabkan kenaikan kasus pneumonia di Tiongkok Utara dan Eropa yang mayoritas menyerang anak-anak. 
 
Oleh karena itu, Prof Erlina menyebut bahwa pengobatan untuk Mycoplasma pneumoniae tidak susah dicari karena dapat ditemukan di Puskesmas dan dapat diperoleh menggunakan BPJS.
 
“Makanya, masyarakat tidak perlu panik karena penyakit ini sudah lama ditemukan di Indonesia,” katanya.
 
Yang penting, lanjutnya, saat ini masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Menurutnya, hal tersebut adalah kunci utama pencegahan penyakit ini. 
 
Msyarakat juga perlu mengikuti prosedur kesehatan seperti yang direkomendasikan WHO dan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) untuk menurunkan resiko penyakit pernapasan. 
 
Rekomendasi itu di antaranya melakukan vaksinasi terutama pada anak-anak, menjaga jarak dengan orang sakit, tidak bepergian saat sakit, pergi ke dokter dan mendapatkan perawatan bila dibutuhkan, memakai masker, memastikan kualitas ventilasi baik dan rutin cuci tangan.
 
“Kita harus waspada dan terapkan PHBS serta jangan panik,” tandasnya. 
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore