
Anak-anak Palestina berlarian dari pemboman Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, 6 November 2023. (Muhammad Abed/AFP)
JawaPos.com- Perang Israel-Palestina masih terus berkecamuk. Sejak meletus 7 Oktober lalu, sudah lebih dari 10.000 warga Palestina meninggal. Yang membuat miris, tidak sedikit dari korban yang terbunuh setelah kena bombardir pasukan Israel itu adalah anak-anak dan perempuan. Mereka yang terluka dan cacat permanen lebih banyak lagi.
Aksi-aksi mengutuk tragedi kemanusaiaan dari berbagai belahan dunia terus meluas. Baik organisasi maupun negara. Seruan damai dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tetap membuat Israel dan sekutunya bergeming. Sejauh ini, agresi yang mengoyak nilai perdamaian itu masih terjadi.
Upaya-upaya agar segera ada gencatan senjata dan tuntutan kemerdekaan bagi Palestina makin menggema. Sebagai wujud dukungan atas kedaulataan Palestina tersebut, sejumlah ulama pesantren dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) juga konsisten ikut menyuarakannya.
‘’Malam ini (Kamis, 9/11), kita bersama para kiai dan masyarakat umum akan menggelar Mujahadah Palestina,’’ kata KH Abdussalam Shohib, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ma’arif, Jombang.
Mujahadah Palestina akan bertempat di kompleks Pesarean Sunan Ampel, Surabaya, mulai pukul 20.30 WIB. Sejumlah masyayikh dijadwalkan hadir. Di antaranya KH Marzuki Mustamar, KH Mas Mansur Sidoresmo, KH Ubaid Temboro, KH Zamzami Mahrus Lirboyo, KH Fahim Royani Ploso, KH Kholil Nawawi Sidogiri, KH Najih Maimoen Sarang, KH Maksum Faqih Langitan, dan KH Ahfas Lasem.
‘’Terbuka untuk umum. Yang hadir kami imbau untuk laki-laki berbaju putih, bersarung, kopiah, dan bawahan gelap. Jamaah perempuan juga busana putih dengan jilbab gelap,’’ ungkap Gus Salam, panggilan KH Abdussalam Shohib. Gelap itu sebagai simbol kedukaan atas tragedi kemanusiaan. Putih sebagai niat tulus dan suci untuk Palestina.
Adapun rangkaian acaranya antara lain Salat Gaib bagi para korban, ijazah kubro, dan pembacaan hizib nashar. Dalam tradisi NU, hizib nashar merupakan wirid dan doa yang mempunyai kesaktian luar biasa. Biasanya, diamalkan ketika kondisi darurat seperti dilaksanakan para kiai pada zaman penjajahan.
‘’Semoga dengan mujahadah kita bersama, serta upaya-upaya lain yang sudah dilakukan, Allah SWT mengabulkan doa-doa kita untuk kemerdekaan Palestina,’’ ujar Gus Salam.
Selain menggelar mujahadah, lanjut dia, para masyayikh juga akan membentuk Komite Palestina. Menurut Gus Salam, Komite Palestina itu terinspirasi dari Komite Hijaz yang dulu pernah dilakukan para kiai sepuh. ‘’Nah, Komite Palestina itu nanti juga akan melakukan ikhtiar-ikhtiar seperti diplomasi dengan pihak-pihak terkait. Termasuk kemungkinan berangkat ke Palestina,’’ katanya.
Ikhtiar Sudah Sejak Lama
IKHTIAR kiai-kiai pesantren terhadap kemerdekaan Palestina sudah sejak dulu dilakukan. Pada 1938, misalnya. Dikutip dari NU Online, KH Mahfudz Shiddiq membuat seruan kepada seluruh ormas Islam di Indonesia. Isinya antara lain mengajak segenap elemen bangsa untuk mengambil sikap tegas atas apa yang dilakukan Israel. Menyerukan kepada umat Islam agar bahu-membahu dengan rakyat Palestina dalam memperjuangkan agama dan kemerdekaan atas tanah air dari cengkreman penjajah.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Serahkan Bantuan Kemanusiaan Rp 766,5 Juta dari Muslimat NU untuk Palestina
Selain itu, gerakan solidaritas juga dilakukan melalui aksi ’’Palestina Fons’’ (Dana Palestina) sebagai bantuan untuk meringankan beban penderitaan warga Palestina. Lalu, ada juga gerakan ’’Pekan Rajabiyah’’. Yakni, sebuah pekan yang menggabungkan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan solidaritas terhadap Palestina merdeka. Seluruh warga NU dan umat Islam pada umumnya, juga dianjurkan untuk membaca Qunut Nazila di setiap salat fardhu.
Anjuran tersebut membuat KH Mahfudz Shiddiq sempat dipanggil regent (bupati) Surabaya. Dia diberi tahu ada perintah Hoofdparket (setingkat jaksa agung) yang melarang qunut nazilah dan kegiatan Pekan Rajabiyah. Namun, pelarangan kegiatan itu mendapat pembelaan dari KH Agus Salim, tokoh PSII. Dia menulis pembelaannya dalam surat kabar Tjahaja Timoer. Kala itu, para ulama Nusantara, khususnya kiai-kiai pesantren memang tidak tanggung-tanggung dalam melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan.
KH Saifuddin Zuhri, salah seorang tokoh NU zaman itu, menyatakan bahwa hak bangsa Arab atas Palestina bersendikan atas sejarah, kejadian, kenyataan, keharusan keadilan, dan perikemanusiaan. Sebaliknya, hak bangsa Yahudi atas Palestina bersendikan pada ketamakan dan perampasan semata. Pernyataan tersebut terlontar berdasarkan sidang Ormas-ormas Islam yang tergabung di dalam Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
