Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjawab pertanyaan awak media usai menghadiri acara Jambore Kebangsaan Kawal Pemilu Damai 2024 di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Minggu (3/9/2023).
JawaPos.com - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pekan lalu menghadiri Muktamar Sufi Dunia yang diselenggarakan di Pekalongan, Jawa Tengah. Muktamar dihadiri oleh ulama dalam maupun luar negeri. Penyelenggaraan Muktamar Sufi Dunia sudah dua kali digelar di Jawa Tengah.
Kehadiran Ganjar Pranowo dalam acara dianggap menunjukan adanya hubungan yang erat antara pemimpin dan ulama di Jawa Tengah. Kedekatan seperti ini dapat menjadi salah satu faktor penguat bagi pembangunan Indonesia terutama dalam menangkal radikalisme.
Pengamat dari Center of Youth and Population Research (CYPR) Boedi Rheza menyampaikan, peran ulama sentral dalam perjalanan Bangsa Indonesia sampai hari ini. “Tanpa ulama, yang tentunya memiliki pemahaman dan ilmu serta kedekatan dengan rakyat, belum tentu Indonesia dapat mencapai kemajuan yang dibalut kondisi damai.” ujarnya, Senin (4/9).
“Kehadiran Ganjar Pranowo dalam acara tersebut dan memfasilitasi pelaksanaan Muktamar dua kali di Jawa Tengah adalah bentuk kedekatan kepada seluruh golongan masyarakat, tidak hanya kepada rakyat kecil namun juga kepada ulama. Dan saya rasa, untuk memupuk persatuan antar elemen bangsa, apa yang dilakukan oleh Ganjar Pranowo perlu menjadi contoh kepala daerah lainnya,” lanjutnya.
Perhatian para ulama terhadap pendidikan, ekonomi dan pembangunan berkelanjutan terlihat dari dimasukannya isu-isu tersebut kedalam agenda Muktamar. Ganjar dalam sambutannya, manyampaikan bahwa ketiga isu tersebut sebagai benteng untuk menangkal radikalisme.
Hal tersebut sesuai dengan spirit yang dibangun oleh Bangsa Indonesia. Ganjar mengatakan, spirit tersebut mesti dilakukan dengan menauladani ajaran para nabi dan wali yang hidup dengan penuh rasa welas asih atau murah hati.
Boedi menekankan, pernyataan Ganjar merupakan satu bentuk kesadaran Pemerintah memerlukan peran ulama dalam pembangunan. Pemerintah bersama ulama bisa memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga tidak terpapar dari paham radikalisme.
"Kasus teroris yang diungkap oleh Polri melalui serangkaian penangkapan menunjukan bahwa adanya pemahaman dan implementasi yang salah terhadap agama. Barang bukti yang didapatkan di antaranya adalah buku-buku yang menyimpang dan membuat orang memiliki pemahaman yang salah terhadap agama," jelasnya.
Peningkatan pemahaman yang benar terhadap agama melalui edukasi oleh para ulama, dapat mendorong penguatan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Jika radikalisme dapat dicegah, maka kondisi negara akan aman yang berdampak pada perekonomian. Lapangan pekerjaan akan semakin terbuka, dan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.