Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Agustus 2023 | 20.28 WIB

Edhie Baskoro Yudhoyono Sebut 4 Isu yang Harus Diselesaikan dalam Sidang Umum ke-44 AIPA

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) menghadiri Opening Ceremony AIPA ke-44 di Fairmont Hotel, Jakarta pada Senin (7/8). - Image

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) menghadiri Opening Ceremony AIPA ke-44 di Fairmont Hotel, Jakarta pada Senin (7/8).

JawaPos.com–Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) menghadiri Opening Ceremony AIPA (ASEAN Inter-Parliamentary Assembly) ke-44 di Fairmont Hotel, Jakarta pada Senin (7/8). Sidang itu mengusung tema Responsive Parliaments for a Stable and Prosperous ASEAN atau Parlemen yang Responsif untuk ASEAN yang Stabil dan Sejahtera.

Ibas mengajak seluruh anggota parlemen ASEAN untuk memperjuangkan sikap saling memahami, kerja sama, dan hubungan yang dekat antara anggota parlemen negara-negara ASEAN.

”Melalui kerja sama yang erat, baik dalam bentuk government-to-government maupun people-to-people ini, kita akan mampu untuk merespons berbagai permasalahan dan tantangan di tingkat regional ASEAN maupun di tingkat global dengan baik,” kata Ibas.

Menurut dia, ada empat isu prioritas utama yang perlu diselesaikan dalam Sidang Umum ke-44 AIPA. Pertama, meningkatkan usaha, membuka diskusi dan merumuskan persetujuan untuk mempertahankan stabilitas, keamanan dan perdamaian di tingkat regional ASEAN. Kedua, isu yang harus diselesaikan adalah percepatan transisi ekonomi hijau yang tumbuh dengan pesat sembari menjaga jejak karbon (carbon footprint) yang rendah.

Isu ketiga dalam AIPA, kata Ibas, pentingnya penguatan keterlibatan kawula muda dalam mendorong pembangunan yang inklusif, mempercepat transformasi ekonomi dan meningkatkan partisipasi demokratis.

”Isu keempat adalah pentingnya peningkatan ketahanan ASEAN dalam menghadapi guncangan sosial (social resilience) melalui kepemimpinan dan parlementer yang peka terhadap permasalahan ketimpangan gender,” jelas Ibas.

Dalam hal stabilitas kawasan, Wakil Ketua Badan Anggaran DPR itu juga berpendapat, stabilitas geopolitik merupakan kunci dari kerja sama regional yang efektif yang perlu menjadi fondasi dalam diplomasi regional dan global.

”Negara-negara ASEAN harus bekerja sama. Saling bahu-membahu demi mempercepat resolusi berbagai sengketa yang terjadi di kawasan,” ucap Ibas.

Sementara itu, Ketua Desk Kerja Sama Regional Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) yang juga wakil ketua BKSAP DPR Putu Supadma Rudana mengatakan, AIPA harus menjadi satu penarik dari berbagai kekuatan global.

”AIPA harus mempunyai ASEAN Parlemen untuk memperkuat kepentingan ASEAN secara parlementer. Hal ini harus segera terealisasi agar terciptanya hubungan yang erat dan solid. ASEAN yang dulu tidak dilirik sekarang menjadi daya tarik karena meningkatnya persaingan antara kekuatan besar. Dengan segala kepentingan dan potensi, mari kita kawal bersama ASEAN unity dan centrality,” papar Putu.

Menurut legislator asal Bali itu, ASEAN memerlukan dukungan dari Parlemen negara observer dalam menciptakan Kawasan Asia Tenggara yang damai, stabil, adil, dan sejahtera.

”Hubungan persahabatan antara ASEAN dan negara Observer diharapkan dapat membuka kesempatan untuk memperluas kerja sama untuk memajukan solidaritas, saling pengertian, dan kerja sama antarnegara anggota. Selain itu diperlukan kerja sama untuk melakukan penukaran dan penyebaran informasi serta koordinasi, interaksi, dan konsultasi, dalam rangka memberikan kontribusi parlemen terhadap integrasi ASEAN,” ujar Putu.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore