
TERUNGKAP: Muhtar saat dideportasi di Bandara Juanda.
JawaPos.com – Mochammad Sholeh Sirri dan sejumlah kawannya sebenarnya sudah pernah curiga dengan Muhtar bin Bakri alias Yatno, dosen bahasa Inggris mereka di Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung, Jawa Timur. Muhtar kerap berbicara dalam bahasa Melayu, aksennya ketika berbahasa Inggris pun sangat Melayu.
Ketika ditanya, Muhtar selalu mengaku dirinya dari luar Jawa. ”Tapi, ya tetap tak menyangka kalau dia warga Singapura dan kemudian ditangkap imigrasi,” kata Sirri yang kini sudah alumnus itu kepada Jawa Pos Radar Tulungagung kemarin (23/6).
Muhtar yang berpaspor Singapura membelalakkan mata karena terungkap bertahun-tahun memiliki KTP Indonesia meski paspornya tetap Singapura. Dia sudah dideportasi pada Kamis (22/6) lalu.
Kasus pria yang sudah hampir empat dekade tinggal di Indonesia itu terungkap saat dia berusaha mengganti nama di paspornya di Kantor Imigrasi Blitar, Jawa Timur. Itu dia lakukan karena hendak mengurus warisan keluarga di Singapura.
Muhtar diketahui pernah menetap di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, dan Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Dia dikenal sebagai dosen dengan karakteristik ”killer” atau galak kepada mahasiswa.
Muhammad Ibnu, alumnus UIN SATU Tulungagung, kampus lain tempat Muhtar alias Yatno mengajar, mengatakan pernah diminta membenahi komputer di rumah dosennya itu di Desa Tunggulsari pada 2012. ”Saya cuma ketemu empat mata dengan Pak Yatno sekali saja. Dia hanya berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Namun, logatnya agak aneh,” ungkapnya.
Yatno, sepengetahuan Ibnu, sudah menikah dua kali. Kedua istrinya WNI.
Berdasar hasil pemeriksaan, Yatno masuk ke Indonesia pada 1984. Sampai 1998, dia sempat keluar masuk Indonesia hingga sepuluh kali. Yatno menggunakan visa kunjungan dengan paspor Singapura. Tujuan kedatangan untuk menempuh pendidikan.
Semua aktivitasnya berjalan lancar karena Yatno menggunakan dokumen kependudukan Indonesia. Dia punya KTP, KK, bahkan akta kelahiran yang dikeluarkan Pemkab Tulungagung pada 2011. Diduga, dokumen tersebut diperoleh dengan cara ilegal. Sebab, kala itu sistem administrasi kependudukan nasional mudah direkayasa karena belum terhubung secara online.
Sementara itu, Sirri menyebutkan, Yatno selama mengajar kerap bercerita sering pulang pergi dari Indonesia ke Singapura. Bahkan, Yatno juga mengakui bahwa dirinya dan sang istri memiliki rumah di Singapura.
Yatno, kata Sirri, selalu berusaha terlihat gaul dan cepat akrab dengan mahasiswa. Namun, banyak mahasiswa yang kemudian tak ingin lagi diajar dia lantaran bahasanya sulit dimengerti. Selain itu, dia jarang hadir di kelas. Yatno juga selalu berpakaian nyentrik, kadang memakai belangkon sehingga seolah terlihat seperti orang Jawa. Namun, anehnya, dia tidak bisa berbahasa Jawa.
”Karena jarang hadir, Pak Yatno ini memberikan tugas dan dikumpulkan lewat flash disk, tapi harus yang baru dan diminta untuk menjadi miliknya. Bila tidak diberikan, diancam dengan nilai dan akhirnya diganti dengan CD,” terangnya.
Dari permasalahan itu, kelas Sirri kompak melaporkan Yatno ke Kaprodi dan pimpinan kampus. Hasilnya, Yatno diskors dengan tidak mengajar selama beberapa tahun dan baru mengajar lagi sekitar 2020. Namun, ketika diskors, dia masih bisa menguji beberapa mahasiswa semester akhir.
Kepala Dispendukcapil Tulungagung Nina Hartiani mengatakan, beberapa waktu yang lalu, pihaknya sudah dipanggil Imigrasi Kelas II Non-TPI Blitar atas kasus yang menjerat Yatno. Pada awal Juni 2023, pihaknya kembali datang untuk keperluan pencabutan dokumen kependudukan Yatno. (jar/c1/rka/far/idr/far/c9/ttg)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
