Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Mei 2026 | 20.07 WIB

'Black Lagoon' dan Potret Budaya Korporat yang Tidak Lebih Mulia dari Penjahat

Black Lagoon. (Istimewa) - Image

Black Lagoon. (Istimewa)

JawaPos.com - Setiap pagi, jutaan orang bangun untuk melakukan rutinitas yang nyaris sama. Membuka mata setelah alarm menyalak seperti sirene perang, berjuang ke kantor melawan kemacetan jahanam di perjalanan panjang, tumpukan kerjaan dan tekanan atasan, memasang senyum penuh kepura-puraan, lalu diakhiri dengan kelelahan fisik serta mental yang perlahan mengikis kehidupan.

Apapun profesinya, para kaum pekerja ini menghabiskan sebagian besar waktu demi angka dan keuntungan untuk perusahaan yang bahkan mungkin tidak benar-benar peduli pada mereka.

Di sisi yang lebih gelap, ada sekelompok orang lain yang beranjak dari kasur untuk melakukan rutinitas berbeda.

Mereka bangun demi mendulang uang lewat cara yang lebih biadab: pembunuhan, penyelundupan, perampokan, perdagangan senjata ilegal serta obat-obatan terlarang, dan bentuk tindakan bengis lainnya.

Sepintas, dunia korporat dan dunia kriminal terlihat seperti dua kutub yang sangat berlainan. Namun, dari sudut pandang lain, cukup terasa bahwa sebetulnya kedua dunia ini mungkin tidak sejauh yang dibayangkan.

Budaya korporat dan dunia penjahat sama-sama bergerak di bawah logika yang mirip: orang-orang yang terlibat di dalamnya hanya dinilai berdasarkan kegunaan, loyalitas tidak lebih dari sebuah paradoks kesetiaan, dan moralitas hanya sampah belaka di hadapan profit dan imbalan.

Bedanya, dunia kriminal mengancam nyawa manusia secara terang-terangan dengan pistol atau belati, sementara dunia kerja modern melakukannya secara perlahan lewat tekanan produktivitas dan sistem yang membuat manusia kehilangan dirinya sedikit demi sedikit.

Kurang lebih, kritik sosial mendalam itulah yang disampaikan oleh Black Lagoon, sebuah manga karya Rei Hiroe.

Komik yang juga diadaptasi ke anime ini tidak hanya memperlihatkan betapa kejam dan kerasnya lembah kegelapan, tapi juga betapa lingkungan profesional terkadang tidak jauh lebih manusiawi darinya.

Kapitalisme Total di Kota Para Bedebah

Filsuf tersohor Karl Marx pernah menulis bagaimana kapitalisme pada akhirnya mengubah hubungan manusia menjadi hubungan transaksional. Inilah yang terjadi secara garis besar di Black Lagoon.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore