Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Agustus 2024 | 01.54 WIB

Inilah Candi Sukuh, Lokasi Syuting ‘The Guardian of Nusantara’ yang Kental dengan Sejarah

Candi Sukuh, Salah Satu Lokasi Syuting ‘The Guardian of Nusantara’ karya Alffy Rev. Kemendikbud. - Image

Candi Sukuh, Salah Satu Lokasi Syuting ‘The Guardian of Nusantara’ karya Alffy Rev. Kemendikbud.

JawaPos.com – Karya terbaru musisi Alffy Rev kembali menuai pujian karena pesonanya. Hadiah ulang tahun untuk Indonesia yang ke-79 kali ini, bertajuk ‘The Guardian of Nusantara’ yang artinya Penjaga Nusantara.

Tak sendirian, dalam MV yang kini telah ditonton sebanyak 994.174 kali sejak penayangannya pada 17 Agustus 2024 kemarin, Alffy Rev turut menggandeng beberapa seniman ternama, yakni Musisi Once Mekel, Budayawan Sudjiwo Tedjo, dan penyanyi muda Novia Bachmid.

Kolaborasi akting memukau dari Bintang Edma Rizqi, suara Once yang menggelegar, merdunya senandung Novia Bachmid dan adagium sarat makna dari Sudjiwo Tedjo, sukses menghidupkan rangkaian karya musik dari Alffy Rev.

Music Video ‘The Guardian of Nusantara’ menampilkan banyaknya keindahan Indonesia Raya, mulai dari alam yang masih asri, candi-candi sejarah Indonesia, tarian-tarian khas berbagai daerah, serta suku dan budaya yang beragam pun turut ditampilkan.

Meski didukung dengan teknologi CGI yang ciamik, namun karya ini tak serta merta menghilangkan keaslian lokasi syutingThe Guardian of Nusantara’, terlebih pada setting candi bersejarah.

Alffy Rev sebagai otak dari maha karya ini, mengungkapkan bahwa candi bersejarah yang menjadi latar pembuatan ‘The Guardian of Nusantara’ ini, adalah Candi Sukuh, yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah.

Mengenal Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah

Alffy Rev tak salah dalam memilih Candi Sukuh sebagai latar pembuatan ‘The Guardian of Nusantara’. Pasalnya, Candi Sukuh ternyata menyimpan sejarah yang panjang dan makna yang dalam.

Dilansir dari situs resmi Kebudayaan Kemendikbud, Minggu (18/8), Candi Sukuh diperkirakan berdiri pada abad 15 M di masa pemerintahan Ratu Suhita.

Dilihat dari masa berdiri dan arsitekturnya, Candi Sukuh berlatarbelakang Hindu yang beraliran Tantrayana, sebuah aliran yang berkembang kuat di India, Tibet dan China.

Menurut sejarah, Hindu Tantrayana ini masuk ke Indonesia pada masa itu melalui jalur keilmuwan filsafat, kesenian, agama dan budaya.

Tantrayana sendiri adalah aliran yang kerap dikaitkan dengan hal-hal berbau seksual. Hal tersebut merujuk pada ditemukannya relief bercorak alat kelamin perempuan dan laki-laki. Hal tersebut seiring dengan Hindu yang banyak menggunakan simbol lingga yoni.

Meski begitu, relief tersebut tak bisa ditafsiri sebagai hal mesum atau buruk. Konon, relief kelamin laki-laki dan perempuan itu adalah penggambaran tentang perjalanan hidup manusia sejak lahir bumi.

Juga, tentang bagaimana cara menghargai kehidupan manusia yang lahir dari kelamin perempuan. Karenanya, kepercayaan ini acapkali mengedepankan ritula seksual laki-laki dan perempuan.

Selain itu, Tantrayana juga dikatakan sangat menjunjung tinggi posisi Wanita sebagai kreasi manusia. Fakta itu nampak pada penghormatan yang agung terhadap Dewi Duga sebagai ibu.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore