Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 18.53 WIB

Film Birdman: Satir Gelap tentang Ketenaran, Seni, dan Krisis Identitas

Michael Keaton dalam Film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance). (IMDb) - Image

Michael Keaton dalam Film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance). (IMDb)

JawaPos.com - Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) adalah film drama komedi gelap yang disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu.

Dilansir dari Britannica dan IMDb, film karya González yang dirilis pada 2014 ini menampilkan pemeran utama Michael Keaton bersama nama-nama besar lain seperti Edward Norton, Emma Stone, Naomi Watts, Zach Galifianakis, dan Andrea Riseborough.

Cerita berpusat pada Riggan Thomson (Michael Keaton), seorang aktor yang dulu tenar berkat perannya sebagai pahlawan super Birdman dalam trilogi film populer dua puluh tahun sebelumnya.

Kini Riggan berusaha membuktikan dirinya bukan sekadar bintang masa lalu. Ia menulis, menyutradarai, sekaligus membintangi sebuah pertunjukan Broadway yang diadaptasi dari karya Raymond Carver, demi mendapatkan pengakuan sebagai seniman sejati.

Namun, perjalanan itu tidak mudah. Riggan kerap diganggu suara dan bayangan alter egonya, Birdman, yang menjadi simbol dari obsesi dan kerinduannya terhadap ketenaran masa lalu.

Latar utama film berada di balik layar persiapan pementasan Broadway. Penonton diajak menyaksikan latihan yang penuh tekanan, konflik antar pemain, kritik pedas, hingga insiden kecil yang membuat Riggan harus mengambil keputusan ekstrem agar pertunjukan tetap berjalan.

Selain soal karier, film juga menyoroti hubungan Riggan dengan putrinya, Sam (Emma Stone). Sam digambarkan sebagai sosok penuh luka dan kerinduan, yang hubungannya dengan Riggan ikut menentukan perjalanan emosional sang ayah.

Konflik makin memanas dengan hadirnya Mike Shiner (Edward Norton), seorang aktor berbakat tapi temperamental. Persaingan mereka di panggung menggambarkan benturan antara seni yang autentik dengan tuntutan hiburan spektakuler.

Secara visual, Birdman dibuat seolah hanya terdiri dari satu pengambilan gambar panjang. Teknik ini menciptakan kesan intens sekaligus menegangkan, seolah penonton terjebak bersama Riggan di balik panggung sempit Broadway.

Sinema ini juga memadukan penyuntingan, pencahayaan, dan framing yang rapi, menghasilkan atmosfer teatrikal yang berpadu dengan nuansa surealis. Halusinasi dan kenyataan dalam pikiran Riggan ditampilkan tanpa batas yang jelas.

Musik pun memegang peran besar. Komposisi drum yang sederhana namun ritmis serta lagu-lagu kontemporer memberi energi tambahan, menekankan ketegangan batin para tokoh.

Di balik keindahan teknisnya, Birdman membawa tema besar, yakni krisis identitas, pencarian relevansi seni, kebutuhan akan pengakuan, hingga pertanyaan tentang integritas seniman di era budaya pop yang sarat komersialisasi.

Film ini juga menjadi sindiran terhadap industri hiburan modern, mulai dari media, kritikus, hingga obsesi artis pada warisan peran ikonis yang melekat sepanjang karier mereka.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore