Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Juni 2025 | 06.28 WIB

Review Film Ballerina Spin Off dari John Wick yang Suguhkan Alur Cerita Lebih Segar namun Tetap Menegangkan

Film Ballerina (Dok. IMDb) - Image

Film Ballerina (Dok. IMDb)

JawaPos.com - Di dunia John Wick yang dipenuhi sindikat gelap dan para pembunuh yang bekerja untuk mereka, ayah Eve muda (David Castaneda) dibunuh oleh klan yang tidak dikenal. Winston (Ian McShane), manajer tempat berlindung bagi para pembunuh bayaran, Continental Hotel, membawa gadis yang merupakan putrinya agar berada di bawah perlindungannya.

Dilansir dari laman The Straits Times pada Kamis (5/6), Eve dikirim ke Ruska Roma, sebuah organisasi yang mengelola sekolah balet agar melatih para siswa untuk menjadi anggun sekaligus mematikan.

Di bawah pengawasan Direktur (Anjelica Huston), Eve (Ana de Armas) menghitung hari hingga dia dapat membalas dendam pada orang-orang yang membunuh ayahnya.

Film spin-off pertama dari waralaba John Wick yang dibintangi Keanu Reeves (2014 hingga 2023) ini memiliki semua elemen khasnya yang dibaluti dengan adegan tembak-menembak, kekerasan yang intens, dan penggunaan senjata secara vulgar.

Film ini juga memiliki sesuatu yang kurang dalam film-film seri sebelumnya dimana cerita pada bagian awal, tengah, dan akhir. Alur waktu Ballerina berlatar antara peristiwa John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019) dan John Wick: Chapter 4 (2023).

Ana De Armas Aktris asal Kuba-Spanyol tampil luar biasa sebagai agen kekacauan yang menakutkan. Dia hadir dengan sangat garang, baik secara fisik maupun emosional. Sebagai protagonis, kemarahan Eve yang kuat jauh lebih bisa diterima daripada sikap tenang Wick yang dingin, yang telah hadir sejak Reeves berperan sebagai pembunuh bayaran di film pertama John Wick.

Semesta John Wick diketahui terinspirasi oleh film seni bela diri yang berlatar di Tiongkok atau Jepang yang dipenuhi klan-klan akan perebutan kekuasaan.

Ballerina sendiri adalah kisah klasik Hong Kong tentang seorang yatim piatu yang dibesarkan di kuil Shaolin dan dilatih agar tak terkalahkan, sehingga ia bisa melunasi hutangnya dalam pertarungan klimaks.

Hanya ada sedikit cerita yang berlebihan yang menyeret dua film John Wick terakhir dimana hal-hal tentang High Table dan aturan tata tertibnya yang rumit untungnya tidak ada. Penyertaan Ruska Roma dan Continental Hotel dijaga seminimal mungkin dan terasa penting bagi cerita.

Pada film keempat, jelas terlihat kelelahan telah terjadi, dengan alur cerita yang menggerakkan Wick dari satu pertarungan ke pertarungan lain menjadi lebih tegang dan membengkak.

Namun Ballerina tidak menyia-nyiakan cerita dan tokoh utamanya dengan aksi yang lemah. Pertarungannya dikoreografi dengan sangat memukau, dengan satu hal yang menarik adalah pertempuran yang berlatar di Praha yang menggunakan granat tangan sebagai senjata.

Adegan itu menawarkan hasil maksimal, di mana awal yang baru ini merupakan langkah yang baik, serta menjadi pertanda positif bagi masa depan waralaba tersebut saat menuju film John Wick kelima dan sejumlah sekuel serta prekuel animasi dan live-action.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore