Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Maret 2025 | 23.45 WIB

Beda Dragon Ball Z dan Kai: Mana yang Harus Ditonton Penggemar Baru?

Dragon Ball Z. (Screenrant)

JawaPos.comDragon Ball Z adalah salah satu anime paling legendaris yang pernah ada. Namun, seiring waktu berjalan, muncul versi baru bernama Dragon Ball Z Kai yang mencoba memperbaiki kekurangan seri orisinal.

Dikutip dari Screen Rant, kehadiran Kai menimbulkan perdebatan di kalangan penggemar: apakah ini versi definitif dari kisah Goku, atau justru menghilangkan daya tarik aslinya?

1. Dragon Ball Z: Ikonik, Tapi Penuh Filler

Anime ini tayang sejak 1989 dan memperkenalkan dunia pada konsep Super Saiyan dan pertarungan antarplanet yang epik. Visualnya memang tidak selalu konsisten, tapi tetap punya gaya khas yang kuat.

Masalah utama dari Dragon Ball Z adalah pacing yang lambat dan banyak episode filler (tambahan non-canon). Karena anime ini tayang bersamaan dengan manga Akira Toriyama, Toei Animation kerap mengulur cerita agar tak menyusul materi sumbernya.

2. Dragon Ball Z Kai: Versi Cepat dan Lebih Setia pada Manga

Untuk merayakan ulang tahun ke-20, Dragon Ball Z Kai dirilis pada 2009 dengan misi menyegarkan tampilan anime. Visual diperbarui untuk HDTV, dialog diulang, dan filler dihapus.

Total 291 episode dipangkas menjadi 167, menjadikan Kai lebih ringkas dan mendekati alur asli manga. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang lebih cepat dan padat, dengan cerita yang lebih fokus.

3. Perubahan Tak Selalu Diterima Baik

Meski lebih akurat secara naratif, tak semua penggemar puas. Versi dub Inggris kehilangan Faulconer soundtrack yang ikonik, dan ada beberapa pengisi suara yang diganti.

Beberapa adegan berdarah juga disensor, terutama saat tayang di TV Amerika Utara. Namun versi streaming dan rilis fisik disebut masih memuat versi tanpa sensor.

4. Nostalgia vs Efisiensi

Penghapusan filler memang membuat cerita lebih efisien. Tapi tak sedikit fans yang justru menyukai bagian filler, seperti saat Goku dan Piccolo belajar menyetir—momen ringan yang memberi warna pada seri.

Beberapa juga lebih suka dialog dub lama yang meski tidak akurat, terasa lebih ekspresif. Ini membuat Dragon Ball Z orisinal tetap dicintai karena pesona khasnya.

5. Perlukah Remake Penuh?

Melihat kesuksesan Dragon Ball Z Kai dan kemunculan seri terbaru seperti Dragon Ball Daima, muncul wacana remake total. Animator senior Dragon Ball, Katsuyoshi Nakatsuru, bahkan menyatakan tertarik terlibat jika proyek ini benar terjadi.

Selama remake itu belum terjadi, penonton punya dua pilihan: versi orisinal penuh nostalgia, atau versi Kai yang lebih cepat dan fokus. Mana pun pilihanmu, keduanya tetap menawarkan petualangan epik bersama Goku dan kawan-kawan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore