Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Mei 2021 | 02.30 WIB

Drama Korea Move to Heaven, Kisah Pengumpul Barang Para Mendiang

Drama Korea Move to Heaven. (Netflix) - Image

Drama Korea Move to Heaven. (Netflix)

JawaPos.com – Salah satu drama Korea yang banyak dibicarakan pekan ini adalah Move to Heaven. Bertema keluarga, serial 10 episode itu sukses mengaduk emosi penonton di setiap momennya sejak dirilis di Netflix pada 14 Mei.

Serial dengan rating 8,9 di IMDb itu mengisahkan Geu-ru (Tang Joon-sang), pemuda 20 tahun yang menderita sindrom Asperger ringan. Dia hidup dengan menjalankan bisnis trauma cleaner bernama Move to Heaven bersama ayahnya, Han Jeong-u (Ji Jin-hee).

Dalam pekerjaan itu, mereka bertugas membersihkan lokasi kejadian tempat orang meninggal. Suatu hari, Jeong-u meninggal mendadak. Dia meninggalkan putranya seorang diri. Namun, lewat pengacaranya, Jeong-u telah meminta adiknya, Sang-gu (Lee Je-hoon), untuk menjadi wali Geu-ru.

Sang-gu yang merupakan petarung bela diri ilegal punya karakter yang sangat berbeda dengan Geu-ru dan ayahnya. Dia dingin dan cuek. Setelah keluar dari penjara, dia memenuhi keinginan Jeong-u itu. Hari demi hari pun dilalui dengan sulit. Terutama ketika Sang-gu harus membantu Geu-ru melanjutkan Move to Heaven, dengan dibantu tetangga bernama Na-mu (Hong Seung-hee).

Tak disangka, peran baru tersebut perlahan mengubah Sang-gu. Tim produksi menggambarkannya dengan sabar. Penonton diajak mengikuti fase-fase hubungan para pemain lewat pekerjaan yang mereka jalani.

Cerita itu terinspirasi esai nonfiksi bertajuk Ddeonan Hooe Namgyeojin Geotdeul (Hal-Hal yang Tertinggal) yang terbit pada 20 Juli 2015. Esai tersebut ditulis Kim Shae-byeol, orang pertama di Korea Selatan yang bekerja dengan mengumpulkan barang-barang tertinggal milik orang yang baru meninggal.

’’Saat menyiapkan serial ini, aku berkesempatan bertemu Kim. Produksi ini berutang pada hidup dan pengalamannya,’’ kata Je-hoon, seperti dilansir dari The Korea Herald. Je-hoon mengaku menangis setelah membaca skenarionya. Dia menyebut karakter itu terhubung dengannya dan kehidupan sosial masa kini.

Tiap episode Move to Heaven menampilkan kisah tak terduga dari orang-orang yang telah meninggal. Penonton dibuat memahami pesan di balik barang-barang yang ditinggalkan orang tersebut. Serial itu juga menyinggung isu di masyarakat Korea Selatan tentang ketimpangan ekonomi dan kurangnya komunikasi antarmanusia.

Sering kali ceritanya terasa ironis. Misalnya, dalam salah satu episode, ada ibu yang meninggal sendirian di sebuah kamar sempit. Jasadnya ditemukan tiga pekan kemudian. Namun, anak dan menantunya hanya peduli soal uang yang ditinggalkan mendiang. Mereka memunguti setiap lembar uang yang membusuk di bawah tempat tidur mendiang ibunya.

’’Sebagai anggota masyarakat modern, aku pikir masalah ini tidak boleh diabaikan. Aku merasakannya saat mengerjakan serial ini. Aku berharap pemirsa juga memahami ceritanya dan pesannya akan beresonansi dengan mereka,’’ ucap Je-hoon, sebagaimana dilansir dari The Star.

Sutradara Kim Sung-ho pun berharap pekerjaan trauma cleaner yang tak pernah disorot mendapat perhatian lebih luas. Dengan begitu, penonton bisa belajar melihat realitas di sekitarnya. ’’Cara orang-orang ini dapat mendengar dan merasakan kisah-kisah tak terungkap dari mereka yang telah meninggal, aku benar-benar tergerak untuk mengarahkan serial ini,’’ ungkapnya.

Serial tersebut juga menyoroti sindrom Asperger yang jarang muncul di serial drama Korea. Lewat kelihaian peran Joon-sang, penonton sedikit banyak memahami gangguan saraf yang tergolong gangguan spektrum autisme tersebut. Joon-sang pun mengakui bahwa peran itu sangat menantang.

’’Aku merasakan beberapa tekanan. Tapi, ketika syuting dimulai, aku belajar banyak dari Lee Je-hoon dan Hong Seung-hae yang menyingkirkan tekanan itu,’’ papar aktor berdarah Malaysia-Korea Selatan itu, sebagaimana dilansir dari New Strait Times.

Kini, penonton menginginkan season kedua, sebagaimana dirasakan Je-hoon. Dia, tampaknya, sedikit membocorkan bahwa season kedua akan terwujud. ’’Awalnya, 10 episode terasa cukup. Tapi, setelah menyelesaikannya, aku pikir harus lebih. Ini bukan akhir dari cerita 10 bagian. Ceritanya harus berlanjut,’’ tutur Je-hoon.

Ingin Tinggalkan DVD saat Meninggal


Nama Lee Je-hoon makin meroket berkat dua serial yang sedang menuai popularitas. Ada Taxi Driver yang tayang mulai 9 April lalu, serta serial 10 episode Move to Heaven.

Dalam serial Taxi Driver, Je-hoon berperan sebagai Kim Do-gi, sopir taksi yang membalas ketidakadilan atas permintaan klien. Sementara itu, di Move to Heaven, dia memerankan mantan narapidana yang mendadak diminta jadi wali keponakannya yang menderita sindrom Asperger, sekaligus bekerja sebagai trauma cleaner.

’’Aku awalnya khawatir dua serial itu akan tumpang-tindih. Tapi, aku lega, orang-orang tampaknya menikmati masing-masing secara individual,’’ katanya, sebagaimana dilansir dari Korea JoongAng Daily.

Dua karakter itu sangat berbeda, namun memiliki satu kesamaan. Yakni, bukan karakter sempurna yang terus berkembang seiring berjalannya cerita. Je-hoon menyelesaikan syuting Move to Heaven lebih dulu meski serial Taxi Driver lebih dulu dirilis dan kini tengah berlanjut. Bahkan, perannya di Move to Heaven memengaruhi keputusannya dalam menerima peran di Taxi Driver. Pasalnya, dia mengaku lebih tertarik dengan orang lain dan masyarakat setelah membintangi drama tersebut.

’’Ketika melihat kembali kehidupanku dan berpikir apakah pernah ada saat ketika aku benar-benar menjangkau, apalagi mengungkapkan kata hiburan kepada mereka yang aku sayangi, aku tidak dapat memikirkan apa pun. Aku merasa canggung tentang itu,’’ ungkap alumnus School of Drama di Korea National University of Arts itu.

Saking cintanya dengan Move to Heaven, aktor yang memulai kariernya lewat film indie itu meminta fansnya menyaksikan serial tersebut sebelum menonton proyeknya yang lain. ’’Semua pekerjaanku itu penting. Tapi, bagiku, Move to Heaven adalah sesuatu yang benar-benar berbeda,’’ ujarnya, sebagaimana dilansir dari The Star.

Terkait perannya sebagai trauma cleaner, Je-hoon mengungkapkan benda yang ingin ditinggalkannya ketika meninggal kelak. Yakni, satu set DVD film dan serial TV yang pernah dibintanginya. Kemudian, dia ingin menyusun kembali ceritanya lewat filmografi pada hari terakhir hidupnya. ’’Bahkan setelah mati, aku ingin dikenang sebagai aktor yang memiliki film dan pertunjukan yang layak ditonton,’’ ucapnya, seperti dilansir dari Yonhap News.

TAHUKAH ANDA?

- Memerankan mantan atlet bela diri underground di Move to Heaven, Je-hoon berlatih intensif selama empat bulan sebelum syuting. Dia berolahraga enam hari seminggu.

- Je-hoon dijuluki 19+ Person karena membintangi dua drama dengan rating 19+. Yakni, Taxi Driver dan Move to Heaven yang tayang bersamaan. ’’Aku tak bisa memikirkan julukan itu,’’ katanya, sebagaimana dilansir dari Soompi.

Baca Juga: Selfie dan Sopir Mengantuk yang Berujung Maut, 8 Orang Tewas

- Bakal merilis film pendek yang dirilis di Watcha pada November mendatang. Film yang ditulis dan disutradarainya sendiri itu bercerita tentang apa yang dipikirkan anak muda di usia 20–30 tahunan. ’’Spesifiknya, bagaimana mereka melihat ekonomi, menggunakannya, mengonsumsinya, dan apa yang ingin mereka tingkatkan dari itu,’’ paparnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore