
Drama Korea Move to Heaven. (Netflix)
JawaPos.com – Salah satu drama Korea yang banyak dibicarakan pekan ini adalah Move to Heaven. Bertema keluarga, serial 10 episode itu sukses mengaduk emosi penonton di setiap momennya sejak dirilis di Netflix pada 14 Mei.
Serial dengan rating 8,9 di IMDb itu mengisahkan Geu-ru (Tang Joon-sang), pemuda 20 tahun yang menderita sindrom Asperger ringan. Dia hidup dengan menjalankan bisnis trauma cleaner bernama Move to Heaven bersama ayahnya, Han Jeong-u (Ji Jin-hee).
Dalam pekerjaan itu, mereka bertugas membersihkan lokasi kejadian tempat orang meninggal. Suatu hari, Jeong-u meninggal mendadak. Dia meninggalkan putranya seorang diri. Namun, lewat pengacaranya, Jeong-u telah meminta adiknya, Sang-gu (Lee Je-hoon), untuk menjadi wali Geu-ru.
Sang-gu yang merupakan petarung bela diri ilegal punya karakter yang sangat berbeda dengan Geu-ru dan ayahnya. Dia dingin dan cuek. Setelah keluar dari penjara, dia memenuhi keinginan Jeong-u itu. Hari demi hari pun dilalui dengan sulit. Terutama ketika Sang-gu harus membantu Geu-ru melanjutkan Move to Heaven, dengan dibantu tetangga bernama Na-mu (Hong Seung-hee).
Tak disangka, peran baru tersebut perlahan mengubah Sang-gu. Tim produksi menggambarkannya dengan sabar. Penonton diajak mengikuti fase-fase hubungan para pemain lewat pekerjaan yang mereka jalani.
Cerita itu terinspirasi esai nonfiksi bertajuk Ddeonan Hooe Namgyeojin Geotdeul (Hal-Hal yang Tertinggal) yang terbit pada 20 Juli 2015. Esai tersebut ditulis Kim Shae-byeol, orang pertama di Korea Selatan yang bekerja dengan mengumpulkan barang-barang tertinggal milik orang yang baru meninggal.
’’Saat menyiapkan serial ini, aku berkesempatan bertemu Kim. Produksi ini berutang pada hidup dan pengalamannya,’’ kata Je-hoon, seperti dilansir dari The Korea Herald. Je-hoon mengaku menangis setelah membaca skenarionya. Dia menyebut karakter itu terhubung dengannya dan kehidupan sosial masa kini.
Tiap episode Move to Heaven menampilkan kisah tak terduga dari orang-orang yang telah meninggal. Penonton dibuat memahami pesan di balik barang-barang yang ditinggalkan orang tersebut. Serial itu juga menyinggung isu di masyarakat Korea Selatan tentang ketimpangan ekonomi dan kurangnya komunikasi antarmanusia.
Sering kali ceritanya terasa ironis. Misalnya, dalam salah satu episode, ada ibu yang meninggal sendirian di sebuah kamar sempit. Jasadnya ditemukan tiga pekan kemudian. Namun, anak dan menantunya hanya peduli soal uang yang ditinggalkan mendiang. Mereka memunguti setiap lembar uang yang membusuk di bawah tempat tidur mendiang ibunya.
’’Sebagai anggota masyarakat modern, aku pikir masalah ini tidak boleh diabaikan. Aku merasakannya saat mengerjakan serial ini. Aku berharap pemirsa juga memahami ceritanya dan pesannya akan beresonansi dengan mereka,’’ ucap Je-hoon, sebagaimana dilansir dari The Star.
Sutradara Kim Sung-ho pun berharap pekerjaan trauma cleaner yang tak pernah disorot mendapat perhatian lebih luas. Dengan begitu, penonton bisa belajar melihat realitas di sekitarnya. ’’Cara orang-orang ini dapat mendengar dan merasakan kisah-kisah tak terungkap dari mereka yang telah meninggal, aku benar-benar tergerak untuk mengarahkan serial ini,’’ ungkapnya.
Serial tersebut juga menyoroti sindrom Asperger yang jarang muncul di serial drama Korea. Lewat kelihaian peran Joon-sang, penonton sedikit banyak memahami gangguan saraf yang tergolong gangguan spektrum autisme tersebut. Joon-sang pun mengakui bahwa peran itu sangat menantang.
’’Aku merasakan beberapa tekanan. Tapi, ketika syuting dimulai, aku belajar banyak dari Lee Je-hoon dan Hong Seung-hae yang menyingkirkan tekanan itu,’’ papar aktor berdarah Malaysia-Korea Selatan itu, sebagaimana dilansir dari New Strait Times.
Kini, penonton menginginkan season kedua, sebagaimana dirasakan Je-hoon. Dia, tampaknya, sedikit membocorkan bahwa season kedua akan terwujud. ’’Awalnya, 10 episode terasa cukup. Tapi, setelah menyelesaikannya, aku pikir harus lebih. Ini bukan akhir dari cerita 10 bagian. Ceritanya harus berlanjut,’’ tutur Je-hoon.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
