
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming di acara Panggung Kahanan (5/5) di Dalem Joyokusuman, Solo. (M. Ihsan/Jawa Pos Radar Solo)
Tanggal 5 Mei 2020 menjadi hari patah hati nasional bagi para Sobat Ambyar. Fans Didi Kempot kehilangan sang panutan yang tak bosan-bosannya berpesan: kalau sedang patah hati, ya dijogeti.
---
Bapak, bapak, tekadmu kuwi tak puji
Bapak, bapak, kowe koyo senopati
Bapak, bapak, panasmu ngungkuli geni
Bapak, bapak, keno angin soyo ndadi
Senajan uwis tuwo, nekat mempeng kerjo
Nyambut gawe, kanggo nguripi kluwargo
ITULAH lirik lagu Bapak yang dinyanyikan Saka Praja Adil Prasetya di Dalem Joyokusuman, Solo, pada Rabu sore itu (5/5). Saka bersama sang ibu, Yan Vellia, dan adiknya Seika Zanithaqisya Prasetya menggelar acara mengenang setahun berpulangnya The Godfather of Brokenheart –julukan Didi Kempot– bertajuk Panggung Kahanan.
’’Lagu yang selalu bikin saya ingat dengan papa. Apalagi waktu syuting klip videonya,” kata Saka. ’’Lagunya menceritakan seorang bapak yang tak pernah menyerah mencari uang untuk keluarganya, kayak papa, persis,’’ lanjut anak berusia 11,5 tahun itu.
Bagi Yan Vellia, Saka dan Seika jadi warisan terbesar mendiang Didi Kempot untuknya. Di bawah label yang dia bentuk, Saka Bumi Official, wanita 39 tahun tersebut telah meluncurkan single untuk dua buah hatinya itu. Beberapa di antaranya ciptaan sang ayah. Misalnya, Saka yang menyanyikan single Layang Kangen atau Seika dengan single Kuncung.
Nah, fans Didi Kempot yang merindukan sosok sang idola melihat Saka tampil bisa jadi pengobat rindu. Sebab, ada kesamaan antara gaya panggung Saka dengan sang ayah. ’’Terutama dari bahasa tubuhnya. Saat syuting pertama kami terharu dan nangis karena body language-nya plek dengan bapaknya. Dari gerakan jari, bahunya, sama plek,’’ terang Yan Vellia yang kemarin WIB (8/5) juga merilis single Ora Iso Mulih yang juga karya suaminya.
Padahal, kenang dia, Saka semasa sang ayah masih hidup tidak mau menyanyi. Tapi, itu semua berubah tiga hari setelah ayahnya wafat. ’’Dia mimpi kalau bapaknya berada di panggung besar dan kami bertiga nonton, terus bapak bilang: Ayo munggah Le, nyanyi karo bapak, neruske lagu-lagune bapak (Ayo naik Nak, nyanyi dengan bapak, meneruskan lagu-lagunya bapak, Red). Habis itu, dia bilang: Aku mau nyanyi, mau nerusin papa. Semua mengalir tanpa paksaan,’’ beber Yan.
Yang terjadi dengan Saka itu mengagetkan keluarga dan orang-orang dekat Didi Kempot. Maklum, awalnya mereka hanya mengira sang adiklah yang akan mewarisi bakat ayahnya. Seika bahkan sudah dibuatkan lagu berjudul Yen Nakal Tak Tutuk (Kalau Nakal Saya Pukul) ketika masih berusia 1,5 tahun. Lucunya, Seika lebih suka dengan lagu-lagu karya sang ayah daripada lagu-lagu anak-anak.
Yan berharap, kedua anaknya bakal meneruskan perjuangan sang ayah yang konsisten di dalam membangun lagu-lagu berbahasa Jawa. Melalui manajemen yang dia dirikan dengan sang suami, DK Management, Yan Vellia membuka kemungkinan merekrut penyanyi-penyanyi muda untuk menyanyikan lagu-lagu karya Didi Kempot. ’’Ojo lali lagu-lagu Jowo (Jangan lupa dengan lagu-lagu Jawa, Red), seperti yang beliau perjuangkan selama ini,’’ tutur Yan.
Sementara itu, bukan hanya lagu-lagu Jawa karyanya yang menjadi warisan Didi Kempot setahun sepeninggalnya. Pada pengujung tahun ini, Sobat Ambyar, Kempoters, ataupun Dulur Didi Kempot di mana pun berada bisa lebih dekat dengan musisi pujaannya itu seiring rencana pembukaan museumnya.
Photo
SANG PENERUS: Putra sulung almarhum Didi Kempot, Saka Praja Adil Prasetya, di acara Panggung Kahanan (5/5). (M. Ihsan/Jawa Pos Radar Solo)
Setelah peletakan batu pertama sebulan lalu, sampai saat ini museum yang lokasinya di sebelah rumah tinggal Didi Kempot di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, itu masih dalam pembangunan. ’’Saya terinspirasi Museum Nike Ardilla,’’ ungkap Yan Vellia yang mengidolakan sosok Nike. Dia bahkan pernah tinggal di dekat museum Nike Ardilla itu.
Makanya, dia paham detail dari museum tersebut dan ingin suaminya juga punya museum serupa di samping kediamannya. Rencananya, museum tersebut terdiri atas dua lantai, dengan lantai bawah sebagai aula yang bisa menampung sekitar 50 orang dan lantai 2 sebagai tempat menyimpan barang-barang memorabilia Didi Kempot.
Baca Juga: Kongsi Pecah, Bisnis MLM Macet, Modal Rp 3,5 M Hilang
Barang-barang pribadi milik sang maestro pun akan dipamerkan di museum tersebut. Mulai baju kesehariannya, tas kecil yang sering dibawa show lengkap berserta isinya seperti minyak rambut, rokok, dan koreknya, hingga telepon seluler dan kacamatanya. Baju-baju yang dikenakan saat show di TV, baju-baju kejawen, sampai baju show off air. ’’Saya ingin, Mas Didi bisa dikenang seperti mendiang Nike Ardilla,’’ harapnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
