Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Oktober 2023 | 23.21 WIB

Pengalaman Sensorik dari Industri Kretek Menghadirkan Sensasi Indonesia

SENSORIK: Jeng Yah (kiri) dan Raya dalam salah satu adegan serial Gadis Kretek yang berlatar waktu 1960-an.

Rekaman Perjalanan Bersama Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek di Busan

Indonesia menjadi sorotan dalam Busan International Film Festival (BIFF) 2023. Sebanyak 17 karya sinematik Indonesia diputar di kawasan Centum-ro, Busan, Korea Selatan, dalam gelaran Renaissance of Indonesian Cinema. Di antaranya, 24 Jam Bersama Gaspar, Sara, dan serial Gadis Kretek. Jawa Pos berkesempatan menyaksikan world premiere ketiganya.

GADIS KRETEK merupakan satu-satunya serial dalam gelaran Renaissance of Indonesian Cinema pada BIFF 2023. Rencananya, serial yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ratih Kumala itu tayang di Netflix secara global pada 2 November mendatang.

Dua di antara total lima episode Gadis Kretek diputar perdana pada Kamis (5/10) waktu setempat. Karya sinematik Kamila Andini dan Ifa Isfansyah itu berdurasi satu jam. Penonton dibuat terkesima sejak Dasiyah alias Jeng Yah yang diperankan Dian Sastrowardoyo membuka adegan, lalu disusul kehadiran Soeraja alias Raja yang diperankan Ario Bayu.

Sekelumit intro tersebut mengantarkan ke rangkaian adegan berikutnya yang berlatar masa sekarang. Jeng Yah menjadi pusat dunia Raja, bahkan setelah dia renta dan sakit-sakitan. Raja tua yang diperankan Pritt Timothy meminta anaknya mencari Jeng Yah.

Siang itu audiens bertepuk tangan setelah dua episode rampung ditayangkan. Para cast bersama Kamila dan Ifa terlihat bangga atas sambutan tersebut. ’’Saya sudah berhenti merokok, tapi melihat serial ini, saya kepikiran buat merokok lagi. Haha...,” seloroh seorang moviegoer lokal.

Gadis Kretek menawarkan pengalaman lain bagi para penonton, baik yang sudah maupun belum membaca bukunya. Banyak adegan yang memberikan pengalaman sensorik bagi penonton, terlebih di layar besar dengan audio mumpuni. Ada suara cengkih digerus, daun tembakau dirajang, dan embusan napas Jeng Yah saat membaui kretek. Kamila dan Ifa juga banyak menggunakan konsep zoom untuk menampilkan guratan dan tekstur daun tembakau serta asap kretek.

’’Gadis Kretek ini berkisah tentang perempuan dengan bakat dan passion yang unik, tapi jarang diangkat. Kami ingin sensitivitas dan bakat tersebut dirasakan penonton,” terang Ifa usai pemutaran karyanya.

Dari segi cerita, serial Gadis Kretek berbeda dengan novelnya. Serial Gadis Kretek berfokus pada bisnis kretek Jeng Yah dengan latar waktu 1960-an. Perjuangan Jeng Yah meyakinkan keluarga terkait bisnisnya dan menolak perjodohan dengan orang asing menjadi nyawa serial tersebut. Penonton disuguhi emosi beragam Jeng Yah.

Sementara itu, Kamila menyebut serial Gadis Kretek sebagai potret agrikultural di Indonesia. ”Banyak orang bergantung sama industri ini. Kebetulan di dekat rumah saya ada ladang tembakau juga,” paparnya.

Pengalaman serta eksplorasi Ifa dan Kamila terhadap Gadis Kretek justru membuat mereka memberikan ruang yang luas kepada para pemain serialnya. Ratih yang terlibat sebagai penulis naskah serial bersama Tanya, Kanya K. Priyanti, dan Ambaridzki Ramadhantyo juga membebaskan para pemain melakukan improvisasi. (len/c6/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore