
Lola Amaria dalam pemutaran Film Eksil di Metropole XXI Jakarta pada Senin (25/9).
JawaPos.com – ’’Tubuh saya memang di sini, Swedia. Tapi, pikiran saya tetap di sana, Indonesia,’’ ucap Tom Iljas, salah seorang tokoh dalam film dokumenter Eksil karya Lola Amaria. Kalimat itulah yang kiranya dapat merangkum film berdurasi 119 menit dan digarap lebih dari tujuh tahun tersebut.
Ijlas adalah satu di antara sepuluh eksil yang berkisah dalam film Eksil. Mendapat tugas belajar di era pemerintahan Soekarno, Iljas berangkat ke Tiongkok pada 1960.
Dia belajar di Institute of Agricultural Mechanization. Ketika 1965 dia ingin pulang ke tanah air, paspornya ditahan. Sebab, dia dikaitkan dengan peristiwa G 30 September 1965.
Iljas tidak sendiri, eksil yang tinggal di berbagai negara di Eropa itu bernasib sama. Terasing di negeri orang dan rindu akan tanah air. Lola berupaya merangkum cerita-cerita mereka yang terasingkan itu. Yang diakuinya sulit untuk digarap.
Sebab, banyak narasumber dalam filmnya yang tidak terbuka kepada orang asing. ’’Bahkan, saya sempat ditanya macam-macam,’’ papar Lola di Metropole XXI Jakarta pada Senin (25/9).
Lola tuduh intel. Ditanya siapa yang membiayai filmnya sampai dia diminta mengaku suruhan siapa ketika mewawancarai mereka, para eksil. Lola mengaku untuk riset film dokumenter eksil, dirinya membutuhkan waktu dua tahun. Waktu itu termasuk proses meyakinkan para eksil yang mau untuk di-shoot, mulai bangun tidur hingga tempat kerja.
Digarap penuh sejak 2015, film itu rampung pada 2022. Pandemi diakui Lola membuat proses film bisa digarap lebih cepat karena waktu luangnya cukup banyak. Film eksil tayang perdana pada 27 November tahun lalu di kompetisi JAFF Indonesian Screen Awards Festival Film Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2022.
Ketertarikan Lola pada tema itu sebenarnya dia rasakan sejak lama. Sejak SD sampai SMA, dia selalu disuguhi film pemberontakan G30S/PKI. ’’Dan selalu penasaran untuk melihat versi lain dari tayangan itu,’’ katanya.
Pada 2013, ketika mengikuti screening film di Jerman dan Belanda, oleh seorang kenalan, dia diajak untuk mengobrol dan bertemu salah seorang eksil. Dari sana, dia kemudian mulai tertarik dan melakukan riset mengenai mereka, orang-orang tua yang tak bisa pulang ke tanah air itu. ’’Dari sekitar dua puluhan eksil, yang bersedia hanya sepuluh orang,’’ katanya.
Sebenarnya, ada sebelas yang bersedia, tetapi Sardjio Mintardjo, salah seorang eksil, meninggal pada 2015. Tepat tiga bulan sebelum proses syuting dimulai. Berkejaran dengan usia para eksil yang telah lanjut, Lola tak ingin narsumnya semakin berkurang. Dia pun memutuskan proses syuting harus segera dimulai.
Lola mengatakan, dirinya ingin film tersebut diputar secara luas. Dia saat ini sedang menjalin kerja sama agar film itu bisa diputar di bioskop reguler. ’’Kemungkinan Desember tahun ini,’’ harapnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
