Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Desember 2018 | 17.10 WIB

Dulang Prestasi, Tahun 2018 BTS Tetap Kena Kontroversi

BTS - Image

BTS

JawaPos.com - Tahun 2018, boleh jadi tahun prestasi BTS. Namun mengikuti itu semua, grup yang digawangi oleh RM, Jin, Jimin, Suga, J-Hope, V, dan Jungkook ini tersandung kontroversi yang cukup serius karena menyangkut hubungan suatu negara. 


Tentu saja kontroversi yang datang di tengah prestasi BTS menjadi bumbu tersendiri bagi mereka. Semakin tinggi terbang maka akan semakin kencang pula goncangan angin yang dirasakan. Hal ini tentu saja sangat wajar dialami seseorang.


Usai menggelar tur fenomenal di Amerika dan Eropa, BTS tiba-tiba saja tersandung kontroversi yang melibatkan hubungan Korea dan Jepang. Awalnya, BTS pada 9 November, mereka dijadwalkan tampil di acara Music Station di Jepang, namun BTS yang dijadwalkan terbang ke Jepang pada 8 November tak terlihat di bandara. Rupanya para member BTS tak jadi pergi ke Jepang karena tampilnya mereka di acara tersebut dibatalkan.


Alasan penundaan tampilnya BTS di acara tersebut dikarenakan kaus yang dipakai Jimin beberapa waktu lalu. Saat itu Jimin memakai kaus yang bertuliskan tentang kemerdekaan dan pembebasan Korea dari penjajahan Jepang.


Dalam kaus tersebut, selain terdapat tulisan, juga terdapat foto dari bom nuklir yang menimpa kawasan Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Akibatnya, BTS dituduh oleh media di Jepang bahwa mereka sebenarnya anti terhadap negara tersebut.


Media itu juga mengompilasi bukti-bukti yang menunjukkan bahwa BTS anti-Jepang selain kaus yang dikenakan Jimin, yakni twit yang ditulis RM pada 2013 lalu saat peringatan hari kemerdekaan Korea.


Tidak hanya di Music Station yang ditayangkan Asahi TV, rencana BTS tampil di Kōhaku Uta Gassen, acara musik akhir tahun paling populer di Jepang yang ditayangkan stasiun televisi NHK, telah memilih untuk tidak mengundang mereka setelah pertimbangan yang cukup panjang. Padahal di awal tahun ini, banyak yang menantikan BTS akan tampil dan diundang untuk pertama kalinya di acara akhir tahun tersebut. BTS juga batal tampil di acara FNS Music Festival terkait dengan kontroversi tersebut.


Kendati demikian, kontroversi tersebut tidak membuat BTS membatalkan konser Love Yourself turnya di Jepang yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Bahkan para penggemar masih menyambut kedatangan BTS di bandara serta memadati konsernya yang digelar di Tokyo dan Osaka itu. Tidak hanya itu, di tengah kontoversi yang muncul, album Jepang BTS yang baru dirilis juga malah memuncaki chart musik Jepang, Oricon. Album tersebut memuat lagu Fake Love dan Airplane pt.2 versi Jepang.


Belum selesai masalah kontroversi kaus yang dikenakan oleh Jimin BTS itu, muncul lagi masalah baru. BTS tiba-tiba saja dituntut untuk meminta maaf kepada korban Holocaust oleh Asosiasi Hak Asasi Manusia Yahudi, Simon Wiesenthal Center. Mereka mengecam BTS karena penampilan salah satu anggota mereka, RM mengenakan topi ala Nazi beberapa waktu sebelumnya.


Asosiasi Simon Wiesenthal Center juga mengkritik BTS yang dianggap telah mengejek masa lalu Jepang dengan mengenakan kaus bergambar pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki. 


"Mengenakan kaus di Jepang mengejek para korban bom hanya insiden baru yang diciptakan grup ini untuk mengejek masa lalu," ujar Rabi Abraham Cooper, Dekan dari Asosiasi Simon Wiesenthal Center yang berbasis di Los Angeles, Amerika.


Ia melanjutkan, foto teaser BTS yang dirilis awal 2015 lalu juga telah menjadi kesalahan BTS lainnya. Dalam foto tersebut, RM BTS mengenakan topi dengan simbol Death Head Unie (SS-Totenkopfverbändeand), organisasi yang mengelola kamp konsentrasi dari Nazi.


Di saat yang sama, Cooper juga mempresentasikan foto-foto anggota BTS yang berpose di Holocaust Memorial di Berlin serta video mereka yang mengibarkan bendera yang terlihat mirip dengan bendera swastika Nazi di atas panggung.


"Kelompok yang diundang bicara di PBB, berutang pada orang-orang Jepang dan korban para Nazisme harus meminta maaf. Tapi itu tidak cukup. Jelas bahwa mereka yang merancang dan mempromosikan karir grup itu terlalu nyaman dengan merendahkan ingatan masa lalu. Hasilnya adalah generasi muda di Korea dan seluruh dunia lebih mungkin untuk mengidentifikasi kefanatikan dan intoleransi sebagai hal yang keren dan membantu menghapus pelajaran sejarah," terangnya.


Ia pun meminta agensi BTS, Big Hit Entertainment meminta maaf secara terbuka di samping para member BTS sendiri. Tak lama setelah itu, Big Hit Entertainment pun merilis permohonan maaf secara resmi pada 13 November. Big Hit mengatakan, pihaknya meninjau beberapa isu yang menimpa BTS, mulai dari kaus yang dipakai Jimin bergambar pengeboman kota Hiroshima hingga topi yang dipakai RM yang dituduh bergambar simbol Nazi.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore