
DERMAGA KOLONIAL: Pintu masuk pelayaran zaman dahulu masih terlihat di sisi selatan Bawean. Dermaga tersebut dibuat pada zaman Belanda.
Gerbang pelayaran masa lalu Bawean terletak di Dusun Boom, Desa Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura. Pada zaman kolonial, Belanda memperkuat jalur perdagangan Nusantara dengan membuat dermaga pangkalan pertahanan di sisi selatan pulau. Jejaknya masih terjaga hingga kini.
LETAK Bawean memang strategis dalam peta perdagangan Nusantara. Ibarat busur jangka, Bawean ada di titik porosnya. Pulau seluas 196,3 kilometer persegi itu menghubungkan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara.
Kawasan dermaga bikinan Belanda itu terletak di teluk yang memanjang hingga 6 kilometer. Saat kawasan tersebut jaya, banyak kapal uap yang bersandar di sana. Pengembangan itu berawal saat kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), menjejakkan kakinya di Nusantara pada 1743.
Muatan rempah-rempah dari Maluku seperti cengkih, kayu manis, dan lada singgah sejenak di Bawean sebelum melanjutkan pelayaran. Ada juga guci-guci asal Tiongkok yang hendak diperdagangkan ke seluruh Nusantara dan Eropa. Kru kapal yang membawa muatan berat itu rehat sejenak di pulau tersebut sebelum melanjutkan perjalanan lintas samudra.
Tempat menginap para pelaut zaman dulu berada tepat di sisi utara dermaga. Dulu Belanda menyebutnya Situ Loji. Setelah diambil alih Pemkab Gresik, namanya berubah jadi gedung pesanggrahan. Kompleks bangunan itu terdiri atas rumah utama yang dilengkapi dengan beberapa bangsal. Terdapat juga pos penjagaan dan tugu berbentuk segi lima di halaman depan. Sejumlah bangunan kini juga beralih fungsi menjadi kantor UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Sangkapura.
Bangunan tersebut terlihat jelas dari jarak 1 kilometer dari lepas pantai. Itu terlihat saat perahu yang ditumpangi peneliti Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta melakukan penelitian di perairan dekat dermaga tersebut.
Riset didasarkan peta laut navionic. Di sana tergambar kapal karam yang berada tidak jauh dari pantai. Nelayan sekitar mengungkapkan, kapal itu sudah lama ditambang. Tak ada lagi sisa yang bisa diteliti.
Namun, tim peneliti tetap melakukan pencarian. Sebab, bisa saja masih ada sisa fragmen kapal yang diteliti. Namun, saat dilakukan penyelaman sedalam 30 meter, tidak ada pertanda keberadaan kapal karam. ”Cuma lumpur,” ujar Teguh Prasodjo, salah seorang penyelam.
Kasi Purbakala dan Kesejarahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gresik Iling Khairil Anwar paham betul tentang perairan Bawean. Dia lahir dan besar di Pulau Putri, sebutan lain Bawean. ”Memang dahulu sudah banyak diambil penyelam kompresor,” jelasnya.
Penambang bangkai kapal itu tidak memakai tangki selam. Nyawa mereka hanya digantungkan pada slang dan kompresor yang biasa digunakan untuk mengisi angin ban. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat cara menyelam yang salah itu.
Para penyelam yang didorong faktor ekonomi tersebut juga tidak memiliki alat navigasi canggih. Mereka tidak punya teknologi global positioning system (GPS) untuk mengunci titik penyelaman. Namun, para penambang menemukan cara untuk menandai lokasi kapal itu. Khairil menceritakan, para penyelam tersebut berangkat dengan perahu ke barat daya. Arah itu segaris lurus dengan jalan dermaga yang menjorok ke laut.
Setelah dirasa sudah dekat dengan lokasi yang dituju, mereka meletakkan dayung di pangkuan. Dayung tersebut harus membentuk sudut siku-siku, 90 derajat dengan tepian perahu. Bila dayung tersebut telah menunjuk ke Tanjung, berarti mereka sudah sampai. ”Orang Bawean menyebut cara ini sebagai baringan. Artinya tanda-tanda. Itu navigasi tradisional kami,” ujar arkeolog asal Bawean tersebut.
Para penambang itu benar-benar mengambil habis seluruh bagian kapal. Setelah tidak mendapat hasil, perahu balar mendekati dermaga lawas. Tempat pertama yang dituju adalah pemecah ombak. Panjangnya sekitar 500 meter. Yang unik, Belanda membangun pemecah ombak itu dengan material hard coral alias batu karang. ”Kalau material lain mungkin sudah hancur sejak dulu,” ujar Khairil.
Material batu karang itu dipotong kotak-kotak. Belanda menyusunnya bersaf-saf layaknya piramida di Mesir. Tak ada perekat atau semen yang digunakan. Namun, batu-batu itu lengket dengan sendirinya. ”Kalau diangkat berat sekali,” ucap Khairil.
Pria yang tinggal di dekat Alun-Alun Bawean itu pernah meneliti pemecah ombak tersebut. Namun, hingga kini belum diketahui pada tahun berapa pemecah ombak itu dibangun. Yang jelas sudah lebih dari seratus tahun.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
