seseorang yang menemukan pasangan yang cukup baik / foto: Magnific/jcomp
Pasangan harus romantis, menarik, mapan, komunikatif, selalu memahami kita, punya humor yang cocok, memiliki visi hidup yang sama, tidak pernah membuat kesalahan besar, dan kalau bisa selalu tahu apa yang kita butuhkan tanpa harus dijelaskan.
Masalahnya, semakin panjang daftar kriteria tersebut, semakin sulit kita menemukan seseorang yang dianggap “tepat”.
Bahkan ketika akhirnya bertemu seseorang yang sebenarnya baik, perhatian, bertanggung jawab, dan membuat kita nyaman, kita masih bisa berpikir:
"Tapi apakah dia benar-benar orang yang paling sempurna untukku?"
Psikologi hubungan memberikan perspektif yang menarik. Dalam hubungan jangka panjang, pasangan yang baik tidak harus menjadi pasangan yang sempurna. Bahkan, mengejar kesempurnaan dalam hubungan dapat membuat seseorang justru lebih sulit merasa puas.
Konsep yang sering dibicarakan dalam psikologi adalah good enough relationship—hubungan yang cukup sehat, cukup aman, cukup memuaskan, dan memiliki ruang untuk berkembang.
“Cukup baik” bukan berarti menerima pasangan yang buruk.
Bukan pula berarti kita harus bertahan dalam hubungan yang penuh manipulasi, kekerasan, ketidaksetiaan, atau ketidakcocokan fundamental.
Cukup baik berarti menyadari bahwa manusia memiliki kekurangan, dan hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa masalah, melainkan hubungan di mana dua orang mampu menghadapi masalah bersama.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (27/10), terdapat tujuh alasan mengapa pasangan yang “cukup baik” sering kali lebih realistis dan lebih sehat daripada pasangan yang dianggap sempurna.
1. Tidak Ada Manusia yang Bisa Memenuhi Semua Ekspektasi Kita
Salah satu alasan terbesar adalah sederhana: manusia tidak sempurna.
Setiap orang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
Seseorang mungkin sangat romantis tetapi kurang pandai mengelola keuangan. Orang lain mungkin sangat bertanggung jawab tetapi tidak terlalu ekspresif secara emosional.
Ada pasangan yang sangat lucu tetapi cenderung berantakan. Ada yang sangat stabil dan dapat diandalkan tetapi tidak selalu pandai membuat kejutan romantis.
Jika kita mencari seseorang yang memiliki semua kualitas positif sekaligus tanpa kekurangan, kita sebenarnya sedang mencari sesuatu yang hampir tidak mungkin ada.
Dalam psikologi, ekspektasi memainkan peran besar dalam kepuasan hubungan. Ketika ekspektasi terlalu idealistis, kenyataan hampir selalu terlihat mengecewakan.
Bayangkan seseorang memiliki gambaran bahwa pasangan ideal harus:
selalu memahami perasaannya,
selalu tahu apa yang dia inginkan,
tidak pernah marah,
selalu romantis,
memiliki karier sukses,
sangat menarik,
memiliki selera yang sama,
selalu tersedia,
dan tidak pernah mengecewakan.
Bahkan orang yang sangat baik pun akan gagal memenuhi sebagian dari daftar tersebut.
Bukan karena dia pasangan yang buruk.
Melainkan karena standar tersebut mungkin tidak realistis untuk manusia mana pun.
Pasangan yang “cukup baik” memberikan ruang untuk melihat seseorang secara lebih utuh.
Kita tidak lagi bertanya:
“Apakah dia sempurna?”
Tetapi:
“Apakah kami bisa membangun kehidupan yang sehat bersama?”
Itu adalah pertanyaan yang jauh lebih penting.
2. Hubungan yang Sehat Bukan Hubungan Tanpa Konflik
Banyak orang menganggap hubungan ideal adalah hubungan yang jarang bertengkar.
Padahal, konflik tidak selalu menunjukkan bahwa sebuah hubungan gagal.
Dua manusia dengan latar belakang, pengalaman, kepribadian, kebutuhan, dan kebiasaan berbeda hampir pasti akan memiliki perbedaan pendapat.
Yang lebih penting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola.
Pasangan yang “sempurna” dalam imajinasi mungkin tidak pernah marah, tidak pernah salah bicara, dan selalu memberikan respons yang tepat.
Namun dalam kehidupan nyata, seseorang mungkin sesekali kehilangan kesabaran, salah memahami pasangan, atau mengatakan sesuatu yang kemudian dia sesali.
Yang membedakan hubungan sehat bukan ketiadaan kesalahan.
Melainkan kemampuan untuk memperbaiki kesalahan.
Misalnya, pasangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Dalam hubungan yang sehat, percakapan dapat berkembang menjadi:
“Ucapanmu tadi membuatku terluka.”
Kemudian pasangan mungkin menjawab:
“Aku mengerti. Tadi aku terlalu emosional. Maaf. Seharusnya aku menyampaikannya dengan cara yang berbeda.”
Respons seperti ini jauh lebih berharga daripada pasangan yang terlihat sempurna tetapi tidak mampu bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Dalam psikologi hubungan, kemampuan melakukan repair atau perbaikan setelah konflik merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga hubungan tetap sehat.
Jadi, jangan hanya mencari pasangan yang tidak pernah membuat kesalahan.
Carilah seseorang yang ketika melakukan kesalahan mau memperbaikinya.
3. Pasangan yang “Cukup Baik” Memungkinkan Kita Menjadi Diri Sendiri
Ada perbedaan besar antara dicintai karena kita memenuhi gambaran ideal seseorang dan dicintai ketika kita menjadi manusia biasa.
Ketika seseorang merasa harus selalu tampil sempurna di depan pasangannya, hubungan dapat berubah menjadi semacam pertunjukan.
Dia harus selalu terlihat menarik.
Harus selalu menyenangkan.
Tidak boleh terlalu emosional.
Tidak boleh memiliki hari buruk.
Tidak boleh melakukan kesalahan.
Lama-kelamaan, hubungan seperti ini melelahkan.
Sebaliknya, hubungan yang cukup aman memungkinkan seseorang berkata:
“Hari ini aku sedang tidak baik-baik saja.”
Atau:
“Aku sebenarnya takut.”
Atau bahkan:
“Aku melakukan kesalahan.”
Rasa aman seperti ini sangat penting.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak harus terus-menerus mempertahankan citra dirinya.
Dia dapat menjadi manusia.
Ada hari ketika dia percaya diri.
Ada hari ketika dia ragu.
Ada hari ketika dia produktif.
Ada hari ketika dia hanya ingin beristirahat.
Pasangan yang cukup baik bukan berarti pasangan yang selalu menyukai setiap sisi diri kita.
Namun dia membuat kita merasa bahwa kita tidak perlu menjadi manusia sempurna agar tetap layak dicintai.
Dan justru di situlah keintiman emosional bisa tumbuh.
4. Mengejar Kesempurnaan Dapat Membuat Kita Terjebak dalam “Comparison Trap”
Media sosial membuat masalah ini semakin kompleks.
Kita melihat pasangan lain yang tampak romantis.
Ada yang pergi berlibur bersama.
Ada yang memberikan hadiah mahal.
Ada yang mengunggah foto anniversary.
Ada yang terlihat sangat harmonis.
Tanpa sadar, kita membandingkan hubungan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat di layar.
Kemudian muncul pertanyaan:
"Mengapa hubunganku tidak seperti itu?"
Padahal, kita tidak melihat keseluruhan cerita.
Kita melihat foto, bukan percakapan di baliknya.
Kita melihat liburan, bukan masalah finansial mereka.
Kita melihat hadiah, bukan konflik yang mungkin mereka alami.
Kita melihat senyum, bukan kecemasan yang mereka rasakan.
Fenomena ini dapat membuat seseorang terus merasa bahwa pasangannya kurang baik.
Hari ini pasangan dianggap cukup.
Besok kita melihat pasangan orang lain yang lebih romantis.
Kemudian standar berubah.
Minggu berikutnya kita menemukan orang yang lebih sukses.
Standar berubah lagi.
Akhirnya, tidak ada pasangan yang pernah terasa cukup.
Masalahnya bukan selalu pada pasangan.
Kadang masalahnya ada pada standar yang terus bergerak.
Pasangan yang “cukup baik” mengajarkan kita untuk mengevaluasi hubungan berdasarkan realitas hubungan tersebut, bukan berdasarkan fantasi hubungan orang lain.
5. Hubungan Jangka Panjang Lebih Membutuhkan Kompatibilitas daripada Kesempurnaan
Ketertarikan awal memang penting.
Namun hubungan jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar chemistry.
Dua orang dapat memiliki ketertarikan yang luar biasa tetapi memiliki nilai hidup yang sangat berbeda.
Misalnya, satu orang ingin memiliki anak sementara yang lain tidak.
Satu orang ingin tinggal dekat keluarga, sementara yang lain ingin pindah ke negara lain.
Satu orang sangat konservatif dalam keuangan, sementara yang lain sangat impulsif.
Dalam situasi seperti ini, menjadi “sempurna” secara pribadi tidak otomatis membuat hubungan tersebut kompatibel.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah kami cocok dalam hal-hal yang fundamental?”
Misalnya:
bagaimana memperlakukan satu sama lain,
nilai tentang kesetiaan,
cara menyelesaikan konflik,
pandangan tentang keluarga,
cara mengelola uang,
tujuan hidup,
batasan pribadi,
dan keinginan untuk bertumbuh.
Pasangan tidak harus memiliki kepribadian yang sama.
Mereka bahkan tidak harus menyukai semua hal yang sama.
Namun untuk hubungan jangka panjang, terdapat nilai tertentu yang sebaiknya cukup selaras.
Pasangan yang “cukup baik” mungkin tidak membuat jantung kita berdebar setiap lima menit.
Tetapi dia mungkin membuat kita merasa aman, dihargai, dan mampu membangun masa depan.
Dan dalam kehidupan nyata, kualitas-kualitas tersebut sering jauh lebih penting daripada kesempurnaan romantis.
6. Kita Juga Tidak Sempurna sebagai Pasangan
Ini bagian yang sering dilupakan.
Ketika kita mencari pasangan sempurna, kita sering lupa bertanya:
“Apakah aku sendiri pasangan yang sempurna?”
Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak.
Kita juga memiliki kebiasaan buruk.
Kita juga bisa egois.
Kita juga bisa salah memahami pasangan.
Kita juga bisa terlalu sensitif.
Kita juga pernah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.
Kita juga bisa memiliki ekspektasi yang tidak realistis.
Karena itu, hubungan sebenarnya bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna untuk melengkapi kita.
Hubungan lebih dekat dengan proses dua orang yang sama-sama tidak sempurna, tetapi bersedia belajar mencintai dengan lebih baik.
Kita mungkin menemukan seseorang yang cukup baik.
Namun kita juga perlu menjadi pasangan yang cukup baik baginya.
Artinya:
mau mendengarkan,
mau meminta maaf,
mau berubah ketika memang perlu,
menghormati batasan,
tidak menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata,
dan mau berkomunikasi ketika ada masalah.
Hubungan yang sehat tidak dibangun oleh dua manusia sempurna.
Hubungan sehat dibangun oleh dua manusia biasa yang bersedia bertanggung jawab terhadap hubungan tersebut.
7. “Cukup Baik” Memberikan Ruang untuk Bertumbuh Bersama
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang cinta adalah bahwa pasangan harus datang sebagai “produk jadi”.
Seolah-olah ketika kita bertemu orang yang tepat, semuanya akan langsung sempurna.
Padahal manusia berubah.
Kebutuhan berubah.
Karier berubah.
Kondisi ekonomi berubah.
Keluarga berubah.
Prioritas berubah.
Bahkan kepribadian seseorang dapat berkembang sepanjang hidupnya.
Karena itu, hubungan yang baik bukan hanya tentang:
“Apakah aku menyukai siapa dirimu sekarang?”
Tetapi juga:
“Apakah kita bisa berkembang bersama?”
Pasangan yang cukup baik mungkin belum memiliki semua yang kita inginkan.
Namun dia memiliki kualitas penting: kemauan untuk bertumbuh.
Dia bersedia belajar berkomunikasi.
Bersedia memperbaiki kebiasaan.
Bersedia mendengarkan kritik.
Bersedia mengakui kesalahan.
Bersedia memahami kebutuhan pasangan.
Dan yang paling penting, dia tidak menganggap hubungan sebagai sesuatu yang otomatis akan berjalan tanpa usaha.
Hubungan yang matang adalah proyek bersama.
Tidak selalu mudah.
Tidak selalu romantis.
Tidak selalu menyenangkan.
Namun dua orang terus memilih untuk merawatnya.
Jadi, Apakah Kita Harus Menurunkan Standar?
Tidak.
Ini penting.
Menerima bahwa pasangan tidak sempurna bukan berarti menurunkan standar sampai kita menerima perlakuan buruk.
Ada perbedaan besar antara:
“Dia tidak sempurna.”
dan
“Dia memperlakukan saya dengan buruk.”
Kekurangan manusiawi adalah sesuatu yang berbeda dari perilaku yang merusak.
Pasangan mungkin lupa tanggal tertentu.
Itu manusiawi.
Tetapi pasangan yang terus-menerus merendahkan kita adalah masalah.
Pasangan mungkin sesekali salah bicara.
Itu manusiawi.
Tetapi pasangan yang terus memanipulasi kita bukan sekadar “tidak sempurna”.
Pasangan mungkin memiliki kebiasaan yang menjengkelkan.
Itu normal.
Tetapi kekerasan, penghinaan, kontrol berlebihan, dan pengkhianatan berulang bukan sesuatu yang harus kita romantisasi sebagai “kekurangan”.
Karena itu, konsep “cukup baik” seharusnya bukan alasan untuk menerima hubungan yang tidak sehat.
Sebaliknya, konsep ini membantu kita membedakan antara:
ketidaksempurnaan yang normal
dan
masalah yang secara fundamental merusak hubungan.
Apa yang Sebenarnya Perlu Dicari dari Seorang Pasangan?
Daripada mencari pasangan yang sempurna, mungkin lebih berguna mencari pasangan yang memiliki kualitas dasar berikut:
1. Aman secara emosional
Kita dapat berbicara tanpa terus-menerus takut dihukum, direndahkan, atau dimanipulasi.
2. Bertanggung jawab
Ketika melakukan kesalahan, dia mampu mengakuinya.
3. Mau berkomunikasi
Masalah tidak selalu diselesaikan dengan sempurna, tetapi ada kemauan untuk membicarakannya.
4. Menghormati batasan
Dia memahami bahwa mencintai seseorang tidak berarti memiliki atau mengontrol orang tersebut.
5. Konsisten
Perhatian dan kasih sayang tidak hanya muncul ketika dia menginginkan sesuatu.
6. Memiliki nilai fundamental yang cukup selaras
Kalian mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi memiliki kesamaan dalam prinsip-prinsip penting.
7. Mau bertumbuh
Dia tidak menganggap dirinya sudah sempurna.
Dan mungkin yang paling penting:
8. Kita bisa menjadi diri sendiri di dekatnya.
Karena pada akhirnya, hubungan yang baik bukan hanya tentang menemukan orang yang membuat kita bahagia.
Hubungan yang baik juga tentang menemukan seseorang yang membuat kita merasa aman untuk menjadi manusia.
Kesempurnaan Bukan Tujuan Hubungan
Ironisnya, semakin keras seseorang mengejar pasangan sempurna, semakin besar kemungkinan dia merasa tidak puas.
Sebab ketika standar kesempurnaan menjadi terlalu tinggi, hampir semua manusia akan terlihat kurang.
Pasangan yang sebenarnya baik bisa dianggap membosankan.
Pasangan yang stabil bisa dianggap kurang romantis.
Pasangan yang realistis bisa dianggap tidak cukup menarik.
Padahal, hubungan jangka panjang bukan kompetisi untuk menemukan manusia dengan daftar kualitas paling panjang.
Hubungan adalah tentang dua orang yang memiliki cukup banyak kesamaan untuk berjalan bersama, cukup rasa aman untuk menjadi diri sendiri, dan cukup kemauan untuk memperbaiki hubungan ketika keadaan menjadi sulit.
Pasangan yang “cukup baik” mungkin tidak selalu mengatakan hal yang tepat.
Dia mungkin kadang membuat kita kesal.
Dia mungkin memiliki kebiasaan yang tidak kita sukai.
Dia mungkin tidak memenuhi semua fantasi romantis yang pernah kita bayangkan.
Namun jika dia menghormati kita, memperlakukan kita dengan baik, mau bertanggung jawab, mampu memperbaiki kesalahan, dan bersedia tumbuh bersama, mungkin kita sudah memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kesempurnaan.
Karena dalam kehidupan nyata, cinta yang sehat bukan tentang menemukan seseorang tanpa kekurangan.
Cinta yang sehat adalah menemukan seseorang yang kekurangannya masih dapat kita terima, kelebihannya dapat kita hargai, nilainya cukup sejalan dengan kita, dan bersamanya kita dapat membangun hubungan yang membuat kedua orang menjadi versi diri yang lebih baik.
Jadi mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan:
“Apakah dia pasangan yang sempurna?”
Melainkan:
“Apakah hubungan ini cukup sehat, aman, saling menghormati, dan layak untuk terus kami bangun bersama?”
Jika jawabannya ya, mungkin kita tidak sedang berkompromi dengan cinta.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022