seseorang yang memiliki pasangan yang kerap menghindar. (Magnific)
Ada pasangan yang mampu duduk bersama, membicarakan masalah, mengakui perasaan masing-masing, kemudian mencari jalan keluar. Namun, ada pula orang yang ketika hubungan mulai memasuki situasi emosional justru memilih mundur, diam, mengganti topik, menghilang, atau menolak membicarakan masalah.
Dilansir dari Psychology TOday pada Kamis (22/10), dalam psikologi hubungan, kecenderungan untuk menarik diri ketika menghadapi konflik dapat berkaitan dengan pola attachment, terutama kecenderungan avoidant attachment. Namun, penting untuk memahami bahwa seseorang yang menghindari konflik tidak otomatis berarti memiliki avoidant attachment, apalagi gangguan kepribadian tertentu.
Menghindari konflik bisa muncul karena banyak hal: pengalaman masa lalu, pola komunikasi yang dipelajari sejak kecil, ketakutan terhadap pertengkaran, kesulitan mengatur emosi, atau keyakinan bahwa masalah akan selesai dengan sendirinya jika dibiarkan.
Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar labelnya, melainkan pola perilaku yang berulang dan dampaknya terhadap hubungan.
Lalu, apa saja tanda-tandanya?
1. Setiap kali konflik muncul, dia memilih menarik diri
Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah kecenderungan pasangan untuk mundur ketika percakapan mulai menjadi serius.
Awalnya mungkin kalian sedang membicarakan masalah sederhana. Namun, ketika pembicaraan mulai menyentuh perasaan, kebutuhan, atau kesalahan yang perlu dibahas, dia tiba-tiba menjadi diam, pergi, berhenti membalas pesan, atau mengatakan bahwa dirinya tidak ingin membicarakannya.
Sesekali membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebenarnya sehat.
Masalah muncul ketika menarik diri menjadi pola utama setiap kali ada konflik.
Misalnya, setiap kali kamu mengatakan, “Aku ingin membicarakan apa yang terjadi kemarin,” dia langsung menjawab, “Nggak usah dibahas lagi.”
Atau ketika percakapan menjadi emosional, dia meninggalkan ruangan tanpa memberikan kepastian kapan pembicaraan akan dilanjutkan.
Dalam psikologi hubungan, mengambil jeda dan menghindari masalah merupakan dua hal yang berbeda.
Jeda yang sehat biasanya memiliki batas yang jelas:
“Aku sedang terlalu emosional. Aku butuh waktu satu jam untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicarakan lagi.”
Sementara penghindaran cenderung berbentuk:
“Aku malas membahas ini.”
Kemudian tidak ada percakapan lanjutan.
Perbedaan tersebut penting karena jeda bertujuan mengatur emosi, sedangkan penghindaran membuat masalah tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Jika hal ini terjadi berulang kali, pasangan yang ditinggalkan dalam ketidakpastian dapat merasa frustrasi, tidak didengar, bahkan mulai meragukan keamanan emosional dalam hubungan.
2. Dia sulit membicarakan perasaan ketika konflik menjadi personal
Orang yang memiliki kecenderungan menghindari konflik sering kali lebih nyaman membicarakan fakta daripada perasaan.
Misalnya, ketika kamu mengatakan:
“Aku merasa diabaikan ketika kamu tidak membalas pesanku sepanjang hari.”
Dia mungkin tidak merespons perasaan tersebut. Sebaliknya, dia menjawab:
“Kan aku lagi kerja.”
Secara faktual, mungkin memang benar dia sedang bekerja.
Namun, inti pembicaraan sebenarnya bukan tentang apakah dia bekerja atau tidak. Intinya adalah bagaimana perilaku tersebut membuatmu merasa.
Dalam hubungan yang sehat, kedua hal tersebut dapat dibicarakan:
“Ya, aku memang sedang sibuk. Tapi aku mengerti kalau kamu merasa diabaikan. Seharusnya aku memberi kabar.”
Seseorang yang sangat tidak nyaman dengan kedekatan emosional mungkin kesulitan melakukan hal tersebut.
Ketika percakapan mulai memasuki wilayah rentan—seperti rasa takut kehilangan, kebutuhan akan perhatian, rasa kecewa, atau kebutuhan akan kepastian—dia bisa menjadi defensif atau justru menarik diri.
Hal ini bukan berarti dia tidak memiliki perasaan.
Justru sebaliknya, seseorang bisa memiliki perasaan yang sangat kuat tetapi tidak memiliki kemampuan atau kenyamanan untuk mengungkapkannya ketika situasi emosional meningkat.
3. Dia menganggap pembicaraan tentang masalah sebagai “drama” atau “ribut”
Pernahkah kamu mencoba membicarakan sesuatu yang mengganggumu, tetapi pasangan justru mengatakan:
“Kamu terlalu mempermasalahkan hal kecil.”
Atau:
“Kenapa sih harus dibahas terus?”
Komentar seperti ini bisa menjadi tanda bahwa pasangan memiliki toleransi yang rendah terhadap percakapan emosional.
Bagi sebagian orang, membicarakan masalah berarti menciptakan konflik. Karena itu, strategi yang digunakan adalah mengecilkan persoalan agar pembicaraan segera berakhir.
Padahal, tidak semua pembicaraan sulit merupakan pertengkaran.
Ada perbedaan antara:
“Kita sedang bertengkar.”
dan
“Kita sedang mencoba memahami masalah dalam hubungan kita.”
Hubungan yang sehat membutuhkan ruang untuk membicarakan hal-hal yang tidak nyaman.
Jika salah satu pihak tidak pernah boleh merasa kecewa, marah, sedih, atau membutuhkan sesuatu karena setiap ekspresi tersebut langsung dianggap sebagai drama, lama-kelamaan komunikasi menjadi tidak seimbang.
Pihak yang lebih ekspresif akhirnya bisa merasa harus menyembunyikan kebutuhannya agar hubungan tetap tenang.
Padahal, hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki konflik.
Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memungkinkan konflik dibicarakan tanpa membuat salah satu pihak merasa harus menghilang atau membungkam diri.
4. Setelah konflik, dia bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa
Ini adalah salah satu pola yang sering membingungkan.
Kalian baru saja mengalami konflik yang cukup serius.
Kamu masih merasa sedih dan membutuhkan penjelasan.
Namun beberapa jam kemudian, pasangan tiba-tiba bersikap normal.
Dia mengirim meme.
Mengajak makan.
Bertanya:
“Nanti malam mau nonton apa?”
Seolah-olah masalah sebelumnya tidak pernah terjadi.
Tentu saja, kembali melakukan aktivitas normal setelah konflik tidak selalu buruk. Bahkan, kemampuan untuk kembali terhubung setelah pertengkaran merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.
Masalahnya adalah ketika “kembali normal” digunakan untuk menggantikan proses penyelesaian masalah.
Kamu mungkin masih membutuhkan percakapan, tetapi pasangan menganggap karena suasana sudah kembali tenang, maka masalah otomatis selesai.
Akibatnya, konflik tidak benar-benar diselesaikan.
Ia hanya disimpan.
Kemudian beberapa minggu atau bulan kemudian, masalah serupa muncul kembali.
Pola ini dapat menciptakan siklus:
konflik → menghindar → kembali normal → tidak menyelesaikan masalah → konflik serupa muncul lagi.
Lama-kelamaan, pasangan yang ingin membicarakan masalah bisa merasa seperti satu-satunya orang yang berusaha memperbaiki hubungan.
5. Dia baru terbuka ketika kamu sudah hampir menyerah
Ada pola lain yang cukup melelahkan secara emosional.
Ketika kamu mencoba membicarakan masalah, dia menutup diri.
Ketika kamu meminta komunikasi, dia mengatakan membutuhkan ruang.
Ketika kamu mulai berhenti mengejar dan mengatakan, “Kalau memang kamu tidak ingin membicarakannya, ya sudah,” tiba-tiba dia menjadi lebih terbuka.
Pola seperti ini bisa menunjukkan adanya dinamika mengejar dan menarik diri (pursuer-distancer dynamic).
Satu pihak merasa:
“Kalau aku tidak mengejar, hubungan ini akan semakin jauh.”
Pihak lainnya merasa:
“Kalau aku terus didesak, aku semakin ingin menjauh.”
Akibatnya terbentuk lingkaran:
semakin kamu mengejar → semakin dia menarik diri → semakin dia menarik diri → semakin kamu cemas dan mengejar.
Menariknya, ketika pihak yang mengejar akhirnya berhenti, orang yang sebelumnya menghindar mungkin merasa situasi sudah cukup aman untuk mendekat kembali.
Hal ini tidak selalu berarti seseorang sengaja memainkan perasaan pasangannya.
Kadang pola tersebut terjadi secara otomatis.
Orang yang terbiasa menjaga jarak mungkin membutuhkan ruang untuk memproses emosi. Sementara pasangan yang membutuhkan kepastian justru merasa semakin cemas ketika komunikasi terputus.
Tanpa disadari, keduanya dapat saling memperkuat pola yang sama.
6. Dia lebih memilih “solusi cepat” daripada memahami akar masalah
Bayangkan kamu mengatakan:
“Aku merasa akhir-akhir ini kita semakin jauh.”
Pasangan menjawab:
“Ya sudah, besok kita dinner.”
Sekilas, respons tersebut terdengar romantis.
Namun jika masalah sebenarnya berkaitan dengan kurangnya komunikasi, makan malam saja tidak menyelesaikan akar persoalan.
Orang yang cenderung menghindari konflik terkadang berusaha memperbaiki ketidaknyamanan tanpa membicarakan sumber ketidaknyamanan tersebut.
Misalnya:
Kamu kecewa karena dia jarang meluangkan waktu.
Dia membelikan hadiah.
Kamu merasa tidak didengarkan.
Dia mengajak liburan.
Kamu ingin membicarakan perilakunya.
Dia mengatakan:
“Aku kan sudah minta maaf.”
Permintaan maaf memang penting.
Tetapi dalam beberapa situasi, hubungan juga membutuhkan pemahaman:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa hal tersebut terjadi?
Bagaimana agar pola tersebut tidak berulang?
Jika setiap masalah hanya ditutup dengan hadiah, pelukan, seks, liburan, atau kalimat “sudah, jangan dipikirkan,” hubungan mungkin terasa baik untuk sementara.
Namun persoalan yang sama dapat kembali muncul.
Hubungan membutuhkan rekonsiliasi, tetapi rekonsiliasi yang sehat biasanya juga membutuhkan pemahaman dan perubahan perilaku, bukan hanya menghilangkan ketegangan sesaat.
7. Kamu mulai merasa harus berhati-hati agar dia tidak menjauh
Ini mungkin tanda yang paling penting—bukan karena menunjukkan bahwa pasangan pasti memiliki avoidant attachment, tetapi karena menunjukkan dampak pola tersebut terhadap dirimu.
Kamu mulai berpikir berkali-kali sebelum mengatakan sesuatu.
Kamu takut bertanya karena khawatir dianggap terlalu menuntut.
Kamu menghapus pesan panjang yang sebenarnya ingin kamu kirim.
Kamu menahan kekecewaan karena takut dia kembali diam.
Bahkan mungkin kamu mulai bertanya kepada diri sendiri:
“Apa aku terlalu sensitif?”
“Apa aku terlalu banyak meminta?”
“Apa sebaiknya aku diam saja?”
Jika berlangsung terus-menerus, hubungan dapat membuat seseorang belajar bahwa untuk mempertahankan kedekatan, ia harus mengecilkan kebutuhannya sendiri.
Ini bukan kondisi yang ideal.
Dalam hubungan yang sehat, kamu seharusnya tidak perlu memilih antara:
mengungkapkan kebutuhan
atau
mempertahankan hubungan.
Keduanya seharusnya bisa berjalan bersama.
Pasangan boleh membutuhkan ruang.
Kamu juga boleh membutuhkan komunikasi.
Pasangan boleh merasa kewalahan.
Kamu juga berhak mendapatkan kepastian tentang kapan masalah akan dibicarakan kembali.
Kebutuhan yang berbeda bukan berarti salah satu pihak otomatis salah.
Yang menjadi persoalan adalah ketika hanya satu pihak yang selalu harus menyesuaikan diri.
Mengapa Seseorang Bisa Menghindari Konflik?
Penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa pasangan menghindar karena tidak mencintaimu.
Ada banyak kemungkinan di balik perilaku tersebut.
Sebagian orang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mengajarkan bahwa emosi adalah sesuatu yang harus ditekan.
Ada pula yang pernah mengalami konflik yang sangat intens sehingga belajar bahwa cara paling aman untuk menghadapi pertengkaran adalah pergi atau diam.
Sebagian orang mungkin merasa tidak mampu menghadapi emosi yang sangat kuat.
Ada juga yang memang memiliki gaya keterikatan yang cenderung mengutamakan kemandirian dan merasa tidak nyaman ketika hubungan menuntut terlalu banyak kedekatan emosional.
Dalam perspektif attachment theory, kecenderungan menghindar dapat berkaitan dengan strategi untuk menjaga jarak dari situasi yang dianggap mengancam kemandirian atau meningkatkan kerentanan emosional.
Namun, penting untuk mengingat satu hal:
Attachment style bukan diagnosis klinis.
Seseorang tidak dapat dinyatakan memiliki avoidant attachment hanya karena dia pernah diam setelah bertengkar.
Yang lebih relevan adalah melihat pola yang konsisten dari waktu ke waktu.
Bedakan “Butuh Ruang” dengan “Menghindari Masalah”
Ini merupakan bagian yang sangat penting.
Tidak semua orang yang meminta waktu ketika konflik berlangsung adalah pasangan yang menghindar.
Bahkan, mengambil jeda dapat menjadi cara yang sehat untuk mengatur emosi.
Perbedaannya dapat dilihat dari apa yang terjadi setelah jeda tersebut.
Jeda yang sehat:
“Aku sedang terlalu emosional. Aku takut mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Kita lanjut bicara malam ini.”
Ada komunikasi.
Ada batas waktu.
Ada niat untuk kembali.
Penghindaran yang tidak sehat:
“Aku nggak mau bahas.”
Lalu menghilang.
Tidak ada kepastian kapan akan kembali.
Ketika masalah dibicarakan lagi, ia kembali menghindar.
Perbedaan ini sederhana tetapi sangat penting.
Meminta ruang bukan masalah. Menggunakan ruang untuk tidak pernah bertanggung jawab terhadap masalah adalah persoalan yang berbeda.
Apa yang Bisa Dilakukan Jika Pasanganmu Cenderung Menghindari Konflik?
Jika kamu mengenali pola-pola di atas, langkah pertama bukanlah memberi label kepada pasangan.
Hindari mengatakan:
“Kamu memang avoidant.”
Label seperti itu bisa membuat orang semakin defensif.
Lebih baik bicarakan perilakunya secara spesifik.
Misalnya:
“Aku menghargai kalau kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Tapi ketika kita berhenti bicara tanpa tahu kapan akan melanjutkannya, aku merasa masalah kita tidak pernah selesai.”
Kemudian buat kesepakatan yang konkret.
Contohnya:
“Kalau salah satu dari kita membutuhkan waktu, kita boleh mengambil jeda. Tapi kita sepakati kapan akan kembali membicarakannya.”
Dengan demikian, kebutuhan kedua pihak tetap mendapatkan tempat.
Pasangan mendapatkan ruang untuk mengatur emosinya.
Kamu mendapatkan kepastian bahwa masalah tidak akan menghilang begitu saja.
Jangan Berusaha “Menyembuhkan” Pasangan Sendirian
Ada kecenderungan ketika seseorang mengetahui bahwa pasangannya memiliki pola menghindar, ia kemudian berpikir:
“Aku harus menjadi lebih sabar.”
“Aku harus membuat dia merasa aman.”
“Aku harus belajar cara berkomunikasi yang tepat supaya dia tidak pergi.”
Kesabaran memang penting.
Namun hubungan tidak dapat diperbaiki oleh satu orang saja.
Jika pasangan menyadari bahwa dirinya sering menghindari konflik, ia juga memiliki tanggung jawab untuk belajar menghadapi pola tersebut.
Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana:
belajar mengidentifikasi emosi;
mengatakan ketika membutuhkan jeda;
kembali ke percakapan setelah mengambil jeda;
belajar mendengarkan tanpa langsung defensif;
mengakui dampak perilakunya terhadap pasangan;
dan, bila diperlukan, mencari bantuan profesional seperti konseling pasangan.
Tujuannya bukan membuat seseorang menjadi orang yang sangat ekspresif.
Tujuannya adalah menciptakan komunikasi yang cukup aman bagi kedua pihak.
Pada Akhirnya, Bukan Label “Avoidant” yang Paling Penting
Mungkin kamu membaca tujuh tanda di atas dan berpikir:
“Ini persis seperti pasangan saya.”
Tetapi pertanyaan terpenting sebenarnya bukan:
“Apakah pasangan saya avoidant?”
Melainkan:
“Apakah kami mampu menghadapi masalah bersama?”
Seseorang boleh pendiam.
Seseorang boleh membutuhkan waktu untuk berpikir.
Seseorang boleh tidak nyaman dengan konflik.
Tidak ada satu gaya komunikasi yang cocok untuk semua orang.
Namun sebuah hubungan akan menjadi sulit ketika setiap konflik selalu berakhir dengan satu orang mengejar dan satu orang menghilang.
Hubungan yang sehat tidak mengharuskan dua orang selalu sepakat.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengatakan:
“Kita berbeda pendapat, tetapi kita tetap berada di sisi yang sama.”
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah hubungan bukan hanya terlihat ketika semuanya berjalan baik.
Kualitas hubungan justru sering terlihat ketika dua orang sedang kecewa, marah, takut, atau terluka—dan tetap memilih untuk berkomunikasi, memperbaiki, dan mencari jalan keluar bersama.
Jadi, jika pasanganmu memang cenderung menghindari konflik, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa dia tidak mencintaimu.
Tetapi jangan pula mengabaikan kebutuhan emosionalmu sendiri.
Berikan ruang, tetapi tetap tetapkan batas.
Berikan kesempatan, tetapi perhatikan konsistensi.
Dan yang paling penting, lihat apakah setelah konflik kalian berdua menjadi lebih mampu memahami satu sama lain—atau justru terus mengulang pola yang sama.
Karena dalam hubungan jangka panjang, yang menentukan bukan apakah konflik pernah terjadi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022