
seseorang yang mengubah masalah menjadi keberhasilan (Magnific/Drazen Zigic)
Namun, dari sudut pandang psikologi, masalah tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang semata-mata perlu dihilangkan. Kadang-kadang, masalah justru dapat menjadi petunjuk tentang apa yang sebenarnya penting bagi kita.
Rasa kecewa bisa menunjukkan bahwa kita peduli. Rasa marah bisa menunjukkan bahwa ada batas yang telah dilanggar. Rasa takut bisa mengungkapkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita. Bahkan kegagalan dapat memperlihatkan nilai, tujuan, atau arah hidup yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan dengan serius.
Inilah perubahan cara pandang yang penting: Masalah tidak harus selalu menjadi jalan buntu. Masalah juga bisa menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih bermakna.
Dalam psikologi, kemampuan untuk menemukan makna di tengah pengalaman sulit sering dikaitkan dengan konsep seperti meaning-making, cognitive reappraisal, resiliensi, dan pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth).
Tentu, ini bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa semua masalah adalah hal yang baik. Bukan pula berarti seseorang harus bersyukur atas penderitaan yang dialaminya. Yang lebih sehat adalah belajar bertanya:
"Setelah semua ini terjadi, apa yang sebenarnya ingin saya lindungi, bangun, ubah, atau perjuangkan?"
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (21/10), jika kamu sedang menghadapi masalah yang terasa berat, berikut tujuh cara yang dapat membantu mengubah pengalaman tersebut menjadi jalan menuju sesuatu yang penting.
1. Jangan langsung bertanya, "Bagaimana cara menghilangkan masalah ini?"
Ketika masalah muncul, respons pertama manusia biasanya adalah ingin segera menghilangkannya.
Kita ingin rasa sakit berhenti.
Kita ingin konflik selesai.
Kita ingin kegagalan tidak pernah terjadi.
Kita ingin orang lain berubah.
Kita ingin keadaan kembali seperti sebelumnya.
Keinginan tersebut sangat manusiawi. Namun, ketika seluruh perhatian hanya diarahkan untuk menghilangkan ketidaknyamanan, kita bisa kehilangan kesempatan untuk memahami pesan yang dibawa oleh pengalaman tersebut.
Cobalah mengganti pertanyaan:
"Bagaimana saya bisa menghilangkan masalah ini?"
menjadi:
"Apa yang sedang ditunjukkan oleh masalah ini kepada saya?"
Pertanyaan kedua mengubah posisi kita.
Kita tidak lagi hanya menjadi orang yang sedang "terkena masalah", tetapi menjadi seseorang yang mencoba memahami pengalaman tersebut.
Misalnya, kamu terus-menerus merasa lelah karena pekerjaan.
Respons pertama mungkin:
"Aku harus mencari cara supaya pekerjaan ini tidak terlalu melelahkan."
Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah:
"Apa sebenarnya yang membuat pekerjaan ini begitu menguras saya?"
Mungkin jawabannya adalah kamu tidak memiliki batas waktu yang sehat.
Mungkin kamu terlalu takut mengecewakan orang lain.
Mungkin pekerjaan tersebut sudah tidak sesuai dengan nilai hidupmu.
Atau mungkin kamu sebenarnya tidak membenci pekerjaannya, tetapi membenci cara kamu menjalankannya.
Dengan demikian, masalah tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dilawan.
Ia menjadi informasi.
Dan informasi dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik.
2. Cari nilai yang tersembunyi di balik rasa sakit
Salah satu cara paling kuat untuk menemukan makna dari sebuah masalah adalah dengan bertanya:
"Mengapa hal ini begitu mengganggu saya?"
Pertanyaan sederhana ini dapat membuka sesuatu yang sangat penting.
Sebab, kita biasanya tidak akan merasa sangat terluka jika sesuatu tersebut tidak memiliki arti bagi kita.
Kamu kecewa karena gagal dalam sebuah ujian.
Mengapa?
Mungkin bukan hanya karena nilainya.
Mungkin karena kamu ingin membuktikan bahwa kamu mampu.
Kamu marah karena seseorang tidak menghargai pendapatmu.
Mengapa?
Mungkin karena kamu sangat menghargai rasa hormat.
Kamu takut kehilangan pekerjaan.
Mengapa?
Mungkin karena pekerjaan tersebut memberikan rasa aman bagi keluarga.
Kamu sedih ketika hubungan berakhir.
Mengapa?
Mungkin karena kamu menghargai kedekatan, komitmen, dan rasa memiliki.
Dengan kata lain, emosi sering kali memberikan petunjuk tentang nilai yang sedang kita anggap penting.
Karena itu, ketika menghadapi masalah, jangan hanya bertanya:
"Kenapa saya merasa seperti ini?"
Coba lanjutkan dengan:
"Apa yang saya pedulikan sehingga hal ini terasa begitu penting?"
Jawabannya mungkin menunjukkan nilai-nilai seperti:
keluarga,
kebebasan,
keamanan,
kejujuran,
hubungan,
pencapaian,
kreativitas,
kesehatan,
harga diri,
pertumbuhan,
kontribusi,
atau kehidupan yang lebih tenang.
Setelah menemukan nilai tersebut, kamu bisa mengubah rasa sakit menjadi arah.
Jika ternyata kamu sangat menghargai keluarga, mungkin masalah yang sedang kamu hadapi mengingatkanmu untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang terdekat.
Jika kamu sangat menghargai kebebasan, mungkin masalah pekerjaan menunjukkan bahwa kamu membutuhkan perubahan dalam cara bekerja.
Jika kamu menghargai pertumbuhan, kegagalan mungkin menjadi kesempatan untuk membangun kemampuan baru.
Masalah menunjukkan apa yang sakit. Nilai menunjukkan apa yang penting.
3. Ubah cara melihat masalah tanpa menyangkal kenyataan
Psikologi mengenal konsep cognitive reappraisal, yaitu menilai kembali sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda.
Ini bukan berarti mengubah fakta.
Jika kamu gagal, faktanya tetap gagal.
Jika hubungan berakhir, faktanya hubungan tersebut memang berakhir.
Jika seseorang mengecewakanmu, rasa kecewa itu tetap nyata.
Yang dapat diubah adalah makna yang kita berikan terhadap kejadian tersebut.
Misalnya:
"Saya gagal, berarti saya tidak berbakat."
dapat diubah menjadi:
"Saya gagal dalam percobaan ini, berarti ada sesuatu yang perlu saya pelajari."
Atau:
"Dia meninggalkan saya, berarti saya tidak cukup baik."
menjadi:
"Hubungan ini berakhir, dan sekarang saya perlu memahami apa yang saya butuhkan dari sebuah hubungan yang sehat."
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama membuat masalah menjadi identitas.
Kalimat kedua membuat masalah menjadi pengalaman.
Ini penting.
Karena satu kegagalan tidak sama dengan identitas sebagai "orang gagal".
Satu keputusan buruk tidak berarti kamu adalah orang yang buruk.
Satu penolakan tidak membuktikan bahwa kamu tidak layak.
Satu masa sulit tidak berarti seluruh hidupmu akan selalu seperti itu.
Ketika kita memisahkan "apa yang terjadi" dari "siapa diri kita", kita mendapatkan ruang psikologis untuk bergerak maju.
Cobalah latihan sederhana.
Tuliskan tiga kolom:
Apa yang terjadi → Apa yang saya katakan kepada diri sendiri → Cara pandang alternatif yang lebih realistis
Contohnya:
Apa yang terjadi:
Saya gagal mendapatkan pekerjaan.
Cerita yang muncul di kepala:
"Saya tidak akan pernah berhasil."
Perspektif alternatif:
"Saya belum mendapatkan pekerjaan ini. Saya perlu mengevaluasi strategi dan mencoba lagi."
Perspektif baru tidak harus positif secara berlebihan.
Yang penting adalah lebih realistis dan memberi ruang untuk bertindak.
4. Tanyakan: "Apa yang bisa saya kendalikan?"
Salah satu sumber penderitaan terbesar ketika menghadapi masalah adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dipikirkan semua orang.
Kita tidak bisa memaksa seseorang mencintai kita.
Kita tidak bisa mengubah masa lalu.
Kita tidak selalu bisa mencegah kegagalan.
Kita tidak dapat menentukan semua keadaan yang terjadi dalam hidup.
Namun, hampir selalu ada sesuatu yang masih bisa kita kendalikan.
Kita dapat mengendalikan bagaimana kita merespons.
Kita dapat memilih apakah akan belajar.
Kita dapat menentukan batas.
Kita dapat memutuskan langkah berikutnya.
Kita dapat memilih siapa yang kita mintai bantuan.
Kita dapat memperbaiki hal yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Dalam psikologi, orientasi pada hal-hal yang dapat dikendalikan membantu seseorang bergerak dari perasaan tidak berdaya menuju tindakan.
Cobalah membagi masalah menjadi dua bagian:
Di luar kendali saya
Misalnya:
pendapat orang lain,
keputusan orang lain,
masa lalu,
kondisi ekonomi secara keseluruhan,
hasil akhir yang belum pasti.
Dalam kendali saya
Misalnya:
tindakan saya hari ini,
cara saya berkomunikasi,
batas yang saya buat,
keterampilan yang saya pelajari,
orang yang saya mintai bantuan,
bagaimana saya menggunakan waktu.
Kemudian tanyakan:
"Apa satu tindakan kecil yang berada dalam kendali saya hari ini?"
Tidak perlu langsung menyelesaikan seluruh hidup.
Kadang-kadang jalan keluar dimulai dari satu tindakan kecil.
5. Jadikan masalah sebagai kompas, bukan hukuman
Ada orang yang ketika mengalami masalah langsung menyimpulkan:
"Ini terjadi karena saya memang tidak cukup baik."
Cara berpikir seperti ini dapat membuat masalah berubah menjadi hukuman psikologis.
Kita menghukum diri sendiri.
Kita mengulang kejadian dalam pikiran.
Kita membandingkan diri dengan orang lain.
Kita mengatakan hal-hal kepada diri sendiri yang tidak akan pernah kita katakan kepada teman dekat.
Padahal, pengalaman sulit bisa digunakan sebagai kompas.
Kompas tidak mengatakan bahwa kamu buruk.
Kompas hanya menunjukkan arah.
Misalnya, konflik dengan pasangan mungkin menunjukkan bahwa kamu perlu belajar berkomunikasi lebih jelas.
Kegagalan bisnis mungkin menunjukkan bahwa kamu perlu memahami keuangan dan pasar dengan lebih baik.
Masalah kesehatan mungkin membuat seseorang mulai menyadari pentingnya gaya hidup yang selama ini diabaikan.
Kegagalan akademik mungkin memperlihatkan bahwa metode belajar sebelumnya tidak efektif.
Masalah dalam pertemanan mungkin membuatmu menyadari pentingnya memiliki batas yang sehat.
Dengan perspektif ini, pertanyaannya berubah dari:
"Apa yang salah dengan saya?"
menjadi:
"Apa yang perlu saya pelajari dari pengalaman ini?"
Perubahan pertanyaan tersebut sangat besar dampaknya.
Karena pertanyaan pertama mencari kesalahan pada identitas.
Pertanyaan kedua mencari kemungkinan pertumbuhan.
Dan ketika kita menemukan sesuatu yang bisa dipelajari, masalah mulai memiliki fungsi.
6. Hubungkan masalah dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri
Manusia membutuhkan makna.
Kita ingin merasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki alasan.
Karena itu, salah satu cara menghadapi kesulitan adalah menghubungkannya dengan tujuan yang lebih besar.
Tanyakan:
"Jika saya berhasil melewati masa ini, kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun?"
Bukan sekadar:
"Bagaimana agar saya tidak sakit lagi?"
Tetapi:
"Saya ingin menjadi orang seperti apa setelah melewati semua ini?"
Misalnya, seseorang mengalami kegagalan dalam karier.
Ia bisa melihatnya hanya sebagai kehilangan.
Namun, ia juga dapat berkata:
"Saya ingin menggunakan pengalaman ini untuk membangun karier yang lebih sesuai dengan kemampuan saya."
Seseorang yang mengalami konflik keluarga mungkin berkata:
"Saya tidak bisa mengubah masa lalu keluarga saya, tetapi saya ingin membangun pola komunikasi yang lebih sehat untuk generasi berikutnya."
Seseorang yang pernah mengalami kegagalan pendidikan mungkin berkata:
"Saya ingin menjadi orang yang lebih disiplin dan membantu orang lain yang mengalami kesulitan belajar."
Di sinilah pengalaman sulit dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bukan karena penderitaannya menjadi menyenangkan.
Tetapi karena kita memilih apa yang akan kita lakukan dengan pengalaman tersebut.
Makna tidak selalu ditemukan.
Kadang-kadang makna dibangun melalui pilihan-pilihan kita setelah sesuatu terjadi.
7. Ambil satu langkah yang sesuai dengan nilai, bukan menunggu semuanya terasa mudah
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Banyak orang menunggu motivasi sebelum bertindak.
Mereka berpikir:
"Kalau saya sudah tidak takut, saya akan mulai."
"Kalau saya sudah yakin, saya akan mengambil keputusan."
"Kalau saya sudah merasa lebih baik, saya akan berubah."
Masalahnya, perasaan siap tidak selalu datang lebih dulu.
Kadang-kadang kita perlu bertindak meskipun masih takut.
Jika dari masalah yang kamu alami kamu menyadari bahwa keluarga penting bagimu, mungkin langkahnya adalah menelepon orang tua.
Jika kamu menyadari bahwa kesehatan penting, mungkin langkahnya adalah mulai memperbaiki rutinitas harian.
Jika kebebasan penting, mungkin langkahnya adalah mempelajari keterampilan baru.
Jika pertumbuhan penting, mungkin langkahnya adalah menerima bahwa kamu masih perlu belajar.
Jika hubungan yang sehat penting, mungkin langkahnya adalah menetapkan batas yang selama ini tidak pernah kamu buat.
Jangan mencari langkah yang sempurna.
Cari langkah yang selaras dengan nilai.
Tanyakan:
"Apa tindakan kecil yang bisa saya lakukan hari ini yang mencerminkan orang seperti apa yang ingin saya menjadi?"
Kemudian lakukan.
Karena pada akhirnya, makna bukan hanya sesuatu yang kita pikirkan.
Makna juga sesuatu yang kita jalani.
Masalah Tidak Selalu Memberi Kita Jawaban, Tetapi Bisa Memberi Kita Arah
Kita sering berharap hidup yang baik adalah hidup tanpa masalah.
Namun, mungkin definisi tersebut terlalu sederhana.
Hidup yang bermakna bukan berarti hidup yang selalu mudah.
Bahkan sering kali, kita baru mengetahui apa yang benar-benar penting setelah mengalami sesuatu yang mengguncang kita.
Kita baru menghargai waktu setelah menyadari betapa cepatnya waktu berlalu.
Kita baru memahami pentingnya hubungan setelah kehilangan seseorang.
Kita baru menghargai kesehatan setelah tubuh memberi peringatan.
Kita baru mengetahui batas diri setelah terlalu lama mengatakan "ya".
Kita baru memahami keberanian setelah dipaksa menghadapi sesuatu yang menakutkan.
Dan kita baru mengetahui kekuatan diri setelah melewati masa ketika kita merasa tidak kuat.
Namun, ada satu hal yang perlu diingat:
Tidak semua penderitaan harus diberi makna dengan segera.
Jika kamu sedang berada di tengah masalah yang sangat berat, mungkin tugasmu bukan langsung menemukan pelajaran.
Mungkin tugasmu hanya bertahan hari ini.
Meminta bantuan juga bukan tanda kelemahan.
Berbicara dengan orang yang dipercaya, mencari bantuan profesional, beristirahat, menangis, atau mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja merupakan bagian dari proses menghadapi masalah.
Kita tidak perlu memaksa diri berkata:
"Saya bersyukur mengalami ini."
Cukup dengan mengatakan:
"Saya tidak memilih pengalaman ini, tetapi saya masih bisa memilih apa yang akan saya lakukan setelahnya."
Itulah titik di mana masalah mulai kehilangan sebagian kekuatannya.
Pada Akhirnya, Masalah Bisa Menjadi Pintu
Masalah tidak selalu menjadi pesan bahwa kita harus berhenti.
Kadang masalah justru menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Ada kebiasaan yang perlu diubah.
Ada hubungan yang perlu diperbaiki.
Ada batas yang perlu dibuat.
Ada keberanian yang perlu dibangun.
Ada nilai yang perlu diperjuangkan.
Ada kehidupan yang selama ini kita jalani tanpa benar-benar kita pilih.
Karena itu, ketika masalah berikutnya datang, cobalah berhenti sejenak sebelum langsung bertanya:
"Kenapa ini terjadi kepada saya?"
Lalu tanyakan:
"Apa yang sedang ditunjukkan pengalaman ini tentang apa yang penting bagi saya?"
Kemudian lanjutkan:
"Apa yang berada dalam kendali saya?"
Dan akhirnya:
"Apa satu langkah kecil yang bisa saya lakukan sekarang?"
Mungkin kamu tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Tetapi kamu masih bisa menentukan apa arti pengalaman itu bagi langkahmu berikutnya.
Masalah adalah bagian dari cerita hidup. Tetapi masalah tidak harus menjadi akhir dari cerita.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022