Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 23.44 WIB

6 Tanda Pasangan Mendekatimu karena Harta, Bukan Ketulusan Menurut Psikologi

seseorang yang memilih pasangan sebab hartanya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Tidak semua hubungan dimulai karena alasan yang sepenuhnya tulus. Ada hubungan yang tumbuh karena rasa cinta, kekaguman, kecocokan, dan keinginan untuk membangun kehidupan bersama. Namun, ada pula hubungan yang sejak awal lebih banyak didorong oleh kepentingan—termasuk kenyamanan finansial, status sosial, akses terhadap fasilitas, atau kehidupan yang bisa diperoleh melalui pasangannya.


Masalahnya, orang yang mendekati kita karena kepentingan materi tidak selalu menunjukkannya secara terang-terangan.

Mereka bisa sangat perhatian. Bisa romantis. Bisa mengatakan bahwa kita adalah orang yang paling mereka kagumi. Bahkan terkadang mereka bisa membuat kita merasa sangat beruntung karena telah menemukan seseorang yang begitu memahami kita.

Karena itulah, yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan pasangan, tetapi juga pola perilakunya dari waktu ke waktu.

Dalam psikologi hubungan, ketulusan tidak bisa diukur hanya dari satu perilaku. Seseorang yang sedang mengalami kesulitan finansial, misalnya, tentu akan lebih memperhatikan kondisi ekonomi. Itu tidak otomatis berarti ia memanfaatkan pasangannya.

Yang lebih penting adalah melihat pola, konsistensi, keseimbangan, dan cara seseorang memperlakukan kita ketika keuntungan materi tidak sedang tersedia.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat enam tanda yang patut kamu perhatikan.

1. Dia jauh lebih tertarik pada apa yang kamu miliki daripada siapa dirimu

Coba perhatikan jenis pertanyaan yang paling sering dia ajukan ketika hubungan kalian mulai dekat.

Apakah dia ingin mengetahui bagaimana kamu berpikir? Apa yang membuatmu takut? Apa impianmu? Bagaimana hubunganmu dengan keluarga? Apa yang membuatmu bahagia?

Atau percakapan justru lebih sering berputar pada pekerjaanmu, penghasilanmu, rumahmu, mobilmu, bisnis keluargamu, koneksi sosialmu, atau gaya hidupmu?

Ketertarikan terhadap kondisi finansial pasangan sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam hubungan serius, membicarakan uang, pekerjaan, tabungan, dan rencana masa depan memang penting.

Namun, ada perbedaan antara ingin memahami kehidupan pasangan dan menilai pasangan berdasarkan apa yang bisa diberikan secara materi.

Orang yang benar-benar tertarik pada dirimu biasanya ingin mengenal manusia di balik pencapaianmu.

Ia mungkin mengagumi keberhasilanmu, tetapi ketertarikannya tidak hilang ketika kamu sedang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan.

Sebaliknya, jika seseorang terus-menerus menunjukkan antusiasme ketika mengetahui kamu memiliki uang, fasilitas, atau status tertentu, tetapi menjadi kurang tertarik ketika pembicaraan menyentuh kepribadian, nilai hidup, atau perjuanganmu, hal itu layak diperhatikan.

Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa kamu tanyakan kepada diri sendiri adalah:

"Kalau semua yang kumiliki tiba-tiba hilang, apakah dia masih akan memperlakukanku dengan cara yang sama?"

Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab.

Tetapi jawabannya bisa memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya membuat seseorang tertarik kepadamu.

2. Perhatiannya meningkat ketika kamu mengeluarkan uang

Ini adalah salah satu pola yang sering membuat seseorang bingung.

Ketika kamu mengajak makan di tempat mahal, dia terlihat sangat bahagia.

Ketika kamu memberikan hadiah mahal, hubungan terasa semakin hangat.

Ketika kamu membayar perjalanan, membeli sesuatu, atau memenuhi keinginannya, dia menjadi lebih romantis dan penuh perhatian.

Namun, ketika kamu mengatakan bahwa kamu sedang ingin menghemat uang atau tidak bisa memenuhi permintaannya, sikapnya berubah.

Dia menjadi dingin.

Mudah kecewa.

Mulai membandingkanmu dengan orang lain.

Atau bahkan mengatakan bahwa kamu sudah tidak seperti dulu.

Satu kejadian tentu tidak cukup untuk mengambil kesimpulan. Namun, pola yang konsisten bisa menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.

Dalam hubungan yang sehat, uang seharusnya menjadi salah satu bagian dari kehidupan, bukan alat utama untuk menentukan seberapa besar seseorang menghargai pasangannya.

Pasangan yang tulus mungkin menghargai hadiah yang kamu berikan. Namun, ia tidak seharusnya membuat kasih sayangnya terasa seperti sesuatu yang harus "dibeli".

Kamu juga perlu memperhatikan bagaimana reaksinya ketika kamu menetapkan batas.

Misalnya:

"Aku sedang tidak ingin mengeluarkan uang sebanyak itu."

Respons yang sehat bisa berupa pemahaman.

Sementara respons seperti:

"Kalau kamu sayang aku, seharusnya kamu mau."

atau

"Kamu kan punya uang."

dapat menunjukkan pola yang berbeda.

Kasih sayang tidak seharusnya digunakan untuk menekan seseorang agar mengeluarkan uang.

3. Dia memiliki standar gaya hidup yang harus kamu penuhi

Ada orang yang memang menyukai kehidupan nyaman. Itu sendiri bukan sesuatu yang salah.

Masalahnya muncul ketika seseorang menjadikan kemampuan finansial pasangan sebagai syarat utama untuk mempertahankan hubungan.

Misalnya, dia mulai menganggap bahwa pasangan harus selalu membawanya ke restoran mahal.

Harus memberikan hadiah dengan harga tertentu.

Harus membayar liburan.

Harus memiliki rumah tertentu.

Harus mengendarai kendaraan tertentu.

Atau harus mampu mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan finansial pasangan.

Pada awalnya mungkin terlihat seperti keinginan biasa.

Tetapi lama-kelamaan kamu bisa merasa seperti sedang mengikuti ujian.

Semakin banyak yang kamu berikan, semakin tinggi standar yang ditetapkan.

Hari ini makan di restoran mahal dianggap spesial.

Besok menjadi sesuatu yang biasa.

Bulan depan dia menginginkan sesuatu yang lebih mahal lagi.

Jika tidak dipenuhi, kamu dianggap kurang perhatian.

Dalam psikologi hubungan, masalah seperti ini menjadi serius ketika nilai dirimu sebagai pasangan mulai dikaitkan dengan kemampuanmu menyediakan sumber daya.

Hubungan yang sehat seharusnya memungkinkan dua orang menikmati kehidupan bersama tanpa membuat salah satunya merasa harus terus membuktikan cinta melalui pengeluaran.

Karena kalau cinta harus terus dibuktikan dengan uang, pada akhirnya seseorang bisa bertanya:

"Apakah dia mencintaiku, atau dia mencintai kehidupan yang bisa kuberikan?"

4. Dia kurang tertarik ketika kamu sedang berada dalam kondisi sulit

Inilah salah satu tanda yang sering lebih bermakna daripada kata-kata romantis.

Bayangkan kamu sedang mengalami masa sulit.

Penghasilan menurun.

Bisnis sedang bermasalah.

Pekerjaan tidak berjalan baik.

Kamu tidak bisa lagi memberikan fasilitas seperti sebelumnya.

Apa yang terjadi pada hubungan kalian?

Apakah dia tetap hadir?

Apakah dia bertanya bagaimana keadaanmu?

Apakah dia membantu sebisanya?

Apakah dia tetap menghargaimu?

Atau tiba-tiba dia menjadi semakin jauh?

Perubahan seperti ini perlu diperhatikan.

Seseorang yang mencintai kita tidak harus mampu menyelesaikan semua masalah kita. Tetapi biasanya ada keinginan untuk tetap hadir ketika kehidupan tidak sedang nyaman.

Sebaliknya, jika kedekatan seseorang sangat kuat ketika kehidupanmu sedang penuh fasilitas tetapi melemah drastis ketika keuntungan finansial berkurang, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Tentu saja, kita harus berhati-hati.

Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membantu secara finansial.

Seseorang bisa saja mencintaimu tetapi tidak memiliki uang untuk membantu.

Jadi, yang perlu diperhatikan bukan seberapa banyak uang yang dia berikan kepadamu.

Yang lebih penting adalah apakah kepeduliannya tetap ada ketika kamu tidak lagi mampu memberikan apa yang biasanya kamu berikan.

Karena ketulusan sering kali lebih mudah terlihat ketika keadaan tidak menguntungkan.

5. Dia sering membicarakan masa depan yang berisi fasilitas, tetapi sedikit membicarakan perjalanan untuk mencapainya

Coba dengarkan bagaimana pasanganmu membicarakan masa depan.

Apakah pembicaraan kalian lebih banyak tentang:

"Rumah kita nanti harus seperti ini."

"Kalau menikah, aku ingin mobil seperti itu."

"Nanti kita liburan ke luar negeri."

"Aku ingin tinggal di tempat yang mewah."

Tentu saja memiliki impian seperti itu bukan masalah.

Namun, perhatikan apakah pembicaraan tersebut juga mencakup pertanyaan:

"Bagaimana kita mencapainya?"

"Apa yang bisa kita lakukan bersama?"

"Bagaimana cara kita mengatur keuangan?"

"Apa kontribusiku?"

"Apa yang ingin kamu capai?"

Perbedaan ini penting.

Hubungan jangka panjang bukan hanya tentang menikmati hasil. Ada proses panjang untuk menciptakan kehidupan bersama.

Jika seseorang sangat tertarik pada hasil akhir, tetapi hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada perjuangan yang diperlukan untuk mencapai hasil tersebut, kamu patut memperhatikannya.

Pasangan yang benar-benar ingin membangun kehidupan bersama biasanya tidak hanya bertanya:

"Apa yang bisa kita miliki?"

tetapi juga:

"Apa yang bisa kita bangun bersama?"

Perbedaan satu kata tersebut bisa mencerminkan perbedaan pola pikir yang besar.

6. Ketika kamu berhenti memberi, dia membuatmu merasa bersalah

Ini mungkin tanda yang paling penting.

Kamu mulai merasa bahwa setiap kali kamu tidak memberikan sesuatu, kamu harus menjelaskan diri.

Tidak mentraktir dianggap tidak sayang.

Tidak membeli hadiah dianggap berubah.

Tidak membayar liburan dianggap pelit.

Tidak memenuhi keinginannya dianggap tidak serius dalam hubungan.

Lama-kelamaan kamu bisa masuk ke dalam pola di mana kamu terus memberikan sesuatu bukan karena ingin, tetapi karena takut kehilangan pasangan.

Di titik ini, hubungan mulai menjadi tidak sehat.

Perasaan bersalah dapat membuat seseorang sulit mengatakan "tidak".

Padahal dalam hubungan yang sehat, pasangan seharusnya mampu menerima batasan.

Kamu berhak mengatakan:

"Aku tidak mampu."

"Aku tidak mau."

"Aku sedang ingin menabung."

"Aku tidak nyaman mengeluarkan uang sebanyak itu."

"Aku ingin kita membagi biaya dengan cara yang lebih adil."

Pasangan yang menghargaimu mungkin merasa kecewa terhadap suatu keputusan, tetapi ia seharusnya tetap mampu menghormati batasanmu.

Jika setiap batasan justru dibalas dengan manipulasi emosional, tekanan, ancaman untuk pergi, atau membuatmu merasa tidak layak dicintai, persoalannya bukan lagi sekadar uang.

Itu sudah menyentuh persoalan rasa hormat dan batasan dalam hubungan.

Tetapi Jangan Terlalu Cepat Menuduh Pasanganmu

Enam tanda di atas bukanlah alat untuk mendiagnosis seseorang sebagai "matre" atau membuktikan bahwa dia hanya mengincar kekayaanmu.

Ini penting.

Seseorang bisa bertanya tentang penghasilan karena ingin mengetahui apakah kalian memiliki tujuan hidup yang sejalan.

Seseorang bisa menyukai restoran mahal karena memang memiliki preferensi tertentu.

Seseorang bisa berharap pasangannya memiliki kehidupan finansial yang stabil karena menginginkan keamanan dalam pernikahan.

Dan seseorang bisa meminta bantuan finansial ketika benar-benar sedang mengalami kesulitan.

Semua itu tidak otomatis berarti dia tidak tulus.

Yang perlu diperhatikan adalah pola keseluruhan.

Apakah dia menghargaimu ketika kamu tidak sedang memberikan sesuatu?

Apakah dia tertarik pada dirimu sebagai manusia?

Apakah dia menghormati batasanmu?

Apakah dia juga berusaha memberikan sesuatu dalam hubungan, meskipun bukan dalam bentuk uang?

Apakah dia tetap berada di sisimu ketika kehidupan sedang sulit?

Dan yang paling penting:

Apakah hubungan kalian terasa seperti kerja sama, atau seperti transaksi?

Perbedaan Antara Hubungan Sehat dan Hubungan yang Terlalu Berorientasi Materi

Dalam hubungan sehat, uang memang penting.

Pasangan perlu membicarakan penghasilan.

Perlu membicarakan utang.

Perlu membicarakan tabungan.

Perlu membicarakan rumah.

Perlu membicarakan gaya hidup.

Bahkan perlu membicarakan siapa yang membayar apa.

Tetapi pembicaraan mengenai uang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan bersama, bukan satu-satunya ukuran nilai seseorang.

Hubungan yang sehat biasanya memiliki keseimbangan.

Ada perhatian.

Ada rasa hormat.

Ada dukungan.

Ada usaha.

Ada kompromi.

Ada penghargaan.

Dan ada kemampuan untuk mengatakan "tidak" tanpa takut kehilangan cinta.

Sebaliknya, hubungan yang terlalu berorientasi materi sering membuat seseorang merasa bahwa kasih sayang harus dibayar.

Semakin banyak yang diberikan, semakin dihargai.

Semakin sedikit yang diberikan, semakin tidak disukai.

Jika pola ini terus terjadi, seseorang bisa perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara dicintai dan dibutuhkan karena sumber daya yang dimilikinya.

Cobalah Satu Hal Ini: Berhenti Membuktikan Cinta dengan Uang

Jika kamu mulai curiga bahwa pasanganmu lebih tertarik pada hartamu daripada dirimu, jangan langsung melakukan permainan psikologis.

Jangan tiba-tiba berbohong tentang kondisi finansial.

Jangan berpura-pura bangkrut.

Jangan sengaja menguji pasangan dengan manipulasi.

Lebih baik lakukan sesuatu yang jauh lebih sehat:

berhenti menggunakan uang sebagai cara utama untuk mempertahankan hubungan.

Tetapkan batas yang wajar.

Katakan dengan jujur apa yang mampu dan tidak mampu kamu lakukan.

Kemudian lihat bagaimana pasangan merespons.

Jika dia tetap menghargaimu, mungkin kekhawatiranmu selama ini perlu dibicarakan lebih dalam.

Namun, jika perubahan kecil dalam kemampuan finansialmu langsung membuat sikapnya berubah secara ekstrem, itu bisa menjadi informasi penting.

Bukan bukti mutlak.

Tetapi informasi yang layak kamu pertimbangkan.

Pada Akhirnya, Pertanyaan Terbesarnya Bukan "Apakah Dia Matre?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah aku merasa dicintai sebagai manusia, atau dihargai terutama karena apa yang bisa kuberikan?"

Karena seseorang bisa memiliki uang dan tetap merasa kesepian.

Seseorang bisa memiliki pasangan yang sangat romantis tetapi tidak pernah merasa benar-benar diterima.

Dan seseorang bisa dikelilingi oleh orang-orang yang menyukai gaya hidupnya, tetapi tidak benar-benar menyukai dirinya.

Cinta yang sehat bukan berarti pasangan tidak boleh menikmati uangmu.

Bukan berarti semua pengeluaran harus dibagi 50:50.

Bukan pula berarti pasangan yang tidak punya banyak uang pasti lebih tulus.

Ketulusan tidak ditentukan oleh siapa yang membayar tagihan.

Ketulusan lebih terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika tidak ada keuntungan yang bisa ia dapatkan.

Ketika kamu sedang lemah.

Ketika kamu sedang gagal.

Ketika kamu berkata "tidak".

Ketika kamu tidak bisa mentraktir.

Ketika kamu tidak mampu memberikan hadiah.

Ketika hidupmu sedang sederhana.

Apakah dia masih menghargaimu?

Apakah dia masih ingin mendengarkan ceritamu?

Apakah dia masih tertarik dengan pikiran dan perasaanmu?

Apakah dia masih ingin membangun sesuatu bersamamu?

Jika jawabannya ya, jangan buru-buru mencurigai cintanya hanya karena dia menikmati kenyamanan yang kamu miliki.

Tetapi jika kamu berkali-kali melihat bahwa perhatian, kasih sayang, dan kedekatan hanya muncul ketika uang, status, atau fasilitas tersedia, mungkin sudah waktunya untuk berhenti melihat hubungan hanya dari kata-kata.

Lihat polanya.

Karena dalam hubungan, kata-kata bisa dibuat sangat indah.

Tetapi pola perilaku biasanya jauh lebih sulit untuk dipalsukan dalam jangka panjang.

Dan terkadang, tanda paling jelas bahwa seseorang benar-benar mencintaimu bukanlah seberapa besar dia menikmati apa yang kamu miliki.

Melainkan seberapa tetap dia menghargaimu ketika kamu tidak memiliki apa pun untuk diberikan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore