seseorang yang membangun kepercayaan berkomunikasi. (magnific)
JawaPos.com - Ada sesuatu yang berubah dalam cara manusia berkomunikasi.
Hari ini, kita bisa membuat email dalam hitungan detik, merangkum rapat dengan bantuan AI, memperbaiki tulisan, menerjemahkan bahasa, bahkan menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan tanpa harus menyusun semuanya dari awal.
AI membuat komunikasi menjadi lebih cepat.
Namun, ada satu hal yang tidak otomatis menjadi lebih mudah: membangun kepercayaan.
Justru ketika semakin banyak pesan, tulisan, gambar, dan bahkan percakapan dapat dibuat oleh mesin, manusia mungkin akan semakin bertanya:
"Apakah orang ini benar-benar mengatakan apa yang dia pikirkan?"
"Apakah pesan ini tulus?"
"Apakah dia benar-benar memahami saya, atau hanya memberikan jawaban yang terdengar bagus?"
"Apakah saya sedang berbicara dengan manusia, atau sekadar menerima respons yang dibuat oleh AI?"
Di sinilah psikologi menjadi semakin relevan.
Kepercayaan tidak hanya dibangun melalui kata-kata yang sempurna. Dalam banyak situasi, kepercayaan muncul dari kombinasi antara konsistensi, kejujuran, empati, kompetensi, keterbukaan, dan kesediaan untuk benar-benar mendengarkan.
Karena itu, di era ketika AI dapat membantu siapa pun terdengar pintar, orang yang mampu membuat orang lain merasa dipahami dan dihargai justru bisa menjadi semakin berharga.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (5/10), jika Anda ingin membangun kepercayaan saat berkomunikasi di era serba AI, berikut tujuh cara yang bisa diterapkan.
1. Jangan Berusaha Terlihat Sempurna, Berusahalah Terlihat Tulus
Salah satu kesalahan dalam komunikasi adalah menganggap bahwa orang akan lebih percaya kepada kita jika kita selalu memberikan jawaban yang sempurna.
Padahal, manusia tidak selalu mencari kesempurnaan.
Sering kali, kita justru lebih nyaman kepada seseorang yang terdengar jujur dan autentik.
Bayangkan seseorang bertanya kepada Anda:
"Kamu tahu jawabannya?"
Ada dua kemungkinan respons.
Pertama:
"Tentu. Berdasarkan berbagai faktor, solusi optimalnya adalah..."
Kedua:
"Saya belum yakin. Saya perlu mengeceknya dulu supaya tidak memberikan informasi yang salah."
Respons kedua mungkin terdengar kurang mengesankan.
Namun, dalam situasi tertentu, justru respons seperti itu dapat meningkatkan kepercayaan.
Mengapa?
Karena mengakui keterbatasan menunjukkan bahwa seseorang tidak sedang berusaha mempertahankan citra dirinya dengan segala cara.
Di era AI, prinsip ini menjadi semakin penting.
AI dapat menghasilkan kalimat yang sangat rapi. Ia dapat membuat jawaban terdengar percaya diri, terstruktur, dan profesional. Karena itu, manusia tidak perlu berlomba menjadi "mesin yang lebih sempurna".
Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan kualitas yang tidak dapat digantikan hanya dengan kalimat yang bagus: ketulusan.
Misalnya, daripada berkata:
"Saya mengerti sepenuhnya apa yang Anda rasakan."
lebih baik mengatakan:
"Saya mungkin tidak sepenuhnya tahu apa yang Anda rasakan, tetapi saya ingin memahami situasinya."
Perbedaannya sederhana.
Kalimat pertama mengklaim pemahaman.
Kalimat kedua menunjukkan kerendahan hati sekaligus membuka ruang bagi orang lain untuk bercerita.
Kepercayaan tumbuh ketika kata-kata sesuai dengan kenyataan
Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa Anda lakukan.
Jangan mengatakan "saya pasti bantu" jika sebenarnya Anda belum tahu apakah mampu membantu.
Jangan berpura-pura memahami sesuatu hanya karena takut terlihat tidak kompeten.
Dalam psikologi komunikasi, kredibilitas sangat berkaitan dengan persepsi bahwa seseorang dapat dipercaya dan memiliki niat yang baik.
Karena itu, terkadang kalimat sederhana seperti:
"Saya belum tahu."
"Saya salah."
"Saya perlu mengecek kembali."
atau
"Saya kurang memahami maksud Anda. Bisa jelaskan sedikit lagi?"
justru dapat membuat komunikasi menjadi lebih manusiawi.
Di era ketika semua orang bisa terlihat pintar dengan bantuan AI, keberanian untuk jujur tentang keterbatasan bisa menjadi sumber kepercayaan.
2. Dengarkan untuk Memahami, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
Banyak orang merasa dirinya adalah komunikator yang baik karena mampu berbicara dengan lancar.
Padahal, komunikasi bukan hanya tentang kemampuan berbicara.
Kemampuan mendengarkan sering kali jauh lebih menentukan kualitas hubungan.
Coba perhatikan percakapan sehari-hari.
Seseorang sedang bercerita tentang masalahnya.
Belum selesai berbicara, kita sudah memikirkan jawaban.
"Kalau saya jadi dia, saya akan..."
"Saya juga pernah mengalami hal yang sama."
"Sebenarnya solusinya gampang."
Akhirnya, kita bukan benar-benar mendengarkan.
Kita hanya menunggu kesempatan untuk berbicara.
Di era AI, kecenderungan ini bisa semakin kuat karena kita terbiasa mendapatkan jawaban secara instan.
Kita mengetik pertanyaan.
AI menjawab.
Kita bertanya lagi.
AI menjawab lagi.
Semuanya cepat.
Namun hubungan antarmanusia tidak selalu membutuhkan kecepatan.
Kadang-kadang, seseorang hanya ingin didengarkan.
Cobalah teknik sederhana: refleksi
Setelah seseorang berbicara, jangan langsung memberikan nasihat.
Coba pantulkan kembali inti yang Anda dengar.
Misalnya:
"Jadi, yang membuat kamu paling kecewa bukan hasil akhirnya, tetapi karena kamu merasa tidak dilibatkan dalam prosesnya, ya?"
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa Anda tidak hanya mendengar kata-katanya, tetapi berusaha memahami maknanya.
Jika ternyata Anda salah memahami, orang tersebut dapat mengoreksi.
"Bukan itu sebenarnya. Yang paling membuat saya kecewa justru..."
Dan percakapan pun menjadi lebih dalam.
Jangan buru-buru memberikan solusi
Tidak semua masalah membutuhkan solusi pada menit pertama.
Kadang seseorang membutuhkan validasi sebelum membutuhkan nasihat.
Alih-alih langsung mengatakan:
"Kamu harusnya melakukan ini."
cobalah:
"Kedengarannya situasinya memang cukup berat."
Lalu tanyakan:
"Kamu ingin saya dengarkan saja, atau kamu ingin kita mencari solusinya bersama?"
Pertanyaan sederhana ini sangat kuat.
Anda memberikan kendali kepada lawan bicara sekaligus menunjukkan bahwa Anda tidak memaksakan agenda sendiri.
Orang cenderung lebih percaya kepada seseorang yang membuat mereka merasa didengar daripada seseorang yang selalu berusaha terlihat paling tahu.
3. Gunakan AI sebagai Alat, Bukan sebagai Pengganti Kepribadian
Menggunakan AI bukan masalah.
Masalahnya muncul ketika seseorang menyerahkan seluruh proses berpikir dan berkomunikasinya kepada AI.
Bayangkan seorang teman mengirim pesan panjang kepada Anda.
Bahasanya sempurna.
Strukturnya sangat rapi.
Semua kalimat terdengar profesional.
Namun Anda mengenalnya cukup lama sehingga tahu bahwa cara bicaranya biasanya tidak seperti itu.
Lalu muncul pertanyaan:
"Ini benar-benar kata-kata dia atau hasil AI?"
Di sinilah muncul tantangan baru dalam komunikasi digital.
AI dapat membantu kita menyusun pesan, tetapi jika digunakan secara berlebihan, komunikasi bisa kehilangan karakter personal.
Biarkan AI membantu merapikan, bukan menggantikan suara Anda
Misalnya Anda ingin meminta maaf kepada seseorang.
Anda bisa meminta AI membantu memperbaiki struktur kalimat.
Namun pengalaman, penyesalan, dan tanggung jawab tetap harus berasal dari Anda.
Pesan seperti:
"Saya benar-benar minta maaf. Kemarin saya terlalu cepat mengambil kesimpulan dan ternyata saya salah memahami situasinya."
sering kali terasa lebih manusiawi daripada paragraf panjang yang sangat sempurna tetapi tidak menunjukkan pengalaman personal.
Gunakan AI untuk:
memperjelas struktur;
memeriksa tata bahasa;
mencari alternatif kata;
membantu merangkum;
menemukan bagian yang ambigu;
mengembangkan ide.
Tetapi jangan menyerahkan seluruh suara Anda.
Karena kepercayaan tidak hanya dibangun dari informasi yang benar, tetapi juga dari persepsi bahwa ada manusia nyata di balik komunikasi tersebut.
4. Jangan Hanya Memberikan Informasi, Tunjukkan Niat Baik
Dua orang bisa memberikan jawaban yang sama, tetapi menghasilkan tingkat kepercayaan yang berbeda.
Mengapa?
Karena manusia tidak hanya menilai apa yang dikatakan, tetapi juga berusaha membaca mengapa seseorang mengatakannya.
Dalam psikologi sosial, persepsi terhadap niat orang lain sangat penting dalam membentuk penilaian interpersonal.
Misalnya, seorang atasan berkata:
"Tolong perbaiki laporan ini."
Kalimat tersebut informatif.
Namun mungkin terasa dingin.
Bandingkan dengan:
"Tolong perbaiki bagian ini supaya laporan akhirnya lebih kuat. Kalau ada kendala, bilang ke saya, nanti kita lihat bersama."
Informasinya hampir sama.
Tetapi sinyal sosialnya berbeda.
Versi kedua menunjukkan bahwa tujuan komunikator bukan sekadar mencari kesalahan, tetapi membantu menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Niat baik harus terlihat dalam perilaku
Tidak cukup mengatakan:
"Saya menghargai pendapatmu."
Jika setiap kali orang berbicara Anda memotong pembicaraannya, kalimat tersebut kehilangan makna.
Tidak cukup mengatakan:
"Saya terbuka terhadap kritik."
Jika setiap kritik dibalas dengan kemarahan, orang akan berhenti percaya.
Kepercayaan terbentuk dari pola.
Jika seseorang berkali-kali melihat bahwa Anda mendengarkan, menepati janji, mengakui kesalahan, dan menghormati pendapat berbeda, otak mereka akan mendapatkan bukti bahwa Anda relatif aman untuk dipercaya.
Dengan kata lain:
Jangan hanya memberi tahu orang bahwa Anda dapat dipercaya. Berikan mereka pengalaman yang membuat mereka menyimpulkan sendiri bahwa Anda dapat dipercaya.
5. Konsisten antara Perkataan dan Tindakan
Salah satu fondasi kepercayaan adalah konsistensi.
Jika seseorang mengatakan:
"Saya selalu menghargai waktu orang lain,"
tetapi terus datang terlambat tanpa penjelasan, perkataannya kehilangan kredibilitas.
Jika seseorang mengatakan:
"Kalau ada masalah, bicara langsung dengan saya,"
tetapi ketika dikritik justru menyerang balik, orang akan belajar bahwa perkataannya tidak dapat dijadikan pegangan.
Di sinilah konsep walk the talk menjadi penting: apa yang Anda katakan harus sedapat mungkin sejalan dengan apa yang Anda lakukan.
Konsistensi kecil lebih penting daripada janji besar
Kepercayaan tidak selalu dibangun melalui tindakan dramatis.
Justru sering kali dibangun melalui hal-hal kecil:
Anda mengatakan akan menelepon pukul 7, lalu Anda menelepon pukul 7.
Anda mengatakan akan mengirim dokumen besok, lalu Anda mengirimkannya.
Anda tidak tahu jawabannya, lalu Anda mengatakan tidak tahu.
Anda melakukan kesalahan, lalu Anda mengakuinya.
Anda meminta seseorang menjaga rahasia, lalu Anda juga menghormati rahasia orang lain.
Hal-hal kecil tersebut menjadi "bukti" yang dikumpulkan orang lain tentang karakter Anda.
Di era AI, prinsip ini menjadi semakin penting karena informasi dapat dibuat dengan sangat mudah.
Ketika kata-kata semakin mudah diproduksi, rekam jejak perilaku bisa menjadi pembeda yang semakin kuat.
6. Berani Mengatakan "Saya Salah"
Ada satu kebiasaan yang sederhana tetapi sangat kuat untuk membangun kepercayaan:
mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam.
Sayangnya, manusia sering melakukan sebaliknya.
Ketika salah, kita mencoba menjelaskan.
"Saya sebenarnya bermaksud..."
"Tapi karena dia..."
"Kalau saja situasinya tidak seperti itu..."
Penjelasan memang terkadang diperlukan.
Tetapi terlalu banyak pembelaan diri dapat membuat permintaan maaf terasa seperti upaya menghindari tanggung jawab.
Coba bandingkan:
"Maaf kalau kamu merasa tersinggung."
dengan:
"Saya minta maaf. Cara saya menyampaikannya memang tidak tepat dan saya bisa memahami mengapa itu membuat kamu tersinggung."
Kalimat kedua mengambil tanggung jawab.
Kesalahan tidak selalu menghancurkan kepercayaan
Yang sering menghancurkan kepercayaan justru adalah cara seseorang merespons kesalahannya.
Ketika seseorang salah tetapi:
mengakuinya,
memahami dampaknya,
meminta maaf,
memperbaiki kerusakan,
dan berusaha tidak mengulanginya,
kesalahan tersebut justru dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali kepercayaan.
Dalam hubungan manusia, tidak ada orang yang selalu benar.
Karena itu, orang yang dapat dipercaya bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Orang yang dapat dipercaya adalah orang yang tidak lari dari tanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Dan ini berlaku dalam komunikasi profesional maupun pribadi.
7. Sisakan Ruang untuk Percakapan yang Benar-Benar Manusiawi
Inilah mungkin cara yang paling penting di era AI.
Jangan biarkan semua komunikasi menjadi transaksional.
Manusia membutuhkan lebih dari sekadar pertukaran informasi.
Kita juga membutuhkan koneksi.
Bayangkan dua percakapan berikut.
Percakapan pertama:
"File sudah saya kirim."
"Oke."
"Meeting jam 3."
"Siap."
"Tolong revisi."
"Baik."
Semua informasi tersampaikan.
Namun tidak ada hubungan yang terbentuk.
Sekarang bayangkan:
"File sudah saya kirim. Kalau kamu sempat, coba lihat bagian terakhir karena saya masih agak ragu di sana."
"Oke, nanti saya cek. Kamu sudah sempat istirahat belum? Kelihatannya hari ini cukup padat."
Percakapan kedua memiliki sesuatu yang berbeda.
Ada perhatian.
Ada konteks.
Ada manusia.
Jangan takut pada percakapan yang tidak efisien
Tidak semua percakapan harus menghasilkan output.
Kadang kita berbicara hanya untuk menjaga hubungan.
Menanyakan:
"Bagaimana kabarmu?"
dan benar-benar menunggu jawabannya.
Mengucapkan:
"Terima kasih sudah membantu kemarin."
Mengingat detail kecil yang pernah diceritakan seseorang.
Mengirim pesan:
"Semoga presentasimu hari ini lancar."
Hal-hal seperti itu mungkin tidak terlihat produktif.
Namun hubungan manusia tidak hanya dibangun melalui produktivitas.
Hubungan dibangun melalui perhatian yang konsisten.
Dan ketika AI semakin mampu menangani komunikasi yang bersifat rutin dan transaksional, kemampuan manusia untuk menghadirkan perhatian, empati, humor, kehangatan, dan kehadiran justru menjadi semakin bernilai.
Mengapa Kepercayaan Menjadi Semakin Penting di Era AI?
Bayangkan sepuluh tahun dari sekarang.
Tulisan profesional dapat dibuat AI.
Presentasi dapat dibuat AI.
Foto dapat dibuat AI.
Video dapat dibuat AI.
Suara dapat ditiru.
Pesan dapat dihasilkan dalam berbagai gaya.
Bahkan mungkin semakin sulit bagi seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu dibuat oleh manusia atau mesin.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan manusia mungkin akan bergeser.
Bukan lagi sekadar:
"Apakah ini dibuat dengan AI?"
Melainkan:
"Apakah saya bisa mempercayai orang di baliknya?"
Di sinilah kualitas manusia menjadi penting.
Kepercayaan akan semakin bergantung pada hal-hal seperti:
apakah seseorang konsisten;
apakah ia jujur ketika tidak tahu;
apakah ia bertanggung jawab ketika salah;
apakah ia benar-benar mendengarkan;
apakah ia menghormati orang lain;
apakah ia menggunakan teknologi secara transparan;
dan apakah perilakunya sesuai dengan nilai yang ia bicarakan.
AI dapat membantu seseorang menghasilkan kalimat yang lebih baik.
Tetapi AI tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih dapat dipercaya.
Itulah perbedaan penting yang perlu dipahami.
Jangan Berusaha Mengalahkan AI dalam Hal yang Memang Menjadi Keunggulannya
AI sangat baik dalam hal-hal tertentu.
Ia dapat memproses informasi dalam jumlah besar.
Ia dapat membantu menyusun struktur.
Ia dapat menghasilkan banyak alternatif.
Ia dapat mempercepat pekerjaan.
Ia dapat membantu menemukan pola.
Tidak perlu melawannya.
Justru manfaatkan AI.
Namun jangan mencoba menjadikan diri sendiri seperti AI.
Manusia tidak perlu selalu cepat.
Manusia tidak perlu selalu memiliki jawaban.
Manusia tidak perlu berbicara dalam kalimat yang sempurna.
Manusia tidak perlu selalu terdengar objektif.
Karena salah satu kekuatan manusia justru terletak pada kemampuan untuk mengatakan:
"Saya mengerti."
"Saya tahu ini sulit."
"Saya juga pernah salah."
"Saya belum tahu jawabannya."
"Ceritakan lebih banyak."
"Terima kasih sudah percaya kepada saya."
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin tidak spektakuler.
Tetapi dalam hubungan antarmanusia, dampaknya bisa sangat besar.
Formula Sederhana Membangun Kepercayaan di Era AI
Jika semua penjelasan di atas harus diringkas, gunakan formula sederhana berikut:
Kepercayaan = Kejujuran + Konsistensi + Kompetensi + Empati + Tanggung Jawab
Kejujuran membuat orang tahu bahwa Anda tidak sedang memanipulasi kenyataan.
Konsistensi membuat mereka tahu bahwa perilaku Anda dapat diprediksi.
Kompetensi membuat mereka percaya bahwa Anda mampu melakukan apa yang Anda katakan.
Empati membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia.
Tanggung jawab membuat mereka yakin bahwa Anda tidak akan menghilang ketika terjadi masalah.
Kelima hal tersebut tidak dapat digantikan hanya dengan kata-kata yang terdengar pintar.
Pada Akhirnya, Orang Tidak Hanya Mengingat Apa yang Anda Katakan
Ada percakapan yang kita lupakan dalam beberapa menit.
Tetapi ada juga percakapan yang kita ingat selama bertahun-tahun.
Bukan karena kalimatnya sempurna.
Bukan karena orang tersebut memberikan nasihat paling pintar.
Tetapi karena saat berbicara dengannya, kita merasa didengar, dihargai, dan dipahami.
Itulah mengapa era AI tidak harus menjadi era ketika komunikasi manusia kehilangan makna.
Sebaliknya, semakin canggih teknologi, semakin jelas pula nilai dari sesuatu yang tidak bisa dibangun hanya dengan menghasilkan teks.
Kehadiran.
Empati.
Kejujuran.
Integritas.
Dan kepercayaan.
Jadi, jika Anda ingin membangun kepercayaan saat berkomunikasi di era serba AI, jangan hanya belajar bagaimana berbicara lebih pintar.
Belajarlah mendengarkan lebih dalam.
Jangan hanya belajar bagaimana membuat pesan terdengar profesional.
Belajarlah berbicara dengan tulus.
Jangan hanya berusaha terlihat kompeten.
Beranilah mengatakan "saya tidak tahu" ketika memang tidak tahu.
Dan jangan hanya meminta orang lain percaya kepada Anda.
Berikan mereka cukup banyak pengalaman positif sehingga mereka memiliki alasan untuk percaya.
Karena pada akhirnya, teknologi mungkin dapat membantu kita menghasilkan kata-kata.
Tetapi manusialah yang menentukan apakah kata-kata tersebut memiliki makna.***