Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2026 | 19.40 WIB

7 Cara Memperbaiki Hubungan yang Hampir Retak Menurut Psikologi

seseorang yang memperbaiki hubungan yang hampir retak. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Tidak semua hubungan yang retak harus berakhir. Ada hubungan yang sebenarnya masih memiliki rasa sayang, tetapi terlalu banyak luka yang tidak pernah dibicarakan.
 
Ada hubungan yang perlahan menjauh bukan karena sudah tidak peduli, melainkan karena keduanya terlalu lelah untuk terus menjelaskan. Ada pula hubungan yang rusak bukan karena satu kesalahan besar, tetapi karena akumulasi hal-hal kecil: komunikasi yang buruk, janji yang tidak ditepati, perasaan yang diabaikan, ego yang terlalu tinggi, dan pertengkaran yang tidak pernah benar-benar selesai.

Hal ini bisa terjadi dalam hubungan apa pun.

Dalam hubungan romantis, kamu mungkin mulai merasa pasanganmu berubah. Percakapan yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi perdebatan. Dalam persahabatan, seseorang yang dulu selalu ada mulai terasa asing. Dalam keluarga, luka lama membuat setiap percakapan mudah berubah menjadi konflik. Bahkan dalam hubungan profesional, kepercayaan yang rusak dapat membuat kerja sama menjadi semakin sulit.

Namun psikologi memberi kita satu pemahaman penting:

Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah mengalami konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu memperbaiki kerusakan setelah konflik terjadi.

Jadi, ketika sebuah hubungan mulai retak, pertanyaannya bukan hanya, "Siapa yang salah?"

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

"Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki cara kita berhubungan satu sama lain?"

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), terdapat 7 "alat psikologis" yang bisa membantu memperbaiki berbagai jenis hubungan yang sedang berada di ambang keretakan.

1. Gunakan Kemampuan untuk Mendengarkan, Bukan Hanya Menunggu Giliran Bicara

Salah satu penyebab terbesar hubungan memburuk adalah karena orang merasa tidak didengar.

Banyak orang sebenarnya tidak sedang mendengarkan ketika seseorang berbicara. Mereka sedang menyiapkan jawaban.

Ketika pasangan berkata:

"Aku merasa kamu akhir-akhir ini tidak peduli."

Kita mungkin langsung berpikir:

"Mana ada? Aku sudah melakukan banyak hal untukmu."

Ketika teman berkata:

"Aku kecewa karena kamu tidak datang waktu aku membutuhkanmu."

Kita langsung menjawab:

"Aku juga waktu itu sedang banyak masalah."

Ketika orang tua berkata:

"Kamu sekarang jarang menghubungi keluarga."

Kita mungkin berpikir:

"Mereka juga tidak pernah bertanya kabarku."

Masalahnya bukan selalu karena jawaban kita salah.

Masalahnya adalah kita menjawab sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan orang tersebut.

Dalam psikologi komunikasi, kemampuan mendengarkan secara aktif sangat penting untuk membangun kembali rasa aman dalam sebuah hubungan.

Mendengarkan aktif bukan berarti kamu harus setuju.

Kamu hanya perlu berusaha memahami.

Alih-alih langsung membela diri, cobalah mengatakan:

"Aku ingin memahami kenapa kamu merasa seperti itu."

Atau:

"Jadi menurutmu, yang paling membuatmu terluka adalah ketika aku melakukan itu?"

Kalimat sederhana seperti ini bisa mengubah arah sebuah percakapan.

Karena terkadang orang tidak membutuhkan kita untuk langsung menyelesaikan masalahnya.

Mereka membutuhkan perasaan bahwa pengalaman mereka diakui.

Ada perbedaan besar antara:

"Aku tidak setuju denganmu."

dan:

"Aku bisa memahami mengapa kamu merasa seperti itu."

Kamu tetap boleh memiliki sudut pandang yang berbeda.

Tetapi sebelum meminta orang lain memahami sudut pandangmu, berikan mereka pengalaman bahwa kamu bersedia memahami sudut pandang mereka.

Hubungan sering mulai membaik ketika seseorang akhirnya merasa, "Aku didengar."

2. Gunakan Validasi Emosional, Bukan Penghakiman

Banyak hubungan rusak bukan karena masalah awalnya terlalu besar, tetapi karena emosi seseorang terus-menerus dianggap tidak valid.

Misalnya seseorang berkata:

"Aku sakit hati ketika kamu mengatakan itu."

Kemudian jawabannya:

"Kamu terlalu sensitif."

Atau:

"Ah, cuma bercanda."

Atau:

"Kamu memang selalu membesar-besarkan masalah."

Kalimat seperti itu mungkin terlihat sederhana.

Tetapi bagi orang yang mengucapkannya, pesan yang diterima bisa sangat dalam:

"Perasaanku tidak penting."

Validasi emosional bukan berarti mengatakan bahwa seseorang selalu benar.

Validasi berarti mengakui bahwa perasaan mereka memiliki alasan.

Misalnya:

"Aku mungkin tidak bermaksud menyakitimu, tetapi aku bisa mengerti mengapa perkataanku membuatmu terluka."

Itu jauh berbeda dengan:

"Kamu terlalu sensitif."

Validasi menciptakan ruang aman untuk berbicara.

Dan ketika seseorang merasa aman, mereka biasanya lebih mudah terbuka.

Sebaliknya, ketika seseorang merasa akan dihakimi, mereka cenderung melakukan dua hal:

menyerang atau menarik diri.

Serangan bisa berbentuk kritik, kemarahan, sarkasme, atau menyalahkan.

Penarikan diri bisa berbentuk diam, menghindar, tidak membalas pesan, atau berhenti membicarakan perasaan.

Keduanya dapat memperburuk hubungan.

Karena itu, ketika seseorang menyampaikan perasaan, cobalah menahan dorongan untuk langsung mengatakan:

"Kamu salah."

Gantilah dengan:

"Aku ingin mengerti."

Kemudian tanyakan:

"Bagian mana yang paling membuatmu terluka?"

Pertanyaan itu dapat membuka pintu yang sebelumnya tertutup.

3. Gunakan Permintaan Maaf yang Bertanggung Jawab

Banyak orang meminta maaf, tetapi sebenarnya tidak meminta maaf.

Contohnya:

"Maaf kalau kamu tersinggung."

"Maaf kalau kamu merasa sakit hati."

"Maaf, tapi kamu juga melakukan hal yang sama."

Sekilas terdengar seperti permintaan maaf.

Namun sebenarnya, tanggung jawabnya masih dilemparkan kepada orang lain.

Permintaan maaf yang sehat biasanya mengandung pengakuan terhadap tindakan dan dampaknya.

Misalnya:

"Aku minta maaf karena kemarin aku membentakmu. Aku sadar perkataanku membuatmu merasa tidak dihargai. Seharusnya aku menyampaikan kemarahanku tanpa menyerangmu."

Perhatikan perbedaannya.

Tidak ada kata:

"Kalau."

Tidak ada:

"Tapi."

Tidak ada usaha untuk segera membela diri.

Ada pengakuan.

Ada tanggung jawab.

Ada kesadaran terhadap dampak.

Dan jika memungkinkan, ada perubahan perilaku.

Karena permintaan maaf yang paling kuat bukan hanya:

"Aku menyesal."

Tetapi:

"Aku akan melakukan sesuatu agar hal ini tidak terus berulang."

Misalnya:

"Kalau aku mulai terlalu emosi, aku akan meminta waktu untuk menenangkan diri daripada melanjutkan pertengkaran."

Inilah yang membuat permintaan maaf memiliki makna.

Sebab dalam hubungan, kepercayaan tidak dibangun oleh kata-kata saja.

Kepercayaan dibangun oleh pola perilaku yang konsisten.

4. Gunakan "Repair Attempt": Kemampuan Menghentikan Konflik Sebelum Menjadi Lebih Buruk

Tidak semua pertengkaran harus diselesaikan dalam keadaan emosi tinggi.

Kadang-kadang, hal terbaik yang bisa dilakukan bukan melanjutkan pembicaraan.

Melainkan berhenti sejenak.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang perlu memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang dalam psikologi hubungan sering disebut sebagai repair attempt—upaya memperbaiki atau meredakan interaksi ketika konflik mulai memburuk.

Contohnya:

"Aku tidak ingin percakapan ini berubah menjadi saling menyakiti."

"Sepertinya kita sama-sama sedang terlalu emosi. Kita istirahat dulu, lalu bicara lagi."

"Aku masih ingin menyelesaikan masalah ini. Aku hanya perlu waktu untuk menenangkan diri."

Perhatikan satu hal penting:

Berhenti sejenak berbeda dengan menghilang.

Menghilang tanpa penjelasan bisa terasa seperti penolakan.

Tetapi mengatakan:

"Aku butuh waktu satu jam untuk menenangkan diri, setelah itu aku akan kembali membicarakannya."

memberikan kepastian.

Ini sangat penting.

Karena ketika konflik sedang panas, otak manusia dapat menjadi jauh lebih reaktif. Kita lebih mudah salah memahami kata-kata, mengingat kesalahan lama, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita katakan.

Jadi terkadang, jeda bukan tanda bahwa hubungan gagal.

Justru jeda bisa menjadi cara untuk menyelamatkan hubungan dari kerusakan yang lebih besar.

5. Gunakan Bahasa "Aku", Bukan Bahasa "Kamu Selalu"

Perhatikan dua kalimat berikut.

"Kamu selalu egois."

dan:

"Aku merasa tidak dipertimbangkan ketika keputusan itu dibuat tanpa melibatkanku."

Keduanya mungkin berasal dari rasa kecewa yang sama.

Tetapi efeknya sangat berbeda.

Kalimat pertama menyerang identitas.

Kalimat kedua menjelaskan pengalaman.

Ketika seseorang mendengar:

"Kamu selalu egois."

Mereka mungkin langsung berpikir:

"Aku tidak selalu begitu."

Lalu percakapan berubah menjadi perdebatan tentang apakah mereka egois atau tidak.

Masalah sebenarnya akhirnya hilang.

Karena itu, dalam konflik, cobalah menggunakan struktur:

"Aku merasa... ketika... karena..."

Misalnya:

"Aku merasa diabaikan ketika kamu tidak membalas pesanku selama berhari-hari, karena aku tidak tahu apakah ada masalah di antara kita."

Daripada:

"Kamu memang sudah tidak peduli."

Atau:

"Aku merasa kecewa ketika janji itu tidak ditepati karena aku sudah mengandalkannya."

Daripada:

"Kamu tidak pernah bisa dipercaya."

Perbedaannya sangat besar.

Bahasa "kamu selalu" cenderung membuat seseorang merasa diserang.

Bahasa "aku merasa" membantu menjelaskan dampak tanpa langsung menyerang karakter.

Tentu saja, ini bukan berarti semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan memilih kata yang tepat.

Tetapi cara kita berbicara menentukan apakah lawan bicara akan membuka diri atau memasang pertahanan.

6. Gunakan Empati untuk Melihat Hubungan dari Sudut Pandang Orang Lain

Empati bukan berarti membenarkan semua perilaku seseorang.

Empati berarti mencoba memahami dunia dari sudut pandang mereka.

Bayangkan seorang teman tiba-tiba menjauh.

Kamu mungkin berpikir:

"Dia berubah."

Tetapi mungkin ada sesuatu yang tidak kamu ketahui.

Mungkin dia sedang mengalami tekanan.

Mungkin ada masalah yang tidak pernah dia ceritakan.

Mungkin dia merasa hubungan kalian sudah tidak seimbang.

Mungkin dia juga sedang terluka oleh sesuatu yang menurutmu kecil.

Tanpa empati, kita mudah membuat kesimpulan:

"Dia tidak peduli."

"Dia egois."

"Dia berubah."

Dengan empati, pertanyaannya berubah:

"Apa yang mungkin sedang dia alami?"

"Apa yang mungkin dia rasakan?"

"Apa yang belum aku pahami?"

Ini tidak berarti kamu harus mengabaikan perilaku buruk.

Empati bukan berarti membiarkan seseorang menyakiti kita.

Kamu tetap boleh mengatakan:

"Aku memahami bahwa kamu sedang marah, tetapi aku tidak bisa menerima jika aku dihina."

Itulah empati yang sehat.

Memahami bukan berarti membenarkan.

Kamu bisa memahami rasa sakit seseorang sekaligus mempertahankan batasanmu.

Dan justru kemampuan inilah yang membuat hubungan menjadi lebih dewasa.

7. Gunakan Konsistensi untuk Membangun Kembali Kepercayaan

Ini mungkin alat yang paling sulit.

Karena kepercayaan tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu percakapan.

Seseorang bisa mengatakan:

"Aku berjanji akan berubah."

Tetapi jika setelah beberapa hari perilakunya kembali sama, kepercayaan justru semakin rusak.

Ketika sebuah hubungan sudah retak, kata-kata mungkin tidak lagi cukup.

Yang dibutuhkan adalah pengalaman baru yang konsisten.

Jika sebelumnya kamu sering membatalkan janji, mulai belajar menepati janji.

Jika sebelumnya kamu sering menghindari pembicaraan sulit, mulai belajar menghadapi percakapan dengan tenang.

Jika sebelumnya kamu mudah meledak ketika marah, mulai belajar mengambil jeda.

Jika sebelumnya kamu sering membuat orang merasa tidak penting, mulai tunjukkan perhatian melalui tindakan nyata.

Kepercayaan tumbuh ketika seseorang berkali-kali melihat bahwa:

kata-katamu sesuai dengan tindakanmu.

Tidak harus sempurna.

Kamu masih bisa melakukan kesalahan.

Tetapi ketika kesalahan terjadi, kamu mengakuinya, memperbaikinya, dan berusaha agar pola yang sama tidak terus berulang.

Hubungan yang retak sering kali tidak membutuhkan perubahan yang dramatis.

Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah banyak tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Satu pesan.

Satu percakapan.

Satu permintaan maaf.

Satu janji yang ditepati.

Satu batasan yang dihormati.

Satu kesempatan untuk mendengarkan.

Kemudian semuanya dilakukan lagi.

Dan lagi.

Sampai perlahan orang tersebut mulai merasa:

"Mungkin kali ini aku bisa percaya lagi."

Tetapi Ada Satu Hal yang Sering Dilupakan

Ketujuh alat ini sangat berguna.

Namun ada satu kenyataan yang harus diterima:

Kamu tidak bisa memperbaiki hubungan seorang diri jika pihak lain sama sekali tidak mau berusaha.

Kamu bisa belajar mendengarkan.

Kamu bisa meminta maaf.

Kamu bisa menjadi lebih empatik.

Kamu bisa mengubah cara berkomunikasi.

Kamu bisa memperbaiki kesalahanmu.

Tetapi kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk kembali percaya.

Tidak semua hubungan yang retak harus diselamatkan.

Ada hubungan yang masih bisa diperbaiki.

Ada hubungan yang membutuhkan jarak.

Dan ada hubungan yang memang lebih sehat untuk dilepaskan.

Memperbaiki hubungan bukan berarti mempertahankan hubungan dengan harga berapa pun.

Jika sebuah hubungan dipenuhi manipulasi, kekerasan, ancaman, penghinaan terus-menerus, atau pelanggaran batas yang serius, prioritasnya bukan sekadar "bagaimana agar hubungan ini tetap bertahan."

Prioritasnya adalah keselamatan, kesehatan psikologis, dan batasan yang sehat.

Karena hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

Pada Akhirnya, Hubungan Tidak Hancur Hanya Karena Konflik

Hubungan manusia memang rumit.

Kita semua memiliki luka.

Kita semua memiliki ego.

Kita semua terkadang salah memahami orang lain.

Dan kita semua pernah mengatakan sesuatu yang kemudian kita sesali.

Karena itu, jangan mengukur kesehatan sebuah hubungan hanya dari seberapa sering kalian bertengkar.

Lihat juga apa yang terjadi setelah pertengkaran.

Apakah kalian mampu meminta maaf?

Apakah kalian bisa mendengarkan?

Apakah kalian berusaha memahami?

Apakah kalian bisa memperbaiki kesalahan?

Apakah ada perubahan?

Apakah kalian masih menghormati satu sama lain?

Karena pada akhirnya, hubungan yang kuat bukanlah hubungan antara dua manusia yang sempurna.

Hubungan yang kuat adalah hubungan antara dua manusia yang bersedia belajar.

Belajar mendengarkan.

Belajar mengendalikan ego.

Belajar meminta maaf.

Belajar menetapkan batas.

Belajar memahami.

Dan yang paling penting—

belajar memperbaiki sesuatu sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Jika hari ini ada sebuah hubungan dalam hidupmu yang terasa mulai retak, mungkin kamu tidak perlu langsung mencari kalimat paling sempurna untuk menyelesaikannya.

Mulailah dengan satu hal sederhana.

Datangi orang itu dengan niat untuk memahami, bukan untuk menang.

Katakan:

"Aku tahu akhir-akhir ini hubungan kita tidak baik-baik saja. Aku tidak ingin kita terus seperti ini. Aku mungkin tidak memahami semuanya, tetapi aku ingin mendengarkan. Kalau kamu bersedia, aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan."

Terkadang, sebuah hubungan tidak membutuhkan percakapan yang sempurna untuk mulai diselamatkan.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang cukup berani untuk membuka pintu terlebih dahulu.

Dan mungkin, dari sana, hubungan yang hampir retak itu masih memiliki kesempatan untuk dibangun kembali—bukan menjadi seperti dulu, tetapi menjadi lebih dewasa, lebih sadar, dan lebih sehat daripada sebelumnya.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore