Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 04.01 WIB

7 Alasan Mengapa Beberapa Perubahan Lebih Sulit Dibandingkan yang Lain Menurut Psikologi

seseorang yang sulit menerima perubahan baru. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Perubahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Kita berubah ketika memasuki lingkungan baru, mengganti pekerjaan, mengakhiri hubungan, membangun kebiasaan baru, menghadapi kehilangan, atau sekadar mencoba menjadi versi diri yang berbeda.


Namun, ada hal menarik tentang perubahan: tidak semua perubahan terasa sama sulitnya.

Mengurangi penggunaan media sosial mungkin relatif mudah bagi seseorang, tetapi mengubah pola tidur bisa terasa sangat berat. Berpindah pekerjaan mungkin terasa menyenangkan bagi satu orang, tetapi menimbulkan kecemasan luar biasa bagi orang lain. Bahkan perubahan yang secara objektif tampak kecil dapat terasa sangat besar ketika menyentuh sesuatu yang penting dalam kehidupan seseorang.

Dalam psikologi, kesulitan menghadapi perubahan tidak semata-mata dipandang sebagai masalah kemauan atau kedisiplinan. Otak manusia memiliki berbagai mekanisme yang membuat kita cenderung mempertahankan pola yang sudah dikenal. Kita membangun kebiasaan, identitas, ekspektasi, hubungan sosial, dan rasa aman berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Karena itu, ketika perubahan datang, yang harus kita hadapi bukan hanya sesuatu yang baru. Kita juga harus melepaskan sebagian dari sesuatu yang lama.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa beberapa perubahan lebih sulit dibandingkan yang lain.

1. Perubahan Mengganggu Rasa Aman dan Prediktabilitas

Manusia memiliki kebutuhan kuat untuk memahami apa yang akan terjadi berikutnya.

Rutinitas memberikan semacam peta mental. Kita tahu kapan harus bangun, apa yang biasanya dilakukan setelah sarapan, siapa yang akan ditemui, bagaimana pekerjaan berlangsung, dan apa yang kemungkinan terjadi sepanjang hari.

Selama pola tersebut berjalan, otak tidak perlu terus-menerus memproses setiap keputusan dari awal.

Perubahan mengganggu sistem prediktabilitas tersebut.

Ketika seseorang pindah pekerjaan, misalnya, ia bukan hanya mendapatkan kantor baru. Ia harus mempelajari aturan baru, bertemu orang baru, memahami ekspektasi baru, dan menghadapi situasi yang belum familiar.

Hal yang sama terjadi ketika seseorang pindah rumah, memasuki hubungan baru, menjadi orang tua, atau memulai kehidupan setelah perceraian.

Bahkan perubahan positif dapat menghasilkan ketidaknyamanan karena masa depan belum sepenuhnya dapat diprediksi.

Otak menyukai sesuatu yang dapat diperkirakan

Dalam psikologi dan ilmu saraf, kemampuan memprediksi lingkungan merupakan bagian penting dari cara manusia beradaptasi. Ketika situasi berubah secara tiba-tiba, seseorang harus meningkatkan perhatian dan pemrosesan terhadap lingkungan.

Akibatnya, perubahan dapat terasa melelahkan.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang mungkin mengatakan:

"Saya tahu perubahan ini baik untuk saya, tetapi tetap saja rasanya tidak nyaman."

Pernyataan tersebut sebenarnya sangat masuk akal.

Mengetahui bahwa sesuatu baik tidak otomatis membuatnya terasa aman.

Perubahan kecil pun dapat terasa besar

Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun bekerja dari rumah kemudian harus bekerja di kantor lima hari seminggu.

Secara sederhana, perubahannya mungkin hanya berupa lokasi kerja.

Namun sebenarnya ada banyak komponen yang berubah: waktu bangun, perjalanan, pakaian, interaksi sosial, waktu makan, energi, sampai waktu pulang.

Semakin banyak aspek kehidupan yang ikut berubah, semakin besar pula beban adaptasinya.

Karena itu, salah satu faktor yang membuat perubahan sulit adalah seberapa besar perubahan tersebut mengganggu prediktabilitas kehidupan sehari-hari.

2. Kebiasaan Lama Sudah Menjadi Otomatis

Alasan kedua berkaitan dengan kebiasaan.

Manusia tidak melakukan semua perilaku melalui keputusan sadar. Banyak tindakan sehari-hari berlangsung hampir otomatis.

Kita mungkin mengambil ponsel tanpa benar-benar memutuskan untuk melakukannya. Kita bisa membuka aplikasi tertentu karena sudah terbiasa. Kita melakukan rutinitas pagi dengan sedikit pemikiran sadar.

Kebiasaan membuat kehidupan lebih efisien.

Masalahnya, ketika kita ingin berubah, sistem yang sama dapat menjadi penghalang.

Kebiasaan menciptakan pola yang berulang

Secara sederhana, perilaku yang dilakukan berulang kali dalam konteks tertentu dapat menjadi semakin otomatis.

Misalnya:

Pemicu → perilaku → konsekuensi

Seseorang merasa bosan → membuka media sosial → mendapatkan stimulasi atau hiburan.

Atau:

Merasa stres → makan makanan tertentu → mendapatkan rasa nyaman sementara.

Jika pola tersebut terus berulang, perilaku lama tidak lagi membutuhkan banyak pertimbangan.

Itulah sebabnya seseorang bisa mengatakan:

"Saya bahkan tidak sadar sudah melakukannya."

Bukan berarti ia tidak memiliki kendali sama sekali. Namun perilaku yang sudah sangat terbiasa dapat muncul dengan sedikit kesadaran.

Mengapa mengganti kebiasaan terasa sulit?

Karena perubahan bukan sekadar menghilangkan perilaku lama.

Sering kali kita perlu membangun respons alternatif.

Jika seseorang ingin mengurangi penggunaan ponsel ketika stres, misalnya, ia perlu menemukan cara lain untuk merespons stres: berjalan sebentar, berbicara dengan seseorang, melakukan latihan pernapasan, atau mengerjakan aktivitas lain.

Dengan kata lain, perubahan yang bertahan lama biasanya membutuhkan pola baru, bukan hanya larangan terhadap pola lama.

Lingkungan juga berpengaruh

Kebiasaan tidak hidup di dalam kepala saja. Lingkungan dapat menjadi pemicu.

Jika seseorang ingin membaca lebih banyak tetapi ponselnya selalu berada di samping tempat tidur, sementara buku tersimpan jauh di lemari, lingkungan tersebut memberikan keuntungan pada perilaku lama.

Karena itu, perubahan perilaku sering kali menjadi lebih mudah ketika lingkungan juga diubah.

3. Perubahan Dapat Mengancam Identitas Diri

Ada perubahan yang menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada kebiasaan: identitas.

Identitas berkaitan dengan cara seseorang memahami dirinya sendiri.

"Saya adalah orang yang pekerja keras."

"Saya seorang ibu."

"Saya seorang atlet."

"Saya orang yang mandiri."

"Saya selalu menjadi orang yang bisa diandalkan."

Identitas membantu memberikan kontinuitas. Kita dapat melihat diri kita hari ini sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sama dengan diri kita di masa lalu.

Namun, perubahan tertentu memaksa seseorang mempertanyakan definisi dirinya sendiri.

Ketika perilaku dan identitas saling terkait

Misalnya seseorang telah bertahun-tahun menganggap dirinya sebagai orang yang sangat produktif.

Kemudian ia mengalami perubahan hidup yang membuatnya tidak mampu bekerja dengan ritme sebelumnya.

Masalahnya bukan hanya kehilangan aktivitas.

Ia mungkin mulai bertanya:

"Kalau saya tidak lagi seproduktif dulu, siapa saya sekarang?"

Pertanyaan semacam itu dapat membuat perubahan terasa jauh lebih berat.

Begitu pula ketika seseorang berhenti dari pekerjaan yang telah menjadi bagian besar dari identitasnya.

Yang hilang bukan hanya jabatan atau pendapatan, tetapi juga peran sosial dan cara ia mendefinisikan dirinya.

Identitas dapat membuat perubahan terasa seperti kehilangan

Inilah hal yang sering tidak terlihat dari luar.

Orang lain mungkin melihat seseorang sedang "memulai babak baru".

Namun bagi orang tersebut, prosesnya bisa terasa seperti kehilangan bagian dari dirinya.

Karena itu, perubahan yang menyentuh identitas biasanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk diproses.

Seseorang tidak hanya perlu bertanya:

"Apa yang harus saya lakukan sekarang?"

Ia juga perlu menemukan jawaban untuk:

"Siapa saya setelah perubahan ini?"

Perubahan menjadi lebih mudah ketika identitas baru secara perlahan mulai terbentuk.

Misalnya, seseorang yang berhenti dari pekerjaan lama dapat mulai melihat dirinya bukan sebagai "mantan pegawai perusahaan X", melainkan sebagai seseorang yang memiliki keterampilan, pengalaman, nilai, dan tujuan yang tetap dapat dibawa ke tahap kehidupan berikutnya.

4. Manusia Cenderung Lebih Takut Kehilangan daripada Menikmati Keuntungan

Salah satu konsep penting dalam psikologi pengambilan keputusan adalah loss aversion, yaitu kecenderungan manusia untuk memberikan bobot psikologis yang besar terhadap kerugian dibandingkan keuntungan yang setara.

Sederhananya, kehilangan Rp1 juta sering kali terasa lebih menyakitkan daripada mendapatkan tambahan Rp1 juta terasa menyenangkan.

Konsep ini membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa bertahan dalam situasi yang tidak ideal.

"Bagaimana kalau saya kehilangan sesuatu?"

Ketika ditawari perubahan, pikiran seseorang tidak hanya menghitung keuntungan.

Ia juga memikirkan apa yang mungkin hilang.

Misalnya seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan baru.

Keuntungannya:

gaji lebih tinggi,
kesempatan belajar,
posisi lebih menarik.

Namun pikirannya mungkin fokus pada:

kehilangan kenyamanan,
kehilangan teman kerja,
risiko gagal,
kehilangan waktu bersama keluarga,
ketidakpastian masa depan.

Akibatnya, perubahan yang secara rasional menawarkan banyak keuntungan tetap dapat terasa mengancam.

Status quo memberikan rasa aman

Ada pula kecenderungan yang dikenal sebagai status quo bias, yaitu kecenderungan untuk mempertahankan keadaan yang sudah ada.

Bukan berarti manusia selalu menolak perubahan.

Namun ketika pilihan baru mengandung ketidakpastian, kondisi sekarang dapat terasa lebih aman hanya karena sudah dikenal.

Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa tetap berada dalam rutinitas yang sebenarnya tidak memuaskan.

Bukan selalu karena ia tidak mengetahui adanya alternatif.

Terkadang, alternatif tersebut terasa lebih berisiko daripada keadaan sekarang.

Perubahan membutuhkan keberanian menghadapi ketidakpastian

Karena itu, perubahan besar sering kali bukan pertarungan antara "tahu mana yang benar" dan "tidak tahu mana yang benar".

Kadang-kadang seseorang sudah mengetahui apa yang ingin dilakukan.

Yang sulit adalah menerima bahwa sesuatu mungkin harus dikorbankan untuk mendapatkannya.

5. Emosi dan Keterikatan Membuat Perubahan Lebih Kompleks

Tidak semua perubahan bersifat rasional.

Kita dapat mengetahui secara logis bahwa sesuatu perlu berubah, tetapi emosi belum tentu langsung mengikuti logika tersebut.

Hal ini sangat terlihat dalam hubungan interpersonal.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa suatu hubungan sudah tidak sehat atau bahwa sebuah persahabatan telah berubah.

Namun mengetahui sesuatu dan melepaskannya adalah dua proses yang berbeda.

Manusia membangun keterikatan

Hubungan menciptakan kenangan, rutinitas, harapan, dan rasa memiliki.

Ketika hubungan tersebut berubah, seseorang tidak hanya menghadapi kondisi baru.

Ia juga harus menyesuaikan diri dengan hilangnya pola interaksi yang sebelumnya familiar.

Karena itu, perubahan dalam hubungan dapat menyerupai proses berduka.

Seseorang mungkin mengalami:

kesedihan,
kebingungan,
kemarahan,
rasa bersalah,
kerinduan,
bahkan penolakan terhadap kenyataan baru.

Tidak semua orang mengalami emosi tersebut dalam urutan yang sama, dan pengalaman setiap orang berbeda.

Namun secara umum, perubahan yang melibatkan keterikatan emosional cenderung membutuhkan proses adaptasi yang lebih panjang.

Kenangan memperkuat keterikatan

Satu hal yang membuat perubahan emosional sulit adalah bahwa kita tidak hanya kehilangan situasi saat ini.

Kita juga berhadapan dengan kenangan tentang bagaimana keadaan tersebut dulu.

Seseorang mungkin merindukan bukan hanya orang tertentu, tetapi juga rutinitas, tempat, percakapan, atau versi dirinya ketika berada dalam hubungan tersebut.

Karena itu, perubahan yang melibatkan manusia lain sering kali lebih kompleks dibandingkan perubahan teknis.

Mengubah aplikasi yang digunakan mungkin mudah.

Mengubah hubungan dengan seseorang yang telah menjadi bagian hidup selama bertahun-tahun adalah persoalan yang sangat berbeda.

6. Semakin Besar Taruhannya, Semakin Berat Perubahan Terasa

Perubahan juga menjadi lebih sulit ketika konsekuensinya dianggap besar.

Memilih menu makan siang yang berbeda hampir tidak menimbulkan risiko.

Tetapi memilih jurusan kuliah, pindah pekerjaan, menikah, memiliki anak, pindah negara, atau memulai bisnis dapat terasa sangat berbeda.

Mengapa?

Karena keputusan tersebut memiliki konsekuensi yang lebih luas.

Ketidakpastian meningkat ketika taruhannya tinggi

Ketika seseorang merasa bahwa keputusan tertentu akan memengaruhi masa depannya secara signifikan, ia cenderung mempertimbangkan lebih banyak kemungkinan.

"Bagaimana jika saya salah?"

"Bagaimana jika saya menyesal?"

"Bagaimana jika keadaan menjadi lebih buruk?"

Pertanyaan semacam itu dapat meningkatkan keraguan.

Dalam kadar tertentu, pertimbangan ini berguna. Manusia memang perlu memperhatikan konsekuensi sebelum mengambil keputusan besar.

Namun jika terlalu banyak, pertimbangan tersebut dapat berubah menjadi overthinking.

Tidak semua ketidakpastian bisa dihilangkan

Salah satu tantangan terbesar dalam perubahan adalah menerima bahwa kita tidak mungkin memiliki informasi lengkap.

Kita sering ingin mendapatkan kepastian sebelum bertindak.

Padahal, dalam banyak situasi kehidupan, kepastian baru muncul setelah seseorang menjalani prosesnya.

Seseorang mungkin tidak pernah benar-benar tahu apakah pekerjaan baru akan sesuai sebelum mencobanya.

Ia tidak bisa mengetahui seluruh dinamika lingkungan baru sebelum masuk ke dalamnya.

Karena itu, kemampuan menghadapi perubahan juga berkaitan dengan kemampuan mentoleransi ketidakpastian.

Bukan berarti kita harus bertindak tanpa pertimbangan.

Sebaliknya, kita perlu membedakan antara ketidakpastian yang bisa dikurangi dengan informasi dan ketidakpastian yang memang merupakan bagian dari kehidupan.

7. Perubahan Menjadi Lebih Sulit Ketika Seseorang Kehilangan Dukungan Sosial

Manusia adalah makhluk sosial.

Cara kita beradaptasi dengan perubahan tidak hanya bergantung pada kemampuan pribadi, tetapi juga pada lingkungan sosial.

Dukungan dari keluarga, teman, pasangan, mentor, atau komunitas dapat membantu seseorang menghadapi masa transisi.

Sebaliknya, perubahan yang dijalani sendirian dapat terasa jauh lebih berat.

Dukungan sosial membantu mengurangi beban psikologis

Ketika seseorang mengalami perubahan besar, memiliki orang yang dapat mendengarkan dan memberikan bantuan praktis dapat membuat situasi terasa lebih dapat ditangani.

Misalnya seseorang yang pindah ke kota baru bukan hanya harus mencari tempat tinggal dan pekerjaan.

Ia juga perlu membangun jaringan sosial baru.

Jika ia tidak memiliki siapa pun untuk diajak berbicara, rasa asing dan tidak pasti dapat menjadi lebih kuat.

Sebaliknya, kehadiran seseorang yang memberikan dukungan dapat membuat proses adaptasi terasa lebih ringan.

Lingkungan dapat mendukung atau menghambat perubahan

Bayangkan seseorang ingin menjalani gaya hidup lebih aktif, tetapi semua orang di sekitarnya terbiasa dengan pola hidup yang berbeda.

Atau seseorang ingin berhenti dari kebiasaan tertentu, tetapi lingkungan sosialnya terus mendorongnya untuk kembali ke pola lama.

Dalam situasi seperti ini, perubahan menjadi lebih sulit bukan semata-mata karena kurangnya kemauan.

Lingkungan sosial ikut mempertahankan perilaku lama.

Karena itu, perubahan yang bertahan lama sering kali membutuhkan bukan hanya perubahan dalam diri, tetapi juga penyesuaian terhadap lingkungan.

Jadi, Mengapa Ada Perubahan yang Terasa Sangat Sulit?

Jika ketujuh faktor di atas digabungkan, kita bisa melihat bahwa "sulit berubah" bukanlah sebuah fenomena yang sederhana.

Sebuah perubahan dapat terasa berat karena pada saat yang sama ia:

menghilangkan prediktabilitas,
mengganggu kebiasaan otomatis,
menantang identitas,
menimbulkan rasa takut kehilangan,
melibatkan keterikatan emosional,
memiliki konsekuensi besar,
dan mengurangi atau mengubah dukungan sosial.

Semakin banyak faktor tersebut muncul secara bersamaan, semakin kompleks proses adaptasinya.

Misalnya, kehilangan pekerjaan bukan hanya persoalan finansial.

Seseorang mungkin kehilangan rutinitas, status sosial, lingkungan kerja, teman, rasa aman, dan sebagian identitas profesionalnya pada saat yang bersamaan.

Tidak mengherankan jika perubahan semacam itu terasa jauh lebih berat daripada sekadar mengganti jadwal harian.

Perubahan Sulit Bukan Berarti Anda Lemah

Salah satu kesalahpahaman yang umum adalah menganggap bahwa orang yang kesulitan berubah berarti kurang disiplin, kurang kuat, atau terlalu takut.

Padahal, dari sudut pandang psikologi, resistensi terhadap perubahan dapat merupakan respons manusiawi terhadap ketidakpastian, kehilangan, kebiasaan, dan ancaman terhadap rasa aman.

Yang lebih penting bukan apakah seseorang merasa takut terhadap perubahan.

Pertanyaannya adalah bagaimana ia merespons rasa takut tersebut.

Perubahan tidak selalu harus dilakukan secara drastis.

Sering kali, adaptasi berlangsung melalui langkah-langkah kecil.

Seseorang yang ingin mengubah pola tidur mungkin tidak langsung mengubah seluruh rutinitasnya. Ia dapat memulai dengan memajukan waktu tidur secara bertahap.

Orang yang ingin membangun kebiasaan olahraga tidak harus langsung berolahraga selama satu jam setiap hari. Ia dapat memulai dengan aktivitas yang realistis dan konsisten.

Prinsip sederhananya adalah:

Semakin besar perubahan, semakin penting memberikan waktu bagi pikiran, tubuh, kebiasaan, dan lingkungan untuk beradaptasi.

Cara Membuat Perubahan Terasa Lebih Dapat Dikelola

Memahami mengapa perubahan sulit dapat membantu kita memilih strategi yang lebih realistis.

1. Pisahkan perubahan besar menjadi langkah kecil

Jangan hanya bertanya:

"Bagaimana saya mengubah hidup saya?"

Ubah pertanyaannya menjadi:

"Apa satu hal yang bisa saya lakukan minggu ini?"

Langkah kecil mengurangi beban psikologis karena perubahan tidak lagi terlihat sebagai satu tugas raksasa.

2. Kenali apa yang sebenarnya Anda takutkan

Kadang-kadang kita mengatakan takut berubah, padahal yang kita takutkan adalah kehilangan sesuatu.

Cobalah bertanya:

Apa yang saya takut kehilangan?
Apa yang menjadi tidak pasti?
Apa yang sebenarnya berubah?
Bagian mana yang masih bisa saya kendalikan?

Pertanyaan tersebut dapat membantu memisahkan ketakutan yang konkret dari kekhawatiran yang masih berupa kemungkinan.

3. Jangan hanya menghilangkan kebiasaan lama

Jika ingin mengubah kebiasaan, siapkan alternatif.

Menghapus perilaku lama tanpa menyediakan pengganti dapat membuat seseorang kembali ke pola sebelumnya.

Cari perilaku baru yang dapat memenuhi fungsi yang sama dengan cara yang lebih sesuai dengan tujuan Anda.

4. Berikan ruang untuk emosi

Tidak semua perubahan harus terasa menyenangkan.

Seseorang dapat mengetahui bahwa perubahan diperlukan sekaligus merasa sedih karenanya.

Dua hal tersebut tidak bertentangan.

Menerima emosi sebagai bagian dari proses dapat membantu seseorang beradaptasi tanpa harus terus-menerus melawan perasaannya sendiri.

5. Bangun lingkungan yang mendukung

Jika perubahan bergantung sepenuhnya pada kemauan, prosesnya bisa menjadi lebih berat.

Sebaliknya, ubahlah lingkungan sehingga perilaku yang diinginkan menjadi lebih mudah dilakukan.

Letakkan buku di tempat yang mudah terlihat jika ingin membaca.

Jauhkan gangguan ketika ingin berkonsentrasi.

Buat jadwal yang realistis.

Cari orang yang dapat memberikan dukungan.

Perubahan perilaku sering menjadi lebih mudah ketika lingkungan ikut bekerja bersama kita.

Kesimpulan

Perubahan tidak sulit hanya karena manusia "tidak suka perubahan".

Di balik resistensi terhadap perubahan terdapat berbagai proses psikologis: kebutuhan akan prediktabilitas, kekuatan kebiasaan, keterikatan terhadap identitas, keengganan terhadap kehilangan, emosi, ketidakpastian, serta pengaruh lingkungan sosial.

Itulah sebabnya dua orang dapat menghadapi perubahan yang sama dengan reaksi yang sangat berbeda.

Apa yang terasa sederhana bagi seseorang dapat menjadi perubahan besar bagi orang lain karena konsekuensi psikologisnya berbeda.

Pada akhirnya, memahami hal ini dapat mengubah cara kita melihat proses perubahan.

Alih-alih bertanya:

"Mengapa saya begitu sulit berubah?"

mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:

"Bagian mana dari perubahan ini yang sebenarnya terasa sulit bagi saya?"

Apakah karena saya kehilangan rutinitas?

Apakah karena saya takut kehilangan sesuatu?

Apakah karena perubahan ini mengancam cara saya melihat diri sendiri?

Apakah saya belum memiliki kebiasaan pengganti?

Atau apakah saya sedang mencoba menghadapi perubahan besar tanpa dukungan yang cukup?

Ketika sumber kesulitannya mulai terlihat, perubahan menjadi lebih mudah dipahami.

Dan sesuatu yang dapat dipahami biasanya lebih mudah untuk dikelola.

Perubahan mungkin tetap terasa tidak nyaman. Namun ketidaknyamanan tidak selalu berarti bahwa kita sedang berada di jalan yang salah.

Kadang-kadang, itu hanya tanda bahwa pikiran dan kehidupan kita sedang belajar beradaptasi dengan sesuatu yang baru.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore