seseorang yang saling mengajukan pertanyaan kepada pasangan./Magnific/lookstudio
JawaPos.com - Hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dari rasa cinta, perhatian, dan waktu yang dihabiskan bersama. Dalam jangka panjang, kualitas hubungan juga sangat dipengaruhi oleh seberapa baik dua orang saling memahami.
Banyak pasangan merasa sudah mengenal satu sama lain karena telah bersama selama bertahun-tahun. Namun, mengenal pasangan bukan berarti sekadar mengetahui makanan favoritnya, kebiasaan sehari-hari, atau cerita masa lalunya. Ada bagian yang jauh lebih penting: bagaimana ia memandang hubungan, apa yang membuatnya merasa dicintai, apa yang ia takutkan, bagaimana ia menghadapi konflik, serta seperti apa kehidupan yang ingin dibangun bersama.
Karena itu, mengajukan pertanyaan yang tepat dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memperdalam hubungan. Pertanyaan yang baik bukan bertujuan menguji pasangan, mencari kesalahan, atau memaksa mereka membuka sesuatu yang belum siap diceritakan. Sebaliknya, pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju percakapan yang lebih jujur dan bermakna.
Dalam psikologi hubungan, komunikasi yang terbuka dan responsif berkaitan erat dengan kualitas hubungan. Pasangan perlu merasa bahwa pengalaman, kebutuhan, dan emosinya didengar serta dianggap penting.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat tujuh pertanyaan yang dapat diajukan pasangan kepada satu sama lain secara berkala.
1. "Apa yang membuatmu merasa paling dicintai olehku?"
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat berbeda pada setiap orang.
Seseorang mungkin merasa dicintai ketika pasangannya meluangkan waktu khusus untuknya. Orang lain mungkin lebih menghargai sentuhan fisik, bantuan ketika sedang kesulitan, kata-kata penghargaan, atau perhatian terhadap hal-hal kecil.
Masalahnya, pasangan sering kali memberikan cinta dengan cara yang menurut dirinya sendiri paling berarti.
Misalnya, seseorang menunjukkan kasih sayang dengan bekerja keras dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, pasangannya justru lebih membutuhkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan. Keduanya mungkin sama-sama merasa telah memberikan yang terbaik, tetapi tetap muncul perasaan tidak dimengerti.
Itulah mengapa pertanyaan ini penting.
Daripada berasumsi, tanyakan secara langsung:
"Hal apa yang aku lakukan yang paling membuatmu merasa disayangi?"
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan:
"Adakah sesuatu yang sebenarnya ingin lebih sering kamu dapatkan dariku?"
Percakapan seperti ini membantu pasangan memahami bahwa cinta bukan hanya tentang seberapa besar perasaan seseorang, tetapi juga bagaimana perasaan tersebut diterima oleh pasangan.
Mengapa pertanyaan ini penting?
Kebutuhan emosional manusia tidak selalu sama. Dengan mengetahui bentuk perhatian yang bermakna bagi pasangan, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dukungan yang benar-benar dirasakan oleh pasangannya.
Yang penting, jangan menjadikan jawabannya sebagai daftar kewajiban.
Tujuannya bukan, "Aku sudah melakukan lima hal, jadi kamu tidak boleh mengeluh."
Tujuannya adalah memahami.
2. "Apa yang akhir-akhir ini paling membuatmu khawatir?"
Tidak semua masalah terlihat dari luar.
Pasangan yang tampak baik-baik saja mungkin sedang memikirkan pekerjaan, kondisi keuangan, keluarga, kesehatan, masa depan, atau sesuatu yang bahkan belum mampu ia ungkapkan dengan jelas.
Dalam kehidupan sehari-hari, pasangan sering terjebak dalam percakapan praktis.
"Sudah makan?"
"Jam berapa pulang?"
"Besok siapa yang mengantar anak?"
"Tagihan sudah dibayar?"
Semua percakapan tersebut penting. Namun, hubungan juga membutuhkan ruang untuk membicarakan kehidupan emosional.
Karena itu, sesekali tanyakan:
"Belakangan ini, apa yang paling banyak memenuhi pikiranmu?"
Atau:
"Ada sesuatu yang sedang kamu khawatirkan tetapi belum sempat kamu ceritakan kepadaku?"
Pertanyaan semacam ini memberi sinyal bahwa pasangan tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Dengarkan tanpa buru-buru memperbaiki
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam percakapan pasangan adalah terlalu cepat memberikan solusi.
Ketika seseorang berkata, "Aku sedang stres dengan pekerjaan," pasangannya mungkin langsung menjawab:
"Ya sudah, jangan dipikirkan."
Atau:
"Kamu harus lebih tegas kepada atasan."
Padahal, terkadang orang tidak sedang mencari solusi. Mereka hanya ingin didengarkan dan merasa bahwa pasangannya memahami apa yang sedang mereka alami.
Anda dapat mencoba merespons:
"Kedengarannya memang berat. Kamu ingin aku mendengarkan saja atau kamu ingin kita mencari solusi bersama?"
Kalimat sederhana ini dapat membuat percakapan terasa jauh lebih aman.
3. "Menurutmu, apa yang perlu kita perbaiki dalam hubungan ini?"
Pertanyaan ini membutuhkan keberanian karena jawabannya mungkin tidak selalu menyenangkan.
Namun, hubungan yang sehat bukan berarti tidak memiliki masalah. Yang lebih penting adalah apakah pasangan mampu membicarakan masalah tersebut tanpa saling menyerang.
Tanyakan:
"Kalau ada satu hal dalam hubungan kita yang ingin kamu perbaiki, apa itu?"
Kemudian dengarkan jawabannya sampai selesai.
Jangan langsung membela diri.
Jika pasangan mengatakan, "Aku merasa kita terlalu jarang punya waktu berkualitas," respons pertama tidak harus berupa penjelasan mengapa Anda sibuk.
Anda bisa berkata:
"Aku mengerti. Bagian mana yang paling membuatmu merasa seperti itu?"
Pertanyaan lanjutan membantu mengubah kritik yang masih umum menjadi masalah yang lebih spesifik.
Misalnya, "Kamu tidak pernah punya waktu untukku" dapat berkembang menjadi:
"Yang sebenarnya aku rindukan adalah kita punya satu malam dalam seminggu tanpa bekerja dan tanpa sibuk dengan ponsel."
Sekarang masalah tersebut menjadi sesuatu yang dapat dibicarakan dan dinegosiasikan.
Kritik tidak selalu berarti penolakan
Mendengar pasangan mengatakan ada sesuatu yang perlu diperbaiki tidak otomatis berarti hubungan tersebut gagal.
Justru, kemampuan membicarakan ketidakpuasan secara terbuka dapat membantu pasangan mengidentifikasi kebutuhan yang selama ini tidak tersampaikan.
Namun, percakapan harus berlangsung dua arah. Jika seseorang meminta perubahan, ia juga perlu bersedia mendengar kebutuhan pasangannya.
Hubungan bukan tentang mencari siapa yang paling salah.
Hubungan adalah tentang mencari cara agar dua orang dapat hidup bersama dengan kebutuhan yang tetap dihargai.
4. "Ketika kita bertengkar, apa yang paling kamu butuhkan dariku?"
Setiap pasangan pasti menghadapi konflik.
Perbedaan pendapat tidak selalu dapat dihindari karena dua orang memiliki pengalaman, kepribadian, kebiasaan, dan kebutuhan yang berbeda.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana konflik tersebut ditangani.
Ada orang yang ketika marah membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Ada yang justru ingin segera membicarakan masalah sampai selesai. Ada yang merasa lebih nyaman ketika diberi ruang. Ada pula yang membutuhkan kepastian bahwa hubungan mereka tetap aman meskipun sedang berbeda pendapat.
Karena itu, pertanyaan yang sangat berguna adalah:
"Ketika kita sedang bertengkar, apa yang paling kamu butuhkan dariku?"
Jawabannya mungkin mengejutkan.
Pasangan mungkin berkata:
"Aku butuh kamu tidak meninggikan suara."
"Aku butuh beberapa menit untuk berpikir."
"Aku ingin kamu tetap mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan masalah ini."
"Aku ingin kamu mendengarkan sebelum memberikan jawaban."
Semua kebutuhan tersebut berbeda.
Buat kesepakatan sebelum konflik terjadi
Percakapan ini bahkan lebih baik dilakukan ketika suasana sedang tenang.
Pasangan dapat membuat beberapa kesepakatan sederhana, misalnya:
tidak menghina atau merendahkan;
tidak menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata;
tidak mengancam putus setiap kali terjadi konflik;
boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri;
tetapi tetap kembali membicarakan masalah setelah keadaan lebih tenang.
Tujuannya bukan membuat hubungan tanpa konflik.
Tujuannya adalah membuat konflik menjadi lebih aman untuk dihadapi.
5. "Apa yang kamu takutkan akan terjadi pada hubungan kita?"
Di balik kemarahan atau kecemburuan, terkadang terdapat rasa takut.
Seseorang yang tampak sangat marah ketika pasangannya tidak membalas pesan mungkin sebenarnya takut diabaikan.
Seseorang yang sangat sensitif terhadap kritik mungkin takut dianggap tidak cukup baik.
Seseorang yang terus-menerus meminta kepastian mungkin memiliki kekhawatiran akan kehilangan hubungan.
Tentu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan alasan psikologis seseorang. Hanya pasangan itu sendiri yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Karena itu, pertanyaan seperti berikut dapat membuka percakapan yang lebih dalam:
"Apa hal yang paling kamu takutkan dalam hubungan kita?"
Atau:
"Ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak aman dalam hubungan ini?"
Pertanyaan tersebut dapat membawa pasangan dari pembicaraan mengenai perilaku ke pembicaraan mengenai kebutuhan yang berada di balik perilaku tersebut.
Misalnya, daripada hanya membahas:
"Kamu terlalu sering bertanya aku di mana."
Percakapan dapat berkembang menjadi:
"Aku sebenarnya takut kehilangan kamu dan merasa tidak aman ketika kita jarang berkomunikasi."
Dengan memahami lapisan emosional tersebut, pasangan memiliki kesempatan untuk mencari solusi yang lebih tepat.
6. "Seperti apa kehidupan yang ingin kamu jalani beberapa tahun ke depan?"
Cinta saja tidak selalu menjawab pertanyaan tentang arah kehidupan.
Pasangan perlu mengetahui apakah mereka memiliki gambaran yang cukup kompatibel mengenai masa depan.
Bukan berarti keduanya harus memiliki rencana yang identik.
Namun, beberapa topik penting perlu dibicarakan secara terbuka.
Misalnya:
apakah ingin memiliki anak atau tidak;
bagaimana membayangkan kehidupan keluarga;
prioritas karier;
tempat tinggal;
hubungan dengan keluarga besar;
cara mengelola uang;
gaya hidup;
pembagian tanggung jawab rumah tangga;
kebutuhan terhadap waktu pribadi;
serta tujuan jangka panjang lainnya.
Pertanyaan yang dapat digunakan adalah:
"Kalau membayangkan hidup kita beberapa tahun ke depan, seperti apa kehidupan yang kamu inginkan?"
Lalu tanyakan:
"Apa yang menurutmu perlu kita lakukan sekarang agar bisa menuju kehidupan tersebut?"
Percakapan ini membantu pasangan melihat hubungan bukan hanya sebagai sesuatu yang terjadi hari ini, tetapi sebagai kehidupan bersama yang terus dibentuk.
Perbedaan bukan selalu masalah
Dua orang tidak harus memiliki mimpi yang sama persis.
Yang lebih penting adalah apakah mereka dapat membicarakan perbedaan tersebut dan menemukan titik temu yang realistis.
Misalnya, satu orang ingin tinggal di kota besar sementara yang lain ingin tinggal dekat keluarga. Itu bukan sekadar masalah siapa yang harus mengalah.
Ada banyak pertanyaan lanjutan:
Mengapa kota besar penting?
Mengapa dekat keluarga penting?
Apakah ada alternatif lokasi?
Apakah keputusan tersebut bisa ditinjau kembali beberapa tahun kemudian?
Percakapan semacam ini mengubah perbedaan dari sumber pertengkaran menjadi persoalan yang dapat dinegosiasikan.
7. "Apa yang paling kamu hargai dari hubungan kita?"
Pertanyaan terakhir mungkin terdengar paling sederhana, tetapi justru dapat membantu pasangan mengingat alasan mereka memilih untuk tetap bersama.
Dalam hubungan jangka panjang, perhatian manusia mudah tertarik pada masalah.
Tagihan belum dibayar.
Pekerjaan rumah belum selesai.
Pasangan terlambat.
Ada kebiasaan yang mengganggu.
Ada perbedaan pendapat.
Jika seluruh perhatian hanya tertuju pada masalah, pasangan bisa lupa bahwa hubungan mereka juga memiliki banyak hal yang bernilai.
Karena itu, tanyakan:
"Apa yang paling kamu hargai dari hubungan kita?"
Jawabannya tidak harus romantis.
Mungkin pasangan berkata:
"Aku merasa bisa menjadi diriku sendiri bersamamu."
"Aku suka cara kita menghadapi masalah sebagai tim."
"Aku menghargai bahwa kamu selalu mengingat hal-hal kecil."
"Aku merasa rumah adalah tempat yang aman ketika bersamamu."
Jawaban seperti itu dapat mengingatkan pasangan mengenai kekuatan hubungan yang mungkin sudah dianggap biasa.
Yang Lebih Penting dari Pertanyaannya adalah Cara Mendengarkan
Tujuh pertanyaan di atas bukan semacam tes psikologi untuk menentukan apakah sebuah hubungan sehat atau tidak.
Nilainya justru terletak pada percakapan yang muncul setelah pertanyaan tersebut diajukan.
Ada perbedaan besar antara bertanya untuk memahami dan bertanya untuk mencari kesalahan.
Misalnya, seseorang bertanya:
"Apa yang perlu aku perbaiki?"
tetapi sebenarnya sudah menyiapkan bantahan untuk setiap jawaban.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan tersebut tidak benar-benar membuka komunikasi.
Sebaliknya, pasangan dapat menggunakan prinsip sederhana:
Dengarkan untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk menjawab.
Ketika pasangan memberikan jawaban yang sulit didengar, cobalah menahan dorongan untuk langsung membela diri.
Gunakan pertanyaan lanjutan seperti:
"Bisa ceritakan lebih banyak?"
"Kapan kamu paling sering merasa seperti itu?"
"Apa yang kamu harapkan dariku dalam situasi tersebut?"
"Apa yang bisa kita lakukan berbeda mulai sekarang?"
Pertanyaan lanjutan sering kali lebih penting daripada pertanyaan pertama.
Jangan Mengubah Percakapan Menjadi Interogasi
Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.
Tidak semua percakapan mendalam harus terjadi sekaligus.
Jika pasangan sedang lelah, terburu-buru, atau sedang menghadapi tekanan berat, tujuh pertanyaan tersebut mungkin terasa seperti wawancara.
Pilih waktu yang tepat.
Bisa saat sedang berjalan bersama, makan malam, dalam perjalanan, atau ketika suasana sedang tenang.
Selain itu, pasangan tidak harus menjawab semua pertanyaan secara sempurna.
Beberapa pertanyaan mungkin membutuhkan waktu untuk dipikirkan.
Seseorang bahkan mungkin berkata:
"Aku belum tahu jawabannya."
Itu juga merupakan jawaban yang valid.
Berikan ruang.
Tujuan komunikasi bukan memaksa pasangan menghasilkan jawaban secepat mungkin, melainkan menciptakan lingkungan di mana kedua orang merasa cukup aman untuk berbicara dengan jujur.
Pertanyaan yang Baik Dapat Menjaga Hubungan Tetap Bertumbuh
Hubungan jangka panjang mengalami perubahan.
Orang berubah. Prioritas berubah. Pekerjaan berubah. Kondisi keluarga berubah. Cara seseorang melihat dirinya sendiri juga dapat berubah.
Karena itu, jawaban pasangan hari ini belum tentu sama dengan jawabannya beberapa tahun kemudian.
Seseorang yang dulu sangat fokus pada karier mungkin kemudian lebih mengutamakan keluarga.
Seseorang yang dulu membutuhkan banyak waktu bersama mungkin kemudian membutuhkan lebih banyak ruang pribadi.
Seseorang yang dahulu merasa yakin dengan satu tujuan hidup mungkin menemukan tujuan baru.
Inilah alasan komunikasi dalam hubungan sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang selesai setelah pasangan saling mengenal.
Kita terus mengenal pasangan sepanjang hubungan berlangsung.
Tujuh pertanyaan di atas dapat menjadi titik awal:
Apa yang membuatmu merasa paling dicintai olehku?
Apa yang akhir-akhir ini paling membuatmu khawatir?
Apa yang menurutmu perlu kita perbaiki dalam hubungan ini?
Ketika kita bertengkar, apa yang paling kamu butuhkan dariku?
Apa yang kamu takutkan akan terjadi pada hubungan kita?
Seperti apa kehidupan yang ingin kamu jalani beberapa tahun ke depan?
Apa yang paling kamu hargai dari hubungan kita?
Pada akhirnya, hubungan yang dekat bukan berarti dua orang selalu mengetahui isi pikiran satu sama lain.
Kedekatan justru dapat dibangun ketika dua orang terus memiliki kemauan untuk bertanya, mendengarkan, memahami, dan menyesuaikan diri.
Karena manusia terus berubah, pertanyaan yang sama pun bisa menghasilkan jawaban yang berbeda pada waktu yang berbeda.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022