Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 04.25 WIB

7 Strategi Membicarakan Perceraian dengan Anak Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang membicarakan perpisahan dengan anaknya yang sudah dewasa. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang tua mengira bahwa ketika anak sudah dewasa, kabar tentang perpisahan atau perceraian tidak akan terlalu memengaruhinya.


Bukankah mereka sudah bisa berpikir rasional?

Bukankah mereka sudah punya kehidupan sendiri?

Bukankah mereka seharusnya memahami bahwa hubungan orang tua juga bisa mengalami masalah?

Secara usia, memang benar bahwa anak yang sudah dewasa memiliki kemampuan berpikir dan mengelola emosi yang lebih matang dibandingkan anak kecil. Namun, menjadi dewasa tidak berarti seseorang berhenti membutuhkan rasa aman dari keluarganya.

Ketika orang tua mengatakan, "Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah," yang berubah bukan hanya status hubungan kedua orang tua. Bagi anak, sebuah gambaran tentang keluarganya juga ikut berubah.

Bahkan anak yang sudah menikah, memiliki pekerjaan, tinggal jauh dari rumah, atau telah memiliki keluarga sendiri dapat tetap merasakan sedih, bingung, marah, kecewa, atau kehilangan ketika mengetahui orang tuanya akan berpisah.

Karena itu, cara menyampaikan perpisahan kepada anak dewasa tetap penting.

Yang dibutuhkan bukanlah pidato panjang atau penjelasan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang lebih penting adalah menciptakan ruang yang aman agar anak dapat memahami kenyataan tersebut tanpa merasa harus memilih pihak.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), terdapat tujuh strategi yang dapat membantu.

1. Sampaikan keputusan dengan jujur, tetapi jangan membebani anak dengan seluruh masalah rumah tangga

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika orang tua memberi tahu anak tentang perceraian adalah menjadikan percakapan tersebut seperti sesi membuka seluruh isi rumah tangga.

Orang tua mungkin merasa:

"Dia sudah dewasa. Dia berhak tahu semuanya."

Memang, anak dewasa berhak mendapatkan informasi yang relevan mengenai perubahan besar dalam keluarganya.

Namun, berhak tahu tidak sama dengan harus mengetahui setiap detail.

Ada perbedaan antara menjelaskan alasan secara jujur dan menumpahkan seluruh konflik perkawinan kepada anak.

Misalnya, orang tua dapat mengatakan:

"Hubungan kami sudah mengalami masalah cukup lama. Kami sudah berusaha menyelesaikannya, tetapi akhirnya kami memutuskan bahwa berpisah adalah keputusan yang kami ambil."

Kalimat seperti ini memberikan informasi penting tanpa menyeret anak masuk ke dalam konflik.

Sebaliknya, mengatakan:

"Kamu tahu sendiri ayahmu seperti apa. Selama bertahun-tahun dia melakukan ini dan itu..."

dapat membuat anak merasa harus menjadi hakim dalam hubungan orang tuanya.

Dalam psikologi keluarga, batas antara hubungan pasangan dan hubungan orang tua-anak menjadi sangat penting.

Anak adalah anggota keluarga, tetapi bukan mediator pernikahan, konselor perkawinan, atau hakim yang harus menentukan siapa yang bersalah.

Jadi, berikan informasi yang cukup untuk membantu mereka memahami situasi, tetapi pertimbangkan kembali detail yang hanya akan menambah beban emosional.

Prinsip sederhananya:

Jujur tanpa membuka luka yang tidak perlu.

2. Jangan meminta anak memilih pihak

Ini mungkin merupakan salah satu hal paling penting.

Ketika hubungan suami-istri berakhir dengan konflik, sangat mudah bagi orang tua untuk mencari dukungan dari anak.

Terlebih jika seseorang merasa telah diperlakukan tidak adil.

Tanpa sadar, orang tua mungkin mengatakan:

"Kamu pasti mengerti kenapa Ibu tidak tahan lagi."

atau:

"Ayah berharap kamu tahu siapa yang sebenarnya menyebabkan semua ini."

Kalimat seperti itu dapat menempatkan anak dalam posisi yang sangat sulit.

Di satu sisi, dia mencintai ibunya.

Di sisi lain, dia juga memiliki hubungan emosional dengan ayahnya.

Anak dewasa mungkin memahami bahwa kedua orang tuanya memiliki kekurangan. Tetapi memahami konflik tidak berarti mereka ingin menjadi bagian dari konflik tersebut.

Karena itu, salah satu pesan yang sangat penting untuk disampaikan adalah:

"Kamu tidak perlu memilih pihak. Hubunganmu dengan Ayah dan hubunganmu dengan Ibu adalah milikmu sendiri."

Kalimat sederhana ini dapat memberikan rasa lega yang besar.

Anak juga perlu tahu bahwa mencintai salah satu orang tua tidak berarti mengkhianati orang tua yang lain.

Dia boleh tetap berbicara dengan ayahnya.

Dia boleh tetap dekat dengan ibunya.

Dia juga boleh membutuhkan waktu untuk memproses semuanya.

Orang tua yang mampu memberikan kebebasan tersebut sedang membantu anak mempertahankan hubungan keluarga yang sehat meskipun struktur keluarga berubah.

3. Berikan kesempatan kepada anak untuk bereaksi dengan caranya sendiri

Jangan berharap anak langsung memberikan respons yang sesuai dengan harapan kita.

Ada anak yang langsung menangis.

Ada yang diam.

Ada yang bertanya banyak hal.

Ada yang terlihat sangat tenang.

Ada pula yang berkata:

"Kalau memang itu keputusan kalian, aku menghargainya."

Lalu beberapa hari kemudian baru merasa sedih.

Semua respons tersebut mungkin terjadi.

Anak dewasa memiliki kehidupan dan pengalaman emosionalnya sendiri. Karena itu, jangan terlalu cepat menafsirkan reaksinya.

Diam bukan berarti tidak peduli.

Marah bukan berarti membenci orang tua.

Tenang bukan berarti tidak terluka.

Bahkan menerima keputusan orang tua secara rasional tidak berarti tidak ada rasa kehilangan.

Karena itu, berikan ruang.

Alih-alih berkata:

"Kok kamu biasa saja?"

lebih baik mengatakan:

"Kamu tidak harus langsung tahu harus merasa apa. Kalau kamu butuh waktu untuk memprosesnya, tidak apa-apa."

Kalimat seperti ini mengurangi tekanan emosional.

Anak tidak perlu memainkan peran sebagai "anak yang kuat" hanya untuk menenangkan orang tuanya.

4. Jangan menjadikan anak sebagai tempat curhat utama

Ini bagian yang sering sulit dilakukan.

Ketika seseorang sedang menghadapi perceraian, dia membutuhkan tempat untuk berbicara.

Masalahnya, anak sering kali menjadi orang yang paling mudah dihubungi.

Anak mengenal kedua orang tua.

Anak memahami sejarah keluarga.

Anak mungkin menjadi orang yang paling tahu apa yang terjadi selama bertahun-tahun.

Namun, kedekatan emosional tidak otomatis berarti anak adalah tempat curhat yang tepat untuk semua hal.

Bayangkan seorang ibu setiap malam menelepon anaknya untuk menceritakan pertengkarannya dengan ayah.

Atau seorang ayah terus-menerus mengirim pesan tentang betapa kecewanya dia terhadap ibu.

Lama-kelamaan, anak dapat mengalami kelelahan emosional.

Dia bukan hanya memproses kehilangan hubungan orang tuanya, tetapi juga harus mengelola emosi salah satu atau kedua orang tuanya.

Karena itu, penting untuk membangun sistem dukungan lain.

Teman dekat.

Saudara.

Psikolog.

Konselor.

Kelompok dukungan.

Orang dewasa lain yang dipercaya.

Anak boleh menjadi tempat berbagi sesekali, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya sumber dukungan emosional.

Ada perbedaan besar antara berkata:

"Aku sedang sedih dan mungkin butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan diri."

dengan:

"Kamu tahu tidak, ayahmu sudah menghancurkan hidup Ibu."

Yang pertama memberi informasi.

Yang kedua memberikan beban.

5. Akui bahwa perpisahan ini juga merupakan kehilangan bagi anak

Terkadang orang tua terlalu fokus pada rasa sakit mereka sendiri.

"Ini pernikahan kami. Kami yang menjalaninya."

Itu memang benar.

Namun, anak juga memiliki hubungan emosional dengan keluarga yang selama bertahun-tahun terbentuk dari kehidupan bersama.

Perceraian dapat mengubah banyak hal:

tradisi keluarga,
acara hari raya,
tempat berkumpul,
hubungan dengan keluarga besar,
cara merayakan ulang tahun,
hubungan dengan masing-masing orang tua,
bahkan gambaran anak tentang masa kecilnya.

Karena itu, anak mungkin sedang berduka atas sesuatu yang berbeda dari orang tuanya.

Orang tua mungkin berduka atas berakhirnya pernikahan.

Anak mungkin berduka atas berakhirnya keluarga sebagaimana yang selama ini dia kenal.

Kalimat yang dapat membantu adalah:

"Kami tahu ini bukan hanya perubahan bagi kami. Ini juga mengubah sesuatu dalam keluarga yang selama ini kamu kenal. Kalau kamu merasa sedih atau kehilangan, kami memahami itu."

Validasi seperti ini penting.

Tidak perlu langsung memberikan nasihat.

Tidak perlu mengatakan:

"Kamu kan sudah dewasa."

atau:

"Kamu harus mengerti keadaan kami."

Terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi.

Dia hanya perlu tahu bahwa perasaannya masuk akal.

6. Bicarakan hal-hal praktis tanpa membuat anak merasa harus mengurus semuanya

Perceraian bukan hanya persoalan emosi.

Ada banyak perubahan praktis.

Misalnya:

siapa yang akan tinggal di mana,
bagaimana acara keluarga akan dilakukan,
bagaimana hubungan dengan keluarga besar,
apakah anak perlu mengetahui perubahan tertentu,
bagaimana komunikasi keluarga setelah perpisahan,
bagaimana hari raya atau acara penting akan dirayakan.

Anak dewasa mungkin memiliki pertanyaan praktis.

Biarkan mereka bertanya.

Namun, jangan otomatis menyerahkan tanggung jawab kepada mereka.

Misalnya, jangan mengatakan:

"Nanti kamu yang jelaskan kepada adikmu."

atau:

"Tolong sampaikan kepada keluarga besar bahwa kami sudah tidak bersama."

atau:

"Kamu harus membantu Ibu menghadapi Ayah."

Jika anak menawarkan bantuan, tentu itu berbeda.

Tetapi bantuan sebaiknya datang dari pilihan mereka, bukan dari tekanan emosional.

Orang tua tetap bertanggung jawab atas keputusan dan konsekuensi hubungan mereka sendiri.

7. Tegaskan bahwa hubungan orang tua-anak tidak ikut berakhir

Mungkin inilah pesan paling menenangkan yang dapat diberikan.

Perceraian mengakhiri hubungan pasangan.

Tetapi tidak harus mengakhiri hubungan orang tua dan anak.

Anak dewasa mungkin takut bahwa setelah orang tua berpisah, keluarga tidak akan pernah terasa sama lagi.

Dan mungkin memang benar: beberapa hal tidak akan sama.

Namun, "berubah" tidak selalu berarti "hilang."

Orang tua masih bisa makan bersama.

Masih bisa menghubungi anak.

Masih bisa hadir dalam momen penting.

Masih bisa membangun tradisi baru.

Masih bisa menciptakan hubungan keluarga yang sehat dalam bentuk yang berbeda.

Karena itu, orang tua dapat mengatakan:

"Pernikahan kami mungkin berakhir, tetapi kami tetap orang tuamu. Kamu tidak kehilangan kami sebagai orang tua. Kami mungkin perlu menemukan cara baru untuk menjalani hubungan keluarga ini."

Pesan tersebut membantu memisahkan dua hal:

hubungan pasangan dan hubungan orang tua-anak.

Keduanya tidak harus berakhir bersamaan.

Jangan berharap satu percakapan menyelesaikan semuanya

Kesalahan lain yang sering dilakukan orang tua adalah menganggap bahwa setelah percakapan pertama selesai, semuanya sudah beres.

Padahal, anak mungkin baru mulai memproses informasi tersebut.

Hari pertama mungkin mereka merasa baik-baik saja.

Seminggu kemudian mereka mulai bertanya.

Sebulan kemudian mereka mungkin merasa marah.

Beberapa bulan kemudian mereka mungkin kembali merasa sedih ketika menghadiri acara keluarga.

Ini bukan berarti mereka gagal menerima kenyataan.

Proses emosional tidak selalu berjalan lurus.

Karena itu, jangan hanya melakukan satu percakapan.

Biarkan pintu komunikasi tetap terbuka.

Misalnya:

"Kalau nanti kamu punya pertanyaan atau ingin membicarakan hal ini, kamu boleh menghubungi kami."

Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa percakapan tidak harus selesai hari itu.

Bagaimana jika anak marah?

Jangan buru-buru membela diri.

Kemarahannya mungkin diarahkan kepada keputusan orang tua, situasi keluarga, atau bahkan kepada salah satu orang tua.

Dengarkan terlebih dahulu.

Jika anak mengatakan:

"Kenapa kalian tidak menyelesaikan ini sejak dulu?"

Anda tidak harus langsung menjawab dengan argumen.

Anda bisa berkata:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa marah. Mungkin dari sudut pandangmu banyak hal yang sulit dipahami."

Kemudian, jika dia ingin mengetahui lebih jauh, berikan informasi yang jujur dan proporsional.

Anak dewasa tidak selalu membutuhkan orang tua untuk setuju dengan emosinya.

Mereka membutuhkan ruang untuk mengungkapkannya tanpa langsung disalahkan.

Bagaimana jika anak justru menyalahkan salah satu orang tua?

Tetap berhati-hati.

Jika anak mengatakan:

"Aku kecewa dengan Ayah."

tidak berarti Anda harus menjawab:

"Memang Ayahmu selalu seperti itu."

Respons tersebut mungkin terasa memuaskan sesaat, tetapi dapat memperkuat konflik keluarga.

Lebih aman mengatakan:

"Aku dengar kamu kecewa. Kamu berhak memiliki perasaanmu sendiri terhadap apa yang terjadi."

Dengan demikian, Anda memvalidasi perasaan anak tanpa merekrutnya menjadi sekutu.

Dan bagaimana jika anak mengatakan bahwa dia tidak ingin orang tuanya bercerai?

Ini juga perlu dihargai.

Anak dewasa mungkin secara rasional memahami alasan perceraian tetapi secara emosional tetap berharap orang tuanya bertahan.

Anda dapat mengatakan:

"Aku tahu kamu mungkin berharap semuanya berbeda. Kami menghargai perasaanmu. Keputusan ini tetap merupakan keputusan yang harus kami ambil sebagai pasangan, dan kamu tidak perlu memikul tanggung jawab atas keputusan tersebut."

Ini membantu anak memahami bahwa dia tidak memiliki tugas untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak dewasa adalah rasa aman

Perceraian dapat mengubah struktur keluarga.

Tetapi cara orang tua mengelola perubahan tersebut sangat menentukan pengalaman emosional anak.

Anak dewasa tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka juga tidak membutuhkan cerita yang dibuat seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Yang mereka butuhkan adalah kejujuran yang disampaikan dengan bijaksana.

Mereka membutuhkan batas yang sehat.

Mereka membutuhkan kebebasan untuk mencintai kedua orang tua tanpa harus memilih.

Dan mereka membutuhkan kepastian bahwa meskipun hubungan pasangan berubah, hubungan keluarga masih memiliki tempat untuk bertumbuh.

Jika Anda harus mengingat hanya tujuh hal, ingatlah ini:

1. Jujur, tetapi jangan membuka semua detail konflik.

2. Jangan meminta anak memilih pihak.

3. Berikan ruang untuk reaksinya sendiri.

4. Jangan menjadikan anak sebagai tempat curhat utama.

5. Akui bahwa perpisahan juga dapat menjadi kehilangan bagi anak.

6. Pisahkan kebutuhan praktis dari tanggung jawab emosional anak.

7. Tegaskan bahwa perceraian pasangan tidak berarti perceraian antara orang tua dan anak.

Perpisahan mungkin mengubah bentuk sebuah keluarga.

Namun, dengan komunikasi yang penuh hormat, hubungan di dalam keluarga masih dapat menemukan bentuk baru—lebih dewasa, lebih jujur, dan tetap memiliki ruang untuk saling menyayangi.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore