Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 16.16 WIB

7 Cara Bagaimana Ponsel Pintar Merampas Kehidupan Terbaik Kamu Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang kehidupannya terampas oleh ponsel. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Bayangkan kamu bangun tidur di pagi hari. Sebelum benar-benar sadar, tanganmu sudah mencari ponsel. Kamu membuka notifikasi, melihat WhatsApp, menggulir Instagram, memeriksa TikTok, membaca berita, lalu mungkin berpindah ke YouTube.

Lima menit berlalu, kemudian sepuluh menit, tanpa terasa, hari sudah dimulai dengan perhatianmu berada di tempat lain.

Masalahnya bukan sekadar berapa lama kamu menggunakan ponsel. Persoalan yang lebih dalam adalah apa yang terjadi pada pikiran, perhatian, emosi, hubungan, dan kebiasaanmu ketika ponsel selalu berada dalam jangkauan.

Ponsel pintar adalah salah satu alat paling berguna yang pernah kita miliki. Kita dapat bekerja, belajar, berkomunikasi, mencari informasi, mengabadikan momen, bahkan mengelola keuangan hanya dari sebuah perangkat kecil.

Namun, perangkat yang sangat berguna juga dapat mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga: perhatian kita.

Dalam psikologi, perhatian merupakan sumber daya yang terbatas. Apa yang terus-menerus mendapatkan perhatian kita pada akhirnya ikut membentuk pengalaman hidup kita.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:

"Berapa jam saya menggunakan ponsel?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apa yang hilang dari hidup saya ketika sebagian besar perhatian saya diberikan kepada ponsel?"

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), terdapat tujuh cara bagaimana ponsel pintar dapat secara perlahan merampas kehidupan terbaik kita.

1. Ponsel Merampas Kemampuanmu untuk Berkonsentrasi

Salah satu harga terbesar dari penggunaan ponsel yang berlebihan adalah menurunnya kualitas perhatian.

Kamu mungkin pernah mengalami situasi seperti ini.

Kamu duduk untuk membaca buku.

Baru dua halaman, muncul notifikasi.

Kamu melihatnya sebentar.

Setelah itu kembali membaca.

Beberapa menit kemudian muncul keinginan untuk memeriksa media sosial.

Kamu membuka ponsel "hanya sebentar".

Kemudian kamu kembali membaca.

Siklus ini terlihat sepele, tetapi jika terjadi berulang kali sepanjang hari, kemampuan untuk mempertahankan perhatian pada satu aktivitas dapat terganggu.

Otak menyukai hal-hal baru

Salah satu alasan ponsel begitu sulit diabaikan adalah karena perangkat tersebut menyediakan rangsangan yang terus berubah.

Pesan baru.

Video baru.

Komentar baru.

Berita baru.

Notifikasi baru.

Konten baru.

Otak manusia secara alami tertarik pada informasi baru. Dalam psikologi dan ilmu saraf, perhatian terhadap sesuatu yang baru merupakan bagian penting dari cara manusia mendeteksi informasi yang berpotensi relevan.

Masalahnya, media digital dapat memberikan "kebaruan" hampir tanpa batas.

Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam—seperti membaca, belajar, menulis, berpikir, atau menyelesaikan pekerjaan sulit—dapat terasa membosankan dibandingkan dengan membuka ponsel.

Akibatnya, kita menjadi terbiasa dengan distraksi

Ketika setiap rasa bosan langsung diatasi dengan mengambil ponsel, kita kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan bertahan dalam kondisi tanpa stimulasi.

Sedang menunggu seseorang?

Ponsel.

Sedang antre?

Ponsel.

Naik kendaraan?

Ponsel.

Makan sendirian?

Ponsel.

Bosan lima detik?

Ponsel.

Padahal, pikiran manusia membutuhkan ruang kosong.

Dalam keadaan tanpa rangsangan terus-menerus, kita dapat merenung, mengolah pengalaman, menyusun rencana, atau sekadar membiarkan pikiran beristirahat.

Kehidupan terbaik membutuhkan perhatian yang utuh.

Jika perhatianmu terus-menerus terpecah, kamu mungkin tetap sibuk sepanjang hari tetapi tidak menghasilkan banyak hal yang benar-benar penting.

2. Ponsel Membuatmu Selalu Merasa Harus Tersedia

Dulu, ketika seseorang pulang ke rumah setelah bekerja, ada batas yang cukup jelas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Sekarang batas tersebut menjadi jauh lebih kabur.

Pesan dari kantor bisa masuk malam hari.

Email dapat muncul ketika sedang makan.

Grup WhatsApp dapat berbunyi ketika sedang beristirahat.

Notifikasi pekerjaan dapat muncul ketika kamu sedang bersama keluarga.

Secara teknis kamu sedang berada di rumah.

Tetapi secara psikologis, sebagian dirimu masih berada di tempat kerja.

Otak sulit benar-benar "mematikan" sesuatu yang belum selesai

Manusia cenderung memberikan perhatian pada tugas yang belum selesai. Dalam psikologi dikenal fenomena seperti Zeigarnik effect, yaitu kecenderungan pikiran untuk mempertahankan representasi mental terhadap tugas yang belum selesai.

Ponsel dapat memperkuat keadaan ini.

Kamu melihat sebuah pesan:

"Besok jangan lupa kirim laporan."

Pesannya hanya beberapa detik.

Namun pikiranmu dapat terus membawanya sepanjang malam.

Kamu mungkin sedang menonton film, tetapi sebagian perhatianmu memikirkan pekerjaan.

Sedang makan bersama keluarga, tetapi pikiranmu menunggu balasan.

Sedang berlibur, tetapi tetap memeriksa email.

Akibatnya, tubuh berada di satu tempat sementara pikiran berada di tempat lain.

Selalu tersedia bukan berarti selalu produktif

Ada perbedaan antara responsif dan selalu tersedia.

Orang yang produktif bukan orang yang menjawab setiap pesan secepat mungkin.

Produktivitas lebih berkaitan dengan kemampuan menentukan:

"Apa yang pantas mendapatkan perhatian saya sekarang?"

Jika setiap notifikasi memiliki hak untuk menghentikan aktivitasmu, maka sebenarnya kamu telah menyerahkan kendali atas perhatianmu kepada perangkat.

Dan ketika orang lain dapat memanggil perhatianmu kapan saja, waktu pribadimu perlahan kehilangan batas.

3. Ponsel Mengurangi Kualitas Hubungan Nyata

Ironisnya, perangkat yang dirancang untuk membuat manusia lebih terhubung juga dapat membuat kita kurang hadir dalam hubungan nyata.

Bayangkan kamu sedang makan bersama teman.

Temanmu sedang bercerita tentang sesuatu yang penting.

Namun ponsel berada di atas meja.

Tidak ada notifikasi.

Tetapi kamu tetap sesekali melihat layar.

Temanmu mungkin tidak mengatakan apa-apa.

Namun secara psikologis, pesan yang diterima adalah:

"Ada sesuatu di ponsel yang lebih penting daripada percakapan ini."

Fenomena ketika penggunaan ponsel mengganggu interaksi sosial sering dibahas melalui istilah phubbing—mengabaikan orang yang sedang bersama kita karena lebih memperhatikan ponsel.

Kehadiran fisik tidak sama dengan kehadiran psikologis

Kita dapat berada di ruangan yang sama dengan seseorang tanpa benar-benar hadir untuknya.

Dan hubungan manusia membutuhkan lebih dari sekadar keberadaan fisik.

Kita membutuhkan:

kontak mata,
perhatian,
mendengarkan,
respons emosional,
percakapan,
keheningan bersama,
dan pengalaman yang dibagikan.

Ketika perhatian terus-menerus terbagi, kualitas interaksi dapat menurun.

Hal ini sangat penting dalam hubungan romantis, persahabatan, keluarga, dan bahkan hubungan antara orang tua dan anak.

Ponsel dapat mencuri momen yang tidak bisa diulang

Seorang anak mungkin hanya sekali berada pada usia tertentu.

Orang tua mungkin tidak selamanya sehat.

Teman tidak selalu tinggal di kota yang sama.

Pasangan tidak selalu berada di samping kita.

Karena itu, salah satu kerugian terbesar dari terlalu sibuk dengan layar bukan hanya waktu yang terbuang.

Melainkan momen yang tidak pernah benar-benar kita alami.

Kamu mungkin dapat mengganti ponsel.

Kamu dapat mengembalikan uang.

Kamu dapat membeli kembali barang.

Tetapi kamu tidak dapat mengulang percakapan yang tidak kamu dengarkan atau masa kecil anak yang tidak benar-benar kamu saksikan.

4. Ponsel Mengubah Cara Kamu Menghadapi Kebosanan

Banyak orang menganggap kebosanan sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Begitu tidak ada aktivitas, tangan langsung mencari ponsel.

Tetapi kebosanan sebenarnya tidak selalu buruk.

Dalam kondisi tertentu, kebosanan dapat memberikan ruang bagi pikiran untuk bergerak tanpa tujuan eksternal yang terus mengarahkannya.

Coba perhatikan perjalanan pikiranmu ketika tidak memegang ponsel

Kamu sedang berjalan.

Tidak mendengarkan podcast.

Tidak melihat media sosial.

Tidak menonton video.

Tidak membaca berita.

Awalnya mungkin terasa membosankan.

Tetapi setelah beberapa menit, pikiran mulai berjalan sendiri.

Kamu teringat sesuatu.

Muncul ide.

Kamu memikirkan masalah pekerjaan.

Tiba-tiba menemukan solusi.

Kamu mengingat seseorang.

Kemudian muncul pertanyaan:

"Sebenarnya saya ingin hidup seperti apa?"

Momen seperti ini menjadi semakin langka ketika setiap celah kosong langsung diisi oleh konten digital.

Kita kehilangan ruang untuk berpikir

Kehidupan modern sudah penuh dengan informasi.

Kita tidak hanya menerima informasi dari pekerjaan.

Kita juga menerima informasi dari media sosial, berita, iklan, video pendek, grup percakapan, podcast, dan berbagai platform lainnya.

Jika setiap saat kosong digunakan untuk menerima lebih banyak informasi, kapan otak mendapatkan kesempatan untuk mengolah semuanya?

Mungkin masalahnya bukan kamu kekurangan informasi.

Mungkin kamu kekurangan keheningan.

Dan terkadang kehidupan terbaik tidak ditemukan ketika kita mengonsumsi lebih banyak.

Tetapi ketika kita berhenti sejenak dan mendengarkan pikiran sendiri.

5. Ponsel Mendorong Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat

Salah satu masalah terbesar media sosial bukan hanya apa yang kita lihat.

Melainkan bagaimana kita menafsirkan apa yang kita lihat.

Kamu membuka Instagram dan melihat seseorang sedang berlibur di luar negeri.

Orang lain baru membeli mobil.

Teman sekolahmu sukses membangun bisnis.

Seseorang menikah.

Orang lain memiliki tubuh yang terlihat sempurna.

Orang lain mendapatkan pekerjaan impian.

Kamu kemudian melihat hidupmu sendiri.

Dan tanpa sadar muncul pikiran:

"Kenapa hidup saya tidak seperti mereka?"

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan melakukan social comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang lain.

Masalahnya, media sosial memberikan bahan perbandingan dalam jumlah yang luar biasa besar.

Kamu membandingkan kehidupan nyata dengan highlight kehidupan orang lain

Ini adalah perbandingan yang tidak seimbang.

Kamu mengetahui:

kegagalanmu,
kecemasanmu,
kesalahanmu,
masalah keuanganmu,
konflikmu,
hari burukmu.

Tetapi dari orang lain, kamu sering hanya melihat:

foto terbaik,
pencapaian terbaik,
perjalanan terbaik,
pakaian terbaik,
hubungan terbaik,
momen paling bahagia.

Akibatnya, kamu membandingkan kehidupan di balik layar milikmu dengan versi terbaik yang ditampilkan orang lain.

Tidak mengherankan jika kamu merasa tertinggal.

Kehidupanmu bisa terasa buruk bukan karena benar-benar buruk

Terkadang masalahnya bukan perubahan kehidupan.

Masalahnya adalah perubahan standar pembanding.

Sebelum era media sosial, seseorang mungkin membandingkan dirinya dengan puluhan orang di lingkungan sekitar.

Sekarang seseorang dapat membandingkan dirinya dengan ribuan bahkan jutaan orang.

Setiap hari.

Selama berjam-jam.

Tidak heran jika rasa "belum cukup" mudah muncul.

Kita mulai mengejar kehidupan yang terlihat bagus daripada kehidupan yang benar-benar terasa bermakna.

6. Ponsel Mengganggu Tidur dan Pemulihan Mental

Salah satu cara paling jelas ponsel memengaruhi kualitas hidup adalah melalui tidur.

Banyak orang melakukan ritual yang hampir sama setiap malam:

Berbaring.

Mengambil ponsel.

Membuka media sosial.

Menonton satu video.

Lalu video berikutnya.

Kemudian membaca komentar.

Memeriksa pesan.

Melihat berita.

Dan tiba-tiba satu jam berlalu.

Kalimat yang paling sering muncul:

"Saya cuma mau lihat sebentar."

Masalahnya, "sebentar" sering berubah menjadi jauh lebih lama.

Bukan hanya cahaya layar yang menjadi persoalan

Paparan cahaya dari perangkat pada malam hari dapat mengganggu ritme biologis, tetapi persoalannya lebih luas daripada cahaya saja.

Konten yang merangsang emosi juga dapat membuat pikiran tetap aktif.

Bayangkan kamu melihat berita yang membuat marah sebelum tidur.

Atau membaca komentar yang memancing kecemasan.

Atau menonton video yang membuatmu ingin terus mencari video berikutnya.

Tubuh mungkin sudah berada di tempat tidur.

Tetapi otak belum mendapatkan sinyal yang kuat bahwa hari telah berakhir.

Tidur yang buruk memengaruhi hampir semua hal

Tidur berkaitan dengan:

perhatian,
memori,
regulasi emosi,
pengambilan keputusan,
energi,
dan fungsi kognitif.

Jadi ketika ponsel mengurangi waktu atau kualitas tidur, dampaknya tidak berhenti pada rasa mengantuk keesokan harinya.

Kamu mungkin menjadi lebih mudah marah.

Lebih sulit berkonsentrasi.

Lebih impulsif.

Lebih sulit mengendalikan keinginan.

Dan lebih sulit melakukan pekerjaan yang membutuhkan usaha mental.

Dengan kata lain, ponsel yang mengambil satu jam dari tidur malam ini dapat mengambil lebih banyak lagi dari kualitas hidupmu keesokan harinya.

7. Ponsel Membuatmu Menjadi Konsumen Perhatian, Bukan Pengarah Kehidupanmu

Ini mungkin masalah yang paling dalam.

Ponsel bukan hanya alat yang kamu gunakan.

Dalam banyak situasi, ponsel juga menjadi alat yang menentukan ke mana perhatianmu pergi.

Kamu membuka aplikasi tanpa tujuan.

Lalu algoritma menentukan apa yang kamu lihat.

Video berikutnya dipilihkan.

Berita berikutnya muncul.

Rekomendasi berikutnya tersedia.

Notifikasi berikutnya memanggil.

Akhirnya kamu tidak lagi bertanya:

"Apa yang ingin saya lakukan?"

Sebaliknya, kamu hanya bertanya:

"Apa yang muncul berikutnya?"

Perhatian adalah bagian dari kehidupan

Bayangkan kamu memiliki 80 tahun kehidupan.

Waktu tersebut bukan hanya angka.

Waktu adalah kumpulan momen yang kamu alami.

Dan momen yang kamu alami sangat dipengaruhi oleh apa yang mendapatkan perhatianmu.

Jika perhatianmu diberikan kepada orang yang kamu cintai, kamu sedang membangun hubungan.

Jika perhatianmu diberikan kepada pekerjaan yang bermakna, kamu sedang membangun sesuatu.

Jika perhatianmu diberikan kepada belajar, kamu sedang mengembangkan diri.

Jika perhatianmu diberikan kepada olahraga, kamu sedang merawat tubuh.

Jika perhatianmu diberikan kepada refleksi diri, kamu sedang memahami kehidupanmu.

Tetapi jika sebagian besar perhatianmu diberikan kepada konten yang bahkan tidak kamu ingat beberapa jam kemudian, sebagian hidupmu telah berubah menjadi konsumsi pasif.

Pertanyaan terpenting bukan "berapa lama?"

Seseorang mungkin menggunakan ponsel tiga jam sehari untuk belajar dan bekerja.

Orang lain mungkin menggunakannya tiga jam untuk menggulir konten tanpa tujuan.

Durasi sama.

Dampaknya bisa sangat berbeda.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah penggunaan ponsel saya membawa saya lebih dekat kepada kehidupan yang saya inginkan, atau justru menjauhkan saya darinya?"

Cara Merebut Kembali Kehidupan Terbaikmu

Kamu tidak harus membuang ponsel.

Kamu juga tidak harus menjadi orang yang anti-teknologi.

Tujuannya bukan menghilangkan teknologi.

Tujuannya adalah mengembalikan kendali.

Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba.

1. Jangan mulai pagi dengan ponsel

Berikan 30–60 menit pertama setelah bangun untuk dirimu sendiri.

Minum air.

Mandi.

Berjalan.

Berolahraga.

Membaca.

Menulis jurnal.

Atau sekadar duduk dan berpikir.

Jangan biarkan dunia masuk ke kepalamu sebelum kamu menentukan arah harimu sendiri.

2. Matikan sebagian besar notifikasi

Tidak semua aplikasi membutuhkan akses langsung ke perhatianmu.

Pertahankan notifikasi yang benar-benar penting.

Matikan sisanya.

Ingat:

Notifikasi adalah permintaan untuk mendapatkan perhatianmu.

Kamu tidak wajib menyetujui setiap permintaan.

3. Buat zona bebas ponsel

Cobalah menetapkan beberapa tempat atau aktivitas sebagai zona tanpa ponsel:

meja makan,
kamar tidur,
waktu bersama pasangan,
waktu bermain dengan anak,
pertemuan dengan teman,
atau satu jam tertentu setiap malam.

Dengan demikian, kamu menciptakan batas yang jelas antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.

4. Latih kemampuan untuk merasa bosan

Sesekali biarkan dirimu tidak melakukan apa-apa.

Berjalan tanpa ponsel.

Duduk di taman.

Menunggu tanpa membuka layar.

Naik kendaraan tanpa terus melihat konten.

Kebosanan tidak selalu harus diselesaikan.

Terkadang ia adalah pintu menuju refleksi.

5. Jadikan ponsel alat, bukan tempat pelarian

Sebelum membuka ponsel, tanyakan:

"Saya membuka ini untuk apa?"

Jika jawabannya jelas, lakukan.

Jika jawabannya:

"Tidak tahu."

Mungkin itu tanda bahwa kamu sedang mencari stimulasi, bukan membutuhkan sesuatu.

Letakkan kembali ponsel.

Kesimpulan: Hidupmu Ditentukan oleh Apa yang Mendapatkan Perhatianmu

Ponsel pintar bukan musuh.

Ia adalah alat.

Masalah muncul ketika alat tersebut mulai mengendalikan perhatian kita.

Ketika setiap rasa bosan dijawab dengan layar.

Ketika setiap notifikasi terasa harus segera dibuka.

Ketika percakapan nyata kalah penting dari pesan digital.

Ketika tidur dikorbankan demi scrolling.

Ketika kehidupan sendiri mulai terasa kurang menarik dibandingkan kehidupan orang lain di media sosial.

Dan ketika kita menghabiskan begitu banyak waktu mengonsumsi kehidupan orang lain sehingga lupa menjalani kehidupan kita sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan:

"Apakah saya terlalu sering menggunakan ponsel?"

Tetapi:

"Jika saya terus menggunakan ponsel dengan cara seperti ini selama lima tahun ke depan, kehidupan seperti apa yang sedang saya bangun?"

Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana.

Tetapi jawabannya bisa mengubah cara kita menggunakan teknologi.

Karena kehidupan terbaik tidak dibangun dari setiap notifikasi yang kita jawab.

Tidak dari setiap video yang kita tonton.

Tidak dari setiap unggahan yang kita sukai.

Kehidupan terbaik dibangun dari perhatian yang kita pilih untuk diberikan kepada hal-hal yang benar-benar kita anggap penting.

Dan perhatian adalah salah satu hal yang tidak pernah bisa kita dapatkan kembali setelah diberikan.

Jadi, mungkin sudah waktunya mengambil kembali kendali.

Bukan dengan membuang ponsel.

Tetapi dengan memastikan bahwa ketika kita memegangnya, kitalah yang memilih ke mana perhatian kita pergi.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore