Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 15.44 WIB

Jika Kamu Ingin Terhubung dengan Orang Lain secara Aman, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berhubungan dengan orang lain. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Terhubung dengan orang lain adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Kita ingin didengar, dipahami, dihargai, dan merasa bahwa ada seseorang yang bisa menerima kita tanpa harus terus-menerus berpura-pura menjadi orang lain.


Namun, membangun hubungan yang dekat bukan berarti kita harus membuka diri kepada semua orang tanpa batas.

Ada orang yang memang tulus ingin mengenal kita. Ada juga yang hanya tertarik ketika kita bisa memenuhi kebutuhannya. Ada orang yang mampu menjaga cerita pribadi kita, tetapi ada pula yang menggunakan kerentanan kita sebagai bahan gosip, manipulasi, atau bahkan alat untuk mengendalikan kita.

Karena itu, hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa dekat kita dengan seseorang, tetapi juga tentang seberapa aman kita merasa ketika menjadi diri sendiri di dekatnya.

Dalam psikologi, rasa aman dalam hubungan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membangun kepercayaan, menetapkan batasan, mengomunikasikan kebutuhan, dan secara bertahap membuka diri berdasarkan pengalaman yang terbentuk dari waktu ke waktu.

Jadi, kalau kamu ingin terhubung dengan orang lain secara lebih aman, kamu tidak harus langsung menceritakan semua hal tentang dirimu.

Kamu bisa memulainya secara perlahan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/), terdapat tujuh cara yang bisa membantu.

1. Jangan Terburu-buru Membuka Semua Hal Pribadi

Ketika bertemu seseorang yang terasa cocok, terkadang kita bisa langsung merasa sangat nyaman.

Percakapan mengalir. Kita merasa didengarkan. Orang tersebut tampak memahami kita. Akhirnya, tanpa sadar, kita menceritakan banyak hal pribadi yang sebenarnya belum tentu perlu diketahui olehnya.

Padahal, rasa nyaman pada pertemuan pertama belum tentu sama dengan kepercayaan yang sudah terbentuk.

Kepercayaan biasanya berkembang melalui pengalaman yang berulang.

Karena itu, cobalah menerapkan prinsip sederhana:

Buka diri secara bertahap, bukan sekaligus.

Kamu bisa memulai dari hal-hal ringan seperti hobi, pengalaman sehari-hari, minat, atau pandangan umum. Setelah melihat bagaimana orang tersebut merespons, barulah kamu memutuskan apakah ingin berbagi sesuatu yang lebih pribadi.

Perhatikan beberapa hal:

Apakah dia mendengarkan tanpa meremehkan?
Apakah dia menghargai ketika kamu mengatakan tidak?
Apakah dia menjaga cerita yang kamu bagikan?
Apakah dia sering membicarakan rahasia orang lain kepadamu?
Apakah dia menggunakan kelemahan orang lain sebagai bahan lelucon?
Apakah perkataan dan tindakannya relatif konsisten?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa memberikan informasi tentang bagaimana seseorang memperlakukan batasan dan informasi pribadi.

Kamu tidak perlu menjadi curiga kepada semua orang.

Yang diperlukan adalah memberi kepercayaan sesuai dengan bukti yang sudah ada.

Kepercayaan bukan sesuatu yang harus diberikan sekaligus. Ia bisa dibangun sedikit demi sedikit.

2. Belajar Mendengarkan Tanpa Langsung Menghakimi

Hubungan yang dekat tidak hanya dibangun dengan kemampuan berbicara.

Sering kali, orang justru merasa lebih terhubung ketika mereka merasa benar-benar didengarkan.

Sayangnya, mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara.

Mendengarkan berarti berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang disampaikan orang tersebut.

Misalnya, seorang teman berkata:

"Aku akhir-akhir ini capek banget sama pekerjaan."

Respons yang terburu-buru mungkin:

"Ya semua orang juga capek. Kamu harus lebih bersyukur."

Mungkin maksudnya ingin membantu. Namun, respons seperti itu dapat membuat orang merasa pengalamannya dikecilkan.

Respons yang lebih terbuka bisa berupa:

"Kedengarannya akhir-akhir ini memang berat. Bagian mana yang paling bikin kamu capek?"

Pertanyaan sederhana seperti itu menunjukkan bahwa kamu ingin memahami, bukan sekadar memberikan penilaian.

Dalam hubungan yang sehat, kamu juga tidak harus selalu menjadi "pemecah masalah".

Kadang seseorang hanya ingin didengar.

Cobalah menahan dorongan untuk langsung memberikan nasihat.

Dengarkan dulu.

Tanyakan.

Pahami konteksnya.

Baru kemudian, jika dia memang menginginkan saran, kamu bisa membagikan pendapatmu.

Kemampuan mendengarkan seperti ini dapat membuat percakapan terasa lebih aman karena orang tidak merasa harus mempertahankan diri setiap kali berbicara.

3. Perhatikan Apakah Hubungan Terasa Dua Arah

Hubungan yang sehat biasanya tidak berjalan dalam satu arah.

Jika kamu selalu menjadi orang yang bertanya, mendengarkan, membantu, menghubungi lebih dulu, dan berusaha mempertahankan hubungan, sementara orang tersebut hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupanmu, ada baiknya kamu memperhatikan pola tersebut.

Bukan berarti hubungan harus selalu 50:50 setiap saat.

Ada masa ketika salah satu orang membutuhkan lebih banyak dukungan.

Misalnya, ketika temanmu sedang menghadapi masalah besar, mungkin kamu memang akan lebih banyak memberikan dukungan. Di waktu lain, mungkin justru kamu yang membutuhkan ruang untuk bercerita.

Yang penting adalah adanya timbal balik dalam jangka panjang.

Cobalah bertanya kepada dirimu sendiri:

"Apakah aku merasa dikenal oleh orang ini, atau aku hanya merasa berguna baginya?"

Pertanyaan tersebut bisa membantu membedakan kedekatan dengan sekadar menjadi tempat seseorang mendapatkan perhatian, bantuan, atau kenyamanan.

Terhubung secara aman berarti kamu tidak harus terus-menerus membuktikan nilai dirimu agar hubungan tersebut bertahan.

Kamu boleh hadir sebagai dirimu sendiri.

4. Berani Mengatakan "Tidak"

Salah satu cara paling penting untuk mengetahui apakah sebuah hubungan cukup aman adalah melihat bagaimana seseorang merespons batasan.

Kamu tidak harus selalu tersedia.

Kamu boleh menolak ajakan.

Kamu boleh mengatakan bahwa kamu sedang lelah.

Kamu boleh tidak menjawab pesan dengan segera.

Kamu boleh tidak menceritakan sesuatu.

Dan kamu boleh mengubah pikiran.

Contohnya:

"Maaf, kali ini aku tidak bisa ikut."

Tidak perlu selalu disertai penjelasan panjang.

Orang yang menghargai batasan mungkin kecewa, tetapi biasanya masih bisa menerima keputusan tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang terus memaksa, membuatmu merasa bersalah, mengancam akan meninggalkanmu, atau mengatakan bahwa kamu egois hanya karena menetapkan batasan, itu merupakan pola yang layak diperhatikan.

Batasan bukan tembok untuk menjauhkan semua orang.

Batasan adalah cara untuk menentukan bagaimana orang lain boleh memperlakukan kita.

Menetapkan batasan juga membantu hubungan menjadi lebih jujur.

Daripada mengatakan "iya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak", kamu belajar menyampaikan kebutuhan dengan lebih jelas.

5. Jangan Abaikan Ketidaknyamanan yang Muncul Berulang Kali

Ada kalanya kita merasa tidak nyaman terhadap seseorang, tetapi sulit menjelaskan alasannya.

Mungkin percakapannya selalu membuatmu merasa bersalah.

Mungkin kamu merasa harus berhati-hati dengan setiap kata.

Mungkin kamu selalu takut mengecewakannya.

Atau mungkin setelah bertemu dengannya, kamu justru merasa terkuras secara emosional.

Satu pengalaman tidak selalu berarti sesuatu yang buruk.

Semua orang bisa salah bicara.

Semua orang bisa mengalami hari yang buruk.

Namun, pola yang berulang layak diperhatikan.

Cobalah membedakan antara:

"Aku sedang merasa tidak nyaman."

dan

"Orang ini secara konsisten melakukan sesuatu yang membuat batasanku tidak dihargai."

Keduanya tidak sama.

Jangan pula menganggap setiap rasa tidak nyaman sebagai bukti bahwa seseorang berbahaya. Perasaan bisa memberikan informasi, tetapi tetap perlu dipadukan dengan pengamatan terhadap perilaku nyata.

Kamu bisa mencatat pola yang terjadi.

Apa yang dikatakan?

Apa yang dilakukan?

Bagaimana reaksinya ketika kamu menyampaikan batasan?

Apakah perilaku tersebut berulang?

Dengan begitu, kamu tidak hanya mengandalkan asumsi, tetapi juga melihat hubungan berdasarkan pengalaman nyata.

6. Belajar Mengungkapkan Kebutuhan dengan Jelas

Banyak konflik dalam hubungan muncul bukan karena orang lain sengaja menyakiti kita, tetapi karena kebutuhan tidak pernah dikomunikasikan dengan jelas.

Kita berharap orang lain mengerti.

Ketika mereka tidak mengerti, kita kecewa.

Kemudian kita menjauh tanpa pernah menjelaskan alasannya.

Padahal, hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi.

Daripada berkata:

"Kamu memang tidak pernah peduli."

Cobalah mengatakan:

"Aku merasa lebih dihargai kalau kamu memberi kabar ketika rencana berubah."

Perbedaannya sederhana, tetapi dampaknya bisa besar.

Pernyataan pertama menyerang karakter seseorang.

Pernyataan kedua menjelaskan kebutuhan dan perilaku yang diharapkan.

Kamu bisa menggunakan pola sederhana:

"Ketika ..., aku merasa ..., dan aku berharap ..."

Contohnya:

"Ketika pesan pentingku tidak dibalas berhari-hari, aku merasa diabaikan. Aku berharap kalau kamu sedang sibuk, kamu bisa memberi kabar singkat."

Komunikasi seperti ini bukan jaminan bahwa orang lain akan memenuhi kebutuhanmu.

Namun, komunikasi membuat hubungan menjadi lebih jelas.

Kamu bisa melihat bagaimana orang tersebut merespons kebutuhanmu.

Apakah dia mau mendengarkan?

Apakah dia berusaha memahami?

Apakah dia mencari jalan tengah?

Atau justru selalu membalikkan keadaan sehingga kamu merasa bersalah karena memiliki kebutuhan?

Respons tersebut merupakan informasi penting tentang dinamika hubungan.

7. Terima Bahwa Kedekatan Tidak Harus Berarti Kehilangan Diri Sendiri

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Ketika kita ingin merasa dekat dengan seseorang, terkadang kita tanpa sadar mulai mengorbankan terlalu banyak hal.

Kita mengubah pendapat agar disukai.

Kita mengikuti semua keinginannya.

Kita meninggalkan teman-teman lain.

Kita takut melakukan sesuatu tanpa persetujuannya.

Kita merasa harus selalu tersedia.

Lama-kelamaan, hubungan tersebut menjadi pusat kehidupan kita.

Padahal, hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi dua orang untuk tetap menjadi individu.

Kamu tetap boleh mempunyai:

teman yang berbeda,
hobi sendiri,
waktu untuk diri sendiri,
pendapat yang berbeda,
tujuan pribadi,
batasan,
dan kehidupan di luar hubungan tersebut.

Kedekatan bukan berarti melebur menjadi satu.

Kamu bisa mencintai seseorang tanpa kehilangan identitasmu.

Kamu bisa mempercayai seseorang tanpa menyerahkan seluruh kendali atas hidupmu.

Dan kamu bisa merasa sangat dekat dengan seseorang sambil tetap memiliki ruang pribadi.

Kedekatan yang Aman Dibangun dari Waktu ke Waktu

Pada akhirnya, terhubung dengan orang lain secara aman bukan tentang menemukan orang yang sempurna.

Tidak ada hubungan yang selalu berjalan mulus.

Orang bisa salah paham.

Orang bisa kecewa.

Orang bisa mengatakan sesuatu yang tidak tepat.

Yang lebih penting adalah bagaimana kedua pihak memperbaiki keadaan setelah terjadi masalah.

Apakah mereka bisa meminta maaf?

Apakah mereka mau mendengarkan?

Apakah batasan dihargai?

Apakah konflik dapat dibicarakan?

Apakah kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri?

Hubungan yang sehat biasanya tidak membuatmu harus terus-menerus menebak apakah kamu masih diterima.

Kamu tidak harus menjadi sempurna agar layak disayangi.

Kamu juga tidak perlu menceritakan seluruh hidupmu agar hubungan terasa dekat.

Mulailah secara perlahan.

Dengarkan.

Amati.

Komunikasikan kebutuhan.

Tetapkan batasan.

Dan berikan kepercayaan sesuai dengan pengalaman yang terbentuk.

Karena hubungan yang benar-benar aman bukan hanya tentang menemukan seseorang yang membuatmu merasa nyaman.

Hubungan yang aman adalah hubungan di mana rasa nyaman tersebut dibangun bersama—melalui kepercayaan, penghargaan, komunikasi, dan batasan yang sehat.

Dan terkadang, cara terbaik untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain adalah dengan terlebih dahulu belajar bahwa kamu tidak perlu kehilangan dirimu sendiri demi merasa diterima.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore