Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 15.42 WIB

9 Kata Ajaib yang Membangun Kerja Sama Orang Tua dengan Anak-Anak Menurut Psikologi

seseorang yang membangun kerja sama dengan anak. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Membangun kerja sama antara orang tua dan anak bukanlah perkara sederhana. Banyak orang tua berharap anak mau mendengarkan, mengikuti aturan, membantu di rumah, belajar dengan baik, atau segera berhenti melakukan sesuatu ketika diminta.


Namun, dalam kehidupan sehari-hari, situasinya sering tidak berjalan seperti yang diharapkan.

“Sudah berapa kali Mama bilang?”

“Kenapa kamu tidak mau dengar?”

“Cepat mandi!”

“Rapikan mainannya sekarang!”

“Jangan begitu!”

Semakin sering perintah diberikan dengan nada tinggi, terkadang anak justru semakin sulit diajak bekerja sama. Anak membantah, mengabaikan, menangis, berteriak, atau bahkan melakukan kebalikan dari apa yang diminta.

Menurut prinsip-prinsip psikologi perkembangan dan pengasuhan, kerja sama anak tidak hanya dibangun melalui aturan dan konsekuensi. Hubungan yang aman, komunikasi yang menghargai anak, kesempatan memilih, empati, serta cara orang tua menyampaikan permintaan juga memainkan peran penting.

Karena itu, ada beberapa kata sederhana yang dapat membantu orang tua mengubah suasana interaksi dengan anak.

Kata-kata tersebut bukanlah “mantra” yang otomatis membuat anak selalu menurut. Tidak ada satu kalimat yang dapat menjamin anak akan langsung bekerja sama. Namun, pilihan kata yang tepat dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih positif sehingga anak lebih mudah memahami harapan orang tua dan merasa dirinya tetap dihargai.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), terdapat sembilan kata atau ungkapan yang dapat digunakan orang tua untuk membangun kerja sama dengan anak.

1. “Tolong”

Kata pertama yang sederhana tetapi sangat penting adalah “tolong.”

Misalnya, dibandingkan mengatakan:

“Ambilkan buku itu!”

Orang tua dapat mengatakan:

“Tolong ambilkan buku itu, ya.”

Atau:

“Tolong bantu Mama memasukkan mainan ini ke kotak.”

Mengapa kata ini penting?

Karena cara orang tua menyampaikan permintaan dapat memengaruhi bagaimana anak menerima pesan tersebut.

Anak memang membutuhkan batas dan arahan dari orang tua. Namun, bukan berarti setiap komunikasi harus berbentuk perintah. Ketika orang tua menggunakan bahasa permintaan, anak mendapatkan pesan bahwa dirinya adalah bagian dari hubungan dua arah, bukan sekadar seseorang yang harus selalu menerima instruksi.

“Tolong” juga mengajarkan nilai sosial secara tidak langsung.

Anak belajar bahwa ketika kita membutuhkan bantuan orang lain, kita dapat memintanya dengan cara yang sopan.

Tetapi jangan salah memahami arti “tolong”

Menggunakan kata “tolong” bukan berarti orang tua harus memohon kepada anak untuk melakukan setiap hal.

Ada situasi tertentu yang memang membutuhkan ketegasan.

Misalnya ketika anak hendak berlari ke jalan:

“Berhenti. Pegang tangan Ayah sekarang.”

Dalam situasi keselamatan, instruksi yang jelas dan tegas lebih penting daripada menggunakan kalimat yang panjang.

Jadi, “tolong” paling bermanfaat dalam situasi sehari-hari ketika orang tua sedang meminta bantuan atau mengajak anak melakukan sesuatu.

2. “Terima kasih”

Kata kedua adalah “terima kasih.”

Banyak orang tua menganggap ucapan terima kasih hanya diperlukan ketika anak melakukan sesuatu yang besar.

Padahal, mengakui usaha kecil anak dapat membantu membangun pola interaksi positif.

Misalnya:

“Terima kasih sudah memasukkan sepatu ke rak.”

“Terima kasih sudah membantu adik.”

“Terima kasih sudah mencoba membereskan meja.”

Perhatikan bahwa apresiasi tidak harus selalu diberikan karena hasilnya sempurna.

Anak yang masih belajar mungkin belum mampu menyelesaikan tugas dengan sempurna.

Misalnya, kamar masih berantakan setelah anak berusaha merapikannya.

Daripada langsung berkata:

“Ini masih berantakan!”

orang tua dapat mengatakan:

“Terima kasih sudah mulai merapikannya. Sekarang kita lihat bagian mana yang masih perlu dibereskan.”

Ini memberikan dua pesan sekaligus: usaha anak dihargai, tetapi tanggung jawab tetap perlu diselesaikan.

Mengapa apresiasi penting?

Dalam psikologi perilaku, konsekuensi positif dapat meningkatkan kemungkinan suatu perilaku muncul kembali. Namun, apresiasi yang efektif sebaiknya tidak hanya berupa pujian kosong seperti “Hebat!” berulang kali.

Lebih baik orang tua menyebutkan perilaku yang memang dilakukan anak.

Contohnya:

“Ayah melihat kamu langsung menyimpan buku setelah selesai membaca.”

Anak menjadi tahu perilaku apa yang diapresiasi.

Dengan demikian, “terima kasih” bukan sekadar basa-basi. Ia menjadi cara orang tua memberikan perhatian terhadap perilaku positif anak.

3. “Boleh”

Kata “boleh” mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki kekuatan besar dalam komunikasi orang tua dan anak.

Anak memiliki kebutuhan untuk merasa memiliki kendali atas sebagian kehidupannya.

Tentu saja bukan berarti anak boleh menentukan semuanya.

Orang tua tetap bertanggung jawab menentukan batas yang berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, nilai keluarga, dan kebutuhan perkembangan anak.

Namun, dalam banyak situasi, orang tua dapat memberikan ruang pilihan.

Misalnya:

“Kamu boleh memilih mandi sekarang atau setelah menyimpan mainan.”

Atau:

“Kamu boleh memakai baju biru atau baju merah.”

Kalimat seperti ini memberi anak kesempatan untuk mengambil keputusan dalam batas yang telah ditentukan orang tua.

Mengapa pilihan dapat membantu kerja sama?

Anak sering menolak bukan karena ia benar-benar tidak mau melakukan sesuatu, tetapi karena ia merasa seluruh keputusan dikendalikan oleh orang dewasa.

Memberikan pilihan terbatas dapat memberikan rasa otonomi.

Misalnya:

“Kamu mau mengerjakan PR sebelum makan atau setelah makan?”

Kedua pilihan tersebut masih berada dalam batas yang dibuat orang tua.

Ini berbeda dengan bertanya:

“Mau mengerjakan PR atau tidak?”

Jika tugas tersebut memang harus dilakukan, pertanyaan kedua justru membuka pilihan yang sebenarnya tidak tersedia.

Karena itu, prinsipnya adalah pilihan yang nyata, tetapi tetap berada dalam batas yang jelas.

4. “Bisa”

Kata berikutnya adalah “bisa.”

Perhatikan perbedaan antara dua kalimat berikut:

“Kamu tidak bisa melakukan ini.”

dan:

“Kamu belum bisa melakukan ini. Mari kita coba bersama.”

Kata “bisa” membantu mengarahkan perhatian anak pada kemampuan dan proses belajar.

Anak memang akan mengalami kegagalan.

Ia mungkin belum bisa mengikat tali sepatu, menyelesaikan soal matematika, membersihkan meja, mengendalikan emosi, atau menyelesaikan konflik dengan saudaranya.

Jika setiap kegagalan langsung diberi label seperti “malas”, “nakal”, atau “tidak bisa”, anak dapat mengembangkan pandangan negatif terhadap dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak melihat kemampuan sebagai sesuatu yang berkembang.

Misalnya:

“Sekarang belum bisa. Kita coba pelan-pelan.”

Atau:

“Kamu bisa belajar melakukannya. Ayah bantu bagian yang sulit.”

Pesan yang diberikan adalah bahwa kesulitan bukan berarti ketidakmampuan permanen.

“Bisa” juga dapat digunakan ketika anak menolak

Misalnya anak berkata:

“Aku tidak bisa merapikan kamar.”

Orang tua dapat menjawab:

“Kamar ini memang terlihat banyak yang harus dibereskan. Kita mulai dari lima mainan dulu. Kamu bisa?”

Permintaan dibuat lebih kecil sehingga terasa lebih mudah dilakukan.

5. “Ayo”

“Ayo” adalah kata yang mengandung ajakan.

Bandingkan:

“Kamu harus membereskan meja!”

dengan:

“Ayo, kita bereskan meja bersama.”

Perbedaannya bukan berarti orang tua harus selalu melakukan pekerjaan anak.

“Ayo” dapat digunakan untuk menciptakan perasaan bahwa orang tua dan anak berada dalam satu tim.

Misalnya:

“Ayo kita lihat siapa yang bisa memasukkan mainan paling banyak ke kotak.”

Atau:

“Ayo kita selesaikan satu bagian dulu.”

Untuk anak-anak yang masih kecil, pendekatan bermain sering kali membuat tugas terasa lebih menarik.

Namun, orang tua tetap perlu menjaga keseimbangan.

Kerja sama bukan berarti orang tua selalu menjadi “penghibur” agar anak mau melakukan kewajibannya.

Tujuannya adalah membantu anak belajar bahwa pekerjaan rumah, rutinitas, dan tanggung jawab merupakan bagian dari kehidupan keluarga.

6. “Maaf”

Banyak orang tua takut meminta maaf kepada anak karena khawatir wibawanya akan berkurang.

Padahal, meminta maaf ketika memang melakukan kesalahan justru dapat menjadi contoh penting bagi anak.

Misalnya, orang tua kehilangan kesabaran dan berbicara terlalu keras.

Setelah keadaan tenang, orang tua dapat mengatakan:

“Tadi Ayah berbicara terlalu keras. Itu tidak tepat. Ayah minta maaf.”

Ini bukan berarti orang tua kehilangan otoritas.

Justru anak mendapatkan pelajaran bahwa orang dewasa pun bertanggung jawab atas perilakunya.

Anak juga belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan.

Permintaan maaf yang sehat

Permintaan maaf sebaiknya tidak disertai pembenaran yang memindahkan kesalahan kepada anak.

Kurang efektif:

“Maaf Ayah marah, tetapi kamu memang membuat Ayah kesal.”

Lebih baik:

“Ayah minta maaf karena tadi berteriak. Ayah sedang marah, tetapi Ayah seharusnya tetap berbicara dengan lebih tenang.”

Dengan cara ini, orang tua mengajarkan bahwa emosi boleh muncul, tetapi perilaku tetap memiliki tanggung jawab.

7. “Mengerti”

Kata “mengerti” berhubungan dengan empati.

Ketika anak sedang kecewa, marah, takut, atau menangis, orang tua sering tergoda untuk segera memberikan solusi.

Misalnya:

“Sudah, jangan menangis.”

“Tidak usah marah.”

“Kan cuma begitu saja.”

Padahal, anak mungkin membutuhkan pengakuan terhadap perasaannya terlebih dahulu.

Orang tua dapat mengatakan:

“Ayah mengerti kamu kecewa karena waktu bermainnya sudah selesai.”

Atau:

“Mama mengerti kamu ingin terus bermain.”

Mengakui perasaan bukan berarti menyetujui semua perilaku anak.

Ini perbedaan yang sangat penting.

Orang tua dapat mengatakan:

“Mama mengerti kamu marah karena Kakak mengambil mainanmu. Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh memukul.”

Di sini terdapat dua pesan:

Perasaan anak diakui.
Batas perilaku tetap jelas.

Pendekatan semacam ini membantu anak belajar bahwa emosi dapat diterima tanpa semua perilaku harus dibenarkan.

8. “Bersama”

Kata “bersama” menumbuhkan rasa sebagai bagian dari keluarga.

Anak pada dasarnya hidup dalam hubungan. Ia belajar banyak hal melalui interaksi dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Daripada selalu menggunakan pendekatan:

“Itu tugas kamu.”

orang tua dapat sesekali menggunakan:

“Kita lakukan bersama.”

Misalnya:

“Kita rapikan meja bersama.”

“Kita cari solusinya bersama.”

“Kita pikirkan bagaimana supaya besok tidak terlambat.”

Kata ini sangat berguna terutama ketika anak sedang menghadapi masalah.

Misalnya nilai sekolahnya menurun.

Daripada langsung berkata:

“Kamu memang tidak belajar!”

orang tua dapat mengatakan:

“Nilai ini memang belum sesuai harapan. Mari kita pikirkan bersama apa yang membuatnya sulit.”

Anak tidak dibebaskan dari tanggung jawab, tetapi juga tidak merasa menghadapi masalah sendirian.

9. “Kamu”

Kata terakhir mungkin terdengar sangat sederhana: “kamu.”

Namun, yang dimaksud bukan sekadar menyebut kata “kamu”, melainkan menggunakan bahasa yang membantu anak memahami dirinya sebagai individu yang memiliki pikiran, perasaan, pilihan, dan tanggung jawab.

Misalnya:

“Menurut kamu bagaimana?”

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Kamu ingin mencoba cara yang mana?”

“Apa yang kamu butuhkan agar bisa menyelesaikannya?”

Pertanyaan seperti ini memberi ruang bagi anak untuk berpikir.

Orang tua tidak hanya menjadi pemberi instruksi, tetapi juga menjadi pendamping anak dalam mengembangkan kemampuan mengambil keputusan.

Tetapi jangan menjadikan anak sebagai pengambil keputusan untuk semuanya

Ada perbedaan antara menghargai pendapat anak dan menyerahkan seluruh keputusan kepada anak.

Misalnya, anak boleh ditanya:

“Menurut kamu, kapan waktu yang nyaman untuk mengerjakan tugas?”

Tetapi orang tua tetap dapat menetapkan:

“Tugas sekolah harus selesai sebelum waktu bermain.”

Dengan demikian, anak mendapatkan ruang untuk berpartisipasi tanpa kehilangan struktur.

Mengapa Kata-Kata Sederhana Ini Bisa Berpengaruh?

Kesembilan kata tersebut sebenarnya mewakili beberapa prinsip penting dalam hubungan orang tua dan anak.

“Tolong” mengajarkan cara meminta.

“Terima kasih” mengajarkan penghargaan.

“Boleh” memberikan ruang pilihan.

“Bisa” menumbuhkan orientasi pada kemampuan yang berkembang.

“Ayo” mengajak bekerja sama.

“Maaf” menunjukkan tanggung jawab.

“Mengerti” menunjukkan empati.

“Bersama” membangun rasa sebagai satu tim.

“Kamu” memberi ruang bagi suara dan perspektif anak.

Jika digunakan secara konsisten, kata-kata tersebut dapat membantu menciptakan pola komunikasi yang lebih sehat.

Namun, yang paling penting bukanlah kata-katanya saja.

Nada suara, ekspresi wajah, hubungan sehari-hari, konsistensi aturan, dan perilaku orang tua juga sangat menentukan.

Orang tua tidak dapat mengatakan “tolong” dengan nada mengancam setiap saat lalu berharap anak merasakan komunikasi yang hangat.

Begitu pula mengatakan “terima kasih” sesekali tidak akan otomatis mengubah hubungan jika sebagian besar interaksi dipenuhi kritik.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang dilakukan orang tua.

Dari “Menyuruh” Menjadi “Mengajak”

Salah satu perubahan penting yang dapat dilakukan orang tua adalah mengubah sebagian komunikasi dari pola menyuruh menjadi mengajak dan membimbing.

Contohnya:

Situasi 1: Membereskan mainan

Kurang efektif:

“Bereskan semua mainanmu sekarang!”

Alternatif:

“Ayo kita mulai dari mobil-mobilannya. Setelah itu, masukkan balok ke kotaknya.”

Situasi 2: Anak tidak mau mandi

Kurang efektif:

“Cepat mandi! Jangan bikin Mama marah!”

Alternatif:

“Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi? Setelah itu kita bersiap makan malam.”

Situasi 3: Anak sedang marah

Kurang efektif:

“Jangan marah!”

Alternatif:

“Mama mengerti kamu sedang marah. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”

Situasi 4: Anak melakukan kesalahan

Kurang efektif:

“Kamu selalu begitu!”

Alternatif:

“Tadi terjadi kesalahan. Menurut kamu, apa yang bisa kita lakukan supaya berikutnya berbeda?”

Situasi 5: Anak tidak mau belajar

Kurang efektif:

“Kamu harus belajar sekarang!”

Alternatif:

“Ayo kita lihat tugasnya. Bagian mana yang paling sulit?”

Perubahan kecil dalam bahasa dapat mengubah suasana percakapan.

Kerja Sama Bukan Berarti Anak Harus Selalu Menurut

Ini merupakan salah satu hal yang sering disalahpahami dalam pengasuhan.

Anak yang sehat secara perkembangan bukanlah anak yang selalu mengatakan “iya” kepada orang tuanya.

Anak mungkin mengatakan:

“Aku tidak mau.”

“Aku tidak setuju.”

“Kenapa harus begitu?”

“Aku ingin yang lain.”

Respons seperti ini tidak selalu menunjukkan bahwa anak tidak menghormati orang tua.

Dalam banyak situasi, anak sedang belajar mengembangkan kemandirian, menguji batas, dan mengekspresikan kebutuhan.

Tugas orang tua bukan menghilangkan semua bentuk penolakan, melainkan mengajarkan anak bagaimana mengekspresikan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima.

Misalnya:

“Kamu boleh tidak setuju. Tapi kita tetap harus mencari cara berbicara tanpa berteriak.”

Dengan demikian, tujuan kerja sama bukan menciptakan anak yang pasif.

Tujuannya adalah membangun anak yang mampu mengikuti batas yang masuk akal, memahami tanggung jawab, mengomunikasikan kebutuhan, dan menyelesaikan masalah bersama orang lain.

Jangan Lupakan Batas dan Konsistensi

Komunikasi yang hangat bukan berarti tidak ada aturan.

Anak membutuhkan struktur.

Misalnya:

“Waktu bermain selesai pukul tujuh.”

Jika anak menolak, orang tua dapat mengakui perasaannya:

“Mama tahu kamu masih ingin bermain.”

Kemudian tetap mempertahankan batas:

“Tetapi waktu bermain memang sudah selesai. Besok kita bisa bermain lagi.”

Inilah kombinasi yang penting dalam pengasuhan:

hangat tetapi tegas.

Orang tua tidak perlu memilih antara menjadi lembut atau menjadi tegas.

Keduanya dapat berjalan bersama.

Ketika Anak Tetap Tidak Mau Bekerja Sama

Ada kalanya semua kalimat positif sudah digunakan, tetapi anak tetap menolak.

Itu normal.

Anak mungkin sedang lelah, lapar, mengantuk, kecewa, terlalu banyak stimulasi, atau memang sedang mengalami kesulitan mengendalikan emosinya.

Dalam keadaan seperti itu, orang tua dapat mengurangi jumlah kata.

Misalnya:

“Mama tahu kamu marah. Kita tenang dulu.”

Setelah anak lebih tenang, barulah membicarakan masalah.

Orang tua juga perlu mempertimbangkan apakah tuntutan yang diberikan sesuai dengan usia dan kemampuan anak.

Anak usia tiga tahun tentu memiliki kemampuan berbeda dengan anak usia sepuluh tahun.

Begitu pula setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.

Karena itu, tidak ada satu teknik komunikasi yang akan bekerja sama persis pada semua anak.

Prinsip Utamanya: Hubungan Sebelum Instruksi

Pada akhirnya, sembilan kata tersebut hanyalah alat.

Hal yang jauh lebih penting adalah kualitas hubungan orang tua dan anak.

Anak yang merasa didengar lebih mungkin belajar mendengarkan.

Anak yang mengalami rasa hormat lebih mudah belajar menghormati.

Anak yang melihat orang tuanya meminta maaf lebih mudah belajar meminta maaf.

Anak yang mendapatkan kesempatan mengambil keputusan secara bertahap akan memiliki kesempatan belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

Karena itu, jangan berfokus pada bagaimana membuat anak “menurut secepat mungkin.”

Lebih baik fokus pada bagaimana membangun komunikasi yang membuat anak memahami:

“Orang tuaku memiliki aturan, tetapi mereka juga mendengarkanku.”

“Aku memiliki tanggung jawab, tetapi aku tidak sendirian.”

“Aku boleh memiliki perasaan, tetapi aku juga perlu belajar mengendalikan perilakuku.”

“Aku bisa membuat kesalahan dan belajar memperbaikinya.”

Kesimpulan

Membangun kerja sama dengan anak tidak selalu membutuhkan teknik pengasuhan yang rumit.

Kadang-kadang, perubahan dapat dimulai dari kata-kata yang sangat sederhana:

Tolong — mengajarkan cara meminta dengan sopan.
Terima kasih — menghargai usaha dan kontribusi anak.
Boleh — memberikan ruang pilihan dalam batas yang jelas.
Bisa — membantu anak melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang.
Ayo — mengubah perintah menjadi ajakan bekerja sama.
Maaf — menunjukkan bahwa orang tua juga bertanggung jawab atas perilakunya.
Mengerti — membantu anak merasa emosinya dikenali.
Bersama — membangun rasa sebagai satu tim.
Kamu — memberi ruang bagi suara, pikiran, dan pilihan anak.

Namun, jangan berharap sembilan kata ini menjadi “kata ajaib” yang membuat anak selalu patuh.

Dalam psikologi pengasuhan, hubungan yang sehat dibangun melalui proses yang berulang: komunikasi, batas yang konsisten, empati, keteladanan, kesempatan belajar, dan perbaikan setelah terjadi konflik.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna.

Anak membutuhkan orang tua yang bersedia hadir, mendengarkan, memberikan batas, memperbaiki kesalahan, dan terus belajar berkomunikasi dengan lebih baik.

Dan sering kali, perubahan besar dalam hubungan keluarga memang dimulai dari perubahan kecil dalam cara kita berbicara.

Bukan sekadar apa yang kita katakan kepada anak, tetapi bagaimana anak merasa ketika mendengarnya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore