Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 19.05 WIB

7 Cara Mendapatkan Lebih Banyak Rasa Hormat dari Anak Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang mendapat rasa hormat dari anak yang sudah dewasa. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu menjadi lebih sederhana ketika sang anak tumbuh dewasa. Justru, ketika anak memasuki usia dewasa, hubungan tersebut sering memasuki tahap baru yang membutuhkan penyesuaian dari kedua belah pihak.

Dulu, orang tua terbiasa membuat keputusan, memberikan aturan, menentukan batasan, bahkan mengoreksi hampir setiap kesalahan anak. Namun ketika anak sudah dewasa, kebutuhan mereka terhadap kemandirian menjadi semakin besar.

Di tahap inilah sebagian orang tua mungkin merasa bingung.

"Mengapa anak saya sekarang jarang bercerita?"

"Mengapa nasihat saya tidak lagi didengarkan?"

"Mengapa dia seperti tidak membutuhkan saya?"

Padahal, perubahan tersebut tidak selalu berarti anak kehilangan rasa sayang atau rasa hormat kepada orang tua. Bisa jadi, anak sedang berusaha membangun identitas dan kehidupan mereka sendiri.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan orang tua dan anak memang mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Hubungan yang sebelumnya bersifat sangat hierarkis perlahan dapat berkembang menjadi hubungan yang lebih setara.

Karena itu, jika ingin mendapatkan lebih banyak rasa hormat dari anak yang sudah dewasa, pendekatannya mungkin bukan dengan menuntut mereka untuk lebih menghormati orang tua.

Sebaliknya, rasa hormat sering kali tumbuh dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat tujuh hal yang dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dan saling menghargai dengan anak yang sudah dewasa.

1. Hormati keputusan mereka meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginanmu

Salah satu perubahan terbesar ketika anak memasuki usia dewasa adalah mereka mulai memiliki hak untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Mereka memilih pekerjaan, pasangan, tempat tinggal, cara mengatur keuangan, hingga gaya hidup yang mungkin berbeda dari harapan orang tua.

Bagi sebagian orang tua, hal ini tidak mudah diterima.

Mereka mungkin berpikir, "Saya hanya ingin yang terbaik untuknya."

Niat tersebut sebenarnya bisa sangat tulus. Namun, niat baik tidak selalu berarti cara yang digunakan akan diterima dengan baik oleh anak.

Memberikan nasihat berbeda dengan mengambil alih keputusan.

Jika anak meminta pendapat, berikan pandangan berdasarkan pengalaman. Namun setelah itu, biarkan mereka mempertimbangkan dan mengambil keputusan sendiri.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu jangan ambil pekerjaan itu. Mama tahu itu tidak cocok untuk kamu."

Kamu bisa mengatakan:

"Kalau menurut Mama, pekerjaan itu punya beberapa risiko. Tapi kamu tentu yang paling tahu kondisi dan tujuanmu. Kalau mau berdiskusi, Mama siap mendengarkan."

Perbedaan kalimat tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terhadap hubungan bisa besar.

Anak dewasa cenderung lebih mudah menghargai orang tua yang mengakui bahwa mereka juga memiliki kemampuan untuk berpikir dan menentukan pilihan.

Menghormati keputusan anak bukan berarti kamu harus menyetujui semuanya.

Kamu tetap boleh berbeda pendapat.

Yang berubah adalah cara menyampaikannya.

2. Berhenti menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan perhatian

Kalimat seperti:

"Sudah besar, sekarang sudah lupa sama orang tua."

"Kalau masih sayang orang tua, harusnya kamu sering datang."

"Orang tua sudah tua, nanti kalau sudah tidak ada baru menyesal."

Mungkin terdengar seperti ungkapan perasaan biasa.

Namun jika terus digunakan untuk membuat anak merasa bersalah, komunikasi dapat menjadi semakin berat.

Dalam psikologi, rasa bersalah memang dapat memengaruhi perilaku seseorang. Tetapi jika hubungan terlalu sering dibangun melalui tekanan emosional, anak bisa mulai menghindari interaksi karena setiap percakapan terasa seperti kewajiban.

Padahal, tujuan orang tua biasanya justru ingin anak lebih dekat.

Karena itu, cobalah mengganti tuntutan dengan ungkapan kebutuhan yang jujur.

Daripada mengatakan:

"Kamu tidak pernah menelepon."

Cobalah:

"Ayah senang kalau kamu menelepon. Ayah kangen mendengar ceritamu."

Kalimat kedua tidak memaksa, tetapi tetap menyampaikan kebutuhan emosional.

Ada perbedaan antara meminta kedekatan dan menuntut kedekatan.

Hubungan yang sehat memberi ruang bagi anak untuk datang karena mereka ingin, bukan semata-mata karena takut dianggap sebagai anak yang tidak berbakti.

3. Dengarkan tanpa selalu mengubah percakapan menjadi nasihat

Ketika anak dewasa menceritakan masalah, banyak orang tua secara otomatis ingin memberikan solusi.

Itu sangat manusiawi.

Jika anak mengatakan bahwa pekerjaannya melelahkan, orang tua mungkin langsung berkata:

"Ya sudah, cari pekerjaan lain."

Jika anak menceritakan konflik dengan pasangan, orang tua mungkin langsung mengatakan:

"Sudah, putus saja."

Jika anak mengeluhkan masalah keuangan, orang tua mungkin langsung memberikan daftar solusi.

Masalahnya, terkadang anak tidak sedang meminta solusi.

Mereka hanya ingin didengarkan.

Kemampuan mendengarkan secara aktif merupakan bagian penting dalam komunikasi interpersonal. Mendengarkan berarti berusaha memahami pengalaman orang lain sebelum buru-buru memberikan penilaian atau solusi.

Kamu bisa mencoba bertanya:

"Menurut kamu, bagian yang paling berat apa?"

"Setelah kejadian itu, kamu merasa bagaimana?"

"Kamu ingin Ayah dengarkan saja atau ingin pendapat Ayah?"

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat mengubah dinamika percakapan.

Anak akan merasakan bahwa mereka memiliki ruang untuk berbicara tanpa langsung dihakimi.

Dan ketika seseorang merasa didengarkan, kemungkinan mereka untuk kembali membuka diri biasanya menjadi lebih besar.

4. Akui kesalahanmu tanpa merasa kehilangan kewibawaan

Tidak sedikit orang tua yang menganggap meminta maaf kepada anak sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kewibawaan.

Padahal, meminta maaf justru dapat menjadi contoh kedewasaan emosional.

Orang tua juga manusia.

Mereka bisa salah bicara, terlalu keras, salah memahami situasi, atau mengambil keputusan yang ternyata berdampak buruk.

Mengakui kesalahan tidak berarti kamu menjadi lebih rendah daripada anak.

Sebaliknya, kamu sedang menunjukkan bahwa hubungan yang sehat tidak membutuhkan satu pihak untuk selalu benar.

Misalnya:

"Setelah Ayah pikirkan lagi, cara Ayah bicara kemarin terlalu keras. Ayah minta maaf."

Tidak perlu menambahkan:

"Tapi kamu juga salah."

Jika permintaan maaf selalu diikuti pembenaran, anak mungkin tidak merasakan bahwa perasaannya benar-benar diakui.

Permintaan maaf yang tulus tidak harus menghapus kesalahan masa lalu. Namun, hal tersebut dapat menjadi langkah penting untuk memperbaiki hubungan.

Anak yang melihat orang tuanya mampu mengakui kesalahan juga mendapatkan contoh bahwa menjadi dewasa bukan berarti harus selalu mempertahankan ego.

5. Jangan membandingkan mereka dengan saudara atau orang lain

"Adikmu lebih perhatian."

"Lihat anak tetangga, sudah sukses."

"Temanmu saja bisa melakukan itu."

"Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?"

Kalimat perbandingan mungkin dimaksudkan sebagai motivasi.

Namun sering kali yang diterima anak justru adalah pesan bahwa dirinya tidak cukup baik.

Ketika seseorang terus dibandingkan, hubungan dapat berubah menjadi arena kompetisi.

Anak mungkin akhirnya lebih sibuk membuktikan dirinya daripada membangun kedekatan dengan orang tua.

Jika ingin mendapatkan rasa hormat, cobalah menunjukkan bahwa kamu menghargai anak sebagai individu.

Setiap anak memiliki perjalanan hidup, kemampuan, karakter, prioritas, dan keadaan yang berbeda.

Alih-alih membandingkan, berikan apresiasi yang spesifik.

Misalnya:

"Ayah melihat kamu benar-benar berusaha menyelesaikan masalah itu."

atau:

"Mama mungkin tidak memahami semua pilihanmu, tetapi Mama melihat kamu serius membangun hidupmu."

Pengakuan seperti ini tidak berarti orang tua harus menyetujui setiap tindakan anak.

Namun, anak dapat merasakan bahwa dirinya dilihat sebagai pribadi, bukan sebagai seseorang yang terus-menerus harus memenuhi standar orang lain.

6. Berikan batasan yang sehat dan hormati batasan mereka

Menariknya, rasa hormat dalam hubungan orang tua dan anak dewasa tidak hanya muncul karena kedekatan.

Batasan juga sangat penting.

Orang tua memiliki kehidupan pribadi. Anak juga memiliki kehidupan pribadi.

Ketika anak sudah dewasa, tidak semua hal dalam kehidupannya harus diketahui atau dikomentari orang tua.

Misalnya, anak mungkin tidak ingin membicarakan masalah rumah tangganya, pendapatannya, hubungan romantisnya, atau keputusan tertentu.

Selama hal tersebut tidak menyangkut sesuatu yang memang membutuhkan campur tangan langsung, orang tua dapat belajar menghormati privasi tersebut.

Pada saat yang sama, orang tua juga berhak memiliki batasan.

Kamu boleh mengatakan:

"Mama ingin membantu, tetapi Mama tidak bisa datang setiap hari."

atau:

"Ayah bersedia mendengarkan, tetapi Ayah tidak nyaman kalau kita saling berbicara dengan kasar."

Batasan yang sehat bukan tanda bahwa hubungan menjadi jauh.

Justru, batasan membantu setiap orang memahami apa yang dapat mereka harapkan dari satu sama lain.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa batas.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana batasan dapat dibicarakan tanpa ancaman, manipulasi, atau rasa takut.

7. Jadilah orang yang ingin mereka hormati, bukan orang yang terus menuntut dihormati

Pada akhirnya, rasa hormat tidak selalu bisa diperoleh melalui perintah.

Seseorang mungkin bisa memaksa orang lain untuk diam, menurut, atau mengikuti aturan.

Namun, itu belum tentu sama dengan rasa hormat.

Rasa hormat yang lebih kuat biasanya dibangun melalui konsistensi dalam perilaku.

Jika kamu ingin anak dewasa menghargaimu, tunjukkan bahwa kamu juga mampu menghargai mereka.

Jika ingin didengarkan, dengarkan mereka.

Jika ingin diperlakukan dengan lembut, cobalah berbicara dengan lembut.

Jika ingin anak menghargai batasanmu, hormati batasan mereka.

Jika ingin mereka jujur, ciptakan suasana di mana kejujuran tidak selalu dibalas dengan kemarahan.

Dan jika ingin mereka datang kepadamu ketika mengalami masalah, jadilah seseorang yang membuat mereka merasa aman untuk bercerita.

Hal ini bukan berarti orang tua harus menjadi sempurna.

Justru, anak dewasa mungkin akan lebih menghargai orang tua yang manusiawi—seseorang yang bisa berkata, "Saya tidak tahu," "Saya salah," atau "Saya perlu belajar."

Rasa hormat tidak harus terlihat seperti kepatuhan

Ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika membicarakan hubungan orang tua dan anak dewasa.

Rasa hormat tidak selalu berarti anak harus mengikuti semua perkataan orang tua.

Anak bisa menghormati orang tuanya sekaligus memiliki pendapat yang berbeda.

Mereka bisa mencintai orang tuanya tetapi memilih tinggal di kota yang berbeda.

Mereka bisa menghargai pengalaman orang tua tetapi mengambil keputusan yang berbeda.

Mereka bisa tetap dekat tanpa harus menceritakan setiap detail kehidupannya.

Kedewasaan hubungan justru terlihat ketika dua orang dapat memiliki perbedaan tanpa harus saling merendahkan.

Karena itu, mungkin ukuran hubungan yang sehat bukan seberapa sering anak menurut.

Melainkan apakah kalian masih dapat berbicara dengan jujur, menjaga batasan, menghargai perbedaan, dan tetap menunjukkan kepedulian satu sama lain.

Menjadi orang tua bagi anak dewasa berarti belajar melepaskan sebagian kendali

Ketika anak masih kecil, tugas orang tua adalah banyak mengarahkan.

Ketika anak beranjak dewasa, tugas tersebut perlahan berubah.

Orang tua mungkin tidak lagi menjadi orang yang menentukan arah hidup anak.

Mereka bisa menjadi tempat bertanya.

Tempat pulang.

Tempat berbagi pengalaman.

Atau sekadar seseorang yang selalu ada ketika dibutuhkan.

Perubahan peran tersebut memang bisa terasa menyakitkan bagi sebagian orang tua.

Namun kehilangan sebagian kendali bukan berarti kehilangan hubungan.

Justru, dengan memberikan ruang yang lebih besar, orang tua dan anak dapat menemukan bentuk kedekatan yang baru.

Bukan lagi hubungan antara orang yang selalu memerintah dan orang yang selalu mengikuti.

Melainkan hubungan antara dua orang dewasa yang saling menghargai.

Kesimpulan

Jika kamu ingin mendapatkan lebih banyak rasa hormat dari anak yang sudah dewasa, mungkin langkah pertama bukan meminta mereka untuk lebih menghormatimu.

Mulailah dengan melihat kembali bagaimana kamu memperlakukan mereka.

Hormati keputusan mereka. Hindari membuat mereka merasa bersalah. Dengarkan tanpa selalu memberikan ceramah. Berani mengakui kesalahan. Jangan membandingkan mereka. Hormati batasan pribadi. Dan yang paling penting, tunjukkan melalui perilaku bahwa kamu juga layak dipercaya, didengarkan, dan dihargai.

Hubungan orang tua dan anak tidak berhenti berkembang ketika anak berusia 18, 25, 30, atau bahkan 40 tahun.

Hubungan itu terus berubah.

Dan terkadang, semakin dewasa seorang anak, semakin penting bagi orang tua untuk mengganti kalimat "Kamu harus mendengarkan saya" menjadi "Saya siap mendengarkan kamu."

Sebab pada akhirnya, rasa hormat yang paling kuat biasanya bukan sesuatu yang dituntut.

Ia tumbuh perlahan dari rasa aman, penghargaan, kejujuran, konsistensi, dan cara dua orang memperlakukan satu sama lain.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore