Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 September 2026 | 05.33 WIB

72 Persen Penduduk Indonesia Bakal Tinggal di Kota, Ketahanan Pangan Bangsa dalam Ancaman

Penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - 72,9 persen penduduk Indonesia diperkirakan bakal tinggal di perkotaan pada 2045. Proporsi seperti itu berpotensi mengancam terhadap kelangsungan ketahanan pangan bangsa. Alasannya, terjadi arus urbanisasi yang begitu deras. Tujuh dari 10 penduduk Indonesia tinggal di kota. 

Menurut anggota Komisi IV DPR Bambang Purwanto, jika prediksi itu benar, maka nasib sawah yang selama ini menopang ketahanan pangan bangsa bakal ditinggalkan. Pemerintah harus membuat langkah-langkah agar kekhawatiran sektor pangan di tanah air di tengah meningkatnya proyeksi urbanisasi dapat diatasi.

"Pemerintah harus mengantisipasi keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional," tegas Bambang Purwanto kepada media di gedung Parlemen Jakarta pada Selasa (22/9).

Pandangan itu menyikapi proyeksi dari United Cities and Local Governments Asia Pacific. Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governments Asia Pacific Bernadia Irawati Tjandradewi mengatakan bahwa pertumbuhan kota global kini berpusat di Asia.

Di Indonesia proporsi penduduk perkotaan diproyeksi mencapai 72,9 persen pada 2045. Artinya sekitar tujuh dari 10 penduduk Indonesia diperkirakan akan tinggal di wilayah kota.

Politikus Partai Demokrat itu mengatakan bahwa urbanisasi sejak dulu telah menjadi persoalan serius di Indonesia, karena turut menciptakan kesenjangan antara desa dan kota. Generasi muda pedesaan berpindah ke kota untuk mencari kehidupan dan pekerjaan yang dianggap lebih baik. Semua itu dipicu oleh kegiatan produksi selalu tumbuh di wilayah perkotaan.

"Sehingga wajar generasi muda menyerbu kota untuk mencari pekerjaan. Sementara di desa tidak tumbuh sentra-sentra produksi, hanya produksi pangan di sawah dan ladang yang selama ini dianggap berkubang lumpur dengan mencangkul,” jelasnya.
‎
Arus urbanisasi dan kondisi lahan pertanian di desa kurang mendapat perhatian sudah mulai dirasakan. Jika kesenjangan hidup antara penduduk kota dan desa semakin tajam, maka urbanisasi akan makin besar. Kondisi itu harus diwaspadai.

Apalagi petani di Indonesia ini rata-rata berusia di atas 50 tahun. Ketika generasi muda tidak mau menggantikan petani yang sudah berusia 50 tahun ini, maka dapat dipastikan tidak ada lagi petani. Akhirnya produksi padi terhenti dan mengancam ketahanan pangan. Artinya kondisi seperti ini menjadi sinyal bahaya. 

Pemerintah perlu membuat revolusi di bidang pertanian agar anak muda saat ini mau menjadi petani modern. Hasil produksinya bisa mencapai 10 ton per hektare. Kalau terobosan itu tercapai, maka menarik minat generasi muda untuk kembali ke desa.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore