Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 04.02 WIB

Jika Kamu Ingin Menjadi Diri Sendiri di Tempat Kerja, Lakukan 6 Sikap Tidak Menyebalkan Ini

seseorang yang menjadi diri sendiri di tempat kerja / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Ada satu nasihat yang terdengar sederhana tetapi ternyata cukup sulit dilakukan di tempat kerja: “Jadilah dirimu sendiri.”

Masalahnya, menjadi diri sendiri di lingkungan profesional bukan berarti kita bebas melakukan apa saja yang kita inginkan.

Kamu mungkin orang yang sangat spontan. Kamu suka berbicara apa adanya. Kamu senang bercanda. Kamu punya energi yang besar. Kamu lebih nyaman bekerja sendirian. Atau kamu termasuk orang yang tidak terlalu suka mengikuti kebiasaan kelompok.

Semua itu merupakan bagian dari kepribadianmu.

Namun, tempat kerja adalah ruang sosial. Di sana ada orang lain yang juga memiliki kebutuhan, batasan, karakter, tekanan, dan cara bekerja yang berbeda. Karena itu, menjadi diri sendiri sepenuhnya bukan berarti mengabaikan keberadaan orang lain.

Justru, dalam psikologi sosial, kemampuan untuk tetap autentik sambil mempertimbangkan dampak perilaku kita terhadap orang lain merupakan bentuk kematangan sosial.

Kamu tidak harus berubah menjadi orang lain agar disukai.

Kamu hanya perlu memastikan bahwa keaslianmu tidak berubah menjadi alasan untuk bersikap seenaknya.

Menariknya, orang yang benar-benar nyaman dengan dirinya sendiri biasanya tidak membutuhkan banyak pembuktian. Mereka tidak harus menjadi pusat perhatian. Mereka tidak perlu selalu memenangkan percakapan. Mereka juga tidak merasa harus menjelaskan setiap keputusan pribadi kepada orang lain.

Mereka tahu siapa diri mereka, tetapi tetap memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), jika kamu ingin menjadi lebih autentik di tempat kerja tanpa dianggap menyebalkan, enam sikap berikut bisa menjadi pegangan.

1. Berhenti Terlalu Sibuk Menyenangkan Semua Orang

Salah satu penghalang terbesar untuk menjadi diri sendiri adalah kebutuhan untuk selalu mendapatkan persetujuan orang lain.

Kamu mungkin pernah mengalami hal seperti ini.

Ketika rekan kerja mengajak makan siang, sebenarnya kamu ingin makan sendiri karena sedang membutuhkan waktu tenang. Tetapi kamu ikut karena takut dianggap tidak mau bergaul.

Ketika seseorang meminta bantuan, pekerjaanmu sendiri sedang menumpuk. Namun kamu tetap mengatakan, “Iya, nanti saya bantu,” karena tidak enak mengatakan tidak.

Ketika berada dalam diskusi, kamu sebenarnya memiliki pendapat berbeda. Tetapi kamu memilih diam karena khawatir pendapatmu akan membuat orang lain tidak nyaman.

Lama-kelamaan, kamu bisa menjalani kehidupan kerja yang sebenarnya bukan milikmu.

Kamu menjadi versi dirimu yang dirancang untuk mendapatkan penerimaan.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk diterima memang merupakan bagian normal dari kehidupan sosial. Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan dan rasa memiliki. Tetapi ketika kebutuhan tersebut menjadi terlalu kuat, seseorang dapat mulai mengorbankan batas pribadi hanya untuk menghindari ketidaksetujuan.

Di sinilah pentingnya belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah.

Bukan berarti kamu harus menolak semua permintaan.

Artinya, kamu mulai membedakan antara:

“Saya tidak mau karena malas”

dan

“Saya tidak bisa karena saya memiliki batas dan prioritas.”

Keduanya berbeda.

Kamu boleh membantu orang lain. Tetapi kamu tidak harus selalu tersedia.

Kamu boleh bersikap ramah. Tetapi kamu tidak harus selalu ikut dalam semua percakapan.

Kamu boleh dekat dengan rekan kerja. Tetapi kamu tidak harus menceritakan semua hal tentang kehidupan pribadi.

Menjadi diri sendiri membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:

“Saya menghargai kalian, tetapi saya juga perlu menghargai diri saya sendiri.”

Dan menariknya, batas yang jelas sering kali justru membuat hubungan kerja menjadi lebih sehat.

Orang lain menjadi tahu apa yang bisa mereka harapkan darimu.

Kamu pun tidak perlu menyimpan rasa kesal karena terlalu sering mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”.

2. Jadilah Jujur, tetapi Jangan Menjadikan “Saya Memang Orangnya Begitu” sebagai Alasan

Ada perbedaan besar antara autentik dan tidak punya filter.

Sebagian orang mengatakan:

“Saya memang orangnya blak-blakan.”

Lalu mereka menggunakan kalimat tersebut untuk membenarkan ucapan yang menyakiti orang lain.

Ada juga yang berkata:

“Saya cuma jujur.”

Padahal yang mereka lakukan bukan sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan menyampaikannya tanpa mempertimbangkan waktu, konteks, atau perasaan orang lain.

Kejujuran memang penting di tempat kerja.

Tetapi kejujuran tidak berarti mengatakan semua hal yang muncul di kepala.

Kamu bisa jujur sekaligus memiliki pertimbangan.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Presentasimu jelek.”

Kamu bisa mengatakan:

“Menurut saya, bagian ini masih bisa diperjelas supaya pesannya lebih mudah dipahami.”

Informasinya mungkin sama-sama kritis.

Namun dampaknya berbeda.

Menjadi diri sendiri bukan berarti mempertahankan setiap kebiasaan yang kita miliki hanya karena kebiasaan tersebut sudah melekat pada kepribadian kita.

Keaslian tidak sama dengan kekakuan.

Kamu boleh tetap menjadi orang yang tegas tanpa menjadi kasar.

Kamu boleh menjadi orang yang kritis tanpa merendahkan.

Kamu boleh menjadi orang yang humoris tanpa menjadikan orang lain bahan lelucon.

Kamu boleh menjadi orang yang pendiam tanpa bersikap dingin.

Dengan kata lain, pertahankan nilai dan kepribadianmu, tetapi tetap evaluasi perilakumu.

Karena ada satu pertanyaan sederhana yang bisa membantu:

“Apakah saya sedang menjadi diri sendiri, atau sedang menggunakan kepribadian saya sebagai alasan untuk tidak bertanggung jawab atas dampak perilaku saya?”

Pertanyaan tersebut cukup penting.

Sebab seseorang yang benar-benar mengenal dirinya biasanya juga bersedia mengoreksi dirinya.

3. Hormati Batas Pribadi Orang Lain Seperti Kamu Ingin Batasmu Dihormati

Kamu mungkin ingin bebas menjadi dirimu sendiri.

Tetapi orang lain juga menginginkan hal yang sama.

Rekan kerja yang pendiam mungkin tidak ingin terus diajak mengobrol.

Orang yang sangat fokus bekerja mungkin tidak nyaman jika sering diganggu.

Seseorang yang tidak suka bercanda tentang kehidupan pribadi mungkin merasa tidak nyaman ketika hal tersebut menjadi bahan candaan.

Dan seseorang yang memilih tidak menceritakan masalah pribadinya mungkin memang ingin menjaga kehidupan personalnya tetap terpisah dari pekerjaan.

Tidak semua orang memiliki batas yang sama.

Inilah mengapa kemampuan membaca situasi sosial sangat penting.

Misalnya, kamu adalah orang yang sangat ramah dan senang berbicara.

Itu bukan masalah.

Tetapi ketika seseorang memberikan jawaban pendek, kembali fokus pada pekerjaannya, atau terlihat sedang terburu-buru, mungkin itu merupakan sinyal bahwa mereka membutuhkan ruang.

Tidak perlu tersinggung.

Tidak perlu berpikir:

“Dia tidak suka saya.”

Bisa saja dia hanya sedang membutuhkan konsentrasi.

Begitu juga sebaliknya.

Kalau seseorang tidak ingin ikut bergosip, jangan memaksanya.

Kalau seseorang tidak ingin ikut makan bersama, jangan membuatnya merasa bersalah.

Kalau seseorang tidak ingin membicarakan kehidupan pribadinya, hormati keputusan tersebut.

Menjadi diri sendiri tidak membutuhkan orang lain untuk berperilaku seperti dirimu.

Kamu bisa tetap ekspresif sementara rekanmu pendiam.

Kamu bisa sangat sosial sementara rekanmu lebih introvert.

Kamu bisa suka bercanda sementara orang lain lebih serius.

Perbedaan seperti itu bukan masalah yang harus diperbaiki.

Justru kemampuan untuk hidup berdampingan dengan perbedaan adalah salah satu tanda kematangan dalam hubungan sosial.

4. Jangan Memaksa Dirimu Menjadi Pusat Perhatian

Ada orang yang merasa bahwa agar terlihat percaya diri, mereka harus selalu berbicara.

Dalam rapat, mereka selalu ingin memberikan komentar.

Dalam percakapan, mereka sering mengembalikan topik kepada dirinya sendiri.

Ketika orang lain bercerita, mereka buru-buru menceritakan pengalaman yang lebih besar.

Ketika seseorang mendapatkan pujian, mereka merasa perlu menunjukkan bahwa mereka juga pernah melakukan sesuatu yang serupa.

Padahal, percaya diri tidak selalu terlihat dari seberapa banyak seseorang berbicara.

Kadang-kadang justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tidak membutuhkan perhatian terus-menerus.

Kamu tidak harus membuktikan bahwa kamu pintar setiap kali rapat.

Kamu tidak harus menunjukkan bahwa kamu tahu semua hal.

Kamu tidak harus memiliki komentar untuk setiap topik.

Dan kamu tidak harus selalu menjadi orang yang paling lucu di ruangan.

Sesekali, biarkan orang lain berbicara.

Dengarkan tanpa memikirkan apa yang akan kamu katakan berikutnya.

Tanyakan pertanyaan.

Berikan ruang.

Psikologi komunikasi banyak menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif dalam membangun hubungan yang baik. Orang biasanya merasa lebih dihargai ketika mereka merasa didengarkan, bukan sekadar diberi kesempatan untuk menunggu giliran berbicara.

Ini bukan berarti kamu harus berubah menjadi pendiam.

Tetaplah menjadi orang yang ekspresif jika memang itu karaktermu.

Hanya saja, pastikan ekspresivitasmu tidak berubah menjadi kebutuhan untuk mendominasi.

Kamu tidak kehilangan identitas hanya karena memberikan ruang kepada orang lain.

Justru kamu menunjukkan bahwa dirimu cukup aman sehingga tidak selalu membutuhkan sorotan.

5. Belajar Menerima Kritik Tanpa Langsung Menganggapnya sebagai Serangan Pribadi

Ini mungkin salah satu sikap paling sulit.

Ketika seseorang mengkritik pekerjaanmu, sangat mudah bagi otak untuk menerjemahkannya sebagai kritik terhadap dirimu.

“Dia tidak menghargai saya.”

“Dia menganggap saya tidak mampu.”

“Dia memang tidak suka saya.”

Padahal kritik terhadap pekerjaan tidak selalu berarti penolakan terhadap pribadi.

Ada perbedaan antara:

“Pekerjaan ini perlu diperbaiki.”

dan

“Kamu adalah orang yang buruk.”

Sayangnya, kita kadang mencampurkan keduanya.

Padahal, menjadi autentik juga berarti memiliki kemampuan untuk mengatakan:

“Mungkin ada bagian dari diri saya yang perlu diperbaiki.”

Kamu tidak harus mempertahankan semua kebiasaan hanya karena kebiasaan itu terasa nyaman.

Jika beberapa orang secara konsisten memberikan masukan yang sama, mungkin ada sesuatu yang layak diperiksa.

Misalnya, kamu merasa dirimu hanya “tegas”.

Tetapi beberapa rekan mengatakan kamu sering terdengar merendahkan.

Kamu tidak perlu langsung percaya bahwa mereka benar.

Namun kamu juga tidak perlu langsung menolak semuanya.

Coba tanyakan:

“Bagian mana dari perilaku saya yang membuat mereka merasakan hal tersebut?”

Itulah bentuk refleksi diri.

Menjadi diri sendiri bukan berarti berkata:

“Saya tidak akan berubah demi siapa pun.”

Ada kalanya perubahan bukan berarti kehilangan diri sendiri.

Perubahan justru merupakan cara untuk menjadi versi diri yang lebih matang.

Kamu masih bisa menjadi orang yang tegas.

Tetapi kamu bisa belajar menyampaikan ketegasan dengan lebih baik.

Kamu masih bisa menjadi orang yang kritis.

Tetapi kamu bisa belajar memberikan kritik tanpa mempermalukan.

Kamu masih bisa menjadi orang yang spontan.

Tetapi kamu bisa belajar mengenali kapan spontanitasmu tidak sesuai situasi.

Identitasmu tetap ada. Yang berubah adalah cara kamu mengekspresikannya.

6. Jangan Membawa Semua Hal ke Ranah Pribadi

Salah satu kemampuan yang sangat berguna di tempat kerja adalah kemampuan untuk menjaga jarak emosional yang sehat.

Tidak semua pesan singkat berarti seseorang sedang marah.

Tidak semua rapat berarti seseorang sedang menyalahkanmu.

Tidak semua perbedaan pendapat berarti hubungan kalian memburuk.

Dan tidak semua orang yang tidak mengajakmu makan siang sedang menjauhimu.

Tempat kerja penuh dengan berbagai faktor yang tidak selalu berkaitan dengan kita.

Seseorang mungkin sedang stres.

Seseorang mungkin memiliki deadline.

Seseorang mungkin sedang menghadapi masalah di rumah.

Seseorang mungkin sekadar sedang lelah.

Namun ketika kita terlalu berpusat pada diri sendiri, kita mudah menginterpretasikan perilaku orang lain sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kita.

Karena itu, ketika sesuatu terasa personal, berhentilah sebentar dan tanyakan:

“Apakah saya memiliki bukti bahwa ini memang tentang saya?”

Jika tidak, jangan buru-buru membuat kesimpulan.

Kemampuan ini bukan berarti menjadi cuek.

Justru kamu menjadi lebih stabil secara emosional.

Kamu tidak mudah terseret oleh perubahan suasana hati orang lain.

Kamu tidak menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan mengapa seseorang membalas pesanmu dengan singkat.

Kamu tidak langsung menganggap dirimu gagal hanya karena menerima satu kritik.

Dan kamu tidak membutuhkan validasi dari setiap orang untuk merasa baik tentang dirimu sendiri.

Ada kebebasan tertentu ketika kamu menyadari bahwa:

tidak semua hal membutuhkan reaksi emosionalmu.

Menjadi Diri Sendiri Bukan Berarti Melakukan Apa Pun yang Kamu Mau

Pada akhirnya, menjadi diri sendiri di tempat kerja bukan tentang membuang semua aturan sosial.

Kamu tetap perlu profesional.

Kamu tetap perlu menghargai waktu orang lain.

Kamu tetap perlu bertanggung jawab terhadap pekerjaanmu.

Kamu tetap perlu menjaga komunikasi.

Kamu tetap perlu menghormati batas orang lain.

Tetapi di dalam batas tersebut, kamu tidak perlu memainkan karakter yang bukan dirimu.

Kalau kamu pendiam, tidak perlu memaksakan diri menjadi orang paling ramai.

Kalau kamu suka berbicara, tidak perlu merasa bersalah karena memiliki energi sosial yang tinggi.

Kalau kamu tidak suka bergosip, kamu tidak perlu ikut hanya agar diterima.

Kalau kamu memiliki pendapat berbeda, kamu boleh menyampaikannya dengan hormat.

Kalau kamu membutuhkan waktu sendiri, kamu boleh mengambilnya.

Dan kalau kamu melakukan kesalahan, kamu boleh mengakuinya tanpa merasa bahwa harga dirimu runtuh.

Itulah bentuk autentisitas yang lebih sehat.

Bukan:

“Saya akan menjadi diri saya dan kalian harus menerimanya.”

Melainkan:

“Saya akan menjadi diri saya, dan saya juga akan menghormati kenyataan bahwa kalian adalah diri kalian sendiri.”

Perbedaannya terlihat kecil.

Tetapi dampaknya besar.

Orang yang Nyaman dengan Dirinya Tidak Perlu Membuktikan Terlalu Banyak

Mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat.

Sering kali, semakin seseorang tidak nyaman dengan dirinya sendiri, semakin besar dorongannya untuk mendapatkan validasi dari lingkungan.

Ia ingin selalu terlihat pintar.

Ingin selalu dianggap benar.

Ingin selalu disukai.

Ingin selalu dilibatkan.

Ingin selalu dipuji.

Ingin selalu menang dalam percakapan.

Sebaliknya, ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan dirinya sendiri, kebutuhan tersebut perlahan dapat berkurang.

Ia tidak keberatan jika orang lain tidak setuju.

Ia tidak panik ketika tidak menjadi pusat perhatian.

Ia bisa menerima kritik tanpa langsung runtuh.

Ia bisa berkata tidak tanpa merasa dirinya orang jahat.

Ia bisa meminta maaf tanpa merasa harga dirinya hilang.

Dan yang paling penting, ia tidak perlu mengubah kepribadiannya hanya demi mendapatkan penerimaan dari semua orang.

Itulah mungkin bentuk kebebasan yang sebenarnya di tempat kerja.

Bukan bebas melakukan apa saja.

Tetapi bebas menjadi dirimu sendiri tanpa terus-menerus hidup berdasarkan penilaian orang lain.

Jadi, kalau kamu ingin menjadi dirimu sendiri sepenuhnya di tempat kerja, jangan mulai dengan bertanya:

“Bagaimana caranya supaya semua orang menerima saya?”

Cobalah bertanya:

“Bagaimana saya bisa menjadi diri saya sendiri sambil tetap membuat keberadaan saya terasa aman dan nyaman bagi orang lain?”

Kemudian mulailah dari enam hal sederhana:

Jangan terlalu sibuk menyenangkan semua orang.

Jujurlah tanpa menjadikan kejujuran sebagai alasan untuk menyakiti.

Hormati batas pribadi orang lain.

Tidak perlu selalu menjadi pusat perhatian.

Terima kritik sebagai informasi, bukan otomatis sebagai serangan.

Dan jangan membawa setiap hal ke ranah pribadi.

Karena pada akhirnya, menjadi diri sendiri bukan tentang menjadi orang yang tidak pernah berubah.

Justru sebaliknya.

Kamu cukup aman untuk mempertahankan siapa dirimu, cukup dewasa untuk memperbaiki perilakumu, dan cukup bijaksana untuk memahami bahwa orang lain juga memiliki hak yang sama untuk menjadi dirinya sendiri.

Kamu tidak perlu menjadi orang lain agar dihargai.

Tetapi kamu juga tidak perlu membuat orang lain merasa kecil hanya untuk membuktikan bahwa kamu sedang menjadi dirimu sendiri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore