seseorang yang ingin memulai hubungan kembali dengan mantan / foto: Magnific/lookstudio
Terlebih lagi, ketika rasa kesepian datang, kenangan tentang mantan bisa terasa jauh lebih kuat. Hal-hal yang dahulu dianggap biasa tiba-tiba terlihat begitu berharga. Foto lama, tempat tertentu, lagu, bahkan percakapan singkat dapat memunculkan kembali perasaan yang pernah ada.
Namun, keinginan untuk kembali bersama mantan tidak selalu berarti hubungan tersebut perlu dimulai lagi.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), dalam psikologi, keputusan untuk kembali menjalin hubungan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada rasa rindu atau nostalgia. Ada beberapa hal yang perlu direnungkan, terutama mengenai alasan hubungan berakhir, perubahan yang terjadi setelah perpisahan, serta apakah hubungan baru nantinya benar-benar memiliki dasar yang berbeda.
Sebelum menghubungi mantan, mengajak bertemu, atau mencoba memperbaiki hubungan, cobalah menjawab enam pertanyaan berikut dengan jujur.
1. Apakah aku benar-benar merindukan dia, atau hanya merindukan perasaan ketika bersamanya?
Ini mungkin pertanyaan paling penting untuk dijawab terlebih dahulu.
Kadang-kadang yang kita rindukan bukan orangnya secara utuh, melainkan pengalaman emosional yang pernah kita dapatkan ketika berada di dalam hubungan tersebut.
Kita mungkin merindukan seseorang yang selalu menanyakan kabar, teman untuk berbagi cerita, rasa memiliki, rutinitas bersama, atau perasaan bahwa ada seseorang yang memahami kita.
Masalahnya, perasaan rindu dapat membuat ingatan terhadap masa lalu menjadi sangat selektif.
Kita cenderung lebih mudah mengingat makan malam yang menyenangkan, percakapan sampai larut malam, perjalanan bersama, atau momen ketika pasangan menunjukkan perhatian. Sementara itu, konflik, kekecewaan, pertengkaran, ketidakcocokan, dan alasan mengapa hubungan berakhir bisa terasa semakin jauh.
Inilah mengapa nostalgia perlu dibedakan dari kecocokan.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang aku rindukan?
Apakah aku merindukan kepribadiannya, atau hanya kehadirannya?
Jika dia tidak lagi memberikan perhatian seperti dulu, apakah aku masih ingin bersamanya?
Jika aku sedang tidak kesepian, apakah aku tetap ingin kembali?
Apakah aku merindukan dirinya yang sekarang atau versi dirinya dari masa lalu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu memisahkan kebutuhan emosional saat ini dari keinginan untuk kembali kepada seseorang.
Misalnya, seseorang mungkin berkata, "Aku sangat merindukan mantan."
Namun setelah direnungkan lebih jauh, ternyata yang dirindukan adalah seseorang yang bisa diajak berbicara setiap malam.
Kesadaran seperti ini penting karena solusi untuk kesepian tidak selalu berupa kembali kepada mantan.
Terkadang yang dibutuhkan adalah membangun kembali kehidupan sosial, memperluas hubungan dengan teman dan keluarga, menemukan rutinitas baru, atau belajar merasa nyaman dengan diri sendiri.
2. Mengapa hubungan kami dulu berakhir?
Jangan hanya mengingat bagaimana hubungan dimulai. Ingat juga mengapa hubungan tersebut berakhir.
Ini adalah pertanyaan yang sering kali sulit dijawab karena membutuhkan kejujuran.
Ketika rasa rindu muncul, seseorang dapat dengan mudah berkata:
"Seandainya waktu itu kami lebih sabar."
"Seandainya aku tidak terlalu emosional."
"Seandainya dia berubah sedikit."
Namun sebelum memikirkan kemungkinan kembali, cobalah melihat penyebab perpisahan secara objektif.
Apakah hubungan berakhir karena masalah yang sebenarnya dapat diperbaiki?
Ataukah hubungan berakhir karena terdapat pola yang terus berulang?
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Misalnya, sebuah hubungan mungkin berakhir karena komunikasi yang buruk. Jika kedua orang kemudian menyadari masalah tersebut dan benar-benar belajar berkomunikasi dengan lebih sehat, situasinya mungkin berbeda.
Tetapi jika hubungan berakhir karena kebohongan berulang, manipulasi, ketidakpercayaan, atau konflik yang tidak pernah terselesaikan, sekadar memiliki rasa cinta lagi tidak otomatis menghilangkan masalah tersebut.
Karena itu, cobalah membuat dua daftar sederhana.
Alasan kami putus:
Apa konflik terbesar kami?
Masalah apa yang paling sering muncul?
Apa yang membuatku merasa tidak bahagia?
Apa yang membuat dia merasa tidak bahagia?
Apakah masalah tersebut pernah benar-benar diselesaikan?
Kemudian tanyakan:
Apakah masalah tersebut masih ada sekarang?
Jika jawabannya iya, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting: apa yang benar-benar berubah?
Bukan sekadar "kami masih saling mencintai".
Perubahan yang relevan biasanya terlihat dari perilaku, cara berkomunikasi, kemampuan menetapkan batasan, serta kesediaan kedua pihak mengambil tanggung jawab terhadap bagian masing-masing.
3. Apa yang benar-benar berubah sejak kami berpisah?
Waktu yang berlalu tidak selalu berarti seseorang berubah.
Kadang-kadang kita menganggap seseorang sudah berubah hanya karena sudah beberapa bulan atau beberapa tahun tidak bertemu.
Padahal, perubahan psikologis yang bermakna lebih berkaitan dengan pola perilaku daripada berlalunya waktu.
Misalnya, dahulu seseorang sulit berkomunikasi ketika marah. Setelah berpisah, dia mengatakan, "Sekarang aku sudah lebih dewasa."
Itu adalah sebuah pernyataan.
Tetapi perubahan yang lebih dapat diamati mungkin terlihat ketika dia menghadapi konflik dan mampu mengungkapkan emosinya tanpa menghindar, menyerang, atau menyalahkan pasangan.
Hal yang sama berlaku untuk diri kita sendiri.
Jangan hanya bertanya:
"Apakah dia sudah berubah?"
Tanyakan juga:
"Apakah aku sudah berubah?"
Karena kembali bersama bukan hanya tentang apakah mantan menjadi orang yang berbeda. Ini juga tentang apakah kita akan membawa pola lama ke dalam hubungan yang baru.
Cobalah menjawab:
Apa yang kupelajari dari hubungan tersebut?
Kesalahan apa yang dulu kulakukan?
Apakah aku memahami kontribusiku terhadap masalah hubungan?
Apa yang sekarang bisa kulakukan dengan lebih baik?
Apakah perubahan tersebut sudah terlihat dalam perilakuku, bukan hanya dalam pikiranku?
Jika tidak ada perubahan yang berarti pada kedua pihak, ada kemungkinan hubungan yang dimulai kembali hanya mengulang pola lama dengan cerita yang berbeda.
4. Apakah aku ingin kembali karena cinta, atau karena takut kehilangan?
Rasa takut kehilangan dapat terasa sangat mirip dengan cinta.
Ketika seseorang yang dulu selalu ada tiba-tiba tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan kita, otak dan emosi dapat bereaksi terhadap kehilangan tersebut dengan sangat kuat.
Kita mungkin mulai berpikir:
"Bagaimana kalau dia menemukan orang lain?"
"Bagaimana kalau aku tidak pernah menemukan orang seperti dia lagi?"
"Bagaimana kalau sebenarnya dia adalah satu-satunya orang yang cocok denganku?"
Pikiran seperti ini dapat membuat keinginan untuk kembali menjadi semakin mendesak.
Namun, keputusan besar dalam hubungan sebaiknya tidak hanya didorong oleh ketakutan.
Coba bayangkan sebuah situasi.
Mantanmu mengatakan bahwa dia sudah bahagia dengan kehidupannya dan tidak ingin kembali menjalin hubungan.
Apakah kamu masih ingin memperbaiki diri dan menjalani hidupmu?
Atau keinginan untuk kembali menjadi semakin kuat terutama karena kamu tidak tahan membayangkan dia bersama orang lain?
Jawabanmu dapat memberikan petunjuk mengenai sumber emosimu.
Cinta biasanya tidak hanya berbicara tentang "aku tidak ingin kehilangan dia."
Cinta juga melibatkan kemampuan untuk melihat seseorang sebagai individu yang memiliki pilihan, batasan, kebutuhan, dan kehidupannya sendiri.
Karena itu, penting untuk bertanya:
"Jika aku tidak takut kehilangan dia, apakah aku masih memilih hubungan ini?"
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membedakan keinginan untuk membangun hubungan dari dorongan untuk menghilangkan rasa kehilangan.
5. Apakah aku siap menerima bahwa hubungan yang baru tidak akan sama seperti dulu?
Jika kamu dan mantan memutuskan untuk mencoba kembali, sebenarnya kalian tidak sedang melanjutkan hubungan lama secara persis.
Kalian sedang mencoba membangun hubungan baru dengan seseorang yang sudah mengalami berbagai perubahan.
Itulah sebabnya keinginan untuk "kembali seperti dulu" bisa menjadi jebakan.
Masa lalu tidak dapat diulang.
Kamu bukan orang yang sama seperti ketika hubungan tersebut dimulai. Mantanmu juga mungkin sudah mengalami perubahan. Lingkungan, prioritas, pengalaman, pekerjaan, pertemanan, dan cara pandang kalian mungkin sudah berbeda.
Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat bukan:
"Bisakah kami kembali seperti dulu?"
Melainkan:
"Bisakah kami membangun hubungan yang lebih sehat berdasarkan siapa kami sekarang?"
Ini membutuhkan penerimaan bahwa beberapa hal mungkin tidak kembali seperti dahulu.
Mungkin komunikasi tidak lagi sespontan dulu.
Mungkin ada luka yang membutuhkan waktu untuk pulih.
Mungkin kepercayaan perlu dibangun kembali secara perlahan.
Mungkin kalian perlu menetapkan batasan yang sebelumnya tidak pernah ada.
Dan mungkin hubungan baru tersebut membutuhkan tempo yang lebih lambat daripada hubungan pertama.
Memulai kembali bukan berarti berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi apa-apa.
Justru sebaliknya, hubungan yang dimulai kembali perlu mampu mengakui apa yang pernah terjadi dan belajar darinya.
6. Jika kami kembali bersama, apa yang akan kami lakukan secara berbeda?
Ini adalah pertanyaan yang sangat praktis.
Banyak pasangan kembali bersama karena masih memiliki perasaan satu sama lain. Namun, perasaan yang kuat tidak selalu disertai strategi untuk menghadapi masalah.
Akibatnya, setelah fase awal rekonsiliasi yang terasa menyenangkan berlalu, masalah lama dapat muncul kembali.
Karena itu, jangan berhenti pada pertanyaan:
"Apakah kami masih saling mencintai?"
Tambahkan:
"Apa yang akan kami lakukan secara berbeda kali ini?"
Jawabannya harus cukup konkret.
Misalnya:
"Dulu kami selalu menghindari pembicaraan ketika ada masalah. Sekarang kami sepakat membicarakannya setelah emosi mereda."
Atau:
"Dulu kami tidak pernah membicarakan batasan dengan teman lawan jenis. Sekarang kami akan mendiskusikannya secara terbuka."
Atau:
"Dulu setiap konflik berakhir dengan saling menyalahkan. Sekarang kami akan berusaha membicarakan perilaku dan kebutuhan masing-masing tanpa menyerang karakter."
Semakin konkret perubahan yang direncanakan, semakin mudah untuk melihat apakah rekonsiliasi memiliki dasar yang realistis.
Sebaliknya, jawaban seperti "kali ini pasti berbeda" masih terlalu umum.
Perubahan hubungan membutuhkan perubahan perilaku.
Dan perubahan perilaku membutuhkan komitmen yang dilakukan berulang kali.
Jangan Jadikan Rasa Rindu sebagai Satu-Satunya Alasan untuk Kembali
Rindu adalah emosi yang nyata.
Namun, sesuatu yang nyata belum tentu menjadi alasan yang cukup untuk mengambil keputusan.
Kamu bisa merindukan seseorang dan tetap menyadari bahwa hubungan tersebut tidak cocok untuk diulang.
Kamu juga bisa mencintai seseorang dan menyadari bahwa pola hubungan kalian sebelumnya tidak sehat.
Sebaliknya, ada pula pasangan yang setelah berpisah mampu memahami kesalahan masing-masing, melakukan perubahan, dan kemudian membangun kembali hubungan dengan cara yang lebih matang.
Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah masih ada cinta.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ada kesadaran, perubahan, komunikasi, dan dasar yang realistis untuk membangun hubungan kembali.
Coba Lakukan Satu Latihan Sebelum Menghubungi Mantan
Jika kamu masih merasa bingung, ambil selembar kertas dan bagi menjadi tiga bagian.
Bagian pertama: "Yang aku rindukan"
Tuliskan semua hal yang kamu rindukan.
Jangan menyensor jawabanmu.
Bisa berupa perhatian, sentuhan, percakapan, kebiasaan, tempat yang pernah dikunjungi, atau bahkan sekadar memiliki seseorang untuk pulang.
Bagian kedua: "Yang membuat hubungan kami berakhir"
Tuliskan bagian yang tidak menyenangkan secara jujur.
Termasuk konflik, perilaku yang menyakitkan, ketidakcocokan, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Bagian ketiga: "Yang akan berbeda jika kami kembali"
Ini bagian yang paling penting.
Tuliskan perubahan yang spesifik dan realistis.
Bukan:
"Kami akan lebih bahagia."
Tetapi:
"Kami akan membicarakan masalah tanpa menghilang."
Bukan:
"Dia akan lebih perhatian."
Tetapi:
"Kami akan menyepakati bentuk komunikasi yang membuat kami berdua nyaman."
Bukan:
"Aku akan menjadi pasangan yang lebih baik."
Tetapi:
"Aku akan belajar menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menggunakan kata-kata yang merendahkan."
Latihan ini dapat membantu mengubah keputusan yang semula didorong oleh emosi menjadi refleksi yang lebih terstruktur.
Pada Akhirnya, Pertanyaan Terpenting Bukan "Apakah Aku Masih Cinta?"
Ketika seseorang mempertimbangkan untuk kembali kepada mantan, pertanyaan "Apakah aku masih mencintainya?" memang penting.
Tetapi itu bukan satu-satunya pertanyaan.
Cinta tidak secara otomatis menyelesaikan masalah komunikasi. Cinta juga tidak menghapus ketidakcocokan, luka, atau pola hubungan yang tidak sehat.
Karena itu, sebelum kembali, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apakah aku merindukan orangnya atau perasaanku ketika bersamanya?
Mengapa hubungan kami benar-benar berakhir?
Apa yang benar-benar berubah sejak kami berpisah?
Apakah aku ingin kembali karena cinta atau karena takut kehilangan?
Apakah aku siap membangun hubungan baru, bukan sekadar mengulang masa lalu?
Dan yang paling penting, apa yang akan kami lakukan secara berbeda kali ini?
Tidak semua hubungan yang berakhir harus dimulai kembali.
Tetapi tidak semua perpisahan berarti dua orang tidak boleh bertemu lagi.
Yang penting adalah memahami alasan di balik keinginan untuk kembali.
Jika jawabannya hanya karena kesepian, nostalgia, rasa bersalah, atau takut melihat mantan melanjutkan hidupnya, mungkin ada baiknya memberi diri sendiri lebih banyak waktu.
Namun, jika setelah refleksi yang jujur kamu menemukan bahwa masih ada kecocokan, kedua pihak bersedia berubah, masalah lama telah dipahami, dan ada cara konkret untuk membangun hubungan yang berbeda, maka setidaknya keputusan tersebut tidak hanya berdiri di atas rasa rindu.
Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang menemukan kembali seseorang dari masa lalu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022