Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 September 2026 | 02.38 WIB

Jika Kamu Ingin Membuka Percakapan yang Lebih Mendalam dan Penuh Pertimbangan, Lakukan 6 Cara Ini

seseorang yang membuka percakapan lebih mendalam / foto: Magnific/bearfotos

 

JawaPos.com - Tidak semua percakapan diciptakan untuk menjadi mendalam.

Ada percakapan yang memang cukup berhenti pada, “Sudah makan?”, “Hari ini sibuk?”, atau “Bagaimana pekerjaanmu?” Percakapan seperti itu tidak salah. Justru, dalam banyak hubungan, percakapan ringan adalah pintu masuk yang membuat dua orang merasa nyaman.

Namun, ada kalanya kita ingin berbicara lebih jauh.

Kita ingin memahami apa yang sebenarnya dipikirkan seseorang. Kita ingin mengetahui alasan di balik sebuah keputusan, perasaan yang selama ini disimpan, atau pandangan hidup yang jarang dibicarakan. Kita ingin percakapan yang tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga membuat kedua orang pulang dengan pemahaman baru.

Masalahnya, percakapan mendalam tidak bisa dipaksakan.

Ketika seseorang merasa sedang diinterogasi, mereka cenderung memberikan jawaban singkat atau justru menutup diri. Sebaliknya, ketika mereka merasa aman, dihargai, dan tidak sedang dihakimi, mereka biasanya lebih bersedia membicarakan hal-hal yang lebih personal.

Dalam psikologi komunikasi, kualitas percakapan sangat dipengaruhi oleh rasa aman, keterbukaan, perhatian, dan cara seseorang memberikan respons.

Jadi, jika kamu ingin membuka percakapan yang lebih mendalam dan penuh pertimbangan, bukan berarti kamu harus memiliki pertanyaan yang luar biasa.

Sering kali, yang lebih penting adalah bagaimana kamu bertanya, bagaimana kamu mendengarkan, dan bagaimana kamu merespons jawaban orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat enam cara yang bisa kamu coba.

1. Mulailah dengan pertanyaan yang tidak hanya bisa dijawab “ya” atau “tidak”

Salah satu alasan percakapan cepat mati adalah karena kita mengajukan pertanyaan yang terlalu tertutup.

Misalnya:

“Kamu suka pekerjaanmu?”

Orang tersebut bisa menjawab:

“Iya.”

Selesai.

Kita kemudian bertanya:

“Kamu capek?”

Jawabannya:

“Lumayan.”

Percakapan pun semakin pendek.

Padahal, pertanyaan yang sedikit lebih terbuka dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.

Daripada bertanya:

“Kamu suka pekerjaanmu?”

Cobalah:

“Bagian dari pekerjaanmu yang paling kamu nikmati apa?”

Atau:

“Apa yang membuat kamu tetap bertahan di pekerjaan itu sampai sekarang?”

Perbedaannya tampak sederhana, tetapi dampaknya terhadap percakapan cukup besar.

Pertanyaan tertutup biasanya meminta informasi.

Pertanyaan terbuka memberi kesempatan kepada seseorang untuk bercerita.

Dan cerita memiliki kemampuan untuk membawa percakapan ke lapisan yang lebih dalam.

Jangan hanya bertanya “apa”, tanyakan juga “mengapa” dan “bagaimana”

Pertanyaan apa membantu kita mendapatkan fakta.

Pertanyaan bagaimana membantu kita memahami pengalaman.

Sementara pertanyaan mengapa dapat membantu kita memahami alasan atau makna di balik pengalaman tersebut.

Misalnya seseorang mengatakan:

“Aku sebenarnya ingin pindah kota.”

Daripada langsung menjawab:

“Oh, ke kota mana?”

Kamu bisa mengatakan:

“Apa yang membuat kamu mulai kepikiran untuk pindah?”

Jika dia menjawab:

“Aku merasa hidupku di sini terlalu monoton.”

Kamu dapat melanjutkan:

“Menurutmu, apa yang paling ingin kamu ubah dari kehidupanmu sekarang?”

Perhatikan bagaimana percakapan perlahan bergerak.

Dari pindah kota, menjadi kejenuhan, lalu menjadi keinginan untuk mengubah kehidupan.

Percakapan mendalam sering kali terjadi seperti itu.

Bukan karena kita langsung menanyakan pertanyaan yang sangat pribadi, melainkan karena kita memberikan ruang bagi sebuah jawaban untuk berkembang.

2. Dengarkan untuk memahami, bukan hanya untuk menunggu giliran berbicara

Banyak orang merasa dirinya pendengar yang baik karena mereka tidak memotong pembicaraan.

Padahal, mendengarkan secara mendalam bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara.

Mendengarkan berarti benar-benar mencoba memahami apa yang sedang disampaikan.

Ada perbedaan besar antara mendengar kata-kata seseorang dan memahami makna di balik kata-kata tersebut.

Misalnya seseorang berkata:

“Aku akhir-akhir ini sibuk banget.”

Respons yang umum:

“Aku juga. Minggu ini pekerjaanku bahkan lebih banyak.”

Secara sosial, respons tersebut terdengar normal.

Namun, percakapan langsung bergeser kembali kepada diri kita.

Coba respons dengan:

“Kedengarannya kamu sedang benar-benar kewalahan. Bagian mana yang paling bikin capek?”

Respons seperti ini menunjukkan bahwa kamu tidak terburu-buru membawa pembicaraan kembali kepada dirimu sendiri.

Kamu memberikan perhatian kepada pengalaman orang tersebut.

Perhatikan kata-kata yang mereka tekankan

Ketika seseorang bercerita, biasanya ada bagian tertentu yang mereka ulang, tekankan, atau sampaikan dengan emosi lebih kuat.

Misalnya:

“Aku sebenarnya nggak masalah dengan pekerjaannya. Yang bikin aku berat itu orang-orangnya.”

Kalimat tersebut memberikan petunjuk.

Masalahnya mungkin bukan pekerjaan.

Masalah sebenarnya mungkin hubungan sosial, penghargaan, konflik, atau perasaan tidak dihargai.

Daripada mengganti topik, kamu bisa menggali bagian itu:

“Kamu merasa tidak dihargai oleh mereka?”

Pertanyaan seperti ini dapat membuka ruang untuk percakapan yang jauh lebih jujur.

Namun, tetap berhati-hati.

Mendengarkan bukan berarti mencari-cari masalah tersembunyi dari setiap kalimat seseorang.

Tujuannya bukan menganalisis mereka.

Tujuannya adalah memahami mereka.

3. Jangan terburu-buru memberikan nasihat

Ini salah satu hal yang sering membuat percakapan mendalam berhenti sebelum benar-benar dimulai.

Seseorang baru saja menceritakan masalahnya.

Kita langsung menjawab:

“Kalau menurutku, kamu harus…”

Atau:

“Seharusnya kamu…”

Atau:

“Kalau aku jadi kamu…”

Mungkin niatnya baik.

Kita ingin membantu.

Tetapi tidak setiap orang yang bercerita sedang meminta solusi.

Terkadang seseorang hanya ingin didengarkan.

Mereka mungkin sedang mencoba memahami pikirannya sendiri dengan mengucapkannya kepada orang lain.

Dalam situasi seperti itu, nasihat yang terlalu cepat justru bisa membuat mereka merasa tidak benar-benar didengarkan.

Cobalah validasi sebelum memberikan pendapat

Validasi bukan berarti kamu harus setuju dengan semua yang mereka lakukan.

Validasi berarti mengakui bahwa perasaan atau pengalaman mereka masuk akal untuk dipahami.

Misalnya:

“Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa kecewa.”

Atau:

“Kalau berada di posisi seperti itu, wajar kalau kamu merasa bingung.”

Setelah itu, kamu bisa bertanya:

“Kamu ingin aku cuma dengarkan, atau kamu ingin dengar pendapatku juga?”

Pertanyaan sederhana tersebut sangat berguna.

Karena kamu memberikan mereka kendali atas jenis percakapan yang mereka inginkan.

Jika mereka menjawab:

“Aku pengin dengar pendapatmu.”

Barulah kamu memberikan pandangan.

Dengan cara tersebut, nasihat terasa seperti bantuan, bukan penghakiman.

4. Berani membagikan sedikit tentang dirimu juga

Percakapan mendalam tidak seharusnya terasa seperti wawancara.

Bayangkan seseorang terus-menerus bertanya:

“Apa yang kamu takutkan?”

“Apa yang paling kamu sesali?”

“Apa impian terbesarmu?”

“Kenapa kamu seperti itu?”

Jika hanya satu orang yang terus ditanya, percakapan bisa terasa tidak nyaman.

Kita bukan sedang melakukan pemeriksaan psikologis.

Hubungan yang sehat biasanya membutuhkan timbal balik.

Jika seseorang mulai membuka diri, kamu juga dapat membagikan sesuatu yang relevan dari pengalamanmu.

Misalnya dia mengatakan:

“Aku takut gagal karena keluargaku berharap banyak dariku.”

Kamu bisa merespons:

“Aku pernah berada dalam situasi ketika ekspektasi orang lain terasa lebih berat daripada masalahnya sendiri.”

Kemudian kembali berikan ruang:

“Menurutmu, ekspektasi itu paling terasa dari siapa?”

Dengan begitu, kamu tidak mengambil alih percakapan.

Kamu hanya menunjukkan:

“Kamu tidak sendirian. Aku juga bersedia hadir dalam percakapan ini.”

Tetapi jangan mengubah cerita mereka menjadi cerita tentangmu

Ini batas yang penting.

Berbagi pengalaman dapat membangun kedekatan.

Namun, terlalu cepat membandingkan pengalaman dapat membuat orang merasa ceritanya tidak dianggap penting.

Misalnya:

“Kamu bilang kehilangan pekerjaan membuatmu stres? Aku dulu malah kehilangan bisnis.”

Mungkin pengalamanmu lebih berat.

Tetapi bukan itu yang sedang dibicarakan.

Tujuan berbagi pengalaman bukan untuk menentukan siapa yang paling menderita.

Tujuannya adalah menciptakan rasa saling memahami.

5. Gunakan jeda dan jangan takut dengan keheningan

Banyak orang merasa harus segera mengisi setiap keheningan.

Begitu lawan bicara berhenti beberapa detik, kita langsung bertanya lagi.

Atau mengganti topik.

Padahal, dalam percakapan yang lebih reflektif, jeda terkadang justru sangat penting.

Seseorang mungkin berhenti karena sedang mencari kata-kata yang tepat.

Mungkin mereka baru menyadari sesuatu.

Mungkin pertanyaanmu membuat mereka berpikir.

Atau mungkin mereka sedang memutuskan apakah cukup aman untuk mengatakan sesuatu yang lebih jujur.

Jika kamu langsung menyela, kesempatan tersebut bisa hilang.

Cobalah memberikan beberapa detik.

Tidak perlu terburu-buru.

Kadang-kadang setelah jeda seseorang justru berkata:

“Sebenarnya… ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan.”

Dan dari situlah percakapan yang lebih dalam benar-benar dimulai.

Keheningan bukan selalu tanda percakapan gagal

Dalam percakapan biasa, kita mungkin menganggap keheningan sebagai sesuatu yang canggung.

Namun, dalam percakapan yang penuh pertimbangan, keheningan dapat menjadi ruang untuk berpikir.

Tidak semua jawaban harus keluar dalam satu detik.

Orang membutuhkan waktu untuk mengolah pengalaman, terutama ketika topiknya menyentuh sesuatu yang emosional atau penting bagi mereka.

Jadi, jangan buru-buru menyelamatkan percakapan hanya karena beberapa detik terasa sunyi.

Terkadang, diam adalah bagian dari percakapan.

6. Tanyakan pertanyaan yang mengarah pada makna, bukan sekadar informasi

Jika kamu ingin percakapan benar-benar mendalam, cobalah bergerak dari fakta menuju makna.

Misalnya seseorang mengatakan:

“Aku baru saja resign.”

Pertanyaan informasi:

“Kamu resign kapan?”

“Sudah dapat pekerjaan baru?”

Pertanyaan tersebut berguna.

Tetapi kalau kamu ingin membuka percakapan yang lebih reflektif, kamu bisa bertanya:

“Apa yang akhirnya membuatmu yakin bahwa resign adalah keputusan yang tepat?”

Atau:

“Setelah mengambil keputusan itu, apa yang paling kamu rasakan?”

Atau:

“Kalau melihat kembali beberapa bulan terakhir, apa yang paling kamu pelajari dari pengalaman itu?”

Pertanyaan semacam ini tidak hanya meminta seseorang menceritakan apa yang terjadi.

Mereka mengajak seseorang memikirkan apa arti dari sesuatu yang terjadi.

Dan di situlah percakapan biasanya menjadi lebih bermakna.

Beberapa pertanyaan yang bisa membuka percakapan lebih dalam

Kamu tidak harus menggunakan semuanya.

Pilih yang sesuai dengan situasi.

Tentang kehidupan:

“Apa hal yang akhir-akhir ini paling banyak memenuhi pikiranmu?”
“Apa yang sedang kamu coba pahami tentang dirimu sendiri?”
“Menurutmu, apa yang sekarang paling penting dalam hidupmu?”

Tentang keputusan:

“Apa yang membuatmu memilih keputusan itu?”
“Apa yang paling kamu pertimbangkan sebelum mengambil keputusan?”
“Kalau tidak ada tekanan dari siapa pun, apakah pilihanmu akan tetap sama?”

Tentang pengalaman:

“Apa yang paling mengubah cara pandangmu selama beberapa tahun terakhir?”
“Apa pengalaman yang ternyata mengajarkanmu sesuatu yang tidak kamu duga?”
“Apa yang dulu kamu yakini tetapi sekarang sudah berubah?”

Tentang masa depan:

“Kalau hidupmu berjalan sesuai keinginanmu, seperti apa kira-kira beberapa tahun ke depan?”
“Apa yang sebenarnya ingin kamu kejar, terlepas dari ekspektasi orang lain?”
“Apa yang ingin kamu lakukan jika kamu tidak terlalu takut gagal?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar pembuka percakapan.

Jika disampaikan pada waktu dan orang yang tepat, pertanyaan tersebut bisa menjadi undangan untuk melakukan refleksi.

Yang Terpenting: Jangan Berusaha Terlihat “Dalam”

Ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang belajar membangun percakapan yang lebih mendalam.

Mereka mulai merasa harus selalu menanyakan sesuatu yang filosofis.

Padahal, percakapan mendalam tidak selalu membutuhkan pertanyaan yang terdengar berat.

Kadang-kadang percakapan paling berarti justru dimulai dari hal yang sederhana.

“Kamu kelihatannya berbeda akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”

Atau:

“Tadi kamu bilang kamu baik-baik saja, tapi sepertinya ada sesuatu yang masih mengganggu pikiranmu. Kamu mau cerita?”

Atau bahkan:

“Aku penasaran, sebenarnya kamu sendiri merasa bagaimana tentang semua ini?”

Sederhana.

Tetapi tulus.

Dan ketulusan sering kali jauh lebih penting daripada kalimat yang terdengar pintar.

Percakapan mendalam bukan kompetisi untuk melihat siapa yang bisa mengajukan pertanyaan paling filosofis.

Ini tentang menciptakan ruang di mana dua orang merasa cukup aman untuk berbicara lebih jujur.

Pada Akhirnya, Percakapan Mendalam Dimulai dari Rasa Aman

Enam cara di atas pada dasarnya mengarah pada satu hal:

buat orang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Mulailah dengan pertanyaan terbuka.

Dengarkan tanpa buru-buru menyela.

Jangan langsung memberikan nasihat.

Bagikan sedikit tentang dirimu agar percakapan terasa dua arah.

Berikan ruang untuk keheningan.

Dan ketika suasananya tepat, arahkan pembicaraan dari sekadar fakta menuju makna.

Namun ingat, tidak semua orang ingin melakukan percakapan mendalam setiap saat.

Seseorang mungkin sedang lelah.

Mungkin sedang tidak ingin membicarakan sesuatu.

Mungkin belum cukup percaya.

Dan itu harus dihormati.

Kedalaman percakapan tidak bisa dipaksa.

Semakin kita memaksa seseorang untuk terbuka, semakin besar kemungkinan mereka justru menutup diri.

Sebaliknya, ketika kita hadir tanpa menghakimi dan tanpa menuntut, seseorang sering kali membuka dirinya secara alami.

Pada akhirnya, kemampuan membuka percakapan yang lebih mendalam bukan terutama tentang berbicara dengan lebih banyak kata.

Ini tentang belajar hadir dengan lebih penuh.

Karena terkadang, seseorang tidak membutuhkan orang lain yang memiliki jawaban paling bijaksana.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar mau mendengarkan ketika mereka akhirnya berkata:

“Sebenarnya, ada sesuatu yang selama ini ingin aku ceritakan.”***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore