seseorang yang membicarakan topik bencana alam dengan anak. (Magnific)
Anak-anak memiliki cara yang berbeda dalam memahami bahaya dibandingkan orang dewasa. Mereka belum selalu mampu membedakan antara kemungkinan dan kepastian. Ketika mendengar bahwa sebuah rumah terbakar, misalnya, anak mungkin bertanya-tanya, "Apakah rumah kita juga akan terbakar?" atau "Apakah Mama dan Papa akan selamat kalau terjadi kebakaran?"
Karena itu, tujuan utama membicarakan bencana dengan anak bukan sekadar membuat mereka tahu bahwa bencana itu ada. Yang lebih penting adalah membantu mereka memahami situasi dengan cara yang sesuai usia, mengetahui tindakan yang dapat dilakukan, dan merasa bahwa mereka tetap memiliki orang dewasa yang dapat melindungi serta mendampingi mereka.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), terdapat enam cara yang bisa dilakukan ketika ingin membicarakan kebakaran atau bencana alam lainnya dengan anak.
1. Mulailah dari apa yang sudah diketahui anak
Sebelum memberikan penjelasan panjang, cari tahu terlebih dahulu apa yang sudah anak ketahui.
Misalnya, jika anak melihat berita tentang kebakaran, jangan langsung memberikan banyak informasi. Tanyakan dengan tenang:
"Tadi kamu lihat ada kebakaran. Menurut kamu, apa yang terjadi?"
Atau:
"Kamu tahu apa tentang gempa?"
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu orang tua mengetahui bagaimana anak memahami peristiwa tersebut.
Hal ini penting karena pemahaman anak bisa sangat berbeda dari kenyataan. Anak mungkin hanya mengetahui bahwa "api itu berbahaya", tetapi belum memahami bagaimana kebakaran dapat terjadi. Anak lain mungkin justru sudah memiliki gambaran yang sangat menakutkan setelah melihat video atau mendengar cerita dari orang lain.
Dengan mengetahui pemahaman awal anak, orang tua dapat memberikan informasi yang benar tanpa membuat penjelasan menjadi terlalu rumit.
Jangan buru-buru mengoreksi semua perkataan anak. Dengarkan terlebih dahulu. Jika ada informasi yang keliru, luruskan secara sederhana.
Misalnya:
"Iya, api memang bisa berbahaya. Tapi tidak semua api menyebabkan kebakaran. Api yang digunakan untuk memasak atau menyalakan lilin harus digunakan dengan hati-hati dan didampingi orang dewasa."
Dengan cara ini, percakapan berubah menjadi kesempatan belajar, bukan ceramah yang membuat anak merasa takut.
2. Gunakan bahasa sederhana dan sesuai usia
Anak tidak membutuhkan penjelasan ilmiah yang panjang untuk memahami konsep bencana.
Untuk anak kecil, gunakan kalimat yang konkret dan sederhana.
Misalnya:
"Kebakaran terjadi ketika api menjadi tidak terkendali dan membakar sesuatu yang seharusnya tidak terbakar."
Untuk gempa, orang tua bisa mengatakan:
"Gempa adalah ketika tanah bergerak atau berguncang. Kadang-kadang guncangannya kecil, kadang lebih kuat."
Sementara untuk banjir:
"Banjir terjadi ketika air terlalu banyak dan menggenangi tempat yang biasanya tidak tergenang."
Gunakan kata-kata yang dapat dipahami anak dan hindari istilah yang terlalu teknis jika tidak diperlukan.
Yang juga penting adalah membedakan antara memberikan informasi dan memberikan gambaran yang menakutkan.
Anak perlu tahu bahwa kebakaran berbahaya, tetapi tidak perlu mendengar detail mengerikan tentang korban, luka, atau kematian kecuali memang relevan dan sesuai dengan usia serta situasinya.
Jika anak bertanya tentang sesuatu yang sulit, jawab pertanyaannya secara jujur tetapi secukupnya.
Misalnya anak bertanya:
"Kalau ada kebakaran, apakah orang bisa meninggal?"
Orang tua tidak perlu berbohong dengan mengatakan, "Tidak akan terjadi apa-apa."
Jawaban yang lebih sehat bisa berupa:
"Kebakaran memang bisa sangat berbahaya dan dalam beberapa keadaan orang bisa terluka. Karena itu kita belajar bagaimana mencegah kebakaran dan apa yang harus dilakukan kalau terjadi."
Jawaban seperti ini tetap jujur tanpa memperbesar rasa takut anak.
3. Validasi rasa takut anak, jangan langsung menyuruhnya berhenti takut
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang dewasa adalah mencoba menghilangkan rasa takut anak secepat mungkin.
Ketika anak berkata, "Aku takut rumah kita kebakaran," orang tua mungkin spontan menjawab:
"Jangan takut."
Atau:
"Ah, kamu terlalu banyak pikiran."
Maksudnya mungkin ingin menenangkan. Namun anak bisa menangkap pesan bahwa rasa takutnya tidak boleh dibicarakan.
Padahal rasa takut merupakan respons yang normal ketika seseorang menghadapi sesuatu yang dianggap berbahaya atau tidak diketahui.
Cobalah mengakui perasaan tersebut terlebih dahulu.
Misalnya:
"Kamu takut karena tadi melihat rumah orang terbakar, ya?"
Kemudian lanjutkan:
"Wajar kalau kamu merasa takut. Kebakaran memang terlihat menakutkan."
Setelah anak merasa dipahami, barulah orang tua dapat membantu mengembalikan rasa aman:
"Untungnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan supaya lebih aman. Kita juga bisa belajar apa yang harus dilakukan kalau terjadi keadaan darurat."
Pendekatan seperti ini membantu anak memahami bahwa takut bukan berarti dirinya lemah. Perasaan boleh muncul, tetapi anak juga dapat belajar menghadapinya.
4. Fokus pada hal-hal yang bisa dilakukan anak
Membicarakan bencana sebaiknya tidak berhenti pada penjelasan tentang bahaya. Anak juga perlu diberi rasa memiliki kendali.
Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah mengajarkan langkah-langkah keselamatan yang sederhana.
Misalnya, ketika membicarakan kebakaran, anak dapat diajarkan:
segera memberi tahu orang dewasa jika melihat api atau asap yang mencurigakan;
tidak bermain dengan korek api atau sumber api;
mengetahui jalur keluar dari rumah;
mengetahui tempat berkumpul setelah keluar dari rumah;
mengikuti instruksi orang dewasa ketika terjadi keadaan darurat;
tidak kembali masuk ke rumah untuk mengambil mainan atau barang.
Untuk gempa bumi, anak dapat diajarkan prosedur keselamatan yang sesuai dengan panduan kebencanaan setempat, termasuk berlindung dari benda yang dapat jatuh dan mengikuti arahan orang dewasa.
Hal yang penting adalah jangan membuat anak merasa bahwa mereka bertanggung jawab menyelamatkan seluruh keluarga.
Kalimat seperti:
"Kalau terjadi kebakaran, kamu harus menyelamatkan adikmu."
sebaiknya dihindari.
Anak justru perlu memahami bahwa tugas utama mereka adalah menyelamatkan diri dan mengikuti instruksi orang dewasa.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kalau terjadi keadaan darurat, tugas kamu adalah tetap bersama orang dewasa, keluar melalui jalan yang aman, dan jangan kembali mengambil barang."
Dengan memberikan tindakan konkret, percakapan tentang bencana menjadi lebih memberdayakan.
Anak tidak hanya mendengar, "Bencana itu berbahaya," tetapi juga belajar, "Kalau sesuatu terjadi, aku tahu apa yang harus kulakukan."
5. Batasi paparan video dan berita yang menakutkan
Anak sekarang dapat melihat rekaman bencana hampir secara langsung melalui televisi, YouTube, TikTok, Instagram, atau media sosial lainnya.
Masalahnya, gambar dan video yang terus berulang dapat membuat sebuah peristiwa terasa seolah-olah sedang terjadi terus-menerus.
Seorang anak yang melihat video kebakaran berkali-kali mungkin belum mampu memahami bahwa video tersebut merekam satu kejadian. Bagi mereka, banyaknya video dapat terasa seperti banyak sekali kebakaran yang terjadi setiap saat.
Karena itu, orang tua sebaiknya memperhatikan apa yang dikonsumsi anak.
Jika ada bencana besar yang sedang diberitakan, orang tua dapat memilih sumber informasi yang sesuai dan menghindari paparan berulang terhadap gambar yang mengerikan.
Tidak semua informasi perlu diperlihatkan kepada anak.
Misalnya, anak tidak harus melihat video orang panik berlarian, bangunan runtuh, korban terluka, atau rekaman kejadian yang berulang-ulang.
Jika anak sudah melihat sesuatu yang menakutkan, ajak mereka berbicara.
Tanyakan:
"Kamu lihat apa tadi?"
Kemudian bantu mereka memahami konteksnya.
"Video itu adalah kejadian yang sudah direkam. Sekarang kita sedang berada di rumah dan kita aman."
Namun, jangan memberikan jaminan mutlak seperti:
"Kita pasti tidak akan pernah mengalami bencana."
Tidak ada orang yang bisa menjamin hal tersebut.
Lebih baik katakan:
"Kita tidak bisa tahu kapan semua kejadian akan terjadi, tetapi kita bisa melakukan hal-hal untuk membuat kita lebih siap dan aman."
6. Jadikan pembicaraan tentang bencana sebagai latihan, bukan sumber ketakutan
Salah satu cara terbaik membantu anak menghadapi keadaan darurat adalah melakukan latihan sederhana.
Daripada hanya berkata:
"Kalau kebakaran, kamu harus keluar."
orang tua dapat mengajak anak mengenali jalur keluar dari rumah.
Misalnya:
"Kalau kita harus keluar dari rumah dengan cepat, kita lewat mana?"
Kemudian tunjukkan pintu keluar dan tempat berkumpul yang sudah disepakati keluarga.
Latihan bisa dibuat sederhana dan tidak perlu dilakukan dengan suasana dramatis.
Orang tua juga bisa membuat permainan edukatif:
"Yuk, kita cari dua jalan keluar dari kamar ini."
Atau:
"Kalau alarm berbunyi, apa yang harus kamu lakukan?"
Dengan latihan seperti ini, anak memiliki kesempatan untuk mengingat tindakan keselamatan tanpa harus mengalami keadaan darurat terlebih dahulu.
Namun, latihan juga harus disesuaikan dengan usia anak. Jangan sengaja membuat simulasi yang terlalu realistis hingga membuat anak panik.
Tujuannya bukan membuat anak takut terhadap bencana.
Tujuannya adalah membuat respons keselamatan menjadi lebih familiar.
Jangan hanya membicarakan bahayanya, bicarakan juga rasa aman
Ketika membicarakan bencana, orang tua terkadang terlalu fokus pada apa yang bisa salah.
"Kalau rumah terbakar bagaimana?"
"Kalau gempa besar bagaimana?"
"Kalau banjir datang bagaimana?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Tetapi anak juga perlu mendengar sisi lainnya.
Ada petugas pemadam kebakaran.
Ada tim penyelamat.
Ada keluarga dan orang dewasa yang saling membantu.
Ada prosedur keselamatan.
Ada tempat evakuasi.
Ada berbagai cara untuk mengurangi risiko.
Dengan begitu, anak mendapatkan gambaran yang lebih seimbang.
Bencana memang bisa berbahaya, tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk bersiap, membantu satu sama lain, dan pulih setelah sebuah kejadian.
Perhatikan perubahan perilaku setelah anak mendengar tentang bencana
Setelah membicarakan kebakaran atau bencana alam, perhatikan bagaimana anak bereaksi dalam beberapa hari berikutnya.
Sebagian anak mungkin langsung kembali bermain seperti biasa. Sebagian lainnya mungkin menjadi lebih banyak bertanya.
Ada pula anak yang menunjukkan kecemasan melalui perilaku, misalnya sulit tidur, tidak mau ditinggal, menjadi lebih mudah menangis, atau terus-menerus bertanya apakah keluarga mereka aman.
Respons seperti ini tidak selalu berarti ada masalah serius. Anak dapat membutuhkan waktu untuk memproses informasi yang baru mereka terima.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan rutinitas yang konsisten, kesempatan untuk bercerita, serta rasa aman.
Namun jika ketakutan anak sangat kuat, menetap, atau mulai mengganggu tidur, sekolah, aktivitas sehari-hari, dan hubungan sosialnya, orang tua dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau profesional kesehatan mental yang sesuai.
Pada akhirnya, anak membutuhkan rasa aman, bukan dunia yang bebas risiko
Tidak mungkin orang tua membuat dunia sepenuhnya bebas dari risiko.
Kebakaran, gempa, banjir, dan berbagai bencana lainnya merupakan bagian dari risiko kehidupan yang perlu dipahami dan diantisipasi.
Yang dapat dilakukan orang tua adalah membantu anak menghadapi informasi tersebut dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Bicarakan apa yang terjadi dengan bahasa sederhana. Dengarkan apa yang mereka pikirkan. Validasi rasa takut mereka. Ajarkan langkah keselamatan yang konkret. Batasi paparan terhadap gambar yang mengganggu. Dan lakukan latihan secara tenang.
Yang paling penting, jangan membuat anak merasa bahwa mereka harus menghadapi semuanya sendirian.
Pesan sederhana seperti:
"Kalau terjadi sesuatu, kamu tidak sendirian. Kita akan saling membantu dan mengikuti langkah keselamatan."
bisa jauh lebih berarti daripada penjelasan panjang tentang bencana.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang bisa menjanjikan bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022