seseorang yang diperlakukan seperti komputer. (Magnific)
JawaPos.com - Di dunia kerja modern, ada sebuah paradoks yang menarik. Perusahaan sering berbicara tentang karyawan sebagai “aset paling berharga”.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit karyawan justru diperlakukan seolah-olah mereka adalah mesin yang dapat bekerja terus-menerus tanpa batas.
Ironisnya, kalau dipikir-pikir, manusia bahkan sering mendapatkan perlakuan yang lebih buruk daripada komputer.
Komputer akan mengalami overheating jika dipaksa bekerja terlalu berat. Komputer membutuhkan listrik yang stabil. Komputer memiliki kapasitas penyimpanan terbatas. Komputer membutuhkan pembaruan sistem, pemeliharaan, dan waktu untuk melakukan proses tertentu. Jika terlalu banyak program dijalankan secara bersamaan, performanya menurun.
Manusia mengalami hal yang sama—bahkan jauh lebih kompleks.
Otak manusia memiliki keterbatasan perhatian, memori kerja, energi mental, dan kemampuan mengendalikan emosi. Ketika seseorang menghadapi terlalu banyak tugas, tekanan, interupsi, konflik, dan tuntutan dalam waktu yang bersamaan, performanya tidak otomatis meningkat hanya karena ia “diminta lebih keras”.
Justru sebaliknya.
Dari perspektif psikologi kerja, produktivitas manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem tempat ia bekerja. Beban kerja, kualitas istirahat, kejelasan tugas, dukungan sosial, rasa aman, otonomi, dan kemampuan memulihkan diri semuanya dapat memengaruhi bagaimana seseorang berpikir dan bekerja.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita membalik sebuah cara pandang:
Karyawan seharusnya berharap diperlakukan seperti komputer—bukan karena manusia adalah mesin, tetapi karena bahkan komputer saja diperlakukan dengan lebih realistis terhadap keterbatasannya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat tujuh alasannya.
1. Komputer Tidak Dipaksa Beroperasi di Atas Kapasitas Maksimal Setiap Saat
Bayangkan sebuah komputer yang terus menjalankan puluhan aplikasi berat secara bersamaan.
Program desain berjalan. Video sedang dirender. Puluhan tab browser terbuka. Sistem sedang melakukan pembaruan. Pada saat yang sama, komputer diminta menjalankan program lain yang membutuhkan sumber daya besar.
Apa yang terjadi?
Komputer menjadi lambat.
Bahkan dalam kondisi tertentu, sistem bisa mengalami freeze, crash, atau mati.
Anehnya, manusia sering diperlakukan dengan cara yang berbeda.
Seorang karyawan mungkin diminta menyelesaikan laporan, menghadiri rapat, membalas pesan, mengurus pelanggan, menangani masalah rekan kerja, mengejar target, dan mengerjakan proyek tambahan—semuanya pada hari yang sama.
Ketika produktivitas menurun, respons organisasi kadang bukan mengurangi beban.
Justru:
“Harus lebih cepat.”
Secara psikologis, ini bermasalah.
Manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas. Ketika terlalu banyak tuntutan membutuhkan perhatian secara bersamaan, otak harus terus melakukan perpindahan fokus. Kita sering menyebutnya multitasking, tetapi dalam banyak situasi sebenarnya otak sedang melakukan task switching.
Setiap perpindahan membutuhkan sumber daya kognitif.
Akibatnya, semakin banyak tugas yang harus diproses secara bersamaan, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami kelelahan mental, kehilangan fokus, melakukan kesalahan, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.
Karena itu, perusahaan yang ingin meningkatkan produktivitas seharusnya tidak hanya bertanya:
“Bagaimana membuat karyawan bekerja lebih cepat?”
Pertanyaan yang lebih baik adalah:
“Apakah kita sedang memberikan beban kerja yang masih berada dalam kapasitas manusia?”
Komputer mengajarkan sebuah prinsip sederhana:
Kapasitas adalah kapasitas.
Memaksa sistem melewati kapasitasnya tidak selalu menghasilkan lebih banyak output. Sering kali justru menghasilkan kerusakan.
Manusia pun demikian.
2. Komputer Diizinkan “Restart”, Manusia Juga Membutuhkan Pemulihan
Salah satu kesalahan terbesar dalam budaya kerja adalah menganggap istirahat sebagai lawan dari produktivitas.
Ada anggapan bahwa semakin lama seseorang bekerja, semakin banyak hasil yang diperoleh.
Padahal hubungan antara waktu kerja dan produktivitas tidak selalu linear.
Tubuh dan otak manusia membutuhkan pemulihan.
Tidur, jeda, liburan, waktu bersama keluarga, aktivitas fisik, dan periode tanpa tuntutan pekerjaan dapat membantu seseorang memulihkan sumber daya fisik dan psikologis.
Dalam psikologi kerja, pemulihan (recovery) merupakan bagian penting dari kemampuan seseorang untuk mempertahankan fungsi kerja dalam jangka panjang.
Menariknya, perusahaan memahami konsep ini ketika berbicara tentang komputer.
Kalau komputer bermasalah, salah satu saran klasik adalah:
“Coba restart.”
Kalau server mengalami beban terlalu berat, sistem mungkin perlu dikurangi bebannya atau menjalani pemeliharaan.
Tetapi ketika manusia mengalami kelelahan, respons yang diterima kadang justru:
“Kamu harus lebih tahan banting.”
Padahal manusia bukan perangkat yang dapat dipaksa terus aktif.
Istirahat bukan selalu tanda kemalasan.
Dalam konteks yang tepat, istirahat adalah bagian dari pemeliharaan sistem.
Bayangkan dua karyawan.
Karyawan A bekerja 10 jam sehari selama berbulan-bulan dengan tidur yang buruk dan hampir tidak pernah mengambil jeda.
Karyawan B bekerja dengan jadwal yang lebih teratur, memiliki waktu istirahat, dan mendapatkan kesempatan untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan.
Dalam jangka pendek, Karyawan A mungkin terlihat lebih produktif.
Namun dalam jangka panjang, biaya psikologis dari kelelahan dapat muncul dalam bentuk turunnya konsentrasi, motivasi, kesabaran, kualitas keputusan, dan keterlibatan kerja.
Karena itu, jika komputer saja boleh di-restart, manusia seharusnya tidak merasa bersalah ketika membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.
3. Komputer Tidak Disalahkan Ketika Input yang Diberikan Buruk
Bayangkan seseorang memberikan data yang salah kepada komputer.
Kemudian komputer menghasilkan laporan yang salah.
Apakah kita marah kepada komputer?
Biasanya tidak.
Kita memeriksa input-nya.
Mungkin datanya salah.
Mungkin instruksinya tidak jelas.
Mungkin programnya memiliki bug.
Mungkin sistemnya tidak dirancang untuk menangani jenis data tersebut.
Tetapi dalam organisasi, ketika hasil pekerjaan tidak sesuai harapan, kesalahan sering kali langsung diarahkan kepada individu.
“Kenapa kamu tidak bisa?”
“Kenapa hasilnya buruk?”
“Kenapa kamu tidak lebih teliti?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang kadang relevan. Namun psikologi organisasi mengingatkan bahwa performa seseorang tidak muncul dalam ruang kosong.
Performa merupakan hasil interaksi antara individu dan lingkungan kerja.
Jika tujuan tidak jelas, informasi tidak lengkap, prioritas berubah-ubah, sumber daya kurang, sistem kerja buruk, atau atasan memberikan instruksi yang saling bertentangan, maka kualitas output juga dapat terganggu.
Dengan kata lain:
Jangan hanya mengevaluasi manusia. Evaluasi juga sistem yang memasukkan tekanan kepada manusia tersebut.
Bayangkan seorang karyawan diberi tugas:
“Buat ini secepat mungkin.”
Lima menit kemudian:
“Jangan sampai ada kesalahan.”
Kemudian:
“Kenapa kamu tidak mencari cara yang lebih kreatif?”
Lalu:
“Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu.”
Karyawan tersebut menerima beberapa tuntutan yang tidak selalu mudah diseimbangkan.
Jika hasilnya tidak sempurna, menyalahkan karakter pribadi karyawan mungkin terlalu sederhana.
Perusahaan seharusnya bertanya:
Apakah sistem memberikan input yang cukup jelas untuk menghasilkan output yang diharapkan?
Komputer sangat literal dalam hal ini.
Jika perintah buruk, hasilnya buruk.
Manusia memang lebih fleksibel daripada komputer, tetapi bukan berarti manusia mampu mengubah instruksi yang buruk menjadi sistem kerja yang sempurna tanpa konsekuensi.
4. Komputer Memiliki Batas Memori—Manusia Juga
Kita sering berbicara seolah-olah manusia mampu mengingat dan mengelola semua hal.
Padahal kemampuan memori kerja manusia terbatas.
Dalam pekerjaan, seseorang mungkin harus mengingat:
tenggat waktu,
instruksi atasan,
perubahan prioritas,
nomor pelanggan,
isi rapat,
detail proyek,
pesan dari berbagai platform,
masalah yang belum selesai,
tugas yang harus dilakukan besok,
dan berbagai informasi lain.
Semakin banyak hal yang harus ditahan dalam pikiran, semakin besar beban kognitif yang dirasakan.
Itulah sebabnya sistem kerja yang baik tidak hanya mengandalkan ingatan manusia.
Perusahaan menggunakan kalender, daftar tugas, dokumentasi, dashboard, checklist, sistem manajemen proyek, dan berbagai alat bantu lainnya.
Semua itu pada dasarnya merupakan cara untuk “memindahkan sebagian beban memori” dari otak ke sistem eksternal.
Dan ini penting.
Karyawan yang menggunakan catatan bukan berarti tidak kompeten.
Karyawan yang meminta instruksi tertulis bukan berarti tidak mampu berpikir.
Karyawan yang menggunakan checklist bukan berarti kurang cerdas.
Justru, dalam banyak pekerjaan kompleks, menggunakan sistem eksternal untuk mengurangi beban memori dapat membantu manusia bekerja dengan lebih konsisten.
Komputer tidak perlu merasa malu karena membutuhkan penyimpanan.
Manusia juga seharusnya tidak malu menggunakan alat bantu untuk mengingat sesuatu.
5. Komputer Tidak Diharapkan Menjalankan Semua Program Sekaligus
Ada sebuah fenomena psikologis yang sangat relevan dengan dunia kerja modern: perhatian yang terfragmentasi.
Seseorang sedang menulis laporan.
Kemudian muncul notifikasi.
Ada pesan masuk.
Sebuah email membutuhkan jawaban.
Atasan mengirim chat.
Ponsel berbunyi.
Rapat dimulai.
Setelah rapat selesai, orang tersebut kembali ke laporan.
Tetapi sekarang ia harus mengingat kembali:
“Tadi saya sedang mengerjakan bagian yang mana?”
Kondisi seperti ini menghabiskan energi mental.
Komputer memiliki konsep yang mirip.
Ada batas pada sumber daya prosesor dan memori. Menjalankan terlalu banyak proses sekaligus dapat menurunkan performa sistem.
Manusia juga memiliki keterbatasan perhatian.
Karena itu, produktivitas sering kali meningkat bukan dengan menambahkan lebih banyak aktivitas, tetapi dengan mengurangi gangguan yang tidak perlu.
Inilah alasan mengapa pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi mendalam sebaiknya memiliki periode tanpa interupsi.
Misalnya, seorang penulis mungkin membutuhkan satu jam tanpa rapat.
Seorang programmer mungkin membutuhkan blok waktu untuk berpikir tanpa terus menerima pesan.
Seorang analis mungkin membutuhkan waktu tanpa notifikasi untuk memahami data.
Masalahnya, budaya kerja tertentu justru menganggap orang yang selalu tersedia sebagai orang yang paling produktif.
Padahal:
tersedia tidak selalu berarti produktif.
Seseorang dapat terlihat sangat sibuk sepanjang hari tetapi menghasilkan pekerjaan yang sebenarnya sedikit karena sebagian besar energinya habis untuk berpindah perhatian.
Jika kita benar-benar ingin meningkatkan produktivitas, mungkin kita perlu meniru cara kita mengelola komputer:
Tidak semua proses harus berjalan pada waktu yang sama.
6. Komputer Tidak Dinilai dari Satu Error Saja
Bayangkan komputer menghasilkan satu kesalahan.
Apakah kita langsung menyimpulkan:
“Komputer ini bodoh”?
Tentu tidak.
Kita melihat konteksnya.
Apa penyebab kesalahan?
Apakah perangkat lunaknya bermasalah?
Apakah input-nya salah?
Apakah perangkat kerasnya rusak?
Apakah pengguna melakukan kesalahan?
Apakah sistem membutuhkan pembaruan?
Namun manusia sering dinilai secara lebih sederhana.
Satu kesalahan dapat berubah menjadi label:
“Dia ceroboh.”
“Dia tidak kompeten.”
“Dia memang tidak bisa diandalkan.”
Padahal perilaku manusia sangat dipengaruhi konteks.
Seseorang yang biasanya sangat teliti bisa melakukan kesalahan ketika kurang tidur, menghadapi tekanan tinggi, menerima terlalu banyak pekerjaan, atau bekerja dalam kondisi yang penuh gangguan.
Satu kesalahan tidak selalu menggambarkan keseluruhan kemampuan seseorang.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan pentingnya membedakan antara perilaku dan identitas.
“Pekerjaan ini mengandung kesalahan” berbeda dengan:
“Kamu adalah orang yang tidak kompeten.”
Yang pertama mengevaluasi output.
Yang kedua menyerang identitas.
Budaya kerja yang sehat lebih banyak membicarakan proses:
Apa yang terjadi?
Mengapa terjadi?
Bagaimana mencegahnya?
Apa yang perlu diperbaiki?
Pendekatan seperti ini lebih berguna daripada sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.
Komputer mengajarkan kita untuk melakukan troubleshooting.
Mungkin manusia juga perlu diperlakukan dengan pendekatan yang sama.
Bukan:
“Siapa yang salah?”
Tetapi:
“Sistem apa yang menyebabkan kesalahan ini, dan bagaimana kita memperbaikinya?”
7. Komputer Dirawat Agar Bisa Dipakai dalam Jangka Panjang—Manusia Juga
Alasan terakhir mungkin yang paling penting.
Tidak ada perusahaan yang membeli komputer mahal lalu berpikir:
“Gunakan terus sampai rusak.”
Setidaknya perusahaan yang rasional tidak berpikir demikian.
Komputer perlu dirawat.
Sistem perlu diperbarui.
Perangkat keras perlu diperiksa.
Penyimpanan perlu dikelola.
Masalah teknis perlu diperbaiki.
Mengapa?
Karena perusahaan memahami bahwa memelihara sistem lebih masuk akal daripada terus mengganti sistem yang rusak.
Prinsip yang sama seharusnya berlaku bagi manusia.
Pelatihan adalah bentuk pemeliharaan kemampuan.
Istirahat adalah bentuk pemulihan.
Dukungan psikologis adalah bagian dari kesehatan sistem kerja.
Hubungan yang baik dengan rekan kerja membantu menjaga sumber daya sosial.
Otonomi membantu mempertahankan motivasi.
Pengembangan karier membantu seseorang tetap berkembang.
Lingkungan kerja yang sehat membantu seseorang mempertahankan kemampuan bekerja dalam jangka panjang.
Sayangnya, organisasi terkadang terlalu fokus pada output jangka pendek.
Selama target tercapai, kondisi manusia yang menghasilkan target tersebut dianggap sebagai urusan pribadi.
Padahal jika seorang karyawan terus-menerus kelelahan, kehilangan motivasi, atau mengalami stres berkepanjangan, masalah tersebut pada akhirnya juga dapat memengaruhi organisasi.
Karena itu, memperlakukan manusia dengan baik bukan hanya persoalan moral.
Dalam banyak situasi, itu juga merupakan persoalan keberlanjutan organisasi.
Jadi, Apakah Karyawan Benar-Benar Ingin Diperlakukan Seperti Komputer?
Tentu saja tidak secara harfiah.
Manusia bukan komputer.
Komputer tidak memiliki kebutuhan emosional seperti manusia. Komputer tidak membutuhkan hubungan sosial, rasa dihargai, makna dalam pekerjaan, atau pengalaman psikologis seperti manusia.
Justru di situlah letak ironi gagasan ini.
Jika perusahaan bahkan mau menghormati batasan komputer, mengapa batasan manusia sering diabaikan?
Metafora “diperlakukan seperti komputer” sebenarnya mengandung pesan yang lebih dalam:
Karyawan seharusnya diperlakukan sebagai sistem yang memiliki kapasitas terbatas.
Mereka tidak dapat terus-menerus bekerja tanpa pemulihan.
Mereka membutuhkan input yang jelas.
Mereka membutuhkan sumber daya yang memadai.
Mereka membutuhkan waktu untuk memproses informasi.
Mereka tidak dapat menjalankan terlalu banyak tugas kompleks sekaligus tanpa konsekuensi.
Mereka membutuhkan pemeliharaan.
Dan ketika terjadi kesalahan, penyebabnya perlu dicari secara sistematis—bukan otomatis dianggap sebagai kegagalan karakter.
Paradoksnya: Manusia Justru Lebih Kompleks daripada Komputer
Ada satu hal yang harus digarisbawahi.
Karyawan bukan mesin.
Manusia memiliki kreativitas, intuisi, emosi, empati, imajinasi, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.
Justru karena manusia jauh lebih kompleks daripada komputer, pendekatan terhadap manusia seharusnya lebih manusiawi.
Kita tidak bisa menggunakan logika:
“Komputer bisa bekerja 24 jam, jadi manusia juga harus bisa.”
Sebaliknya, kita bisa mengambil pelajaran yang lebih sederhana:
Bahkan sistem teknologi yang sangat canggih tetap memiliki batas.
Maka manusia tentu memiliki batas yang harus dihormati.
Perusahaan yang memahami hal ini tidak akan bertanya bagaimana membuat karyawan bekerja tanpa henti.
Mereka akan bertanya bagaimana menciptakan sistem yang memungkinkan manusia memberikan performa terbaik secara berkelanjutan.
Itulah perbedaan antara memeras produktivitas dan membangun produktivitas.
Kesimpulan
Ada tujuh alasan mengapa karyawan, secara metaforis, sebaiknya berharap diperlakukan seperti komputer:
Kapasitas harus dihormati. Tidak ada sistem yang dapat bekerja maksimal terus-menerus tanpa konsekuensi.
Pemulihan diperlukan. Seperti komputer membutuhkan restart dan pemeliharaan, manusia membutuhkan istirahat dan recovery.
Input memengaruhi output. Instruksi yang buruk dan sistem kerja yang kacau dapat menghasilkan performa yang buruk.
Memori memiliki batas. Manusia membutuhkan catatan, sistem, dan alat bantu untuk mengurangi beban kognitif.
Terlalu banyak proses mengurangi performa. Multitasking dan interupsi terus-menerus dapat mengganggu fokus.
Satu error tidak mendefinisikan keseluruhan sistem. Kesalahan perlu dianalisis, bukan otomatis dijadikan label terhadap karakter seseorang.
Sistem harus dirawat agar bertahan lama. Karyawan membutuhkan pengembangan, dukungan, pemulihan, dan lingkungan kerja yang sehat.
Pada akhirnya, kalimat “perlakukan karyawan seperti komputer” bukanlah ajakan untuk menghilangkan sisi manusiawi dalam pekerjaan.
Justru sebaliknya.
Ini adalah kritik terhadap cara kita memperlakukan manusia seolah-olah mereka memiliki kapasitas tanpa batas.
Kalau komputer membutuhkan pendinginan, manusia membutuhkan istirahat.
Kalau komputer memiliki kapasitas memori, manusia memiliki batas perhatian.
Kalau komputer mengalami overload, manusia juga bisa mengalami kelelahan mental.
Kalau komputer membutuhkan sistem yang baik agar dapat bekerja optimal, manusia juga membutuhkan lingkungan kerja yang mendukung.
Dan jika komputer yang terlalu dipaksa bisa rusak, manusia yang terus-menerus dipaksa melampaui batasnya juga dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar performa:
kesehatan, motivasi, kreativitas, dan kemampuan untuk menikmati hidup di luar pekerjaan.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah:
“Bagaimana membuat karyawan bekerja seperti mesin?”
Melainkan:
“Bagaimana membangun sistem kerja yang memungkinkan manusia bekerja sebaik mungkin tanpa harus diperlakukan seperti mesin?”
Di situlah psikologi kerja bertemu dengan akal sehat: produktivitas yang berkelanjutan tidak lahir dari manusia yang dipaksa bekerja tanpa batas, tetapi dari manusia yang kapasitasnya dipahami, dihargai, dan dikelola dengan baik.
***