Ilustrasi orang tua dan anak (magnific)
JawaPos.com - Rumah yang tenang bukan berarti rumah tanpa pertengkaran, kesalahan, atau perbedaan pendapat.
Justru, suasana keluarga yang sehat terlihat dari bagaimana orang tua menghadapi masalah tanpa membuat anak merasa kehilangan rasa aman.
Anak yang tumbuh bersama orang tua yang stabil secara emosional biasanya mendapatkan pengalaman berulang bahwa rumah adalah tempat untuk kembali, bercerita, melakukan kesalahan, dan belajar memperbaiki diri.
Pengalaman seperti ini dapat membentuk sejumlah sifat positif yang terkadang baru terlihat jelas ketika anak semakin besar.
Menariknya, sifat-sifat tersebut tidak selalu tampak mencolok. Sebagian justru hadir dalam perilaku sederhana, seperti kemampuan mengatakan tidak, berani mengakui kesalahan, tidak mudah panik ketika menghadapi masalah, hingga mampu menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus mengejar pengakuan.
Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini akan membahas tanda-tanda orang tua telah memberikan lingkungan pengasuhan yang dibutuhkan anak serta bagaimana konsistensi emosional, responsivitas, rasa aman, dan penghargaan terhadap karakter dapat membentuk anak dalam jangka panjang.
Berikut 11 sifat yang menarik untuk diperhatikan. Sebelas sifat langka ini sering terlihat pada anak yang tumbuh dalam rumah tangga tenang dan orang tua stabil, mulai dari percaya diri hingga mampu mengelola emosi.
Salah satu sifat yang cukup kuat pada anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga stabil adalah kemampuan mengelola emosi.
Anak seperti ini bukan berarti tidak pernah marah, sedih, kecewa, atau takut. Mereka tetap mengalami berbagai emosi tersebut, tetapi perlahan belajar bahwa perasaan tidak harus ditakuti ataupun disembunyikan.
Orang tua yang stabil secara emosional biasanya tidak langsung membesar-besarkan emosi anak. Ketika anak menangis atau marah, mereka berusaha membantu anak memahami apa yang sedang dirasakan. Dari pengalaman berulang tersebut, anak belajar bahwa emosi dapat dibicarakan dan dikelola.
YourTango juga menyoroti bahwa anak yang mendapatkan respons emosional yang konsisten cenderung memiliki kemampuan lebih baik untuk menghadapi perasaan tanpa harus sepenuhnya menutup diri.
Ketika dewasa, kemampuan ini dapat terlihat dalam cara seseorang menghadapi konflik. Ia tidak harus langsung meledak ketika kecewa, tetapi juga tidak merasa harus berpura-pura baik-baik saja.
Ia mampu mengatakan, “Saya sedang kesal,” kemudian mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum mencari solusi.
Kemampuan tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya merupakan fondasi penting untuk membangun hubungan yang sehat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022