seseorang yang mengalami penyesalan dalam hidup. (Magnific)
Menariknya, dalam psikologi, penyesalan tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Penyesalan memang dapat membuat seseorang merasa sedih, kecewa, bersalah, atau terus memikirkan masa lalu. Namun, jika dipahami dengan cara yang sehat, penyesalan juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang membantu seseorang membuat keputusan lebih baik di masa depan.
Masalahnya bukan semata-mata pada munculnya penyesalan, melainkan pada bagaimana kita memperlakukannya. Ada orang yang menggunakan penyesalan sebagai bahan evaluasi diri. Ada pula yang terjebak di dalamnya selama bertahun-tahun, terus mengulang pertanyaan seperti, “Seandainya waktu itu saya memilih berbeda, apakah hidup saya akan lebih baik?”
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), terdapat tujuh hal penting tentang penyesalan hidup yang menarik untuk dipahami dari sudut pandang psikologi.
1. Penyesalan biasanya muncul ketika kita membandingkan kenyataan dengan kehidupan yang “seharusnya”
Salah satu karakteristik utama penyesalan adalah adanya perbandingan mental.
Kita melihat kehidupan yang sedang dijalani, kemudian membayangkan alternatif lain: bagaimana jika dulu mengambil pekerjaan berbeda, menikah dengan orang lain, melanjutkan pendidikan, pindah ke kota lain, atau berani mengambil sebuah kesempatan?
Inilah yang membuat penyesalan terasa begitu kuat. Pikiran manusia tidak hanya mampu mengingat apa yang benar-benar terjadi, tetapi juga mampu menciptakan skenario tentang apa yang mungkin terjadi.
Misalnya, seseorang menolak sebuah kesempatan kerja karena takut gagal. Beberapa tahun kemudian, ia melihat orang lain yang menerima kesempatan tersebut dan kehidupannya tampak jauh lebih baik.
Kemudian muncul pikiran:
“Seandainya dulu saya menerima tawaran itu.”
Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan alternatif tersebut akan berjalan.
Inilah salah satu jebakan penyesalan: kita sering membandingkan kehidupan nyata yang penuh masalah dengan kehidupan imajiner yang hanya berisi kemungkinan-kemungkinan terbaik.
Dalam kenyataan, jika seseorang mengambil keputusan berbeda, belum tentu semuanya berjalan sesuai harapan. Pekerjaan yang terlihat menjanjikan mungkin ternyata penuh tekanan. Hubungan yang kita kira akan bahagia mungkin juga memiliki konflik. Kota yang kita anggap ideal mungkin ternyata membuat kita kesepian.
Karena itu, penting memahami bahwa penyesalan sering kali membandingkan kenyataan dengan versi masa lalu yang telah diedit oleh pikiran.
Kita mengingat kemungkinan terbaik dari pilihan yang tidak kita ambil, tetapi lupa membayangkan kemungkinan buruknya.
2. Tidak melakukan sesuatu juga bisa menjadi sumber penyesalan
Banyak orang mengira penyesalan hanya muncul karena melakukan kesalahan.
Padahal, manusia juga bisa menyesal karena sesuatu yang tidak pernah dilakukan.
Tidak mengatakan “aku sayang kamu”.
Tidak meminta maaf.
Tidak mencoba mengejar impian.
Tidak mengambil kesempatan.
Tidak menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Tidak berani memulai sesuatu karena takut gagal.
Jenis penyesalan seperti ini sering disebut sebagai penyesalan karena kelalaian atau regret of omission, yaitu penyesalan yang muncul karena kita tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya mungkin ingin kita lakukan.
Sementara itu, ada pula penyesalan karena tindakan atau regret of commission, yaitu ketika kita menyesal karena sesuatu yang telah kita lakukan.
Menariknya, keduanya dapat terasa berbeda tergantung jarak waktu.
Ketika sebuah kesalahan baru saja terjadi, seseorang mungkin lebih banyak menyesali tindakannya. Namun, dalam jangka panjang, hal-hal yang tidak pernah dilakukan juga dapat menjadi sumber penyesalan yang sangat kuat.
Misalnya, seseorang mungkin lebih mudah melupakan kegagalan dalam mencoba sesuatu dibandingkan rasa penasaran seumur hidup karena tidak pernah mencoba sama sekali.
Tentu saja ini bukan berarti kita harus melakukan semua hal yang kita inginkan. Tidak semua kesempatan harus diambil, dan tidak semua keputusan lama merupakan kesalahan.
Pesannya lebih sederhana: rasa takut terhadap kegagalan jangan sampai membuat kita terus-menerus menghindari kehidupan.
Sebab terkadang, kegagalan dapat menghasilkan pengalaman.
Sementara tidak pernah mencoba dapat meninggalkan pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
3. Penyesalan bisa menjadi guru, tetapi bisa berubah menjadi jebakan
Penyesalan memiliki dua sisi.
Di satu sisi, penyesalan dapat membantu seseorang belajar.
Misalnya:
“Saya terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Lain kali saya akan memberi diri sendiri lebih banyak waktu.”
Atau:
“Saya terlalu lama mengabaikan keluarga karena pekerjaan. Mulai sekarang saya ingin menyediakan waktu khusus untuk mereka.”
Dalam kondisi seperti ini, penyesalan memiliki fungsi adaptif. Ia membantu kita mengenali kesalahan dan memperbaiki perilaku.
Namun, penyesalan dapat menjadi tidak sehat ketika seseorang terus mengulang masa lalu tanpa menghasilkan perubahan.
Pikiran seperti:
“Kenapa saya melakukan itu?”
“Kenapa saya tidak memilih yang lain?”
“Seandainya saya tahu waktu itu…”
“Seharusnya saya tidak percaya kepadanya.”
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul sesekali, itu merupakan bagian normal dari kehidupan.
Masalah muncul ketika pikiran tersebut menjadi lingkaran yang tidak pernah menghasilkan solusi.
Seseorang terus memikirkan masa lalu, tetapi tidak menemukan pelajaran baru. Ia hanya menghukum dirinya sendiri atas sesuatu yang sudah tidak dapat diubah.
Di titik tersebut, penyesalan tidak lagi berfungsi sebagai guru.
Ia berubah menjadi jebakan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat bukan hanya:
“Mengapa dulu saya melakukan itu?”
Tetapi:
“Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian itu untuk kehidupan saya sekarang?”
Perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah arah pikiran.
Pertanyaan pertama menarik kita ke masa lalu.
Pertanyaan kedua membawa kita kembali ke masa kini.
4. Penyesalan sering terasa lebih besar ketika kita terlalu mengidealkan masa lalu
Ketika sedang mengalami masa sulit, manusia mudah melihat masa lalu melalui kacamata yang terlalu romantis.
Kita mengingat masa ketika masih muda sebagai masa yang “lebih bahagia”.
Kita mengingat mantan pasangan dan hanya mengingat momen-momen indah.
Kita mengingat pekerjaan lama dan melupakan alasan mengapa kita meninggalkannya.
Kita mengingat kehidupan sebelum sebuah keputusan dan menganggap semuanya jauh lebih sederhana.
Padahal, masa lalu juga memiliki masalah yang mungkin saat itu tidak kita sadari.
Otak manusia tidak bekerja seperti kamera yang merekam seluruh kehidupan secara objektif. Ingatan dapat dipengaruhi oleh emosi, konteks, dan kondisi kita saat ini.
Ketika sedang kecewa dengan kehidupan sekarang, masa lalu dapat terlihat jauh lebih indah daripada kenyataannya.
Hal ini membuat penyesalan semakin kuat.
Kita bukan hanya merindukan apa yang pernah terjadi, tetapi juga merindukan versi kehidupan yang mungkin sebenarnya tidak pernah benar-benar ada.
Karena itu, ketika muncul pikiran “dulu hidup saya jauh lebih baik”, cobalah berhenti sejenak.
Tanyakan:
“Apakah benar semuanya lebih baik, atau saya sedang mengingat bagian yang menyenangkan dan melupakan bagian yang sulit?”
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyangkal masa lalu, melainkan untuk melihatnya secara lebih utuh.
5. Tidak semua keputusan buruk berarti Anda adalah orang yang buruk
Ini adalah salah satu hal terpenting dalam menghadapi penyesalan.
Manusia sering melakukan kesalahan dengan mengubah penilaian terhadap sebuah keputusan menjadi penilaian terhadap seluruh dirinya.
“Saya membuat keputusan buruk” berubah menjadi:
“Saya memang bodoh.”
“Saya gagal dalam hubungan” berubah menjadi:
“Saya tidak pantas dicintai.”
“Saya kehilangan kesempatan” berubah menjadi:
“Hidup saya sudah hancur.”
Padahal, satu keputusan tidak dapat mendefinisikan keseluruhan diri seseorang.
Kita harus membedakan antara kesalahan dan identitas.
Anda bisa membuat keputusan yang buruk tanpa menjadi manusia yang buruk.
Anda bisa gagal tanpa menjadi seorang pecundang.
Anda bisa salah memilih tanpa berarti seluruh hidup Anda salah.
Dalam psikologi, kemampuan memperlakukan diri dengan lebih penuh pengertian setelah melakukan kesalahan sering dikaitkan dengan self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.
Self-compassion bukan berarti membenarkan kesalahan.
Bukan pula berarti mengatakan, “Tidak apa-apa, saya memang begini.”
Sebaliknya, kita mengakui kesalahan tanpa menghancurkan harga diri.
Misalnya:
“Saya memang membuat keputusan yang keliru.”
“Saya terluka karena pilihan tersebut.”
“Saya berharap bisa mengulang waktu.”
“Tetapi saya tidak bisa mengubah masa lalu. Saya masih bisa menentukan apa yang saya lakukan berikutnya.”
Cara berpikir seperti ini membuat seseorang bertanggung jawab tanpa harus terus menyiksa dirinya.
6. Ada penyesalan yang tidak perlu “dihilangkan”, tetapi perlu diterima
Banyak orang berusaha keras menghilangkan semua penyesalan dari hidup.
Padahal, mungkin tujuan yang lebih realistis bukanlah hidup tanpa penyesalan.
Selama manusia masih memiliki pilihan, akan selalu ada kemungkinan untuk bertanya:
“Bagaimana jika saya memilih yang lain?”
Bahkan orang yang hidupnya terlihat sangat sukses pun mungkin memiliki keputusan yang ingin mereka ubah.
Kita tidak bisa menjalani seluruh kemungkinan kehidupan.
Setiap kali memilih satu jalan, kita sekaligus meninggalkan jalan lain.
Karena itu, sebagian penyesalan mungkin memang harus diterima sebagai bagian dari menjadi manusia.
Menerima bukan berarti menyukai apa yang terjadi.
Menerima juga bukan berarti menganggap kesalahan masa lalu tidak penting.
Menerima berarti mengakui:
“Ya, itu pernah terjadi. Saya berharap hasilnya berbeda. Tetapi saya tidak bisa kembali ke waktu tersebut.”
Dari sana, perhatian dapat perlahan dikembalikan kepada sesuatu yang masih berada dalam kendali kita.
Masa lalu tidak dapat diubah.
Namun, hubungan kita dengan masa lalu masih bisa berubah.
Seseorang yang dulu melihat kegagalannya sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu mungkin suatu hari melihat pengalaman tersebut sebagai titik yang membuatnya lebih matang.
Kejadiannya tetap sama.
Tetapi maknanya berubah.
7. Penyesalan yang paling berguna adalah penyesalan yang membantu kita hidup lebih baik sekarang
Pada akhirnya, nilai sebuah penyesalan tidak hanya terletak pada seberapa menyakitkan pengalaman tersebut, tetapi pada apa yang kita lakukan setelahnya.
Jika dahulu kita terlalu takut mengambil kesempatan, mungkin pelajarannya adalah belajar lebih berani.
Jika dahulu kita terlalu mementingkan pekerjaan, mungkin pelajarannya adalah menghargai hubungan.
Jika dahulu kita mudah marah, mungkin pelajarannya adalah belajar mengendalikan respons.
Jika dahulu kita memilih berdasarkan tekanan orang lain, mungkin pelajarannya adalah mulai mengenali kebutuhan dan nilai diri sendiri.
Dengan demikian, penyesalan dapat berubah menjadi kompas.
Bukan kompas yang menunjukkan jalan menuju masa lalu, tetapi kompas yang membantu kita menentukan arah berikutnya.
Cobalah mengubah kalimat:
“Seandainya saya tidak melakukan itu.”
menjadi:
“Apa yang tidak ingin saya ulangi lagi?”
Ubah:
“Seandainya dulu saya berani.”
menjadi:
“Apa yang bisa saya beranikan sekarang?”
Dan ubah:
“Saya telah menyia-nyiakan banyak waktu.”
menjadi:
“Apa yang ingin saya lakukan dengan waktu yang masih saya punya?”
Perubahan tersebut tidak menghapus masa lalu.
Tetapi membuat masa lalu memiliki fungsi.
Penyesalan bukan akhir dari cerita
Setiap manusia membawa beberapa keputusan yang ingin diperbaiki.
Ada percakapan yang ingin diulang.
Ada kesempatan yang ingin diambil.
Ada orang yang ingin dipertahankan.
Ada pilihan yang ingin dibatalkan.
Ada waktu yang ingin dikembalikan.
Namun kehidupan tidak memberikan tombol undo.
Kita hanya memiliki kesempatan untuk memahami apa yang telah terjadi dan menggunakan pemahaman tersebut untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan lebih sadar.
Mungkin kita tidak bisa mengubah siapa diri kita beberapa tahun lalu.
Tetapi kita masih bisa menentukan siapa diri kita setelah menyadari kesalahan tersebut.
Itulah sebabnya penyesalan tidak selalu harus dianggap sebagai musuh.
Kadang-kadang, penyesalan adalah tanda bahwa kita sudah berubah.
Dulu kita mungkin belum memahami sesuatu.
Sekarang kita memahaminya.
Dulu kita mungkin belum cukup dewasa untuk membuat pilihan tertentu.
Sekarang kita melihatnya dengan perspektif yang berbeda.
Dan justru karena kita pernah melakukan kesalahan, kita memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan berikutnya dengan lebih bijaksana.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki masa lalu yang sempurna.
Hidup adalah tentang belajar berdamai dengan masa lalu tanpa membiarkannya menentukan seluruh masa depan.
Karena mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Apa yang seharusnya saya lakukan dulu?”
Melainkan:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022