Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Agustus 2026 | 00.01 WIB

7 Cara Sederhana agar Tidak Terjebak dalam Sistem yang Salah Menurut Psikologi

seseorang yang tidak ingin terjerumus pada sistem yang salah. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya berjalan begitu saja. Bangun pagi, bekerja, mengejar target, memenuhi ekspektasi orang lain, mengulang rutinitas yang sama, lalu tidur dengan perasaan lelah. Besok semuanya dimulai lagi.

Yang lebih berbahaya, terkadang kita tidak sadar bahwa kita sedang terjebak dalam sebuah sistem yang sebenarnya tidak lagi sesuai dengan diri kita.

Sistem tersebut tidak selalu berarti sesuatu yang besar seperti pekerjaan, perusahaan, lingkungan politik, atau struktur sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, “sistem yang salah” bisa berupa pola pikir, kebiasaan, lingkungan pergaulan, hubungan yang tidak sehat, budaya kerja yang berlebihan, atau rutinitas yang membuat seseorang terus bergerak tetapi tidak benar-benar berkembang.

Masalahnya, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan sesuatu yang sudah dikenal, bahkan ketika sesuatu tersebut tidak lagi memberikan manfaat.

Kita sering berkata:

“Sudah terlanjur.”

“Semua orang juga melakukannya.”

“Kalau saya berhenti, nanti bagaimana?”

“Mungkin memang beginilah hidup.”

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu dapat membuat seseorang bertahan jauh lebih lama dalam situasi yang sebenarnya ingin ia tinggalkan.

Psikologi membantu kita memahami mengapa hal tersebut terjadi. Manusia bukan hanya dipengaruhi oleh keputusan sadar, tetapi juga oleh kebiasaan, lingkungan, kebutuhan akan rasa aman, tekanan sosial, dan berbagai bias kognitif.

Kabar baiknya, terjebak bukan berarti tidak bisa keluar.

Anda tidak harus mengubah seluruh hidup dalam satu malam. Sering kali, perubahan justru dimulai dari beberapa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat tujuh cara sederhana yang dapat membantu Anda berhenti terus-menerus terjerumus ke dalam sistem yang salah.

1. Sadari Pola yang Terus Berulang

Langkah pertama bukan melawan sistem tersebut.

Langkah pertama adalah menyadarinya.

Banyak orang mengulangi kesalahan yang sama bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi karena mereka tidak pernah berhenti untuk melihat polanya.

Misalnya, seseorang selalu menerima pekerjaan tambahan meskipun sudah kelelahan. Setelah beberapa minggu, ia merasa stres. Ia kemudian berjanji akan lebih tegas. Namun ketika atasannya kembali meminta bantuan, ia mengatakan “iya” lagi.

Atau seseorang terus kembali kepada lingkungan pertemanan yang membuatnya merasa rendah diri. Setiap kali keluar dari lingkungan tersebut, ia berjanji tidak akan kembali. Tetapi beberapa waktu kemudian, ia kembali melakukan hal yang sama.

Inilah pentingnya mengidentifikasi pola.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

“Apa hal yang terus terjadi dalam hidup saya meskipun saya sebenarnya tidak menginginkannya?”

Perhatikan bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga proses sebelum hasil tersebut muncul.

Apa yang biasanya terjadi sebelum Anda mengambil keputusan?

Siapa yang biasanya berada di sekitar Anda?

Apa yang Anda rasakan?

Apa yang Anda pikirkan?

Dan keputusan apa yang biasanya Anda ambil?

Dengan mencatat pola tersebut, sesuatu yang sebelumnya terasa seperti “nasib buruk” mulai terlihat sebagai rangkaian perilaku yang bisa diubah.

Kesadaran adalah titik awal perubahan.

Selama sebuah pola tidak terlihat, kita cenderung menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan.

2. Jangan Terlalu Cepat Menganggap Sesuatu Benar Hanya Karena Sudah Lama Dilakukan

Salah satu jebakan psikologis yang sering terjadi adalah kecenderungan mempertahankan sesuatu hanya karena kita sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, atau uang di dalamnya.

Bayangkan seseorang sudah bekerja selama sepuluh tahun dalam bidang tertentu. Ia sebenarnya tidak lagi menyukai pekerjaannya, tetapi terus bertahan karena berpikir:

“Sayang kalau sepuluh tahun ini sia-sia.”

Padahal, sepuluh tahun yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan.

Yang masih bisa diputuskan adalah bagaimana sepuluh tahun berikutnya akan dijalani.

Dalam psikologi dan ekonomi perilaku, kecenderungan seperti ini berkaitan dengan sunk cost—kecenderungan mempertahankan keputusan karena merasa sudah terlalu banyak berinvestasi di dalamnya.

Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan, bisnis, pekerjaan, pendidikan, bahkan kebiasaan.

Kita bertahan bukan karena keadaan tersebut masih baik, tetapi karena takut mengakui bahwa keputusan sebelumnya mungkin tidak tepat.

Cobalah mengganti pertanyaan:

“Sudah berapa banyak yang saya korbankan untuk ini?”

menjadi:

“Jika saya belum memulai hal ini hari ini, apakah saya masih akan memilihnya?”

Pertanyaan tersebut membantu kita melihat masa depan, bukan terus terikat pada masa lalu.

Mengakui bahwa sesuatu tidak lagi tepat bukan berarti semua yang telah dilakukan sebelumnya sia-sia.

Pengalaman tersebut tetap memberikan pelajaran.

Namun pelajaran tidak harus berubah menjadi penjara.

3. Belajar Mengatakan “Tidak” Sebelum Keadaan Memaksa Anda Berhenti

Banyak orang terjerumus ke dalam sistem yang salah karena terlalu sering mengatakan “iya”.

“Iya” pada pekerjaan yang sebenarnya tidak sanggup dilakukan.

“Iya” pada permintaan orang lain.

“Iya” pada lingkungan yang tidak sehat.

“Iya” pada kebiasaan yang sebenarnya ingin dihentikan.

Pada awalnya, mengatakan iya terasa lebih mudah.

Kita menghindari konflik. Kita merasa diterima. Kita tidak perlu menjelaskan diri. Kita tidak membuat orang lain kecewa.

Namun ada konsekuensinya.

Setiap kali kita mengatakan “iya” terhadap sesuatu yang bertentangan dengan kebutuhan dan nilai pribadi, kita mungkin sedang mengatakan “tidak” terhadap diri sendiri.

Batasan pribadi bukan berarti egois.

Batasan adalah cara untuk menentukan apa yang dapat kita terima dan apa yang tidak.

Anda tidak harus selalu memberikan penjelasan panjang.

Kalimat sederhana seperti:

“Saya tidak bisa mengambil tanggung jawab itu sekarang.”

atau

“Terima kasih, tetapi saya memilih untuk tidak ikut.”

sudah cukup.

Pada awalnya mungkin terasa tidak nyaman.

Namun ketidaknyamanan tersebut sering kali lebih kecil daripada konsekuensi hidup tanpa batasan.

Orang yang terbiasa selalu mendapatkan “iya” dari kita mungkin akan merasa aneh ketika kita mulai berkata “tidak”.

Itu bukan selalu tanda bahwa kita melakukan kesalahan.

Bisa jadi itu tanda bahwa batas baru sedang terbentuk.

4. Periksa Lingkungan Anda, Bukan Hanya Kemauan Anda

Ada nasihat yang sering kita dengar:

“Kalau mau berubah, harus punya kemauan yang kuat.”

Kemauan memang penting.

Tetapi psikologi perilaku menunjukkan bahwa lingkungan juga memainkan peran besar dalam membentuk perilaku.

Jika Anda ingin mengurangi penggunaan media sosial tetapi setiap beberapa menit ponsel memberikan notifikasi, Anda harus menggunakan kemauan terus-menerus.

Jika Anda ingin hidup lebih teratur tetapi lingkungan Anda penuh dengan gangguan, perubahan menjadi lebih sulit.

Jika Anda ingin berhenti dari kebiasaan tertentu tetapi setiap hari berada di lingkungan yang mendorong kebiasaan tersebut, perjuangan Anda menjadi semakin berat.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana saya bisa menjadi lebih kuat?”

Tanyakan juga:

“Bagaimana saya bisa membuat lingkungan saya mendukung perubahan?”

Matikan notifikasi yang tidak penting.

Jauhkan hal-hal yang memicu kebiasaan buruk.

Kurangi interaksi dengan lingkungan yang terus menarik Anda kembali ke pola lama.

Dekatkan diri dengan orang-orang yang mendukung versi diri yang ingin Anda bangun.

Perubahan menjadi lebih mudah ketika lingkungan tidak terus-menerus memaksa Anda melawan diri sendiri.

5. Jangan Membuat Keputusan Besar Ketika Sedang Dikuasai Emosi

Emosi bukan musuh.

Marah, takut, kecewa, sedih, dan cemas adalah bagian dari pengalaman manusia.

Namun masalah muncul ketika emosi yang sangat kuat langsung diterjemahkan menjadi keputusan permanen.

Ketika marah, seseorang bisa mengundurkan diri secara impulsif.

Ketika kecewa, seseorang bisa memutus hubungan tanpa berpikir panjang.

Ketika takut, seseorang bisa menerima sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan.

Ketika sedang sangat bersemangat, seseorang bisa mengambil risiko yang belum dipertimbangkan.

Karena itu, salah satu kebiasaan sederhana yang sangat berguna adalah memberikan jarak antara emosi dan tindakan.

Tidak semua keputusan harus dibuat sekarang.

Ketika emosi sedang tinggi, Anda bisa berkata:

“Saya akan memikirkannya lagi besok.”

Jeda tersebut bukan berarti menghindari masalah.

Justru jeda memberikan kesempatan bagi pikiran yang lebih rasional untuk ikut mengambil bagian.

Cobalah membedakan:

“Apa yang sedang saya rasakan?”

dengan:

“Apa yang sebaiknya saya lakukan?”

Keduanya tidak selalu sama.

Anda boleh marah tanpa harus bertindak berdasarkan kemarahan.

Anda boleh takut tanpa harus menyerah.

Anda boleh kecewa tanpa harus menghancurkan sesuatu yang masih bisa diperbaiki.

6. Buat Sistem Kecil yang Membantu Anda, Bukan Hanya Mengandalkan Motivasi

Motivasi terasa kuat, tetapi sifatnya berubah-ubah.

Hari ini kita mungkin sangat bersemangat.

Besok belum tentu.

Karena itu, jika perubahan hanya bergantung pada motivasi, kemungkinan besar kita akan kembali ke kebiasaan lama ketika motivasi menurun.

Cara yang lebih realistis adalah membangun sistem kecil.

Misalnya, jika ingin membaca lebih banyak, jangan hanya berkata:

“Saya harus rajin membaca.”

Tetapkan kebiasaan membaca sepuluh halaman sebelum tidur.

Jika ingin mengurangi penggunaan ponsel, jangan hanya berjanji:

“Saya harus berhenti terlalu sering membuka media sosial.”

Tetapkan waktu tertentu untuk meletakkan ponsel jauh dari jangkauan.

Jika ingin memperbaiki keuangan, jangan hanya berkata:

“Saya harus lebih hemat.”

Buat aturan sederhana untuk mencatat pengeluaran atau menunda pembelian tertentu selama 24 jam.

Tujuannya bukan menjadi sempurna.

Tujuannya adalah membuat pilihan yang baik menjadi sedikit lebih mudah dan pilihan yang buruk menjadi sedikit lebih sulit.

Perubahan kecil yang dilakukan berulang kali dapat membentuk pola baru.

Dan ketika pola baru sudah menjadi kebiasaan, Anda tidak lagi membutuhkan energi mental sebesar sebelumnya untuk melakukannya.

7. Berani Mengubah Arah Ketika Bukti Menunjukkan Anda Berada di Jalan yang Salah

Ini mungkin bagian yang paling sulit.

Kadang-kadang kita sudah mengetahui bahwa sesuatu tidak bekerja, tetapi kita tetap mempertahankannya karena takut terhadap ketidakpastian.

Kita takut memulai kembali.

Takut dianggap gagal.

Takut mengecewakan orang lain.

Takut kehilangan status.

Takut tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kita pergi.

Namun ada perbedaan besar antara bertahan karena memang masih layak diperjuangkan dan bertahan karena takut memulai sesuatu yang baru.

Jangan jadikan ketakutan sebagai satu-satunya alasan untuk mempertahankan sebuah sistem.

Sesekali, lakukan evaluasi dengan jujur.

Tanyakan:

“Apakah situasi ini masih membawa saya mendekati kehidupan yang saya inginkan?”

Jika jawabannya terus-menerus tidak, mungkin yang diperlukan bukan usaha lebih keras.

Mungkin yang diperlukan adalah arah yang berbeda.

Mengubah arah bukan selalu berarti gagal.

Seorang navigator yang mengetahui bahwa kapalnya menuju arah yang salah tidak disebut gagal ketika ia mengubah jalur.

Justru sebaliknya.

Ia menunjukkan bahwa dirinya mampu membaca keadaan dan melakukan koreksi.

Jangan Menunggu Sampai Hidup Memaksa Anda Berubah

Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah menunggu sampai keadaan menjadi sangat buruk sebelum melakukan perubahan.

Kita menunggu sampai tubuh benar-benar kelelahan.

Menunggu sampai hubungan benar-benar rusak.

Menunggu sampai pekerjaan benar-benar menghancurkan semangat.

Menunggu sampai masalah keuangan menjadi besar.

Menunggu sampai kita kehilangan sesuatu yang sangat penting.

Padahal, perubahan tidak selalu harus menunggu krisis.

Anda boleh berubah hanya karena menyadari bahwa sesuatu tidak lagi cocok.

Anda tidak membutuhkan alasan yang dramatis untuk memperbaiki hidup.

Tidak harus menunggu semuanya hancur.

Tidak harus menunggu orang lain menyetujui.

Tidak harus menunggu diri sendiri menjadi sepenuhnya siap.

Sering kali, kesiapan muncul setelah kita mulai bergerak.

Pada Akhirnya, Anda Tidak Harus Mengubah Seluruh Hidup Sekaligus

Jika saat ini Anda merasa sedang berada dalam sistem yang salah, jangan langsung berpikir bahwa Anda harus menghancurkan semuanya dan memulai dari nol.

Mulailah dengan satu hal.

Amati pola Anda.

Kenali apa yang terus berulang.

Berhenti mempertahankan sesuatu hanya karena sudah terlalu lama dijalani.

Belajar berkata tidak.

Atur lingkungan.

Berikan jeda sebelum mengambil keputusan emosional.

Bangun sistem kecil yang mendukung tujuan Anda.

Dan yang paling penting, berikan diri sendiri izin untuk mengubah arah ketika memang diperlukan.

Hidup bukan tentang menemukan satu keputusan sempurna yang akan berlaku selamanya.

Hidup lebih mirip proses evaluasi yang terus berlangsung.

Kita mencoba.

Kita belajar.

Kita menemukan sesuatu yang tidak cocok.

Kita memperbaiki.

Kemudian kita mencoba lagi.

Jangan biarkan masa lalu menentukan seluruh masa depan Anda hanya karena Anda takut mengakui bahwa sebuah jalan ternyata bukan jalan yang tepat.

Anda tidak harus terus berada di tempat yang salah hanya karena sudah berjalan terlalu jauh.

Terkadang keberanian terbesar bukan tentang bertahan lebih lama.

Terkadang keberanian terbesar adalah berhenti sejenak, melihat arah dengan jujur, lalu berkata:

“Saya ingin memilih jalan yang berbeda.”
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore