Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Agustus 2026 | 00.25 WIB

Jika Anda Ingin Mengetahui Seseorang Bisa Dipercaya atau Tidak, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

Seseorang yang memerhatikan temannya dengan saksama (Magnific/magnific) - Image

Seseorang yang memerhatikan temannya dengan saksama (Magnific/magnific)

JawaPos.com - Kepercayaan merupakan salah satu fondasi terpenting dalam hubungan manusia. Dalam pertemanan, hubungan asmara, keluarga, maupun dunia kerja, kita tentu ingin dikelilingi oleh orang-orang yang dapat diandalkan, jujur, dan mampu menjaga batasan.


Namun, mengetahui apakah seseorang benar-benar bisa dipercaya bukanlah perkara mudah. Ada orang yang terlihat sangat ramah tetapi ternyata tidak konsisten ketika diberi tanggung jawab. Sebaliknya, ada pula orang yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menepati apa yang telah dijanjikannya.

Karena itu, jangan hanya menilai seseorang berdasarkan kesan pertama. Psikologi menunjukkan bahwa kepercayaan lebih tepat dilihat dari pola perilaku yang berulang, terutama ketika seseorang menghadapi situasi yang membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, dan empati.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), jika Anda ingin mengetahui apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak, berikut tujuh cara yang dapat Anda perhatikan.

1. Perhatikan Apakah Ucapan dan Perilakunya Konsisten

Salah satu tanda paling penting dari seseorang yang dapat dipercaya adalah adanya kesesuaian antara apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan.

Orang yang mengatakan, “Saya akan membantu Anda,” kemudian benar-benar berusaha membantu ketika waktunya tiba, menunjukkan konsistensi. Sebaliknya, seseorang yang sering memberikan janji tetapi berulang kali tidak menepatinya perlu diperhatikan lebih jauh.

Dalam psikologi, perilaku yang konsisten dari waktu ke waktu memberikan informasi yang jauh lebih kuat dibandingkan satu tindakan positif yang terjadi sesekali.

Misalnya, seseorang mungkin berkata bahwa dirinya sangat menghargai kejujuran. Namun, ketika melakukan kesalahan, apakah ia berani mengakuinya? Apakah ia mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab?

Di sinilah karakter seseorang sering terlihat.

Jangan hanya mendengarkan apa yang seseorang katakan tentang dirinya. Perhatikan apa yang secara konsisten ia lakukan.

Kata-kata dapat dibuat sedemikian rupa agar seseorang terlihat baik, tetapi kebiasaan biasanya jauh lebih sulit untuk dipalsukan dalam jangka panjang.

Mengapa konsistensi penting?

Kepercayaan membutuhkan prediktabilitas. Kita merasa lebih aman ketika dapat memperkirakan bagaimana seseorang akan bertindak dalam berbagai situasi.

Jika hari ini ia berjanji akan melakukan sesuatu, besok mengingkarinya, kemudian lusa memberikan alasan yang berbeda lagi, Anda mungkin akan kesulitan membangun rasa percaya.

Sebaliknya, orang yang perilakunya relatif konsisten memberikan sinyal bahwa perkataan dan tindakannya memiliki hubungan yang kuat.

2. Lihat Bagaimana Ia Memperlakukan Orang yang Tidak Bisa Memberinya Keuntungan

Cara seseorang memperlakukan orang lain yang tidak memiliki kekuasaan atau manfaat langsung baginya bisa menjadi petunjuk menarik tentang karakternya.

Perhatikan bagaimana ia berbicara kepada pelayan restoran, petugas kebersihan, pegawai baru, orang asing, atau siapa pun yang menurutnya tidak memiliki posisi penting.

Mengapa hal ini penting?

Karena ketika seseorang tidak membutuhkan sesuatu dari orang lain, motivasi untuk berpura-pura menjadi baik bisa berkurang.

Seseorang mungkin sangat sopan kepada atasannya karena mengharapkan promosi. Ia juga bisa sangat ramah kepada orang yang dianggap memiliki koneksi penting.

Namun, bagaimana perilakunya ketika berhadapan dengan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan apa pun?

Apakah ia tetap menghormati mereka?

Atau justru menjadi kasar, merendahkan, dan tidak sabar?

Tentu saja, satu kejadian tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang tidak dapat dipercaya. Setiap orang bisa mengalami hari yang buruk atau melakukan kesalahan.

Yang lebih penting adalah pola perilakunya.

Jika seseorang secara konsisten menghargai orang lain, bahkan ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa rasa hormatnya bukan sekadar strategi sosial.

3. Perhatikan Cara Ia Menjaga Rahasia Orang Lain

Jika Anda ingin mengetahui apakah seseorang dapat dipercaya, jangan buru-buru memberikan rahasia pribadi kepadanya. Sebaliknya, perhatikan bagaimana ia memperlakukan informasi pribadi milik orang lain.

Misalnya, apakah ia sering menceritakan masalah pribadi temannya kepada Anda?

Apakah ia senang membicarakan keburukan orang lain?

Apakah ia mengatakan, “Jangan bilang siapa-siapa, ya,” tetapi kemudian justru menceritakan rahasia tersebut kepada banyak orang?

Hal-hal semacam ini patut menjadi perhatian.

Seseorang yang mudah membocorkan rahasia orang lain mungkin juga berpotensi melakukan hal serupa terhadap Anda.

Sebaliknya, orang yang mampu menjaga informasi sensitif menunjukkan bahwa ia memahami batasan dan konsekuensi sosial dari tindakannya.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: jangan menganggap seseorang tidak dapat dipercaya hanya karena ia menolak menyimpan informasi tertentu. Ada perbedaan antara menjaga rahasia dan menyembunyikan informasi yang seharusnya diketahui orang lain.

Orang yang sehat secara psikologis juga memahami bahwa tidak semua informasi harus disimpan sendiri.

Jadi, yang perlu dinilai adalah apakah seseorang mampu menghormati privasi dan memahami batasan.

4. Perhatikan Responsnya Ketika Melakukan Kesalahan

Cara seseorang menghadapi kesalahan sering kali lebih informatif daripada bagaimana ia berperilaku ketika semuanya berjalan dengan baik.

Semua orang bisa melakukan kesalahan.

Yang membedakan seseorang adalah apa yang ia lakukan setelah menyadari kesalahan tersebut.

Apakah ia berani mengatakan, “Saya salah”?

Apakah ia meminta maaf?

Apakah ia berusaha memperbaiki keadaan?

Atau justru langsung mencari kambing hitam?

Seseorang yang dapat dipercaya tidak harus selalu benar. Tidak ada manusia yang sempurna.

Namun, orang yang dapat dipercaya biasanya mampu mengambil tanggung jawab atas tindakannya.

Sebaliknya, seseorang yang hampir selalu memiliki alasan, menyalahkan orang lain, atau memutarbalikkan keadaan ketika melakukan kesalahan bisa membuat hubungan menjadi sulit.

Kesalahan justru bisa menjadi ujian karakter

Bayangkan seorang rekan kerja lupa melakukan tugas yang sudah disepakati.

Ada dua kemungkinan.

Orang pertama berkata, “Saya lupa. Itu kesalahan saya. Saya akan menyelesaikannya sekarang.”

Orang kedua berkata, “Sebenarnya ini bukan salah saya. Kalau Anda mengingatkan dari awal, hal ini tidak akan terjadi.”

Perbedaannya bukan sekadar mengenai tugas tersebut.

Respons itu memberi gambaran tentang bagaimana seseorang menghadapi tanggung jawab ketika berada dalam posisi yang tidak nyaman.

Karena itu, jika Anda ingin menilai kepercayaan seseorang, perhatikan bagaimana ia bertindak ketika tidak ada cara mudah untuk terlihat baik.

5. Lihat Apakah Ia Menghormati Batasan Anda

Orang yang dapat dipercaya tidak hanya menghargai apa yang Anda katakan, tetapi juga menghormati batasan yang Anda tetapkan.

Batasan bisa bermacam-macam.

Misalnya, Anda mengatakan tidak ingin membicarakan masalah pribadi tertentu. Apakah ia menghormatinya?

Anda mengatakan sedang membutuhkan waktu sendiri. Apakah ia memberikan ruang?

Anda menolak meminjamkan sesuatu. Apakah ia menerima keputusan tersebut?

Atau ia terus memaksa sampai Anda merasa bersalah?

Kemampuan menghormati batasan merupakan bagian penting dalam hubungan yang sehat.

Seseorang yang selalu mengabaikan batasan orang lain dapat membuat hubungan terasa tidak aman, meskipun ia terlihat sangat perhatian pada awalnya.

Sebaliknya, orang yang mampu menerima kata “tidak” menunjukkan bahwa ia memahami bahwa orang lain memiliki hak untuk menentukan keputusan dan kenyamanannya sendiri.

Perlu diingat, seseorang yang dipercaya bukan berarti seseorang yang selalu menyetujui keinginan Anda.

Ia bisa saja berbeda pendapat dengan Anda.

Yang penting adalah bagaimana ia menyampaikan perbedaan tersebut dan apakah ia tetap menghormati Anda.

6. Perhatikan Apakah Ia Tetap Jujur Ketika Kejujuran Merugikan Dirinya

Kejujuran paling mudah dilakukan ketika mengatakan kebenaran memberikan keuntungan.

Namun, situasinya berbeda ketika kejujuran justru dapat membuat seseorang terlihat buruk, kehilangan keuntungan, atau menghadapi konsekuensi.

Di sinilah kualitas kejujuran seseorang lebih mudah terlihat.

Misalnya, seseorang menemukan bahwa dirinya menerima uang lebih banyak dari yang seharusnya. Apakah ia mengembalikannya?

Atau seseorang melakukan kesalahan yang belum diketahui siapa pun. Apakah ia berani mengaku?

Tentu saja, manusia tidak selalu sempurna. Seseorang bisa takut, ragu, atau melakukan kesalahan.

Karena itu, jangan menilai hanya dari satu kejadian.

Perhatikan kecenderungan jangka panjangnya.

Orang yang dapat dipercaya biasanya memahami bahwa kejujuran bukan hanya tentang mengatakan hal yang benar ketika keadaan nyaman, tetapi juga bersedia menghadapi konsekuensi ketika mengatakan kebenaran terasa sulit.

Kejujuran bukan berarti mengatakan semua hal tanpa pertimbangan

Ada perbedaan antara jujur dan mengatakan segala sesuatu tanpa empati.

Seseorang dapat berkata jujur sekaligus tetap menghormati perasaan orang lain.

Karena itu, saat menilai seseorang, jangan hanya bertanya, “Apakah dia jujur?”

Tanyakan juga:

“Bagaimana dia menggunakan kejujurannya?”

Orang yang dapat dipercaya biasanya berusaha menyampaikan kebenaran dengan bertanggung jawab, bukan menjadikan “kejujuran” sebagai alasan untuk menyakiti atau mempermalukan orang lain.

7. Amati Bagaimana Ia Bersikap Saat Tidak Ada yang Mengawasinya

Inilah salah satu cara paling sederhana sekaligus paling sulit untuk dilakukan.

Ketika seseorang tahu bahwa dirinya sedang diperhatikan, ia mungkin akan berusaha menampilkan perilaku terbaik.

Namun, bagaimana ketika tidak ada yang melihat?

Apakah ia tetap menjalankan tanggung jawab?

Apakah ia tetap mematuhi kesepakatan?

Apakah ia mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya meskipun tidak ada orang yang mengetahui?

Apakah ia tetap memperlakukan orang lain dengan baik ketika tidak mendapatkan pujian?

Perilaku dalam situasi tanpa pengawasan dapat memberikan gambaran mengenai nilai-nilai internal seseorang.

Namun sekali lagi, jangan menjadikan satu kejadian sebagai vonis mutlak terhadap karakter seseorang.

Yang lebih penting adalah melihat pola.

Jika seseorang berkali-kali menunjukkan integritas meskipun tidak mendapatkan pujian atau pengawasan, hal tersebut merupakan sinyal positif.

Sebaliknya, jika seseorang hanya berperilaku baik ketika ada orang yang melihat, Anda mungkin perlu lebih berhati-hati dalam memberikan kepercayaan.

Jangan Mencari “Tanda Tunggal” Seseorang Bisa Dipercaya

Ada satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mencoba membaca karakter seseorang: mencari satu tanda yang dianggap sebagai bukti mutlak.

Misalnya, seseorang menghindari kontak mata sehingga dianggap berbohong.

Padahal, tidak ada satu bahasa tubuh tertentu yang secara otomatis membuktikan seseorang sedang berbohong atau tidak dapat dipercaya.

Orang bisa menghindari kontak mata karena malu, cemas, gugup, kebiasaan budaya, atau berbagai alasan lainnya.

Karena itu, jauh lebih baik melihat kumpulan perilaku dan pola yang terjadi berulang kali.

Perhatikan:

Apakah perkataan dan tindakannya konsisten?
Apakah ia bertanggung jawab atas kesalahannya?
Apakah ia menghormati batasan?
Apakah ia mampu menjaga privasi?
Apakah ia memperlakukan orang lain dengan hormat?
Apakah ia jujur ketika berada dalam situasi sulit?
Apakah perilakunya tetap baik ketika tidak diawasi?

Semakin banyak pola positif yang terlihat dalam jangka waktu yang cukup lama, semakin kuat alasan untuk membangun kepercayaan.

Kepercayaan Tidak Harus Diberikan Sekaligus

Satu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa kepercayaan tidak harus diberikan dalam jumlah penuh sejak awal.

Anda tidak harus langsung mempercayakan rahasia terbesar, uang, tanggung jawab penting, atau keputusan besar kepada seseorang yang baru Anda kenal.

Kepercayaan dapat dibangun secara bertahap.

Mulailah dari hal-hal kecil.

Berikan tanggung jawab sederhana dan lihat bagaimana ia merespons. Perhatikan apakah ia menepati janji. Lihat bagaimana ia menghadapi kesalahan. Amati apakah ia menghormati batasan Anda.

Seiring waktu, Anda akan mendapatkan lebih banyak informasi tentang karakter orang tersebut.

Dengan cara ini, kepercayaan tidak dibangun berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan pengalaman nyata.

Kesimpulan

Mengetahui apakah seseorang bisa dipercaya bukanlah soal membaca pikiran atau mencari “trik” psikologis tertentu.

Cara yang lebih masuk akal adalah mengamati pola perilaku seseorang dari waktu ke waktu.

Jika Anda ingin menilai seseorang, perhatikan tujuh hal: konsistensi antara ucapan dan tindakan, cara ia memperlakukan orang yang tidak memberikan keuntungan, kemampuannya menjaga rahasia, respons ketika melakukan kesalahan, penghormatan terhadap batasan, kejujuran ketika berada dalam situasi sulit, serta perilakunya ketika tidak ada yang mengawasi.

Pada akhirnya, orang yang dapat dipercaya bukanlah orang yang selalu sempurna.

Mereka bisa melakukan kesalahan, berubah pikiran, atau mengalami kegagalan.

Namun, ada satu pola yang biasanya sangat berarti: mereka berusaha bertanggung jawab, jujur, konsisten, dan menghormati orang lain bahkan ketika tidak ada keuntungan langsung bagi dirinya.

Jadi, jika Anda ingin mengetahui apakah seseorang benar-benar dapat dipercaya, jangan hanya mendengarkan apa yang ia katakan tentang dirinya.

Amati apa yang ia lakukan—terutama ketika tidak ada yang memintanya untuk terlihat baik.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore