Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2026 | 00.03 WIB

7 Frasa yang Kerap Diucapkan Orang Licik dalam Kehidupan Sehari-hari, Simak!

Ilustrasi orang licik (freepik) - Image

Ilustrasi orang licik (freepik)

 

JawaPos.com - Simak dan kenali tujuh frasa yang kerap digunakan orang licik dalam kehidupan sehari-hari. 

Ya, memahami maksud di balik ucapan yang terdengar biasa, tetapi bisa menjadi tanda manipulasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak selalu mudah mengenali orang yang memiliki niat kurang baik. 

Seseorang bisa terlihat ramah, perhatian, bahkan sangat pandai berbicara, tetapi pada situasi tertentu menggunakan kata-kata untuk memengaruhi, menekan, atau mengendalikan orang lain.

Karena itu, memahami pola komunikasi seseorang dapat membantu kita lebih waspada dalam membangun hubungan. 

Ada beberapa frasa yang sekilas terdengar biasa, tetapi jika terus-menerus digunakan dalam konteks tertentu, bisa menjadi tanda adanya perilaku manipulatif atau upaya mengambil keuntungan dari orang lain.

Dirangkum dari laman YourTango, inilah frasa-frasa yang kerap diucapkan orang licik dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi perlu diingat, satu kalimat saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang sebagai orang licik

Konteks, pola perilaku, dan tujuan di balik perkataan tetap perlu diperhatikan.

1. “Kamu terlalu sensitif.”

Frasa “kamu terlalu sensitif” sering digunakan ketika seseorang tidak ingin bertanggung jawab atas dampak perkataan atau tindakannya terhadap orang lain. Alih-alih membahas masalah yang terjadi, perhatian justru dialihkan kepada reaksi orang yang merasa tersinggung.

Dalam situasi tertentu, kalimat ini bisa menjadi bentuk manipulasi emosional. Orang yang mendengarnya akhirnya mulai meragukan perasaannya sendiri dan bertanya-tanya apakah reaksinya memang berlebihan.

Padahal, merasa tidak nyaman terhadap perlakuan tertentu merupakan pengalaman yang valid. Perbedaan antara kritik yang sehat dan manipulasi terletak pada kesediaan seseorang untuk membahas masalah secara terbuka tanpa meremehkan perasaan lawan bicara.

2. “Aku cuma bercanda.”

Kalimat ini sering muncul setelah seseorang melontarkan komentar yang menyakitkan, merendahkan, atau membuat orang lain tidak nyaman. Ketika mendapat respons negatif, ia kemudian berlindung di balik alasan bahwa perkataannya hanya sebuah candaan.

Humor memang bersifat subjektif. Namun, seseorang yang terus menggunakan lelucon untuk menyampaikan penghinaan kemudian menolak bertanggung jawab atas dampaknya patut diperhatikan.

Orang yang berkomunikasi secara sehat biasanya mampu meminta maaf ketika menyadari candaan mereka telah melewati batas. Mereka tidak menjadikan kata “bercanda” sebagai alasan untuk mengabaikan perasaan orang lain.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore