Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Agustus 2026 | 00.44 WIB

7 Alasan Anda Dapat Jatuh Cinta pada Pria yang Secara Emosional Tidak Stabil Menurut Psikologi

seseorang yang jatuh cinta pada pria yang tidak stabil. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam hubungan asmara, perasaan cinta sering kali muncul tanpa bisa dikendalikan. Tidak sedikit orang yang menyadari bahwa pasangan mereka memiliki emosi yang tidak stabil, mudah marah, sulit mengendalikan perasaan, atau sering membuat hubungan terasa melelahkan. Namun, anehnya, mereka tetap sulit melepaskan diri dari hubungan tersebut.


Fenomena ini bukan sekadar soal "buta karena cinta".

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (5/8), menurut psikologi, terdapat berbagai faktor yang membuat seseorang tertarik dan bertahan dengan pasangan yang secara emosional tidak stabil. Faktor-faktor ini berkaitan dengan pola asuh, pengalaman masa lalu, kebutuhan emosional, hingga cara otak memproses rasa nyaman dan ketidakpastian.

Lalu, apa saja penyebabnya? Berikut penjelasan lengkap berdasarkan sudut pandang psikologi.

1. Terbiasa dengan Hubungan yang Penuh Drama Sejak Kecil

Salah satu alasan paling umum adalah pengalaman masa kecil. Psikolog menjelaskan bahwa seseorang yang tumbuh di lingkungan keluarga dengan konflik, pertengkaran, atau emosi yang tidak konsisten cenderung menganggap situasi tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Ketika dewasa, mereka tanpa sadar mencari pasangan yang memiliki pola perilaku serupa. Bukan karena mereka menyukai penderitaan, tetapi karena otak mengenali pola tersebut sebagai sesuatu yang familiar.

Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan konsep familiarity bias, yaitu kecenderungan manusia merasa nyaman terhadap sesuatu yang sudah dikenal, meskipun sebenarnya tidak sehat.

2. Ingin Menjadi "Penyelamat"

Sebagian orang memiliki dorongan kuat untuk membantu atau memperbaiki orang lain. Mereka percaya bahwa cinta yang cukup besar mampu mengubah pasangan menjadi pribadi yang lebih baik.

Akibatnya, ketika bertemu pria yang emosinya tidak stabil, mereka justru merasa tertantang untuk menjadi penolong.

Padahal, perubahan perilaku seseorang hanya dapat terjadi apabila individu tersebut memiliki kesadaran dan kemauan untuk berubah. Hubungan yang sehat bukanlah hubungan antara "penyelamat" dan "korban", melainkan dua orang yang sama-sama bertanggung jawab atas kesehatan emosinya.

3. Intensitas Emosi Disalahartikan Sebagai Cinta

Pria yang emosinya tidak stabil sering menunjukkan kasih sayang secara ekstrem. Hari ini ia bisa sangat romantis, besok berubah menjadi dingin atau marah tanpa alasan yang jelas.

Perubahan drastis ini membuat hubungan terasa penuh kejutan. Otak kemudian melepaskan hormon dopamin saat menerima perhatian setelah sebelumnya mengalami penolakan.

Akibatnya, hubungan terasa sangat "menggairahkan", padahal yang dirasakan sebenarnya adalah naik-turunnya emosi, bukan cinta yang sehat.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai intermittent reinforcement, yaitu pola penghargaan yang tidak konsisten sehingga seseorang justru semakin sulit melepaskan hubungan tersebut.

4. Harga Diri yang Rendah

Orang dengan harga diri rendah sering merasa harus bekerja keras agar layak dicintai.

Ketika pasangannya berubah-ubah secara emosional, mereka justru semakin berusaha menyenangkan pasangan demi mendapatkan perhatian atau pengakuan.

Lama-kelamaan, hubungan berubah menjadi siklus mengejar validasi.

Padahal, cinta yang sehat tidak menuntut seseorang untuk terus membuktikan bahwa dirinya pantas dicintai.

5. Menganggap Perilaku Buruk Sebagai Bukti Cinta yang Besar

Budaya populer sering menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang penuh pengorbanan, cemburu berlebihan, atau ledakan emosi.

Akibatnya, sebagian orang menganggap pria yang posesif, mudah marah, atau terlalu emosional sebagai sosok yang benar-benar mencintai mereka.

Padahal, menurut psikologi, cinta yang sehat justru ditandai oleh rasa aman, saling menghormati, komunikasi yang baik, dan kemampuan mengendalikan emosi.

Emosi yang tidak stabil bukanlah bukti besarnya cinta.

6. Terjebak dalam Trauma Bonding

Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus perlakuan buruk yang diselingi dengan perhatian atau kasih sayang.

Misalnya, pasangan sering menyakiti secara verbal, kemudian meminta maaf dengan sangat romantis dan berjanji berubah.

Siklus tersebut membuat korban terus berharap bahwa pasangan akan kembali menjadi sosok yang baik seperti sebelumnya.

Harapan inilah yang membuat seseorang sulit mengakhiri hubungan, meskipun berkali-kali terluka.

7. Takut Kesepian dan Sulit Memulai Hubungan Baru

Ketakutan terhadap kesendirian dapat membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Mereka berpikir bahwa memiliki pasangan yang emosinya tidak stabil masih lebih baik daripada harus memulai dari awal atau hidup sendiri.

Psikologi menjelaskan bahwa rasa takut kehilangan sering kali lebih kuat daripada keinginan memperoleh sesuatu yang lebih baik. Akibatnya, seseorang memilih bertahan meski hubungan tersebut terus menguras energi mental.

Bagaimana Membedakan Emosi Tidak Stabil dengan Kepribadian yang Normal?

Setiap orang tentu bisa marah, sedih, atau kecewa. Namun, seseorang yang mengalami kesulitan mengatur emosi biasanya menunjukkan pola yang berulang, seperti:

Mudah marah karena hal-hal kecil.
Sering menyalahkan pasangan atas semua masalah.
Sulit meminta maaf dengan tulus.
Hubungan dipenuhi konflik yang berulang.
Perubahan suasana hati terjadi sangat cepat.
Membuat pasangan merasa cemas atau berjalan "di atas kulit telur" agar tidak memicu kemarahan.

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu kualitas hubungan, maka kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Cara Menghindari Hubungan yang Tidak Sehat

Apabila Anda menyadari sedang tertarik pada pria yang secara emosional tidak stabil, beberapa langkah berikut dapat membantu:

Kenali pola hubungan Anda di masa lalu.
Bangun harga diri yang sehat tanpa bergantung pada validasi pasangan.
Tetapkan batasan yang jelas dalam hubungan.
Jangan menganggap Anda bertanggung jawab memperbaiki pasangan.
Dengarkan pendapat keluarga atau teman yang objektif.
Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog jika pola hubungan yang sama terus berulang.
Kesimpulan

Jatuh cinta kepada pria yang secara emosional tidak stabil bukan berarti Anda lemah atau tidak mampu membuat keputusan yang baik. Dalam banyak kasus, ketertarikan tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan emosional, pola pengasuhan, hingga cara otak memproses rasa nyaman dan ketidakpastian.

Memahami alasan psikologis di balik ketertarikan tersebut adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Hubungan yang baik tidak hanya dipenuhi rasa cinta, tetapi juga menghadirkan rasa aman, saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan kemampuan kedua belah pihak untuk mengelola emosi secara dewasa.

Pada akhirnya, pasangan yang tepat bukanlah mereka yang membuat Anda terus-menerus cemas, melainkan mereka yang mampu menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan dukungan untuk tumbuh bersama.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore