seseorang yang menjadi orang tua favorit anaknya. (Magnific)
Fenomena ini sering membuat salah satu orang tua merasa sedih, tersisih, bahkan mempertanyakan apakah dirinya telah gagal membangun ikatan emosional dengan sang anak. Padahal, menurut psikologi perkembangan, memiliki "orang tua favorit" adalah hal yang cukup umum dan biasanya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal.
Penting dipahami bahwa favoritisme anak terhadap salah satu orang tua tidak selalu bersifat permanen. Preferensi tersebut dapat berubah seiring bertambahnya usia, perkembangan emosi, pengalaman sehari-hari, hingga perubahan dinamika dalam keluarga.
Lalu, apa saja penyebabnya?
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (5/8), terdapat enam alasan mengapa anak-anak tampak memiliki orang tua favorit menurut psikologi.
1. Ikatan Emosional yang Lebih Kuat (Attachment)
Salah satu penjelasan utama berasal dari teori attachment atau keterikatan yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby. Menurut teori ini, anak secara alami membangun hubungan emosional yang kuat dengan sosok yang paling konsisten memenuhi kebutuhan fisik maupun emosionalnya.
Jika seorang ibu lebih sering menemani anak makan, tidur, atau menenangkan saat menangis, anak mungkin akan merasa lebih aman bersamanya. Sebaliknya, jika ayah lebih sering menghabiskan waktu berkualitas dengan anak melalui bermain, membaca cerita, atau mengajak beraktivitas, ikatan tersebut juga dapat berkembang sangat kuat.
Perlu diingat, attachment bukan sekadar soal siapa yang paling lama bersama anak, melainkan siapa yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan respons yang konsisten ketika anak membutuhkan dukungan.
2. Tahap Perkembangan Anak
Preferensi anak terhadap orang tua juga dipengaruhi oleh usia dan tahap perkembangan psikologisnya.
Pada masa bayi hingga balita, anak umumnya lebih bergantung kepada pengasuh utama karena kebutuhan dasar mereka masih sangat tinggi. Memasuki usia prasekolah, anak mulai mengeksplorasi lingkungan dan bisa menunjukkan kedekatan yang berbeda dengan ayah maupun ibu.
Di usia sekolah, anak mulai membangun identitas diri dan terkadang lebih dekat dengan orang tua yang memiliki minat atau aktivitas serupa. Saat remaja, hubungan ini dapat berubah kembali karena mereka mulai mencari kemandirian dan dukungan emosional yang berbeda.
Dengan kata lain, orang tua favorit hari ini belum tentu tetap menjadi favorit beberapa tahun kemudian.
3. Perbedaan Gaya Pengasuhan
Setiap orang tua memiliki cara mendidik yang berbeda. Ada yang lebih tegas, ada yang lebih santai, ada pula yang lebih ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang.
Anak sering kali merasa lebih nyaman kepada orang tua yang gaya pengasuhannya sesuai dengan kebutuhan emosionalnya pada saat itu. Misalnya, ketika ingin bermain, anak mungkin lebih memilih ayah yang aktif dan suka bercanda. Namun saat merasa takut atau sedih, ia justru mencari ibu yang dianggap lebih menenangkan.
Perbedaan ini bukan berarti salah satu orang tua lebih baik daripada yang lain. Justru kombinasi gaya pengasuhan yang seimbang dapat membantu perkembangan emosional anak secara optimal.
4. Pengalaman Positif yang Berulang
Psikologi menjelaskan bahwa pengalaman yang menyenangkan dan dilakukan secara konsisten akan memperkuat hubungan interpersonal.
Jika seorang ayah rutin mengantar anak bersepeda setiap akhir pekan atau ibu selalu membacakan dongeng sebelum tidur, aktivitas sederhana tersebut dapat menjadi momen yang sangat berkesan bagi anak.
Anak cenderung mengaitkan perasaan bahagia dengan orang yang sering menghadirkan pengalaman positif. Semakin sering pengalaman itu terjadi, semakin kuat pula kedekatan emosional yang terbentuk.
Karena itu, kualitas waktu bersama sering kali lebih penting daripada sekadar lamanya waktu yang dihabiskan.
5. Temperamen Anak dan Orang Tua yang Cocok
Setiap anak lahir dengan temperamen yang berbeda. Ada yang mudah bergaul, ada yang pemalu, ada yang aktif, dan ada pula yang lebih tenang.
Demikian pula dengan orang tua. Ketika temperamen anak cocok dengan salah satu orang tua, interaksi mereka biasanya berlangsung lebih alami dan minim konflik.
Sebagai contoh, anak yang sangat aktif mungkin merasa lebih nyaman bersama ayah yang senang berolahraga dan bermain di luar rumah. Sebaliknya, anak yang lebih pendiam mungkin lebih menikmati waktu bersama ibu yang gemar membaca atau melakukan aktivitas yang tenang.
Kecocokan ini bukan berarti hubungan dengan orang tua lainnya buruk. Hanya saja, komunikasi terasa lebih mudah karena karakter keduanya lebih selaras.
6. Anak Sedang Memenuhi Kebutuhan Emosional Tertentu
Preferensi anak terhadap salah satu orang tua sering kali bersifat situasional.
Ketika sakit, anak mungkin lebih ingin ditemani ibu karena merasa lebih nyaman dirawat olehnya. Saat ingin mencoba permainan baru atau aktivitas fisik, ia bisa saja lebih memilih ayah.
Dalam kondisi tertentu, anak mencari sosok yang dianggap paling mampu memenuhi kebutuhan emosionalnya pada saat itu, baik berupa rasa aman, hiburan, dorongan, maupun perlindungan.
Hal ini merupakan bagian dari kemampuan anak dalam mengenali sumber dukungan emosional yang berbeda dari masing-masing orang tua.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Melihat anak lebih dekat dengan salah satu orang tua memang bisa memunculkan rasa kecewa. Namun, para psikolog menyarankan agar orang tua tidak menjadikan situasi ini sebagai kompetisi.
Sebaliknya, fokuslah membangun hubungan yang hangat dan konsisten melalui interaksi sehari-hari. Luangkan waktu khusus bersama anak, dengarkan ceritanya tanpa menghakimi, berikan perhatian penuh saat bermain, dan tunjukkan kasih sayang secara terbuka.
Hindari memaksa anak memilih salah satu orang tua atau membandingkan kasih sayang yang diberikan. Sikap seperti ini justru dapat membuat anak merasa bingung dan tertekan.
Yang terpenting, ayah dan ibu bekerja sama sebagai satu tim dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Ketika anak merasakan keamanan, cinta, dan dukungan dari kedua orang tuanya, hubungan emosional akan berkembang secara alami.
Kesimpulan
Memiliki orang tua favorit merupakan fenomena yang umum dalam perkembangan anak dan umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Menurut psikologi, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ikatan emosional (attachment), tahap perkembangan, gaya pengasuhan, pengalaman positif yang berulang, kecocokan temperamen, hingga kebutuhan emosional anak pada situasi tertentu.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
